SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 387



Elea mendekat ke ranjang dimana Danist terbaring disana. Mata lelaki itu berkedip pelan memandang langit-langit ruangan ini. Elea melangkah pelan dan jemarinya menyentuh punggung tangan Danis, membuat lelaki itu melirik ke arahnya. Dibalik masker oksigen yang menutup mulut dan hidungnya, Danist mencoba tersenyum pada Elea, walaupun senyum itu hanya senyum tipis.


"El...!!" Gumam Danist dengan suara yang sangat pelan.


"Sssstttt.....!!!! Jangan bicara apapun, kau masih sangat lemah sekali" Elea duduk disebuah kursi yang ada di sisi ranjang perawatan Danist, dengan lembut Elea mencium tangan suaminya itu.


"Cepatlah sembuh, dan kita bisa pulang....!" Elea berdiri mengusap kening Danist dengan wajah yang sangat sedih.


Sementara Danist mencoba mengumpulkan semua ingatannya bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit serta bagaimana dia bisa seperti ini. Memikirkan itu semua membuat kepalanya terasa sakit, tetapi dia ingat sesuatu.


"A....riel....!" Ucap Danist lagi yang langsung membuat Elea membelalakkan matanya.


Elea langsung menyadari jika Danist pasti sedang mengingat kejadian kemarin. Dan itu tidak baik karena kepalanya harus bekerja ekstra untuk mengingat. Danist tidak boleh lagi teringat apapun tentang kemarin.


"Dia baik-baik saja, tidak ada luka satupun ditubuhnya, kau berhasil menyelamatkannya, tetapi kau lupa menyelamatkan dirimu sendiri, sudah aku bilang sudah, jangan lagi pikirkan apapun, jangan membuat otakmu bekerja keras, kau baru saja menjalani operasi, diam, istirahat dan cepatlah sembuh...!"


Danist kembali melemparkan senyumnya pada Elea. sementara Elea merasa kesal, disaat Danist baru saja sadar, suaminya itu justru masih saja menyebut nama Ariel. Padahal sudah sangat jelas bahwa selama ini Ariel sama sekali tidak pernah memperdulikannya, tetapi Danist masih saja bersikap baik kepadanya. Dan Elea berharap dengan dia mengatakan bahwa Ariel baik-baik saja itu bisa membuat Danist tidak lagi harus dipusingkan dengan memikirkan orang seperti Ariel yang tidak tahu diri itu.


Karena dokter hanya memberinya ijin 5 menit saja untuk bertemu Danist, Elea menyuruh agar Danist beristirahat saja sehingga kondisinya bisa membaik, mengingat saat ini Danist masih dalam keadaan belum stabil. Elea mengusap-usap lengan Danist, agar suaminya itu bisa segera kembali beristirahat. Melihat lelaki itu sudah sadar membuat elea merasa bahagia sekali, dan yang pasti semoga ini awal yang baik untuk Danist bisa kembali seperti sedia kala lagi.


★★★★★★★


"Elea baru saja mengirim pesan, Danist sudah sadar tetapi kondisinya masih belum stabil" Cahya meletakkan segelas jus di depan Aditya yang sedang duduk melihat kedua anaknya serta Gienka sedang syik berenang ditemani Chika dan Adri.


"Benarkah???? Ahhh syukurlah...! Semoga ini awal yang baik...!"


"Ya semoga cepat membaik, aku tidak tega melihat Elea seperti ini! Setelah kejadian ini, apa menurutmu Ariel akan bisa bersikap baik kepada mereka???"


"Entahlah...! Semoga saja...! Aku sendiri tidak bisa menyalahkan kejadian ini adalah kesalahan Ariel karena dari sudut pandangku Danist yang memilih melakukan itu untuk Ariel, akan tetapi jika sikap Ariel masih sama setelah kejadian ini, kurasa memang sikap Ariel sangatlah buruk, tetapi dari sikap yang ku lihat kemarin saat Elea mengusirnya, Ariel begitu menyesalinya dan berharap sekali bisa bertemu dengan Danist, ya tapi mau bagaimana lagi, itu semua hak Elea dia yang lebih berhak memutuskan untuk mengijinkan Ariel atau tidak"


Cqhya menghela napasnya, dan menyadari bahwa sikap Elea saat ini adalah luapan kemarahan yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun. Setiap kesabaran itu pasti ada batasnya dan Ariel memang tidak pernah sekalipun benar-benar menyadari kesalahannya. Karena sikapnya itu suatu saat nanti juga akan disadari oleh Gienka karena anak itu semakin hari akan semakin tumbuh dan pasti lambat laun akan menyadarinya.


Cahya berdiri dan melangkah ke pintu kaca, kemudian memanggil Adri, Chika dan ketiga bocah itu agar berhenti berenang kemudian lekas mandi karena hari sudah senja. Cahya membalikkan badannya dan mengambil setumpuk handuk berwarna putih, memberikannya kepada mereka berlima.


Beberapa hari kemudian.....


Kondisi Danist semakin membaik, bahkan kemarin dia sudah diperbolehkan untuk pindah ke kamar perawatan biasa. Sebelumnya Danist masih mengeluhkan sakit di kepalanya, tetapi semua itu bisa ditangani dengan baik. Elea juga tidak pulang sama sekali dan hanya mengirim Asi nya untuk Friddie. Gienka tinggal di apartemen Aditya dan Cahya, hal itu membuat Elea merasa tidak khawatir lagi, karena Cahya bilang jika kemarin Brianna datang untuk memastikan kondisi Gienka, dan ternyata anak itu sudah dalam keadaan yang sangat baik sekali.


