
Cahya mengarahkan pandangannya ke segala arah mencari keberadaan anak-anaknya, sebentar lagi ada acara menerbangkan balon, Kyra dan Kyros sejak tadi sudah menantikan hal itu tetapi mereka malah menghilang. Cahya menghampiri Aditya yang sedang mengobrol dengan Yongki, Olivia dan orangtuanya, kemudian menanyakan keberadaan si kembar yang tidak ada disekitar sini. Aditya kemudian menunjuk ke arah gazebo, dimana disana ada 2 bodyguard anak-anaknya yang sedang berdiri, dan dipastikan bocah-bocah itu ada disana.
Cahya berjalan dengan cepat untuk menghampiri mereka, dan benar saja, keempat bocah itu sedang duduk dan bermain disana.
"Kalian ada disini??? Ayo cepat kita kesana, sebentar lagi kita harus menerbangkan balon!"
Kyra, Kyros, Gienka dan Louis bergegas turun dari gazebo lalu bergandengan tangan mengikuti Cahya dibelakang dengan wajah sumringah karena tidak sabar ingin menerbangkan balon.
Senja hampir tiba, matahari perlahan mulai turun, semua orang berkumpul dan membawa balon ditangannya. Bocah-bocah itu membawa masing-masing empat balon sekaligus, berbeda dengan yang lain yang hanya membawa satu, tentu hal itu membuat kegembiraan bagi mereka. Kedua mempelai berada ditengah dan dikelilingi oleh para tamu undangan. Dan ketika mc menghitung satu sampai tiga, secara bersamaan, orang-orang melepaskan balon yang mereka pegang.
Kyro, Kyra, Gienka serta Louis melompar kegirangan, melepaskan satu persatu balon mereka. Karena terlalu bersemangat, Kyros jatuh. Gienka langsung duduk berjongkok dan mengulurkan tangannya, mengajak Kyros untuk berdiri lagi.
"Terima kasih Gie!" Ucap Kyros.
"Sama-sama! Ayo lepaskan lagi balonnya!"
Kyros memeluk Gienka dan mencium lagi pipinya untuk kesekian kalinya. Mereka pun kembali melepaskan balonnnya dengan perasaan senang.
Acara pelepasan balon selesai, orang-orang kambali mengobrol satu sama lain, ada juga yang mengabadikan foto sambil menikmati matahari tenggelam. Warna langit yang jingga membuat suasana semakin menyenangkan dan sangat indah.
Ariel berdiri sendiri menatap matahari terbenam sambil memegang gelas berisi champagne yang tinggal sedikit. Ariel memejamkan matanya, dan tiba-tiba terpikirkan tentang Maysa. Sekilas tadi dia melihat perempuan itu, Maysa terlihat begitu cantik dengan gaun merah yang dipakainya, kecantikannya tidak berubah meski bertahun-tahun sudah berlalu dan dia juga sudah pernah menikah. Maysa tetap sama, mungkin karena perempuan itu belum memiliki anak jadi kecantikannya tidak banyak berubah, dan menyadari juka saat ini Maysa sudah berpisah dari suaminya, tetapi dia tidak tahu alasan mereka berpisah kenapa. Jika saja dulu dia jadi melamar Maysa, mungkin saat ini dia dan Maysa akan berbahagia bersama. Gienka juga terlihat sangat menyukai Maysa.
Ariel menggelengkan kepalanya dan menyadarkan khayalannya tentang Maysa. Kemudian Ariel membuka matanya dan hendak meminum lagi Champagne nya tetapi kemudian dia menyadari isi gelas yang dipegangnya hanya sisa sedikit. "Ah tinggal sedikit, padahal suasana sedang bagus untuk menikmatinya sambil memandang laut dengan hiasan jingga diatasnya" Gumam Ariel.
Ariel membalikkan tubuhnya dan memanggil pelayan yang sedang berkeliling membawa nampan berisi wine di gelas. Pelayan itu mendekati Ariel, kemudian Ariel mengambil segelas wine berwarna merah maroon itu. Ariel kembali membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan menikmati sunset. Tetapi dari kejauhan tiba-tiba dia melihat seseorang sedang berdiri di tepi pantai dengan sandalnya yang dilepas dan dipegang. Tidak salah lagi itu adalah Maysa. Perempuan itu berdiri sendirian menghadap ke arah barat, menyisahkan siluet yang sangat indah, beberapa helai rambut Maysa diterpa angin membuatnya sedikit menyibaknya lalu tersenyum.
