
Cyntia duduk sambil menyesap Cofee latte menunggu kedatangan orang yang dia tugasi untuk memantau keseharian Cahya beberapa hari ini. Cyntia tampak antusias dan akan segera melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran kepada Cahya, beberapa saat pria bernama Toni itu datang dan menghampirinya, menyerahkan beberapa foto hasil pemantauannya.
Cyntia mengernyit saat melihat seorang pria sedang memeluk Cahya didepan rumah Cahya, menyadari bahwa ternyata laki-laki itu adalah Theo kekasihnya, Cyntia menanyakan kejadian itu terjadi kapan dan apa yang dilakukan Theo disana.
“ Dia datang hari kamis sore, sekitar jam 4, masuk kedalam rumah lama sekali tidak keluar dan sekitar jam 5 lebih ada mobil datang dan ternyata Cahya keluar dari mobil itu bersama Adik dan kekasih adiknya itu, sepertinya mereka tiba dari suatu tempat, maaf saya tidak mengikuti kemana perginya Cahya waktu itu karena saya datang kesiangan dan yang saya tahu Cahya sedang mengambil cuti kerja jadi waktu itu saya pikir saya akan memantaunya siang saja nona” Toni tampak menjelaskan, dan melihat raut muka Cyntia berubah seperti orang yang sedang kesal.
“ Baik, besok kau harus mengikutinya lagi, kalau kau melihat laki-laki ini datang kesana atau menemui Cahya, kau harus langsung menghubungiku, mengerti?”
“ Baik nona saya akan segera menghubungi anda!”
Cyntia memberikan Toni sebuah amplop berisi uang lalu kemudian Toni pergi meninggalkan Cyntia. Sepeninggal Toni, Cyntia benar-benar merasa gusar dengan apa yang dilihat tadi dan bertanya-tanya untuk bapa Theo kerumah perempuan miskin itu bahkan sampai memeluknya saat akan pulang.
***
Cahya keluar dari halte busway terlihat buru-buru karena dia telat pulang karena pekerjaannya sangat banyak, senja pun nampak akan segera hilang berganti malam, Cahya harus sampai rumah dengan segera kemudian ia bersiap menyebrang diperempatan lampu merah tetapi ada suara yang sangat familiar memanggil namanya, dan menengok ternyata itu Aditya.
“ Masuklah, kuantar kau pulang” ajak Aditya.
“ Tidak terima kasih, aku bisa pulang sendiri naik angkot”
“ Ini sudah mau gelap, bahaya kalau kau sendirian, ibu juga pasti cemas kalau kau terlambat pulang, cepat lampu akan segera hijau” teriak Aditya, tampak Cahya sedang berpikir sesaat lalu masuk ke mobil Aditya dengan segera, benar kata Aditya kalau dia terlambat pulang ibunya pasti akan khawatir. Dalam perjalanan Aditya mencoba membuka obrolan agar dia bisa lebih akrab dengan Cahya tetapi seperti biasa Cahya menjawab dengan jawaban singkat yang membuat Aditya sedikit kesal karena sikap Cahya, tetapi kemudian Cahya bertanya padanya.
"Anda mau kemana, rumah anda kan bukan ke arah sini tapi sebaliknya?”
Aditya terlihat terkejut dengan pertanyaan Cahya.
“ Oh, aku akan ada pertemuan dengan Client nya di Restoran yang ada di Rainbow Hotel, sekaligus makan malam disana” Aditya berbohong, sebenarnya dia sengaja menunggu Cahya pulang dari kantornya, dia mendapat kabar dari Elea bahwa Cahya pulang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, dan Aditya bergegas menyusul Cahya dan mengikutinya sampai Halte agar Cahya tidak curiga padanya.
“ Sudah berhenti disini , aku akan berjalan kaki saja ke rumah, nanti anda telat untuk meeting”
“ Tidak apa-apa aku akan mengantarkanmu sampai depan rumah sekalian menyapa ibumu”
“ Tidak, tidak perlu, anda berbalik saja, jarak Rainbow hotel dari sini cukup jauh nanti anda telat”
“ Oke baiklah, kau hati-hati dan salam untuk ibumu” Aditya tersenyum dan keluar mobil untuk membukakan Cahya pintu.
“ Terima kasih atas tumpangannya”
Cahya berjalan agak tergesa-gesa karena pasti ibunya khawatir karena dia terlambat pulang, sesampainya dirumah Cahya masuk mengucap salam tapi tidak ada jawaban dari ibunya, Cahya mencari ibunya didapur tapi tidak menemukannya, begitu pula dikamarnya, lalu Cahya berlari kekamar mandi dan lagi-lagi tidak menemukan ibunya, Cahya bingung kemana ibunya pergi, karena tidak biasanya ibunya pergi keluar saat hari sudah gelap.
