
Saat sedang memeluk Danist, pak Andi dikejutkan dengan kehadiran Ariel dipintu, tatapan putranya itu terlihat marah kepadanya. "Selamat atas pernikahanmu dengan Elea, aku beberapa kali kesini tetapi tidak bertemu denganmu, sekali lagi ku ucapkan selamat" Ucap Pak Andi lalu melepaskan pelukannya dab menyalami Danist.
Ariel berjalan menghampiri Elea yang sedang menggendong Gienka seolah tidak memperdulikan Ayahnya juga Danist. Saat itulah Danist dan Elea baru menyadari kehadiran Ariel.
"Aku datang untuk menengok putriku, berikan dia padaku" Pinta Ariel pada Elea.
Elea tidak mengatakan apapun dan langsung memberikan Gienka pada Ariel. Suasana menjadi hening seketika, Ariel menimang Gienka dan menjauh dari ketiganya. Elea menyuruh Danist untuk menemani Ayah Ariel mengobrol sementara dia akan membuatkan minum untuk Ariel. Tetapi pak Andi merasa tidak nyaman dan takut terlalu emosional jika terlalu lama dengan Danist terutama saat ini ada juga Ariel, lebih baik dia memilih untuk pulang saja.
Elea dan Danist mengantar Ayah Ariel didepan rumah lalu kembali masuk.
"Chika belum pulang?" Tanya Elea.
"Dia tadi bilang ingin pergi membeli sesuatu"
"Temani Ariel, aku akan membuatkan minum untuknya, juga untukmu"
Danist duduk dikursi dan hanya diam melihat Ariel duduk digazebo bersama Gienka. Lelaki itu tampak begitu senang mengajak Gienka berbicara dan sesekali menciumi bayinya. Mood Ariel selalu terlihat tidak baik jadi Danist memilih duduk jauh dari lelaki itu dan hanya diam memperhatikannya.
Elea membawa keluar nampan berisi minuman dan memberikannya pada Danist lalu melangkah ke atah Ariel. "Minumlah ini" Ucap Elea pada Ariel.
"Thanks! Oh iya El, bisakah kau tidak lagi menerima pria tua itu datang kesini, aku tidak mau putriku dekat-dekat dengannya"
"Iel, berhentilah bersikap kekanak-kanakan, dia kakeknya Gienka jadi kenapa aku harus melarangnya untuk datang, dia sangat menyayangi Gienka dan aku juga tidak memiliki masalah dengannya, jika kau yang memiliki permasalahan dengannya, aku tidak peduli itu urusanmu, habiskan minummu dan bawa Gienka masuk, ini sudah mendekati senja"
Pak Andi merasa sangat bahagia karena bisa memeluk Danist untuk pertama kalinya, Danist putranya yang selama ini tidak dia ketahui. Walaupun Danist tidak mengetahui jika dia adalah Ayahnya tetapi saat ini yang terpenting adalah dia bisa melihat putranya itu. Dari pandangan Ariel ke Danist memang terlihat sangat jelas bahwa Ariel sangat tidak suka kepada Danist, kedua putranya itu saat ini saling membenci satu sama lain, satu lagi ironi hidup yang harus dia rasakan. Memang benar bahwa dia harus bisa menjaga ini semua agar Danist dan Ariel tidak mengetahui jika mereka bersaudara, karena itu pasti akan menimbulkan ketegangan yang lebih parah. Ariel yang dipenuhi dengan kemarahan dan emosional sedangkan sepertinya Danist memang terlihat sebagai seorang laki-laki yang pendiam, mereka sangat jauh berbeda.
*****
Randy mendatangi kediaman Aditya menyampaikan informasi tentang pencariannya terhadap orang yang mengirimi paket berisi bangkai untuk Cahya. Sayangnya dia tidak menemukan informasi siapa pria itu sebenarnya karena setelah dia menyuruh anak buahnya untuk mencari data tentang nomor plat motor itu ternyata plat palsu, dan tidak ada informasi apapun lagi yang bisa dia dapatkan.
Informasi itu membuat Aditya merasa kesal karena usahanya dan Randy sudah gagal. Dan yang pasti sekarang dia sekarang harus lebih berhati-hati menjaga keamanan dari istri serta keluarganya. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi karena ini sangat merasakan hingga membuat Cahya jatuh sakit.
"Kalau ini masih berlanjut lagi aku pasti akan membantumu, tapi jika tidak ya bagaimana lagi!"
"Kau benar Ran, tetapi aku masih penasaran siapa dia"
"Ya kita lihat saja Dit apa dia nanti masih melakukamnya lagi atau tidak, ya sudah aku harus pulang sekarang, salam untuk Cahya"
"Oke thanks Ran"
Setelah mengantar Randy sampai didepan rumah, Aditya naik ke kamarnya, Cahya ternyata sudah selesai memandikan Kyra dan Kyros. Aditya menyuruh Cahya untuk mandi sementara dia yang akan menjaga si kembar. Bukannya ke kamar mandi Cahya justru memeluk Aditya dari belakang saat suaminya itu sedang duduk diatas tempat tidur lalu menumpukan dagunya di pundak Aditya.
"Sayang!!!" Ucap Cahya pelan.
"Bukan!!! Dasar kau ini"
"Lalu apa??? Biasanya jika kau seperti ini pasti ada sesuatu yang ingin kau minta, katakan apa yang kau mau?"
"Lusa ada acara kumpul dengan teman-teman SMA ku, kita pergi ya??? Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka, aku mengajakmu karena kalau aku ingin pergi sendiri kau pasti tidak akan mengijinkanku, jadi kita pergi berdua ya?? Please??"
