
Aditya melepas jas dan juga sepatunya lalu turut duduk di lantai bersama Yongki dan si kembar. Tidak sengaja saat hendak duduk, Aditya melihat layar ponsel Yongki yang sedang mengirim foto-foto Kyros dan Kyra ke nomor kontak bernama Olivia. Aditya tersenyum menyadari bahwa sepertinya kedua orang itu sudah memperbaiki hubungan mereka.
"Kau mengirim foto Ky dan Kyra pada Olu???" Gumam Aditya pada Yongki, membuat lelaki itu menoleh padanya. "Sorry, aku tidak sengaja membacanya"
"Ahhh itu, Olivia memintanya kemarin saat aku memberitahunya jika aku akan datang menemui kalian"
"Kapan dia akan datang??"
"Tidak tahu, dia masih sangat sibuk sekarang"
"Aku senang kalian sudah menyelesaikan permasalahan kalian"
Aditya merasa senang Olivia dan Yongki memutuskan untuk kembali bersama. Sepertinya Olivia juga sudah mendengarkan sarannya agar bisa bersikap lebih dewasa lagi, mengingat selama ini Olivia masih sering mementingkan egonya. Yongki adalah lelaki yang baik dan Olivia masih belum memahami betul bagaimana dia harus bersikap saat memilih kekasih yang memiliki pekerjaan seperti Yongki. Sekarang mereka sudah memutuskan memperbaiki hubungan mereka, Aditya berharap kedepannya mereka bisa saling melengkapi. Yongki pasti bisa merubah Olivia perlahan agar bisa bersikap lebih baik.
"Ayo kita bawa mereka ke halaman belakang saja, suasana diluar sedang baik" Ucap Aditya, dan Yongki menyetujuinya.
Aditya dan Yongki mbawa Kyra serta Kyros turun dan pergi ke halaman belakang. Cahya yang sudah membawa nampan berisi minuman meletakkannya lagi ke meja saat melihat Suami dan Kakaknya muncul dari pintu dapur. Aditya kemudian memberitahunya bahwa dia dan Yongki akan mengobrol di gazebo. Cahya akhirnya membawa nampannya ke halaman belakang dan meletakkannya disana.
Terdengar suara dari depan, Cahya pun kembali masuk ke dalam dan menemukan Chika, Elea dan Danist datang. Chika langsung menanyakan keberadaan Yongki. Cahya mempersilahkan mereka bertiga untuk bergabung di belakang, karena Aditya dan Yongki ada disana.
Chika memeluk Yongki dan bergumam bahwa dia sangat merindukan kakaknya itu, kemudian mengomel pada Aditya karena tidak menunggunya saat akan pulang. Elea dan Danist juga menyalami Yongki.
"Senang sekali bisa bertemu kalian lagi!"
"Senang juga bisa bertemu denganmu lagi pak tentara" Ujar Elea.
"Kau ini El, ayo duduklah"
Elea dan Danist duduk di gazebo bersama Aditya, sementara Cahya menyuruh Chika membuat minuman untuk Elea dan Danist tetapi keduanya menolak karena harus segera pulang. Elea mengambil sesuatu di tas nya lalu mengulurkannya pada Yongki.
"Karena kau kebetulan ada disini jadi aku tidak perlu memintamu untuk datang by phone, aku harap kak Yongki mau datang dan merestui kami berdua, dan ini untukmu dan juga Cahya Dit" Elea memberikan undangan berwarna putih berpita emas itu pada Aditya dan Yongki.
"Undangan pernikahan???" Tanya Yongki.
"Ya, kami akan melakukan resepsi pernikahan dan karena kami akan melaksanakannya di Bandung, kak Yongki harus datang oke, tak apa jika hanya sebentar yang penting kau harus datang, aku tahu kau sibuk sekali"
"Oh wow, tentu saja aku akan mengusahakannya El, jika malam tentu aku bisa datang, insha Allah"
Cahya dan Aditya juga ikut senang dengan kabar ini tetapi mereka menyayangkan Elea dan Danist harus membuang satu undangan untuk mereka, harusnya itu tidak perlu karena mereka pasti akan datang nanti meskipun tanpa undangan. Setelah memberikan undangan itu, Elea dan Danist berpamitan untuk pulang karena mereka sudah ditunggu Mama Elea dan Gienka.
*****
Cahya sudah memesan makanan untuk makan siang mereka, mengingat dia tidak sempat memasak karena harus mengurus si kembar dan memilih memesan dari restoran saja. Dibantu Chika, Cahya menyiapkan semuanya di meja makan sementara Aditya dan Yongki masih mengobrol di gazebo bersama Kyra dan Kyros.
