
Aditya menghampiri Cahya dan memeluknya untuk membuatnya tenang dan melihat ponsel istrinya terlempar ke lantai.
" Ca, kamu kenapa? Ada apa??"
Lama Cahya tidak menjawab pertanyaan Aditya, kemudian terpikirkan sesuatu.
" Ehh tidak apa-apa, aku tadi menonton film horor dan terkejut saat hantunya tiba-tiba muncul, tanpa sengaja aku melempar ponselku" Suara Cahya terbata tetapi dia mencoba untuk tenang agar Aditya tidak curiga dengan apa yang terjadi padanya barusan.
" Astaga apa yang kau lakukan, kenapa menonton film horor, kau ini sedang hamil, jangan membuat dirimu merasa tidak nyaman, film horor mengandung banyak jumpscare , jangan ulangi lagi"
Aditya kemudian berdiri dan mengambil ponsel Cahya, ponsel itu mengalami keretakan yang cukup parah, mungkin Cahya melemparnya dengan kencang.
" Ponselnya mati dan tidak mau menyala, sepertinya kau melemparkannya cukup keras dan kencang, ya sudah aku akan membelikanmu ponsel yang baru, tapi jangan kau lempar lagi tapi sebenarnya film apa yang kau tonton sampai kau ketakutan??"
" Sudah lupakan, jangan membuat aku mengingatnya lagi" Ujar Cahya dengan rasa sedikit masih terkejut.
" Oke baiklah, tapi jangan kau ulangi lagi menonton film horor, tenanglah, aku akan meminta mbak Tina untuk mengambilkan minum, sekarang kau beristirahatlah"
Cahya berbaring dengan mata menyalang, siapa yang telah mengirimkan foto mengerikan itu padanya, foto yang sama persis dengan paket yang tadi siang di terimanya, menandakan bahwa itu adalah orang yang sama. Tapi siapa yang tega mengirimkan hal menakutkan seperti itu padanya. Cahya harus tetap tenang dan tidak boleh terprovokasi karena dia harus menjaga perasaannya agar tidak berefek pada bayinya. Tidak ingin memikirkannya Cahya berusaha menutup matanya agar segera tertidur.
***
Cahya mengeluarkan semua sarapan yang dimakannya, membuat Aditya panik karena nya tetapi tampaknya Nyonya Harry mengerti dan menenangkan putranya untuk tidak panik, lalu menyuruh Mbak Tina untuk membuatkan Teh mint dan membawakan biskuit Asin agar Cahya merasa lebih baik.
Benar saja setelah meminum Teh Mint Cahya mulai merasa lebih baik. Nyonya Harry menyuruhnya untuk memakan buah agar perut Cahya tidak kosong dan bisa menjalani harinya dengan baik.
Saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju kantor. Aditya menengok ke arah istrinya, sejak kemarin Cahya lebih banyak diam, seolah seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Apa ada yang kau sembunyikan dariku??? Sejak kemarin kau banyak diam, atau aku sudah membuat kesalahan padamu?"
" Ah tidak, apa yang kau bicarakan, aku hanya sedang memikirkan pekerjaan saja"
" Sayang, apa tidak seharusnya kau berhenti saja dari pekerjaanmu, aku tidak ingin itu menjadi bebanmu dan kau bisa fokus mengurus rumah dan bayi kita"
" Apa?? Berhenti? Tidak, aku tidak mau, ini pekerjaanku kenapa aku harus berhenti, kau jangan mengkhawatirkanku secara berlebihan bayi kita kuat, pekerjaan juga tidak akan membuatku lelah"
Aditya hanya terdiam mendengar jawaban istrinya, dan sudah bisa menebak jika dia akan menjawab seperti itu. Bukan karena tidak ingin Cahya lelah dan banyak pikiran tapi yang Aditya takutkan adalah keselamatan istri dan bayinya, karena pikirannya terganggu oleh ketakutannya jika ada yang akan menyakiti istrinya.
" Oke sudah sampai, nanti sore aku akan menjemputmu, aku akan menghubungi Elea karena ponselmu rusak, dan jangan khawatir nanti siang aku akan membelikanmu ponsel yang baru"
Aditya keluar dan membukakan pintu mobil untuk Cahya lalu mengantarnya sampai lobi. Sepeninggal Aditya, Cahya dipanggil oleh resepsionis dan mengatakan jika ada paket lagi untuknya yang baru saja dikirim oleh seseorang. Cahya mulai waspada tapi tetap menerima paket itu, tak disangka Elea datang dan menghampirinya. Elea memandang curiga saat Cahya memegang paket itu, kemudian merebutnya dari tangan Cahya.
