
Setibanya dirumah mertuanya, Aditya segera menanyakan apakah memiliki es batu atau air dingin untuk mengompres tangan Cahya, mertuanya akan mengambilkannya tetapi Aditya menolak dan pergi mengambilnya sendiri.
“ Apa yang terjadi sehingga tanganmu memar seperti ini Ca??” Tanya ibunya khawatir.
“ Tidak apa-apa ibu, tadi hanya ada sedikit insiden kecil yang terjadi, ibu tidak usah khawatir, setelah dikompres dengan es batu pasti akan hilang”.
Aditya muncul dari belakang membawa mangkok berisi es batu kemudian duduk disebelah Cahya dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu membungkus es batu itu dengan sapu tangannya, mengompreskannya secara perlahan dipergelangan tangan Cahya.
“ Kenapa kalian tidak bilang jika akan kemari? Ibu tadi bisa menyuruh Chika untuk menyiapkan sesuatu untuk kalian”
“ Tidak perlu bu, aku akan tinggal beberapa hari disini untuk menemani ibu, menyiapkan segala keperluan ibu” Ucap Cahya yang membuat ibunya terkejut mendengarnya.
“ Tinggal disini??? Kenapa kau melakukan itu? Sekarang kau sudah berkeluarga, ibu sudah membaik dan bisa melakukannya sendiri, kau urus saja suamimu itu adalah kewajibanmu Ca”
“ Aku mengizinkannya bu, biarkan istriku ini mengurus ibu sampai ibu benar-benar baik”.
Aditya berpamitan untuk pulang dan menyuruh ibu mertuanya serta Cahya untuk segera beristirahat. Dalam perjalanan pulang dia menghubungi Beno untuk menyuruh anak buahnya bukan hanya mencari informasi tentang Theo saja tetapi juga mengikuti kemana pun Theo pergi agar kejadian tadi sore tidak terulang lagi. Aditya masih bingung kenapa Theo melakukan hal seperti itu, padahal sudah jelas Cahya sekarang sudah menikah dan dia juga sudah memiliki kekasih.
****
Benar saja sesampainya dirumah, Mamanya sudah menunggunya dan menanyakan dimana Cahya kenapa dirinya hanya pulang sendiri, Aditya pun menjelaskan perihal Cahya tidak akan pulang beberapa hari ini untuk menjaga ibunya, Mamanya tampak mengerti tetapi melihat wajah putranya yang seperti orang menahan marah.
“ Kau kenapa?? Wajahmu seperti orang yang sedang marah? Kau marah kepada istrimu karena dia tidak akan pulang?? Kalau kau marah kenapa kau mengizinkannya??” Tanya nyonya Harry.
“ Tidak mama, aku tidak marah dengan Cahya, hanya saja saat aku pulang ada insiden yang menimpa Cahya, itulah yang membuatku sangat marah” Jelas Aditya, agar Mamanya tidak semakin bingung, dia pun menjelaskan semua kejadian sore ini yang dilakukan Theo pada Cahya.
“ Mana janjimu untuk menjaga istrimu dan keluarganya???”
“ Maksud mama apa??? Aku tadi menyelamatnya!!”
“ Iya kau tadi menyelamatkannya, bagaimana kalau Theo dan kekasihnya itu datang lagi dan mengacau??? Harusnya sekarang kau temani dan jaga istri serta mertuamu itu kenapa kau malah pulang?”
Mamanya benar kenapa Aditya tidak terpikirkan hal seperti itu, dia pun langsung berbalik untuk kembali kerumah mertuanya, tetapi Mamanya memanggilnya.
“ Adit Tunggu!! Pergilah mandi dulu dan segera sholat maghrib, ambil beberapa bajumu baru kau pergi, kau ini” Seru Mamanya dan Aditya menurutinya, kalau dia langsung pergi dia mau memakai baju apa, besok juga harus ke kantor, ga mungkin memakai lagi kemeja dan jas yang dipakainya saat ini.
Setelah mempacking beberapa baju, Aditya bergegas untuk berangkat menyusul Cahya dan berpamitan dengan Mamanya.
“ Mama, apa tidak apa-apa aku tidak pulang? Nanti bagaimana dengan Mama??” Aditya berucap meragu karena dia juga mengkhawatirkan kondisi Mamanya jika dia meninggalkannya untuk beberapa hari.
“ Jangan khawatirkan Mama, disini ada Papa dan yang lainnya, Mama akan baik-baik saja, kau juga sering meninggalkan mama beberapa hari saat kau bertugas diluar kota ataupun luar negeri, sekarang lebih penting jaga istrimu dan ibu mertuamu, mereka pasti membutuhkan perlindunganmu, pergilah”
****
Dalam perjalanan menuju rumah Ibu mertuanya, Aditya menghubungi Beno lagi dan memintanya untuk menjaga rumah Ibu mertuanya itu, jangan sampai Theo maupun Cyntia datang kesana saat dia dan Cahya sedang pergi ke kantor, dan meminta Beno membawa temannya lagi untuk bergantian berjaga, Aditya harus benar-benar memastikan bahwa Theo dan Cyntia tidak mengganggu keluarga Cahya lagi.
Kedatangan Aditya kembali kerumah Cahya dengan membawa koper membuat Cahya terkejut tidak menyangka, ibunya pun tidak menyangka bahwa menantunya akan menginap disini, dengan segera ia menyuruhya masuk ke rumah.
