
"Kenapa kau mengungkit masalalu??? Berani sekali kau!!!" Ucap Ariel dengan suara keras.
"Saya tidak mengungkit masalalu, saya hanya menyampaikan fakta yang sebenarnya karena tadi anda membahas tentang tempat tinggal, dan memang itu kenyataannya, saya memang tidak memiliki rumah yang besar atau properti yang banyak seperti yang anda miliki, tetapi yang terpenting adalah hubungan baik tetap terjaga diantara kami" Ucap Danist lagi dengan santainya yang juatru membuat Ariel semakin naik pitam.
"Apa maksudmu???" Ariel memundurkan kursi dan wajahnya terlihat sangat marah. "Kau menghinaku karena hubunganku dan keluargaku tidak baik???" Ucapnya lagi sambil berdiri dan hendak memukul Danist.
"Ariel.....!!!! Jangan membuat keributan disini, cepat lah pergi dan jangan berani kau menginjakkan kakimu disini lagi...." Teriak Elea geram yang akhirnya membuat Ariel terhenti.
"Kau disini tamu Iel, jangan datang hanya untuk membuat keributan, aku menerima kedatanganmu karena kau ayahnya Gienka tapi bukan berarti kau bisa berbuat dan berucap sesukamu, setidaknya hargai Danist, kalau bukan karena dia tentu aku tidak mau menerimamu disini, dan ingat jika kau masih ingin menemui Gienka disini jagalah attitude mu"
Melihat kemarahan Elea, Ariel langsung pergi meninggalkan rumah Elea, karena akan sangat berbahaya kalau sampai Elea tidak mengijinkannya lagi bertemu dengan Gienka. Ariel mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menahan amarahnya, dia tidak menyangka Danist justru membalikkan ucapannya yang akhirnya membuat dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Elea merasa sangat kesal karena Ariel masih saja bersikap sesukanya, dan tidak bisa menahan dirinya agar bisa bersikap dengan baik. Ini bukan sekali dua kali Ariel melakukannya dan selalu dilakukan didepan keluarga. Elea sama sekali tidak mengerti kenapa Ariel berubah begitu drastis padahal Ariel yang dikenalnya dulu tidaklah seperti itu, selalu menjaga sikap kepada siapapun tapi tidak dengan sekarang. Elea berpikir apa mungkin Ariel berubah seperti itu karena dulu saat lelaki itu memintanya untuk kembali bersama tetapi dengan tegas dia menolaknya yang akhirnya membuat lelaki itu menjadi tidak bisa menggunakan akalnya untuk berpikir sebelum berbicara dan bertindak.
Elea terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari jika Gienka sedang menangis keras di strollernya mungkin karena bayi itu mengantuk dan lapar, hingga membuat Danist harus menyadarkan lamunan Elea dengan menepuk pelan tangan Elea. "El, El, Gienka menangis, mungkin dia lapar"
Elea langsung tersadar saat tangan danist menyentuhnya dan dia melempar senyum sanbil meminta maaf lalu mengangkat Gienka dan membawanya ke kamar. Chika membantu Mama Elea membereskan meja makan sementara Mama Danist meminta untuk diantar pulang.
"Mama dengar tadi Ayah Ariel datang ke rumah" Tiba-tiba Mama Danist bertanya pada putranya yang tengah sibuk mengendarai mobil.
"Iya Ma, tadi dia datang"
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu???"
"Oh dia hanya mengucapkan selamat atas pernikahanku dengan Elea itu saja, tapi karena Ariel datang dia langsung berpamitan pulang"
Mama Danist merasa sangat lega karena sejak mendengar jika Ayah Ariel datang ke rumah Elea perasaannya menjadi sangat khawatir jika mantan suaminya itu akan membongkar kebenarannya pada Danist. Melihat betapa bencinya Ariel pada Danist membuatnya merasa sangat sedih, jika sampai keduanya saling mengetahui jika meteka bersaudara pasti Ariel akan semakin membenci Danist. Ariel terlihat sangat arogan dan sama sekali tidak bisa menjaga perasaan orang lain.
*****
2 hari kemudian.....
