
Aditya keluar dari kamar mandi dan melihat Cahya sedang duduk dan menatapnya dengan tatapan tajam. Aditya sedikit kebingungan, kemudian menghampiri istrinya dan menanyakan ada apa dengannya.
" Sayang, kau kenapa menatapku seperti itu, ada apa???"
" Siapa Cheryl???"
" Cheryl?? Yang kemarin datang itu, aku sudah mengatakan padamu siapa dia, kenapa kau menanyakannya lagi?"
" Karena kau bohong padaku, Cheryl tadi datang lagi dan dia sudah mengatakan semuanya padaku, siapa dia, bagaimana hubungan kalian dulu dan dia juga sudah menceritakan bagaimana bisa jas mu tertinggal di apartemennya dan apa yang kalian lakukan disana?"
Aditya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Cahya. " Apa??? Dia datang kesini lagi??" Aditya menggaruk garuk kepalanya, bingung harus berkata apa.
" Ca, maafkan aku, saat itu aku tidak sadar, tapi aku bersumpah aku tidak melakukan hal yang diluar batas"
Mata Cahya mulai berkaca-kaca dan tetap menatap Aditya dengan tatapan tajam, seolah ingin meluapkan semuanya.
" Ca, please aku mohon jangan menangis, aku minta maaf, maafkan aku, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi, maafkan aku"
"Aku yang harusnya meminta maaf padamu, karena sikapku kau sampai harus mencari pelarian ke perempuan lain, aku melupakan semua tugas dan tanggung jawabku padamu, aku tidak memberimu kebutuhan yang harusnya aku berikan, aku mengabaikanmu jadi wajar jika kau sampai terlena pada perempuan lain, maafkan aku tapi aku mohon Adit kau jangan melakukan hal itu lagi aku tidak bisa melihat suamiku mencium perempuan lain selain diriku, jangan lakukan itu lagi, maafkan aku" Tangis Cahya pecah dan memeluk Aditya.
" Tidak lagi, aku tidak akan pernah lagi melakukan hal bodoh seperti itu, aku yang harusnya minta maaf"
Aditya membawa Cahya ke tempat tidur dan mendudukkannya disana, lalu dia berlutut dipangkuan istrinya.
" Kau tahu sayang, saat aku hampir saja lepas kendali aku diselamatkan oleh suara anak kecil yang memanggilku papa saat itu aku langsung tersadar dan meninggalkan tempat itu lalu pulang, dan kau kemarin bercerita tentang Ayahmu yang menggendong balita, mungkin bayi kita yang sudah menjadi penyelamat cinta kita dan menyatukan kita kembali menghindarkan kita dari kesalahan yang fatal"
" Cukup ini jadi yang terakhir, jangan kotori pernikahan kita dengan hal seperti ini lagi"
*****
Keesokan harinya, Aditya sudah berangkat ke kantor, dan Cahya mengerjakan pekerjaan rumah, setelah bersih-bersih dia memutuskan untuk beristirahat karena Aditya melarangnya untuk keluar rumah jika tidak ada hal yang penting.
Mengenai permasalahan dnegan Cheryl kemarin, Aditya sudah berjanji untuk tidak lagi berhubungan dengan Cheryl demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal, Cahya mencoba memahami dari sisi yang lain, itu terjadi juga karena tidak luput dari kesalahannya yang tidak memberikan suaminya hak atas dirinya, tetapi Cahya tidak akan lagi melakukan itu saat ini baginya adalah yang paling penting memperbaiki hubungan mereka.
Cahya sudah melewati banyak hal dengan Aditya. Suaminya itu yang selalu jadi pelindungnya selama ini, yang juga jadi sumber kekuatannya bahkan disaat dirinya sedang tidak dalam kondisi yang baik, Aditya selalu ada disampingnya dan berusaha terus menghiburnya. Entah Cahya harus bagaimana agar bisa membalas semua kebaikan suaminya selama ini, dia hanya harus lebih memperbaiki seluruh sikapnya yang kadang terlalu emosional dan tidak bisa menahan diri.