" Berikan padaku, biar aku yang membukanya"
Melihat Elea keluar Cahya langsung memberondonginya dengan berbagai pertanyaan tetapi Elea tidak menjawab dan hanya membawa paket itu lalu membuangnya di Tempat sampah. Elea harus melakukan sesuatu agar kejadian seperti kemarin tidak dialami lagi oleh Cahya.
****
Sore tiba dan Aditya menjemput Cahya seperti biasa. Melihat Aditya yang bersikap biasa, Elea merasa sedikit curiga apakah Cahya sudah menceritakan kejadian kemarin atau belum, karena jika memang sudah cerita pasti Aditya akan menyuruhnya untuk lebih mengawasi Cahya atau akan bertanya padanya tentang kejadian itu.
" Ah mungkin Cahya sudah menjelaskan semuanya, jadi Aditya tidak banyak bertanya padaku" Ucap Elea dalam hati.
Aditya membawa mobil baru lagi membuat Cahya keheranan, karena ini mobil yang berbeda dari kemarin.
" Apakah ini mobil kantor lagi?" Tanya Cahya.
" Tidak, ini mobil kita, aku membelinya tadi, apa kau menyukainya?"
" Membelinya??? Lalu mobilmu yang kemarin siapa yang akan memakainya?"
" Setelah beres dari bengkel aku akan menjualnya, aku tidak ingin memakainya lagi, mobil itu membuatku teringat akan ketakutanmu akan kejadian pelemparan itu dan ini hadiah untukmu" Aditya memberikan sebuah kotak terbungkus kertas berwarna hijau dengan hiasan pita di tengahnya.
" Apa ini?"
" Buka saja"
Setelah Cahya membuka nya Cahya tersenyum bahagia karena ada ponsel baru yang diberikanboleh Aditya untuknya dan mengucapkan terima kasih pada suaminya. Tetapi Aditya menggodanya dengan mengatakan untuk tidak melemparkan ponsel itu ke lantai karena harganya lebih mahal dari gaji Cahya 1bulan, seketika Cahya tertawa mendengar candaan Aditya padanya.
****
Hari berlalu, setiap hari selalu ada paket yang dikirim untuk Cahya, tetapi Elea yang menerimanya karena dia telah meminta kepada resepsionis kantor untuk meneleponnya jika ada paket datang untuk Cahya. Elea selalu dibuat terkejut dengan isi paket-paket itu, kadang paket itu berisi darah yang sudah dibekukan yang ditaruh didalam sebuah kotak makanan, ada juga yang berisi anakan tikus seperti sebelumnya, dan juga berisi potongan kaki kelinci.
Elea bersyukur dia bisa mengatasi ini semua dan Cahya tidak langsung menerimanya, tetapi setiap hari Cahya bercerita kepadanya jika selalu ada nomor baru yang mengirimkan pesan berisi foto yang membuatnya merasa terkejut, tetapi setiap Cahya bercerita tentang hal itu, Elea selalu teringat akan paket yang diterimanya kemarin isinya sama, bahkan kemarin dia meminta Cahya untuk mengirimkan foto itu padanya dan benar saja memang sama. Akhirnya Elea menyimpulkan bahwa pengirim paket itu adalah orang yang sama yang mengirimi Cahya foto.
Karena dilanda penasaran yang luar biasa, Elea bahkan memutuskan untuk mengecek cctv lobi kantor, dan terkejut ternyata setiap hari si pengirim paket berbeda orang.
***
Aditya terpaksa harus keluar rumah malam ini, karena tiba-tiba Cahya ingin dibelikan minuman disebuah coffee shop, mau tidak mau dia menuruti keinginan istrinya itu tetapi dengan perjanjian bahwa Cahya harus dirumah dan tidak boleh ikut dengannya. Tak disangka disana dia bertemu dengan Ariel dan Elea, dan bergabung dengan mereka.
" Woe ngapain lo ada disini? Cahya mana?" Tanya Ariel.
" Dia dirumah, dia sedang ingin minum Soy Matcha Latte yang ada disini jadi terpaksa aku membelikannya" Aditya berucap sedikit kesal dan justru ditertawai oleh kedua sahabat didepannya.
" Turutin aja apa maunya, daripada ntanti anakmu ileran hahaha, eh btw gimana Dit, apa kamu sudah menemukan siapa orang yang meneror Cahya?" Tanya Elea.