"Dia semakin cantik!!!" Gumam Ariel.
Sedetik kemudian Ariel tetersadar bahwa sejak tadi dia terlalu berlebihan memuji dan mengagumi Maysa. Kisah mereka sudah berakhir sejak lama dan tidak akan pernah lagi bisa kembali. Masalalu yang menyakitkan membuat Ariel tidak bisa menerima Maysa sebgai rekan hidupnya. Jalan mereka berbeda, tidak akan pernah bisa bersatu. Ariel pun kembali ke tengah-tengah pesta, dia sejak tadi memilih sendiri dan melupakan Gienka.
******
Malam tiba, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan pesta. Ariel menggendong Gienka yang mulai mengantuk. Putrinya itu terlalu bersemangat sejak tadi dan tidak berhenti berlarian hingga akhirnya sekarang dia merasa kelelahan dan mengantuk sekali. Ariel berpamitan untuk segera kembali ke hotel pada Aditya dan Cahya juga pada Adri dan Chika, mengucapkan selamat untuk pernikahan mereka. Setelahnya, Ariel membawa Gienka keluar.
Ariel membuka pintu mobilnya, memasukkan Gienka kemudian memasang seat belt pada putrinya itu, merendahkan sedikit joknya agar Gienka merasa lebih nyaman dan menutup kembali, lalu berjalan ke sisi kanan mobilnya. Saat bersamaan, Maysa keluar dari dalam gerbang villa Aditya, dan dia tidak sengaja melihat ke arah Ariel yang berjalan di depan sebuah mobil. Lelaki itu dulu telah bisa meluluhkan hatinya, perhatian yang diberikan Ariel, cinta kasihnya masih begitu melekat diingatannya, hanya saja cara Ariel mengakhiri hubungan mereka sampai saat ini masih meninggalkan luka yang begitu mendalam. Tetapi perlahan dia bisa memahami bagaimana perasaan Ariel saat itu, dan mencoba memakluminya. Ariel hanya korban dari buruknya perilaku Ayahnya juga dengan Mamanya yang sungguh keterlaluan. Mungkin jika dia ada diposisi Ariel, tentu dia juga tidak akan mau menjalin hubungan dengan anak dari mantan selingkuhan orangtuanya, hanya saja cara Ariel saat itu terlalu kasar saat mengakhiri hubungan mereka. Maysa tahu bahwa Ariel pasti merasa tidak melakukan kesalahan, hingga lelaki itu tidak pernah sekalipun meminta maaf kepadanya, tetapi tidak apa, Maysa sudah memaafkannya kemudian tetap menjalani kehidupannya tanpa Ariel dan memutuskan menikah dengan laki-laki lain.
Sebenarnya dia berusaha menjalani pernikahannya dengan bain dan mencoba menjadi istri yang bertanggung jawab, hanya saja semua tidak berjalan seperti seharusnya, karena orangtua suaminya selalu ikut campur dengan urusan rumah tangganya, membuat situasi yang harusnya baik-baik saja menjadi penuh ketegangan setiap harinya dan selalu menuntutnya agar bisa segera memiliki anak. Saat itu dia sudah berusaha sebisa mungkin, dan mendatangi dokter kandungan, sayangnya dokter memvonisnya tidak akan bisa memiliki anak. Ucapan dokter terlalu berlebihan hingga membuatnya down saat itu dan menangis ditempat, bahkan dia tidak lagi ingat apa saja yang dikatakan dokter saat itu karena sibuk menangis, yang kemudian membuatnya memilih meninggalkan ruangan itu. Dan pada waktu itu dia datang bersama suaminya, saat sampai dirumah, suaminya itu memberitahu keadaannya yang sebenarnya pada orangtuanya sehingga membuat mereka murka dan mengusirnya.