Cahya mengernyitkan kening saat melihat pintu belakang rumah masih terbuka dan lampunya kenapa mati, karena biasanya pintunya tertutup dan lampunya menyala, dia penasaran dan berjalan ke pintu belakang, Cahya terkejut bukan main ketika melihat seseorang sedang berbaring ditanah dan ada kursi yang menimpa orang itu, seketika dia sadar bahwa itu adalah ibunya, dia berlari menghampiri ibunya dan melihat ada darah yang keluar dari kepala ibunya.
Cahya mengambil ponselnya dan akan menelepon Elea tetapi rumah Elea sangat jauh butuh 1 jam untuk sampai kemari, kemudian dia tersadar kalau menelepon Aditya akan lebih baik karena pasti Aditya masih belum jauh dari sini.
Aditya mengendarai mobilnya sangat pelan sambil terbayang Cahya, mengapa perempuan itu sangat sulit sekali didekati padahal biasanya tidak ada perempuan yang bisa menolak pesona darinya, bahkan kebanyakan mereka tergila-gila dengannya tetapi ternyata itu tidak berlaku pada Cahya, tapi Aditya tetap tidak akan menyerah untuk mendapatkannya, bagaimanapun caranya Aditya harus bisa meluluhkan hati Cahya.
Bunyi ponselnya menyadarkan Aditya dari lamunannya dan tersenyum ketika melihat nama si penelepon “Baru juga kupikirkan dia menghubungiku apa dia sedang memikirkanku?” Gumam Aditya sambil tersenyum dan ia langsung mengangkatnya.
“ Halo cantik, belum ada 15menit kita berpisah dan kau sudah merindukanku, ya ada ap....” Aditya belum menyelesaikan pembicaraannya tetapi suara tangisan Cahya diseberang sana membuat Aditya gusar dan menghentikan mobilnya.
“ Aaa...ditya.. tolong ibuku, dia.... diaaa... dia berdarah, tolong kami..... iii...buuu..kuuuu” Suara Cahya terbata-bata diselingi dengan ketakutan dan panik.
“ Kenapa? Ada apa dengan ibumu?” jawab Aditya yang juga terlihat sangat panik dan khawatir.
“Cepat kerumah kami, kau masih didekat sini kan, tolong ibuku”
“ Aku akan segera kesana, kau jangan panik” Aditya langsung memutar balik mobilnya dan bergegas kembali kerumah Cahya.
******
Tak sampai 10 menit Aditya sudah sampai dirumah Cahya dan langsung mencari dan memanggil Cahya kemudian dia mendengar suara Cahya dibelakang dan langsung berlari menghampirinya, Aditya sangat terkejut melihat Cahya sedang memeluk ibunya yang tak sadarkan diri.
“ Ya Tuhan apa yang terjadi” Aditya bertanya tetapi dia tidak butuh jawaban karena melihat Cahya menangis memeluk ibunya, Aditya langsung menggendong ibu Cahya dan menyuruh Cahya untuk tidak panik karena Aditya akan segera membawa ibunya ke rumah sakit. Aditya berlari sambil menggendong ibu Cahya keluar rumah menuju mobil dan Cahya mengikutinya dibelakang.
Aditya mengemudi dengan kecepatan tinggi dan tidak butuh waktu lama akhirnya sampai dirumah sakit, segera ibu Cahya mendapat pertolongan dari dokter.
“ Tenanglah Ca, ibumu akan baik-baik saja”. Aditya mencoba menenangkan Cahya yang masih terlihat pucat pasih dan ada ketakutan diwajahnya.
“ Harusnya tadi aku mengijinkanmu mengantarku sampai rumah, mungkin ibu akan tertolong lebih cepat.” Cahya bergumam pelan dan masih ada raut kekhawatiran diwajahnya.
“ Sudah tidak apa-apa, tadi aku juga tidak jauh dari rumahmu karena aku mengemudi dengan sangat pelan”
“ Kau bukannya ada meeting, pergilah aku akan menunggui ibu disini sendiri”
“Lupakan, sudah aku batalkan dan aku akan menemanimu, oh ya aku rasa kau jangan hubungi Chika dulu, ini sudah malam nanti dia akan panik”.
Cahya mengangguk dengan usul Aditya, lebih baik Chika tidak mengetahuinya sekarang.
Aditya melihat Cahya sangat berantakan dan bajunya kotor dengan darah, diapun sama, kemejanya juga ada noda darah karena tadi menggendong ibu Cahya. Aditya kemudian mengambil ponselnya dan menjauh dari Cahya untuk menelepon seseorang. Dalam beberapa deringan telepon itupun dijawab, Aditya berbincang sesaat dan menutup teleponnya saat melihat Dokter keluar dari ruang IGD lalu menghampirinya.
Dokter menjelaskan bahwa kondisi ibu Cahya baik-baik saja, ada beberapa jahitan dikepalanya karena lukanya cukup dalam karena membentur pecahan kaca, tetapi beruntung kepalanya tidak mengalami cidera yang parah, untuk beberapa jam kedepan ibu Cahya harus dibiarkan istirahat dan akan segera dipindah keruang rawat inap. Cahya menghela nafas panjang bersyukur karena ibunya tidak mengalami luka yang serius.