
Theo sekali lagi mengucapkan permintaan maaf kepada Aditya dan Cahya lalu berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan perawatan Kyros. Aditya menyuruh Cahya untuk duduk disebelahnya dan memegang jemari istrinya itu. "Apa kau tidak menyetujui keputusanku tadi tentang proses hukum Cyntia??"
Cahya menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia tidak setuju, keputusan yang diambil Aditya sangatlah baik. Cyntia telah melakukan kejahatan besar, nyawa Kyros dipertaruhkan dan jika terlambat sedikit saja mungkin Kyros sudah tidak bersama mereka lagi. Jika mungkin hanya sekedar meneror mungkin dia masih bisa memaafkan tetapi jika sudah menyakiti dan hampir menghilangkan nyawa itu tentu saja tidak bisa dimaafkan begitu saja. Cyntia harus menerima hukuman atas kejahatannya.
Airmata Cahya mulai menetes lagi teringat akan penderitaan yang dialami oleh Kyros kemudian Aditya menyekanya dan memeluknya.
"Ky akan segera sembuh, dan aku berjanji bahwa mulai saat ini tidak akan lagi ada yang akan bisa mengusik keluarga kita, ataupun menghancurkannya, aku tidak akan membiarkanmu dan anak-anak pergi tanpa pengawalan walaupun aku pergi bersama kalian, aku tidak mau hal buruk ini terjadi lagi, sekarang tidurlah kau pasti lelah sekali"
Keesokan harinya, Kyros sudah bangun dan kondisinya cukup membaik, wajahnya tidak pucat lagi seperti kemarin walaupun bayi itu masih belum mau tersenyum, dan selang oksigen juga masih berada di hidung mungilnya. Cahya menyuapkan asi nya yang sudah dia pompa dan dia taruh di mangkuk kecil pada Kyros. Kyros tidak mau membuka mulutnya dan harus dibantu oleh Aditya dengan menarik pelan dagu putranya itu ke bawah hingga mulutnya mau terbuka.
Cahya masih belum bisa menghilangkan kesedihannya melihat keadaan Kyros, dia berharap semua ini cepat berakhir, bisa membawa Kyros kembali ke rumah, bermain bersama Kyra dan Cahya sangat merindukan semua itu.
"Kak...!!!" Chika membuka pintu dan berlari memeluk Cahya. "Bagaimana keadaan Ky??" Chika melepaskan pelukannya dan menghampiri Kyros yang terbaring.
Chika terlihat begitu sedih menatap keponakannya itu, dan tidak menyangka jika ada orang sejahat itu menyiksa keponakannya. "Ky sayang, onty Chi membawa sesuatu untukmu" Chika mengambil sesuatu di tasnya dan mengeluarkan boneka sapi serta mainan berbentuk bintang yang bisa menyala dan mengeluarkan musik saat tombolknya di tekan, kedua mainan itu adalah kesayangan Kyros dan Chika menunjukkannya ke bayi itu. "Taaarraaaaa..... Moo nya Ky ada disini, ada juga little starnya Ky, onty akan menyalakannya, Ky pasti suka"
Chika memberikan boneka sapi kecil itu ke tangan kiri Kyros dan dia langsung memeluknya. Chika juga menekan tombol mainan yang dipegangnya. Mainan itu menyala dan mengeluarkan musik, saat itu juga Kyros tersenyum ketika melihat dan mendengarnya.
"Sayang, Ky tersenyum lagi!!" Cahya setengah berteriak memanggil Aditya, Aditya kemudian mendekat dan ikut senang melihat Kyros mau tersenyum lagi.
"Anak pintar, Ky harus cepat sembuh ya, nanti onty Chi akan bilang pada Uncle Adri agar dia membelikan banyak boneka sapi dan mainan bintang untuk Ky saat dia pulang nanti, Ky harus segera sembuh" Chika mengecup kening Kyros.
"Ini pakaian ganti untuk kalian, ibu juga membawakan sarapan, jadi lebih baik kalian makan dulu" Gumam Elea lalu meletakkan sebuah tas di atas meja.
"Kalian datang hanya berdua?? Danist mana???" Tanya Aditya.
"Kami diantar oleh supir, Danist ke kantor, hari ini ada meeting jadi dia harus pergi"
*****
Elea dan Chika masih berada di rumah sakit hingga siang hari menemani Cahya. Sementara Aditya saat ini sedang pergi keluar sebentar untuk menemui Ariel, Randy dan pengacaranya membahas tentang langkah selanjutnya mengenai proses hukum Cyntia. Tetapi tentu Aditya tidak mau mengambil resiko saat dia pergi, dia memanggil kedua bodyguard Cahya untuk berjaga di depan ruangan perawatan Kyros.