Ariel kembali menghilang setelah pengusiran Elea yang kedua kalinya di rumah sakit. Ariel tidak menghubungi siapapun, rumahnya juga dalam keadaan kosong beberapa hari terakhir. Informasi tentang pengusiran Ariel oleh Elea untuk kedua kalinya itu didapat Aditya dari Maysa. Sekretarisnya itu bercerita setelah dia menanyakan keberadaan Ariel yang tidak bisa dihubungi padahal Gienka selalu menanyakannya. Sayangnya Maysa tidak memberitahu dimana keberadaan Ariel saat ini, Maysa hanya mengatakan Ariel sedang butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Dari situ Aditya mengambil kesimpulan jika Maysa tahu benar dimana keberadaan Ariel, tetapi dia tidak terlalu ingin memaksa Maysa untuk mengatakan tentang keberadaan Ariel karena mungkin saat ini Ariel butuh waktu sendiri, seperti ketika dulu dia pernah melakukan kesalahan besar kepada Elea dan Danist. Ariel pergi untuk mendapat ketenangan diri dengan hal positif, dan Aditya snagat berharap kali ini Ariel juga melakukan hal yang sama dan kembali dengan kesadaran penuh.


Elea membantu Danist untuk duduk, sebelum menyuapinya untuk makan malam. Elea merasa bahagia sekali, perlahan wajah pucat suaminya itu sudah kembali terlihat segar. Jika kondisinya semakin baik, tentu Danist akan segera bisa pulang ke rumah, walaupun masih butuh waktu lama untuk recovery, mengingat Danist harus istirahat total dan tidak boleh memikirkan hal yang berat.


Setelah memastikan Danist dalam posisi nyaman, Elea mengambil mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapkannya pada Danist.


"Aku sangat merindukan Friddie dan Gienka, kau juga pasti merindukan mereka?? Tidakkah kau berniat menyuruh mereka kesini??? Aku sudah tidak ada di ruang ICU kan sekarang??" Ujar Danist.


Elea tersenyum memandangnya. "Baiklah, aku akan menyuruh Mama membawa Friddie kesini, dan akan menghubungi Cahya agar besok setelah menjemput anak-anak dari sekolah, dia bisa membawa Gienka kesini"


"Aku ingin cepat pulih, pulang dan bisa bermain dengan mereka lagi...! Oh iya??? Sudah berhari-hari disini kenapa Ariel tidak pernah datang ya???"


Tangan Elea langsung terhenti dan meletakkan mangkuk di tangannya itu ke meja kemudian menatap Danist dalam diam. "Dia sibuk mungkin, lagipula apa pedulinya dia kepadamu? Sudahlah sayang, kenapa kau selalu menanyakan dan mengkhawatirkan orang seperti dia, apa pernah sekali saja dia memperdulikanmu???"


"El, bagaimanapun dia adikku, aku harus bisa menjaganya, aku ingin kau menghubunginya dan memintanya kesini jika dia tidak sibuk!"


"Habiskan buburmu dan lupakan Ariel, dia tidak akan pernah datang kesini, berhentilah memikirkannya, fokus pada kesembuhanmu, aku tidak akan pernah melakukannya...!" Ucap Elea dengan kesal dan mengambil lagi mangkuk di meja untuk menyuapi Danist lagi.


Setelah menyuapi Danist, Elea memberinya minum setelah itu dia membantu Danist untuk berbaring lagi. Elea berpamitan pada Danist untuk ke kamar mandi sebentar. Danist mulai merasa curiga terhadap Elea, setiap kali dia menanyakan Ariel, istrinya itu selalu saja bersikap aneh, terlihat kesal dan judes. Danist berpikir bahwa sepertinya telah terjadi sesuatu.


Danist melirik ke meja disampingnya dan menemukan ponsel Elea disana. Kondisi sedang sepi, karena Mamanya juga sedang keluar membeli makanan, Elea juga sedang berada di toilet. Bergegas dia berusaha meraih ponsel Elea, setelah mendapatkannya dia mencoba mencari kontak Ariel, tetapi ternyata tidak ada nama Ariel disana. Hingga tiba-tiba ada sebuah panggilan video dari Cahya. Danist mengangkatnya dan terkejut ketika wajah Gienka ada disana.


Mengetahui Danjst yang mengangkat teleponnya, Gienka langsung berteriak "Papa Dan..........!!!!!"


"Hai anak cantik....!!!"


"Papa sedang apa??? Sudah makan? Lihatlah aku sedang makan belsama Kyla dan Ky juga onty Cahya, aku makan ayam goleng, Papa Dan sudah makan??"


Danist tersenyum. "Sudah... Umm Papa Dan kangen sekali dengan Gie, besok Gie bisa kan datang kesini bersama onty Cahya atau uncle Adit???"


Kamera bergeser, Danist tidak bisa melihat wajah Gienka tetapi dia bisa mendengar dengan jelas bahwa putrinya itu sedang berbicara dengan Cahya dan menanyakan apakah Cahya mau mengantarnya ke rumah sakit. Tak lama wajah Gienma kembali menghadap kamera. "Ya.... Onty Cahya mau mengantalku...!" Jawab Gienka.


Senyum Danist kembali tersungging di bibirnya tetapi kemudian dia teringat sesuatu. "Gie sayang...! Besok Gie datangnya sama Papa Iel juga ya? Karena Papa Dan juga kangen dengan Papa Iel, bisa kan minta tolong uncle Adit agar memberitahu Papa Iel untuk datang kesini...???"