Cahya terbangun ketika mendengar suara bel, dia tidak sadar jika dia tertidur setelah bersih-bersih rumah. Dia melihat jam masih belum terlalu sore kenapa ada suara bel, apakah Aditya sudah pulang di jam segini. Cahya beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke depan untuk membuka pintu.
" Hai Cahya"
" Hai Cheryl, silakan masuk"
" Apa aku mengganggumu??" Tanya Cheryl.
" Ah tidak, aku tadi tertidur sebentar, kau mau minum apa??"
" Tidak perlu, aku hanya mampir sebentar kebetulan tadi aku ada urusan pekerjaan disekitar sini, maaf aku sedikit khawatir tentang kedatanganku kemarin dan menceritakan semuanya padamu, aku takut kau marah pada Armand"
" Kau tidak perlu khawatir akan apapun, kami sudah menyelesaikan dengan cara kami sendiri, dan sudah tidak ada kesalahpahaman apapun, terima kasih kau sudah mau jujur"
" Syukurlah, Cahya aku sungguh tidak bermaksud mengganggu rumah tangga kalian, aku dan Armand hanya sebatas teman, kisah yang lalu biarkan berlalu toh memang dari dulu aku tidak pernah tertarik padanya, just friend tidak ada yang lain, kesalahan kemarin hanya karena kita berdua sama sama mabuk, aku harap hubungan pertemanan kita tetap berjalan dengan baik, aku disini tidak begitu memiliki banyak teman, dan setelah bertemu denganmu ternyata kau adalah orang yang baik, aku sangat ingin sekali berteman denganmu, kau mau kan menjadi temanku??"
Cahya tampak diam memikirkan perkataan Cheryl yang mengajaknya untuk berteman, mereka hanya baru bertemu beberapa kali, dia juga belum tahu Cheryl orang yang seperti apa. Dan jika berteman bagaimana kalau terjadi hal yang tidak diinginkan antara Cheryl dan suaminya, mengingat mereka dulu adalah teman baik dan bahkan kemarin mereka hampir saja melakukan hal yang tidak baik. Cahya bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Cheryl tampak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Cahya. " Cahya, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, jika itu yang kau takutkan aku minta maaf, tetapi aku bemar-benar tidak ada niatan sedikitpun untuk merebut Aditya darimu, aku hanya berniat menjalin pertemanan saja dengan istri temanku tidak lebih, tapi aku tidak akan memaksamu, kau pasti butuh waktu untuk memikirkan semua ini, baiklah aku permisi dulu"
Cheryl akhirnya berpamitan untuk pergi, Cahya terdiam menatap kepergian Cheryl. Cahya menyadari sepertinya Cheryl berniat tulus untuk berteman dengannya tetapi dia juga harus memikirkan rumah tangganya, dia tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada rumah tangganya, menjalin pertemanan dengan orang yang dulu pernah ada dihati suaminya bukanlah hal yang tepat jika dilakukan.
Aditya akhirnya pulang beberapa jam kemudian, Cahya menyambutnya dengan senyum bahagia. Cahya langsung membuatkan teh untuk suaminya dan mengantarnya ke kamar.
" Teh Chamomile untuk suamiku tercinta"
" Thank you istriku tercinta" Aditya menerima teh itu dan meminumnya.
" Bagaimana harimu???" Tanya Cahya.
" Lancar dan sangat menyibukkan, bagaimana dengan harimu juga? Apa saja yang kau lakukan hari ini??"
" Tidak ada yang aku lakukan, aku hanya tidur saja hehe, oh iya tadi Cheryl datang kesini lagi"
" Datang kesini lagi??? Untuk apa???" Aditya terlihat kebingungan dan penasaran kenapa Cheryl datang kerumahnya, di jam dia sedang bekerja, apalagi yang ingin dilakukannya dengan menemui istrinya, bukankah permasalahan kemarin sudah selesai.