Selang beberapa hari, dia menerima surat gugatan cerai dari suaminya, dan beginilah nasibnya sekarang. Keberuntungan seolah tidak pernah berpihak kepadanya, setiap hubungan yang coba dia jalani selalu berakhir buruk. Ketika dia mendapatkan Ariel yang begitu perhatian padanya, hubungan itu berakhir dengan menyakitkan karena kesalahan yang dilakukan Mamanya dulu. Sebenarnya semua yang dicarinya ada pada Ariel, tetapi itu tidak mungkin lagi di perbaiki. Dan kalaupun dia menimah dengan Ariel, itu juga tidak akan menjamin kebahagiaan, Maysa tahu bagaimana dulu Ariel berpisah dengan mantan istrinya hanya karena urusan anak, mungkin jika dia jadi menikah dengan Ariel dan lelaki itu mengetahui kondisinya, tentu Ariel juga akan tetap meninggalkannya seperti dulu Ariel meninggalkan Elea. Membuat Maysa semakin yakin bahwa kisah asmaranya selamanya akan berakhir buruk, tidak akan pernah ada laki-laki yang mau menjadikannya sebagai istri, karena dia hanyalah perempuan mandul.
Karena terlalu fokus melamun dan tidak hati-hati saat berjalan, Maysa tidak bisa menyeimbangkan langkahnya karena sepatu yang dipakainya memiliki hak yang cukup tinggi, dan akhirnya membuatnya kesleo dan langsung jatuh ke tanah. Bruk.....!
"Aaaaarrrgggghhh...." Teriak Maysa. "Auwhhhh sakit.....!!!"
Ariel yang mendengar teriakan berusaha melihat ke segala arah dan menemukan seorang perempuan sedang duduk ditanah dan mengusap kakinya. Ariel berlari menghampirinya dan duduk berjingkok, saat itu dia menyadari jika ternyata perempuan itu adalah Maysa. "May... Kau kenapa???" Tanya Ariel.
Maysa meringis dan merintih kesakitan. "Kakiku sepertinya terkilir, aaahhh!!"
Ariel menyentuh kaki Maysa dan melepaskan sepatu yang dipakai perempuan itu kemudian memberikan sedikit pijatan membuat Maysa semakin merintih kesakitan, dan meminta agar dia berhenti memijatnya.
"Ayo..! Aku bantu kau berdiri...." Ariel melepaskan sepatu Maysa lagi yang sebelah kemudian merangkul Maysa dan membantu Maysa berdiri. "Aku akan membantumu berjalan...!" Gumam Ariel lagi.
Perlahan Maysa dibantu oleh Ariel berdiri, dan dia mencoba berjalan tetapi dia menjerit lagi karena kakinya terasa sakit sekali.
"Auwwhhh....! Aku tadi naik taksi dari hotel pak...!"
"Kau akan kembali ke hotel kan??? Ikutlah denganku saja"
"Tidak perlu pak, aku akan pesan taksi lagi saja, aku tidak bisa merepotkan bapak"
"Aku tidak merasa direpotkan"
Tanpa pikir panjang, Ariel menggendong Maysa dan membawanya ke mobilnya. Maysa merasa terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Ariel membuka pintu belakang mobilnya dan mendudukkannya didalam. Ariel menyuruh agar Maysa duduk berselonjor saja, kemudian dia menutup pintu belakang mobil, dan masuk ke dalam mobilnya lalu membawa Maysa dan Gienka ke hotel yang letaknya tidak jauh dari tempat ini.
******
Dan sampailah mereka di hotel, Ariel turun kemudian memanggil staf hotelnya. Dia menyuruh agar bisa membawa Gienka ke kamarnya karena dia harus membawa Maysa yang sedang mengalami cidera kaki. Ariel membuka pintu belakang dan memasukkan setengah tubuhnya lalu kembali mengangkat Maysa. Ariel tidak memperdulikan ucapan Maysa yang mengatakan bahwa dia tidak perlu digendong dan bisa berjalan sendiri. Staf yang menggendong Gienka menekan tombol lift untuk bosnya itu kemudian masuk bersamanya.
Ariel tidak membawa Maysa ke kamar perempuan itu, tetapi justru membawanya ke kamarnya bersamaan dengan Gienka. Ariel bisa melihat kaki Maysa mulai bengkak, dan menyadari bahwa perempuan itu benar-benar terkilir. Ariel menyuruh staffnya itu agar menidurkan Gienka di tempat tidur, kemudian menyuruh lagi agar membawa krim pereda nyeri atau balsem dan juga perban cokelat untuk membalut kaki Maysa. Staf itupun mengangguk dan keluar dari kamar Ariel setelah membaringkan Gienka.