Cahya merapikan pakaian Aditya ke dalam lemari, sedangkan Aditya menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya, sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan tetapi tampaknya Aditya tengah sibuk dengan laptopnya dan dia tidak ingin mengganggunya, Cahya pun n meninggalkan Aditya dikamar dan menemui ibunya diruang tengah untuk menemaninya.
“ Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya dan aku tidak ingin mengganggunya bu” Jawab Cahya.
“ Apa dia benar-benar yakin dengan keputusannya tinggal disini? Semua yang ada dirumah kita jauh berbeda dengan yang ada dirumahnya, ibu takut kita membuatnya tidak nyaman disini, lebih baik besok kalian kembali saja, ibu tidak apa-apa disini sendiriran”
“ Entahlah bu, itu juga yang sebenarnya ingin aku bicarakan dengannya, tetapi dia masih sibuk, mungkin nanti aku akan berbicara dengannya”
Cahya tak kalah gusar dengan ibunya memikirkan keputusan Aditya, tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, mungkin memang dia harus bicara dengan suaminya itu. Setelah mengobrol berbagai hal dengan ibunya, Cahya menyiapkan obat untuknya dan menyuruh nya untuk istirahat.
Aditya keluar dari kamar mengatakan bahwa dia lapar sedari tadi belum makan tetapi kebingungan justru terjadi pada Cahya, menggatakan semua bahan makanan didapur habis dan berencana besok baru akan berbelanja, dengan segera dia bilang bahwa akan memesankan makanan via ojek online tapi Aditya menolak dan mengatakan tidak perlu dan kembali masuk ke kamar.
Cahya terlihat sangat bingung, pasti Aditya sangat lapar tetapi kemudian ibunya teringat sesuatu, kemarin Chika sempat membelikannya Roti tawar dan dia konsumsi baru beberapa lembar, ibunya menyarankan untuk membuatkan Aditya sesuatu dari roti itu, dengan segera Cahya mengambil roti itu dan ada selai juga ternyata, dia memutuskan akan mebuat roti bakar untuk Aditya, mungkin bisa membantu mengganjal perutnya.
“ Aku membuatkan sesuatu untukmu, makanlah agar kau bisa tidur nyenyak” Cahya masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi roti bakar dan teh hangat untuk Aditya dengan segera dia membalikkan badannya dan tersenyum mengucapkan terima kasih lalu memakannya dengan lahap.
“ Besok kita pulang aja ya Dit, aku ga mau kamu merasa ga nyaman disini, ibu sangat mengkhawatirkanmu jika kamu tinggal disini” Ucap Cahya yang membuat Aditya menghentikan kunyahannya.
“ Memang apa yang membuatku tidak nyaman disini, ini rumahmu berarti juga rumahku”
“ Berhentilah keras kepala, rumah ini tidak senyaman rumahmu, lihatlah kamarku lebarnya hanya seperempat dari kamarmu, semua yang ada disini terbatas, kau pasti tidak akan nyaman, besok kita pulang saja ya, ibu bilang dia tidak apa-apa ditinggal sendiri”
“ Tidak! Aku tidak mau, lihatlah ibu dia masih terlalu lemah kenapa kau tega, abaikan aku, aku merasa nyaman dimanapun, tidak ada yang salah dengan rumah ini, sekarang tidurlah” Aditya beranjak dari duduknya dan mengambil bantal diranjang dan keluar dari kamar tetapi Cahya menarik tangannya.
“ Kau mau kemana dengan bantal itu??” Tanya Cahya.
“ Aku mau tidur di ruang tengah, kenapa memang??”
“ Apa yang kau lakukan, ibu bisa membunuhku jika melihatmu tidur disana dan akan curiga dengan kita”
“ Lalu aku harus tidur dimana?? Tidur di mobil?? Baiklah!!”
“ Tidak!!! Kau harus tidur dikamar ini, kita berbagi ranjang” Suara Cahya sedikit tercekat, tetapi dia harus melakukan ini jika tidak ibunya pasti akan curiga.
“ Oh.... kau ingin aku tidur disampingmu, bagaimana kalau kita bukan hanya berbagi ranjang tetapi berbagi Cinta diranjang ini??” Ujar Aditya sambil mengedipkan matanya sebelah menggoda Cahya dan langsung dengan spontan dia memukul dada Aditya dan memarahinya membuat Aditya menertaiwainya, rupanya Aditya sedang bercanda.
“ Hentikan candaan konyolmu itu Aditya”
“ Hahahahaha kenapa mukamu memerah seperti kepiting rebus??”
Cahya langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan Aditya yang masih tertawa terbahak-bahak melihat dirinya. “ Sialan lelaki itu, berani-beraninya menggodaku” Gerutunya dalam hati.
Cahya kembali ke kamarnya setelah sekitar 15 menit untuk sholat isya dan melihat Aditya ternyata sudah tertidur disisi kiri, dia pun mengambilkannya selimut dan menyelimutinya, lalu menyusul Aditya tidur, memposisikan dirinya disebelah kanan.
**"""
Aditya terbangun ditengah malam karena merasa gerah, mencoba menyalakan kipas angin tetapi tidak mau menyala, kemudian dia teringat bahwa dia belum sholat isya, dengan segera dia pergi untuk sholat. Setelah sholat Aditya kembali kekamar lalu membuka jendela agar ada angin yang masuk dan mengurangi rasa gerah yang dia rasakan dia juga melepaskan kaos yang dipakainya dan telanjang dada, sudah merasa sedikit nyaman dari gerahnya dia kembali tidur. Melihat Cahya tidur dengan pulas membuat Aditya sangat bahagia, entah kenapa, seolah wajah Cahya adalah pengantar tidur dan awal dari mimpi indahnya.