Cahya dan Aditya sudah sampai di tempat dimana Cahya akan bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu. Cahya merasa sangat senang karena sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan teman-temannya karena dulu dia disibukkan dengan pekerjaannya dan bahkan setelah menikah dia masih disibukkan pekerjaan hingga tragedi kehilangan bayinya yang membuatnya harus mengalami trauma berat. Aditya kemudian membawanya pergi dan tinggal di luar negeri selama beberapa bulan sampai akhirnya kembali lalu hamil dan sekarang sibuk mengurus kedua bayinya tetapi itu tidak serta merta membuatnya bebas karena suaminya itu sangat membatasi kegiatannya demi keamanan dirinya. Pernikahan yang begitu mendadak hingga membuatnya juga sama sekali tidak terpikirkan untuk mengundang teman-temannya selain hanya teman kantornya saat itu. Cahya merasa sangat senang Aditya mau diajak untuk datang, setidaknya rasa rindunya pada teman-temannya bisa terobati hari ini.
Setibanya disana teman-teman Cahya terutama yang perempuan langsung memanggilnya dan mereka terlihat sangat senang hingga membuat mereka saling berpelukan dan cipika cipiki satu dengan yang lainnya. Terlihat juga beberapa dari mereka membawa anaknya, dan ada juga yang masih belum menikah.
"Ah iya, kenalkan ini Aditya suamiku"
"Kau memang luar biasa Ca, cerdas dalam segala hal, dulu kau paling cerdas di kelas sekarang kau juga cerdas memilih suami, oh iya kenapa kau dulu tidak mengundang kami saat kalian menikah, kau jahat sekali"
"Aku minta maaf sekali, terlalu pusing memikirkannya hingga aku lupa segalanya"
"Kau tidak membawa bayi kembarmu Ca???" Celetuk seorang temannya lagi.
"Tidak, mereka sedang dirumah bersama ibu dan mama mertuaku"
Teman-teman Cahya mempersilahkan Cahya dan Aditya untuk duduk. Dan mereka mulai mengobrol berbagai hal, bernostalgia tentang masa sekolah mereka. Aditya melempar senyumnya melihat Cahya begitu senang bertemu dengan teman-temannya. Salah seorang suami teman Cahya mengajak Aditya untuk mengobrol dan membiarkan para perempuan sibuk dengan pembicaraan mereka.
Dari kejauhan ternyata Bara ada disana dan tahu kedatangan Cahya dan Aditya. Bara masih sangat marah dan tidak terima sudah dipecat begitu saja oleh Aditya karena Cahya. Perempuan itu pasti yang sudah menghasut suaminya agar memecatnya karena dendam masalalu padanya.
"Eh Ra, toilet dimana ya??" Tanya Cahya pada temannya.
"Disitu, lurus aja Ca"
"Sayang, aku ke toilet dulu ya bentar" Ucap Cahya memberitahu Aditya, dan Aditya mengangguk.
Melihat Cahya pergi, Bara berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Cahya. Bara menunggu sampai Cahya keluar dari toilet, dia harus memberi perempuan itu pelajaran agar tidak bersikap sesukanya dengan memanfaatkan jabatan suaminya. Dia harus melakukan sesuatu pada perempuan itu.
Beberapa saat kemudian Cahya keluar, saat dia berjalan dilorong toilet tiba-tiba seseorang menghadangnya. Cahya mengangkat kepalanya dan melihat Bara yang menghadangnya, Cahya bingung tetapi tersenyum ke arah Bara dan menanyakan kabarnya.
"Bara kau?? Kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu?" Tanya Cahya tetapi sangat terlihat jika Bara tidak senang dengan pertanyaannya karena wajah lelaki itu terlihat marah, entah dengan siapa, dengannya atau dengan orang lain, Cahya tidak tahu.
Karena tidak mau lagi ada permasalahan dengan Bara, Cahya pun mengucap permisi dan meminta Bara untuk memberinya jalan tetapi Bara tidak bergerak sama sekali dan justru mentap Cahya dengan tatapan tajam hingga membuat Cahya merasa takut melihatnya.
"Bara, aku ingin lewat beri aku jalan" Pinta Cahya.
Bukannya minggir Bara justru merenggangkan tangan kirinya ke tembok dan tangan kanannya mendorong Cahya sambil terus memandang Cahya dengan penuh kemarahan. Cahya pun memundurkan langkahnya karena merasa takut dengan Bara, entah apa yang akan dilakukan lelaki ini padanya dan dia juga tidak tahu kesalahan apa yang dilakukannya hingga sepertinya Bara sangat marah kepadanya.