"Bagaimana dengan pelakunya Dit??? Proses hukumnya sudah sampai dimana??" Tanya Yongki. Dia dan Adit sedang membahas permasalahan penculikan Kyros.Yongki ingin tahu lebih banyak dengan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
"Masih dalam proses Ki, dan akan segera masuk ke kejaksaan, dokter kejiwaan juga sempat memeriksanya memastikan apa dia mengalami gangguan kejiwaan atau tidak, tetapi syukurnya dia dalam keadaan sehat tentu hal itu akan membuat dia harus tetap menjalankan prosedur hukum yang sedang berjalan"
"Aku sudah memasukkan itu ke dalam laporan, mengenai pelakunya, Ibu memintaku untuk membebaskannya, kau tahu sendiri kan bagaimana Ibu??? Hatinya dipenuhi kebaikan, dia mengatakan padaku jika tidak tega melihat kondisi keluarga pelaku, dan memaafkannya lalu menyuruhku membebaskannya karena dalang utamanya juga sudah diketahui, aku tidak bisa menolak permintaan Ibu jadi aku menarik laporanku dan membebaskan orang itu"
Yongki tersenyum. "Bukan hati bibi ku yang dipenuhi dengan kebaikan, tetapi hatimu sendiri Dit, kau sangat bijaksana, bertanggung jawab dan begitu menyayangiku adik-adikku serta bibi ku, jika pamanku masih ada, aku yakin dia akan sangat bangga memiliki menantu sepertimu, kau selalu berusaha membahagiakan putrinya walaupun jalan yang kau lalui tidak mudah tetapi kau selalu berusaha keras memastikan kebahagiaan mereka"
"Kau terlalu berlebihan memujiku"
"Berhentilah bergosip dan ayo masuk, makan siang sudah siap" Ucap Cahya yang sudah berdiri di tepi kolam renang. Yongki dan Aditya turun dari gazebo sambil membawa Kyros dan Kyra masuk ke dalam.
Mereka berlima menikmati makan siang bersama, Cahya sibuk menyuapi si kembar. Makan siang kali ini lebih berwarna karena kehadiran Yongki yang membuat suasana menjadi berbeda dari sebelumnya. Yongki tidak berhenti menggoda Chika dengan menyuruhnya agar segera menikah dengan Adri karena mereka berdua sudah memiliki pekerjaan yang bagus. Dan seperti biasa Chika menolak membahas hal itu dan mengatakan itu akan terjadi tetapi tidak dalam waktu dekat.
Membahas tentang pernikahan, Yongki menjadi ingat dengan undangan pernikahan Elea dan Danist. Acara itu akan di adakan di Bandung, maka Yongki meminta agar nanti Aditya, Cahya, Chika dan Ibunya tidak perlu memesan hitel untuk menginap dan menyarankan agar mereka menginap saja di rumahnya. Itu belum pernah dilakukan setelah Cahya dan Aditya menikah. Kedua orangtuanya juga pasti akan sangat senang jika Aditya dan Cahya berkenan menginap di rumah mereka nanti.
"Ya walaupun rumah kami tidak sebesar rumahmu Dit, tapi ku pastikan kalian akan merasa nyaman disana, bagaimana apa kau mau menginap dirumah kami???" Tanya Yongki.
"Kau bicara apa Ki, selama ada kasur aku pasti bisa tidur, aku juga pernah tidur dirumah Cahya dulu setelah menikah, aku menikmatinya walaupun kipas angin dikamarnya rusak, dan dia mendorongku sampai terjatuh dari tempat tidur karena terkejut melihatku telanjjang dada, aku masih mengingatnya dengan baik"
"Apa!!!??? Kau serius Dit?? Kalian pernah tinggal disana?? Lalu bagaimana bisa Cahya mendorongmu, kau kan suaminya, kenapa dia harus terkejut???"
"Aku serius, tanyakan saja padanya kalau tidak percaya???" Aditya menunjuk ke arah Cahya yang menundukkan kepalanya, pura-pura tidak mendengarkan Aditya tetapi wajahnya memerah karena malu. Sementara Chika dan Yongki tertawa mendengar itu, karena tentu saja ini fakta yang belum mereka ketahui sebelumnya dimana Cahya pernah mendorong Aditya dari tempat tidur.
Cahya benar-benar malu, ternyata Aditya masih mengingat kejadian itu. Kejadian yang sebenarnya sangat memalukan tetapi lucu jika diingat. Cahya dulu begitu takut di dekat Aditya, bahkan lebih dari sebulan mereka tidak pernah tidur seranjang kecuali saat di rumahnya dulu, akan tetapi saat ini dia tidak bisa jauh dari Aditya, bahkan tidurnya akan lebih nyaman dan nyenyak saat berada di pelukan lelaki itu.
"Sudah sudah, lihatlah mukanya memerah seperti kepiting rebus, jadi bagaimana?? Kalian mau menginap dirumahku? Jika iya aku akan memberitahu Ayah dan Ibuku"
"Sebenarnya aku ingin, tetapi aku juga ada pekerjaan di kantor sana selama beberapa hari, tetapi baiklah kami akan menginap disana semalam" Ujar Aditya.
"Kau ada pekerjaan di kantormu selama beberapa hari kenapa menginap hanya semalam?? Kalian harus menginap sampai pekerjaanmu selesai"
"Tidak, tidak itu pasti akan merepotkan kalian" Aditya mencoba menolak lagi.
"Oh Cmon Dit, kita keluarga, kalian menginaplah selama yang kalian mau, oke??"
Aditya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Tidak enak juga jika menolak permintaan Yongki. Lagipula dia juga sudah berencana dengan Cahya sebelumnya untuk datang menemui keluarga Yongki jadi tidak ada salahnya menerima tawarannya.
Ponsel Aditya berbunyi, dia mengangkatnya, itu adalah panggilan dari bodyguard yang berjaga di depan.
"Ya, ada apa???" Jawab Aditya.
Aditya tiba-tiba memukul meja makan membuat terkejut Yongki, Chika dan Cahya. "Mereka lagi!" Geram Aditya dan wajahnya yang tadi biasa dan terlihat bahagia berubah menjadi penuh kemarahan. Semua saling berpandangan bingung dan menerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa??? Ada apa??" Tanya Cahya panik.
Aditya memundurkan kursi dan berdiri sambil menahan amarahnya, tanpa menjawab Cahya, Aditya langsung berjalan ke depan. Cahya menyuruh Chika agar menjaga Kyra dan Kyros, sementara dia dan Yongki menyusul Aditya untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.