"Tidak boleh, kau baru saja sembuh jadi istirahat saja dirumah"
"Aku sudah sembuh sayang, ayolah please please please"
Aditya menghela napasnya panjang karena jika Cahya sudah seperti ini, bukan hal yang mudah untuk menolaknya karena Cahya pasti akan terus memaksanya. "Baiklah, sudah sana mandi"
"Thank you sayang, aku mencintaimu" Gumam Cahya lalu mencium pipi Aditya dan melpaskan pelukannya lalu pergi ke kamar mandi.
*****
Ariel masih belum pulang dari rumah Elea dan masih mengajak Gienka bermain padahal hari sudah gelap, sekarang juga sudah jam makan malam. Merasa tidak enak, Elea pun terpaksa menawari Ariel untuk bergabung bersamanya dan yang lainnya untuk makan malam. Mama Danist juga tadi datang seperti biasa dan cukup terkejut melihat Ariel ada disini, ingatannya menjadi melayang ke pertemuannya dengan Andi serta permintaannya agar tidak memberitahu siapapun tentang kenyataan Danist yang sebenarnya.
Semua sudah berada diruang makan, Elea datang diikuti Ariel dibelakangnya karena tadi dia memanggilnya untuk bergabung bersama. Elea menarik kursi dan duduk lalu mengambil piring yang ada didepan Danist, menyiapkan makan untuk lelaki itu dengan mengambilkannya nasi.
"Kau mau yang mana?? Ayam atau udang?" Tanya Elea pada Danist.
"Udang saja, dan juga sayur saja" Ucap Danist sambil tersenyum.
Elea menyerahkan piring itu kepada Danist lagi dan dengan lembut Danist mengucapkan terima kasih pada Elea. Ariel melirik dengan tatapan tidak suka dan merasa risih tetapi dia memilih diam saja lalu mulai sibuk mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
Suasana makan malam pun hening tidak seperti biasanya, terlihat jelas kehadiran Ariel membuat semuanya terasa canggung. Sejak datang, Ariel sudah menunjukkan sikap acuh tak acuhnya kepada Danist hingga Danist pun enggan mengajaknya berbicara.Semua menikmatinya makan malam dalam keheningan dan yang terdengar hanya bunyi piring dan sendok yang beradu. Elea merasa aneh dengan keadaan ini, tetapi dia sendiri tidak bisa melakukan apapun, karena tidak mungkin jika tidak mengajak Ariel untuk bergabung, lelaki itu masih ada disini.
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya, masih sama seperti dulu, masakan buatan Elea ini sangat enak, aku sudah sangat hafal dengan rasanya, dan ini makanan faforitku, Elea biasa memasaknya untukku karena tahu aku sangat menyukainya" Tiba-tiba Ariel berceletuk yang membuat orang-orang menghentikan suapannya dan memandang ke arah Ariel yang menebar senyumnya ke Elea.
Elea melanjutkan makannya dan tidak memperdulikan apa yang baru saja diucapkan Ariel. Sedangkan Danist hanya bergantian melirik Ariel dan Elea tetapi tidak mengatakan apapun.
"Oh iya Danist, kau sangat pintar kurasa, aku pernah mengatakan padamu bahwa agar kau jangan membawa putriku tinggal dirumah dinasmu yang kecil itu tetapi kau sekarang memilih tinggal disini karena rumah ini lebih besar ya?? Hahaha aku tahu jalan pikiranmu, tapi itu bagus jadi anakku memang akan nyaman tinggal disini daripada harus tinggal ditempatmu" Gumam Ariel.
Yang seketika membuat semua yang ada diruang makan itu menatap Ariel dengan tatapan kesal, terutama Elea. Mendengar itu Mama Danist juga menatap Ariel kesal tetapi hatinya berkecamuk sedih ingin sekali rasanya dia membela putranya yang terus saja dihina oleh Ariel.
Danist mencoba tidak terpancing dengan melempar senyum ke Ariel lalu mengambil gelas berisi air didepannya dan meminumnya dengan tenang. "Anda benar sekali pak Ariel, bagi saya yang utama adalah kenyamanan dari istri juga Gienka yang sekarang menjadi anak saya, saya rasa mereka juga tidak pernah mempermasalahkan saya ingin tinggal dimana, dan ya sebenarnya saya awalnya ingin mengajak istri saya untuk tinggal dirumah dinas saya tetapi karena rumah ini sangat spesial untuk istri saya itu jadi dia juga merasa berat jika harus meninggalkan rumah ini, anda tahu?? Dulu Pak Aditya sengaja menyuruh istri saya untuk tinggal disini karena dulu dia pernah mengalami hal menyakitkan di hidupnya hingga membuat dia merasa harus pergi dan menjauh dari masalalunya, dan rumah ini menjadi tempat yang baru untuk memperbaiki kehidupannya jadi saya rasa tempat ini punya history luar biasa untuk Elea istri saya, itu sebabnya saya sangat menghargai keputusannya untuk menetap disini, anda pasti tahu kan bagaimana masalalu dari istri saya ini? Karena anda juga terlibat didalamnya" Danist berucap sambil tersenyum mengejek Ariel.
Saat itu juga Ariel tersedak dan batuk-batuk mendengar ucapan Danist yang seolah sengaja mengejeknya didepan semua orang.
"Silakan minum dulu pak Ariel, biar tidak salah paham dan makanannya bisa tercerna dengan baik diperut anda, silakan" Ucap Danist lagi.