SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 200



"Iel, bisakah kau berhenti bertindak berlebihan seperti ini? Kau tidak bisa selalu memaksakan kehendakmu, aku memang mengandung anakmu tetapi yang lebih pantas menentukan semuanya adalah diriku sendiri karena kau sudah menceraikanku, kau bersikap seperti ini hanya karena kau ingin menebus kesalahanmu padaku, tetapi tidak harus berlebihan seperti ini, aku memang memaafkanmu dan akan tetap memberimu waktu untuk melihat anakmu, tapi jangan kau manfaatkan hal itu untuk keuntunganmu sendiri, penentu kehidupanku akan kemana adalah diriku sendiri bukan kau"


"Tapi El?"


"Kalau kau terus memaksa, aku tidak akan pernah lagi mau menemuimu, jadi sekarang kau pergi dari sini"


"Kapan kau dan Danist akan menikah?" Tanya Ariel.


Elea terdiam sejenak kemudian mentapa Ariel. "Aku menikah kapan pun dan dengan siapapun bukan urusanmu" Elea berdiri dari kursi dan langsung meninggalkan Ariel dan menutup pintu rumahnya.


Ariel akhirnya pergi meninggalkan rumah Elea dengan perasaan kesal tetapi dia tidak bisa berbuat apapun.


*****


Yongki duduk sendiri di taman belakang rumah Aditya, sore nanti dia dan orangtua nya akan pulang dan besok dia memulai aktifitasnya lagi. Kedatangan Olivia ke rumah ini membuatnya menjadi canggung terlebih lagi rupanya semalam Olivia juga menginap disini dan tadi pagi mereka sarapan bersama. Yongki mengingat kejadian semalam dimana Olivia tiba-tiba memeluknya dan menyangka dia adalah Aditya, sampai akhirnya Cahya juga Aditya keluar kamar mereka meninggalkannya dan Olivia disana.


Saat mereka berdua meninggalkannya dan Olivia, suasana menamjadi canggung tetapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Hai" Sapanya semalam kepada Olivia.


"Hai juga" Jawab Olivia.


Setelah saling menyapa, mereka pun terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Cukup lama terdiam akhirnya dirinya memberanikan diri untuk bertanya kepada Olivia. "Bagaimana pekerjaanmu? Apa semuanya lancar?" Tanya Yongki.


"Ya, semuanya sangat lancar, bagaimana denganmu sendiri? Apa kau ditugaskan lagi dipedalaman?"


"Tidak! Aku akan bertugas diluar kota tetapi tidak dipedalaman atau perbatasan lagi, tugas biasa"


"Oh.... Pasti itu sangat menyenangkan"


"Kurasa sama saja"


Ya, mereka hanya mengobrol sebatas itu, selebihnya hanya diam dan Olivia juga menyibukkan dirinya dengan menciumi Kyra. Dan selanjutnya kediaman itu berlangsung sampai Cahya dan Aditya kembali ke kamar.


Yongki sebenarnya masih sangat mencintai Olivia, tetapi dia harus menyerah dengan keadaan untuk menghindari konfrontasi dengan perempuan itu. Memang bukan perkara yang mudah untuk menjalin suatu hubungan dengan pria sepertinya, butuh seseorang yang kuat mental dan perasaan juga sabar, dan Yongki merasa, Olivia tidak bisa melakukan semua itu karena perempuan itu menuntut beberapa hal yang cukup sulit untuk dia turuti. Saat Olivia meminta berpisah, dia pun mengabulkannya dengan berat hati.


"Wooeee!!!" Teriak Cahya yang membuat Yongki terkejut saat dia sedang melamun.


"Lagi mikirin apa??"


"Kau ini senang sekali membuatku terkejut, mana Kyra dan Kyros?"


"Mereka sedang bersama Mama, Bibi dan Olu, hahaha bagaimana semalam? Kalian balikan lagi kan?" Goda Cahya sambil menyenggolkan sikunya di pinggang kakaknya.


"Balikan apa? Engga ada balikan!"


"Ah payah sekali, sudah diberi waktu berduaan kenapa malah tidak memintanya kembali, sayang sekali"


"Kau ini, dasar!"


Sore harinya Yongki dan keluarganya berpamitan untuk pulang. Begitu juga Olivia, karena dia juga harus kembali malam ini. Yongki dan Olivia masih sama tidak saling berbicara, keduanya merasa canggung satu sama lain, padahal Aditya juga sudah mencoba berbicara dengan Olivia agar mau memperbaiki hubungannya dengan Yongki tetapi Olivia tidak memperdulikan ucapnnya.