Ariel sendiri meletakkan Maysa di sofa panjang yang ada dikamarnya. Maysa duduk dan masih meringis karena menahan sakit di pergelangan kakinya yang mulai membengkak. Ariel kembali memijit kaki Maysa, gerakannya pelan agar Maysa tidak kesakitan, tetapi dia harus bisa menyelesaikannya saat ini juga, karena jika tidak, bengkak di kaki Maysa akan semakin membesar dan esok hari perempuan itu pasti akan lebih kesakitan. Dengan antisipasi dan hati-hati, Ariel memutar kaki Maysa dan terdengar bunyi kreteeek disusul dengan jeritan keras dari Maysa.
"Aaaaaarrrrrggghhhhh......!!!"
Ariel tersenyum. "Sebentar lagi bengkaknya akan kempes karena aliran darahnya akan kembali normal, duduk diamlah disini, aku akan mengambil air hangat untuk mengompres kakimu sambil menunggu perban dan balsemnya datang"
Ariel kemudiam berjalan meninggalkan Maysa dan menuju dapur. Tak lama Ariel kembali lagi membawa nampan berisi semangkuk air hangat dan segelas air putih. "Minumlah air ini dulu" Ucap Ariel dan memberikan gelas itu pada Maysa.
"Terima kasih"
Ariel kembali tersenyum, kemudian mencelupkan handuk kecil ke dalam mangkuk berisi air hangat itu dan memerasnya, lalu mengompreskannya pada kaki Maysa.
"Ah tidak perlu, biarkan aku sendiri yang mengompresnya" Ucao Maysa.
"Tidak apa, kau duduklah dengan nyaman, serahkan semuanya padaku dan kau akan baik-baik saja" Ariel meletakkan handuk itu di kaki Maysa yang terkilir dan terdengar ketukan pintu. Ariel berdiri dan membukanya karena itu pasti staf hotel yang tadi dia suruh untuk mengambil balsem dan perban.
Maysa menatap punggung Ariel, menyadari jika lelaki itu masih menyimpan kebaikan dan perhatian didalam hatinya. Seolah dia lupa bahwa mereka dulu sempat mengalami masa yang sangat menyesakkan dada. Ariel kembali lagi dengan perban dan krim penghilang nyeri sendiri di tangannya dan duduk di sofa.
Setelah kaki Maysa di kompres dengan air hangat, Ariel mengambil handuk kering dan perlahan mengeringkan kaki Maysa dari air yang masih menempel di kaki perempuan itu. Kemudian Ariel menekan untuk mengeluarkan krim itu dari tempatnya, dan dengan lembut mengusapkannya ke pergelangan kaki Maysa. Setelahnya Ariel menunggu sebentar sampai krim itu mengering sebelum membalutkan perban cokelat itu di kaki Maysa.
Sementara Maysa hanya diam dan memandang Ariel dengan tatapan yang begitu dalam. Lelaki ini pernah menghiasi hatinya dan memberinya kebahagiaan walaupun hanya sesaat. Kebaikan dan perhatiannya masih sama seperti dulu, dan Ariel selalu terlihat tampan dibalik penampilannya yang dingin, bahkan senyumnya juga masih sangat manis dan menenangkan hati.
Ariel selesai membalutkan perban di kaki Maysa, kemudian mengangkat kepalanya dan menemukan Maysa sedang tersenyum ke arahnya tetapi sepertinya Maysa tidak menyadari. Ariel membalas senyum Maysa dan tiba-tiba teringat akan masalalu mereka, kebahagian itu juga bagaimana dia dulu meninggalkan Maysa, dan sampai saat ini dia belum pernah meminta maaf kepada perempuan ini, padahal kesalahan jelas bukan terletak pada Maysa, tetapi kekejamannya dulu pasti telah meninggalkan luka.
"May... Maysa...." Panggilan Ariel itu akhirnya menyadarkan Maysa dari lamunannya.
"Ah iya...!" Jawab Maysa.
"Sudah selesai, bagaimana apa kau masih merasa kesakitan???" Tanya Ariel.
"Sudah mendingan, terima kasih" Ucap Maysa.
Ariel tersenyum kemudian berdiri dan duduk berjongkok di bawah Maysa yang duduk di lantai, kemudian Ariel meraih jemari Maysa dan mendongakkan kepalanya dengan sedih. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu May!"