Aditya kini sudah dalam perjalanan untuk kembali ke rumah sakit setelah bertemu dengan Ariel, Randy dan pengacaranya. Ponselnya sejak tadi berbunyi tetapi dia tidak mengangkatnya. Tetapi kemudian dia mengernyit karena ada nama Mamanya disana dan saat dia ingin memasukkan lagi ponselnya ke saku, ponselnya berdering dan Mamanya menghubunginya dengan panggilan video. Aditya bersyukur karena saat ini dia sedang berada di dalam mobil dan tidak ada di rumah sakit.
Nyonya Harry tidak menjawab sapaan putranya, tetapi justru memasang wajah penuh kemarahan. "Kau ada dimana??" Tanyanya ketus.
"Aku sedang diluar ada urusan pekerjaan, lihatlah aku ada di dalam mobil, sorry Ma tadi aku ada meeting jadi tidak bisa menjawab panggilan Mama"
"Sore nanti Mama, Papa dan Adri akan pulang, kami ikut penerbangan malam"
Aditya mengernyit dan mengangkat alisnya. "Pulang??? Kan proyek masih belum selesai?? Kenapa kalian pulang?"
"Kau yang kenapa?? Ada masalah sebesar itu dan kau tidak memberitahu kami sama sekali, bagaimana bisa Dit? Cucu Mama sedang dalam masalah besar tetapi kenapa kau tidak memberitahu??"
"Masalah apa?? Tidak ada masalah apapun disini" Aditya berusaha berkelit lagi.
"Diamlah, jangan kau pikir kami disini tidak mengetahui apapun, Mama dan Papa tidak akan memaafkanmu, beritahu supir untuk menjemput kami besok"
Aditya kali ini tidak akan bisa berkelit lagi, sejak kemarin dia sudah berusaha menghindarinya tetapi dia lupa bahwa kedua orangtuanya pasti pada akhirnya akan mengetahui permasalahan ini mengingat kemarin juga ada beberapa media yang meliput kejadian itu. Selain itu ini juga pasti jadi perbincangan orang yang pasti akan terdengar sampai di telinga kedua orangtuanya.
"Oke oke Adit minta maaf sudah membohongi kalian tapi Adit mohon kalian tidak perlu pulang, keadaan Kyros sudah membaik, tidak ada yang oerlu di khawatirkan oke?? Jika tidak percaya silakan Mama menghubungi Chika, dia ada di rumah sakit bersama Cahya"
Nyonya Harry masih memaksa untuk pulang bersama suaminya juga Adri, tetapi Aditya berusaha membujuknya agar tidak perlu pulang karena semua sudah baik-baik saja. Dan Aditya juga berjanji akan datang kesana lagi bersama Cahya dan si kembar saat launching pembukaan swalayan mereka disana nanti. Aditya mengerti sekali kekhawatiran keluarganya disana, tetapi dia tidak ingin nanti mereka bolak-balik, selain itu keadaan juga sudah sangat baik disini. Setelah bujukan yang luar biasa, akhirnya Mamanya mengerti dan membatalkan niatnya untuk pulang.
******
Setelah berbincang dengan mertuanya lewat panggilan video, Cahya mengembalikan ponsel adiknya. Tadi Chika masih berusaha menutupinya tetapi ternyata mereka sudah mengetahuinya dan sudah meminta penjelasan Aditya. Mereka terlihat sedih tetapi tidak berhenti mengucap syukur karena cucunya sudah dalam keadaan yang baik-baik saja. Suara Cahya masih belum kembali dan dia hanya bisa tersenyum dan mengarahkan kameranya ke Kyros.
Aditya keluar dari sebuah restoran dan membeli makan siang untuk Cahya, Chika dan Elea. Ponselnya kembali berdering dan ternyata bodyguarnya yang menghubunginya. Aditya mengangkatnya lalu diam mendengarkan apa yang sedang di katakan oleh mereka.
"Tahan mereka dulu, sampai aku datang, apapun alasannya jangan sampai mereka masuk, aku tidak mau jika mereka sampai mempengaruhi istriku tanpa ada aku disana, kau mengerti???" Ucap Aditya.
"Baik pak!!"
Aditya menutup teleponnya, dan bergegas menuju mobilnya serta menyuruh Marco agar segera membawanya ke rumah sakit. Aditya tidak ingin kejadian dulu terulang lagi dimana orang-orang ini memaksa bertemu dengan Cahya dan mencoba mempengaruhi istrinya itu karena mereka tahu kelemahan Cahya yang mudah menaruh belas kasihan kepada orang lain hingga bisa memanfaatkan itu untuk keuntungan mereka, tetapi beruntungnya saat itu dia segera datang dan menghentikan kekonyolan mereka. Aditya sangat tahu persis bagaimana cara berpikir orang-orang seperti mereka yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kelicikan mereka juga sering Aditya dengar dari koleganya, tentu hal itu pasti akan mereka lakukan lagi. Aditya tidak akan membiarkannya begitu saja.