*****


Kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh Cahya dan Aditya yang kebetulan sedang mengobrol dengan Papa Aditya di ruang tamu setelah makan malam. Kyra dan Kyros juga belum tidur karena seharian tadi mereka sudah mengahabiskan waktunya untuk tidur.


"Ya ampun pengantin baru yang abis honeymoon akhirnya datang juga, apa kabar Chit?" Ucap Cahya dan memeluk Chitra.


"Baik Ca, apa kedua bayi menggemaskan itu sudah tidur? Aku membawa hadiah untuk mereka"


"Mereka belum tidur, yuk duduk"


Cahya dan Chitra disibukkan dengan menggendong Kyros dan Kyra sambil mengobrol dengan Mama Aditya. Sementara para lelaki tampak sibuk dengan obrolan mereka sendiri.


"Dit, kemarin ibu mertuaku mengatakan jika om Andi adalah tetangganya dulu" Tiba-tiba Randy berucap membahas Ayah Ariel, membuat Aditya menatapnya serius.


"Tetangga? Jadi Mama nya Chitra mengenal om Andi?"


"Ya, Papa juga mengenalnya, mereka tetangga dulu dan benar katamu kalau om Andi itu mantan suami tante Sari ibunya Danist, selanjutnya kau bisa menebaknya sendiri"


"Maksudnya???" Aditya terlihat bingung.


Cahya juga langsung mengalihkan pandangannya ke Randy yang tampak serius membahas Ayahnya Ariel dengan suaminya.


"Jangan katakan kalau Danist adalah anaknya om Andi?" Gumam Aditya yang langsung mendapat respon dari semua orang uang ada diruangan itu.


Randy hanya diam tidak menjawab, sementara Cahya langsung mengarahkan pandangannya ke Chitra. Chitra pun tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.


"Ini serius Chit?" Tanya Mama Aditya.


"Iya Tan, itu yang dikatakan Mama dan Papa, Om Andi memang mantan suami tante Sari dan Danist adalah anak yang ditinggalkan saat masih ada dikandungan tante Sari"


Aditya menyandarkan kepalanya di sofa sambil menghela napasnya panjang. Satu lagi kebenaran yang terungkap dan itu sangat mengejutkan. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti jika hal sebesarbitu terungkap dan Ariel mengetahuinya, pasti akan ada kekacauan yang terjadi.


*****


Beberapa hari kemudian, Elea disibukkan dengan pekerjaannya sebelum minggu depan dia mulai mengambil cuti melahirkan. Dia mendapatkan cuti yang cukup lama yaitu selama 3 bulan. Perutnya semakin membesar dan dia cukup kesulitan berjalan tetapi itu tidak membuatnya mengeluh sama sekali.


"El, sudah waktunya makan siang, kita ke kantin yuk" Danist berdiri didepan meja Elea.


"Kau pergi dulu kesana nanti aku menyusul, aku ingin ke toilet"


"Oke, aku tunggu disana"


Danist meninggalkan Elea, dan Elea pun berdiri dan pergi ke toilet.


Elea sedang mencuci tangannya di wastafel tetapi tiba-tiba perutnya terasa nyeri. Elea meringis mengerang kesakitan dan berpegangan pada wastafel. Elea menatap ke bawah melihat cairan dan lendir keluar dari pahanya, turun ke kaki nya dan menetes ke lantai. Suasana toilet tampak sepi karena semua staff pergi ke kantin untuk makan siang.


Nyeri luar biasa membuat Elea tidak berhenti mengerang dan mencoba meminta tolong. "Tolong....!!! Auuuwwhhh sakit....." Erang Elea yang kemudian terduduk di lantai karena rasa sakit itu, membuatnya tidak kuat berdiri bahkan jalan juga tidak bisa. Sialnya ponselnya tertinggal di meja kerjanya membuat dia tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan.


Elea terus mengerang dan mencoba menggedor pintu toilet berharap ada yang menolongnya. Tetapi usahanya sia-sia dan cairan itu terus keluar membuat pakaiannya basah. Elea terus mengerang kesakitan, dia bahkan tidak mampu untuk berdiri.


"To....long....." Teriak Elea dengan suara lemah dan sekali lagi usahanya gagal karena suasana kantor sangat sepi.


Disisi lain Danist sejak tadi menunggu Elea yang belum juga tiba. Sementara Chika tampak sibuk makan sambil bermain dengan ponselnya. Danist menghubungi Elea tetapi tidak ada jawaban sama sekali.