SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 278



"Ayahku??? Apa benar??? Kau salah dengar mungkin Des?"


"Beneran kak, kapan-kapan coba tanya deh sama Ayah kalau dia sudah pulang"


"Namanya siapa? Apa kau tahu?"


"Waktu itu Ayah memanggil namanya, tapi siapa ya???" Desi terlihat berpikir, sementara Danist terlihat menunggu jawaban dari gadis itu.


"Ah lupa kak....!!!" Gumam Desi kemudian.


Danist pun terlihat kecewa tetapi juga ada perasaan meragu dengan apa yang di dengarnya. Karena pasti itu hal yang tidak mungkin terjadi, sudah berpuluh-puluh tahun Ayahnya meninggalkan Mamanya, dan tidak pernah sekalipun datang, lalu bagaimana bisa dia tiba-tiba datang. Sementara Danist sibuk dengan pikirannya sendiri dan Desi terlihat menggoda Gienka di strollernya tiba-tiba keduanya di kejutkan dengan kedatangan Elea.


"Astaga Dan... Kau mebawa Gienka kemana saja, aku dan Mama sejak tadi mencarimu, ponselmu juga tidak kau bawa" Ujar Elea kesal.


"Aku mengajak Gienka jalan-jalan sebentar, oh iya El kenalkan ini Desi tetangga, Des! Ini istriku" Ujar Danist.


"Hai kak! Aku Desi, baby nya lucu sekali!"


"Aku Elea, terima kasih ya, lihatlah sepertinya dia menyukaimu"


Ketiganya pun mengobrol sebentar lalu kemudian Elea dan Danist mengajak Gienka untuk kembali ke rumah. Setelah mendengar semua dari Desi, Danist pun mulai memikirkan semuanya, apakah benar Ayahnya datang ,dan siapakah sosok Ayahnya selama ini, apakah dia seseorang yang begitu penting hingga harus dikawal oleh dua bodyguard. Dan haruskah dia mengatakan ini semuanya kepada Mamanya, ataukah harus bagaimana, berbagai pertanyaan itu pun menggelayuti pikirannya.


Informasi itu terlalu membuat Danist terkejut dan tidak percaya, hingga Danist sejak tadi hanya mengaduk-aduk piring berisi nasi goreng tanpa memakannya. Elea mengernyit melihat suaminya yang sepertinya tidak fokus dan pikirannya entah kemana. Mama Danist juga sejak tadi melihat putranya cukup aneh dan tidak seperti biasanya.


"Dan....!!! Kenapa kau hanya mengaduk sarapanmu Dan???" Panggil Mamanya tetapi Danist sepertinya tidak mendengarnya dan terus melamun.


"Dan.... Danist makan sarapanmu jangan terus mengaduk piringmu, apa yang sedang kau pikirkan Dan??? Dan... Danist" Panggil Mama Danist lagi tapi masih tidak mendapat respon dari putranya itu.


Hingga akhirnya karena jengkel, Elea pun menyikut pinggang suaminya itu barulah Danist menyadarinya dan tampak kebingungan. "Iya El" Ucapnya.


"Kau kenapa? Sejak tadi hanya mengaduk makananmu bahkan Mama memanggilmu saja kau tidak menjawabnya, ada apa?? Apa ada masalah???"Gerutu Elea.


"Ah tidak, aku tidak apa-apa"


Danist langsung menyendok nasi gorengnya dan memakannya dengan cepat. Elea dan Mama Danist hanya saling berpandangan, tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang menggangu pikiran Danist sekarang.


******


Setelah menyuapi si kembar, Cahya bermain bersama mereka di kamar. Kali ini Cahya ingin mencoba mengajari keduanya untuk berbicara mengingat Kyros dan Kyra sudah pandai berceloteh dan berteriak. Bahkan Kyra juga sangat usil, dia selalu merebut mainan yang sedang di pegang sang kakak hingga yang bisa dilakukan Kyros hanyalah menangis. Tingkah keduanya semakin hari semakin menggemaskan membuat Cahya dan Aditya sama sekali tidak ingin melewatkannya begitu.


Cahya tengkurap di depan kedua bayinya yang sedang duduk di lantai. Sementara Aditya sedang duduk di sofa sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Cahya mengajak kedua bayi itu bermain cilukba dan keduanya tertawa dengan lucunya.


"Ky dan Kyra ikuti Mama ya...??? Ma..... Ma......" Ucap Cahya.


"Ma..... Ma....." Ucapnya lagi tetapi kedua bayinya hanya menatapnya, tentu saja Cahya tidak mau menyerah begitu saja, dan terus mencobanya.


"Kenapa Mama??? Papa dong!" Protes Aditya, karena sejak tadi istrinya hanya mengajari kedua bayinya memanggil Mama saja tidak memnaggil Papa.


"Ayo, katakan Pa....... Paa......!!!" Seru Aditya.


"Paaaa..... Paaa...." Ucapnya lagi.


"Sudah berhentilah, mereka tidak mau mengucapkan Papa" Gumam Cahya.


"Mereja juga tidak mau mengucapkan Mama, yeee"


Cahya dan Aditya justru saling ejek karena permintaan mereka tidak mendapatkan respon dari kedua bayi itu. Kyra dan Kyros malah sibuk sendiri dengan mainan mereka. Sepertinya usahanya gagal, Aditya membalikkan tubuhnya dan menatap langit-langit, dan beberapa detik kemudian, Aditya memiringkan tubuhnya kemudian melingkarkan kedua tangannya dan mengalungkannya di leher Cahya, lalu menariknya membuat kepala Cahya mendekat kepadanya.


Mereka berdua pun saling bertatapan. Aditya mendorong perlahan kepala Cahya agar mendekat kepadanya dan ketika sudah dekat, Aditya langsung melahap bibir Cahya dengan lembut. Memagutnya dengan penuh cinta, dan Cahya merespon dengan membalasnya. Mereka berciuman di depan kedua bayinya, dan larut dalam suasana yang begitu romantis.


Lidah Aditya bermain di dalam mulut Cahya, mencecap seluruh isi mulut manis istrinya. Bibir mereka masih bertautan dalam kecupan dan pagutan-pagutan yang hangat. Saat tengah larut dalam ciuman tiba-tiba keduanya menghentikan ciumannya karena mendengar sesuatu.


"Apap..... Apap... Apaaaap!" Teriak Kyros.


Cahya dan Aditya saling berpandangan dan langsung melepaskan ciuman mereka. Aditya bangun dan duduk menghadap kedua malaikat kecilnya dengan pandangan takjub dan terkejut.


"Ky sayang, tadi apa yang kau ucapkan, ayo katakan lagi???" Pinta Aditya. "Ayo katakan Paaa.... Paa....!!!"


"Apap....!" Sahut Kyros.


"Papa sayang bukan Apap, Pa... Pa....!" Seru Aditya lagi.


"Pa.... Pa... Ayo katakan lagi Ky sayang, katakan Pa... Pa... bukan Apap!"


Kyros diam lagi dan sibuk dengan mainannya. Cahya kemdian mencubit pinggang Aditya karena suaminya itu terlihat belum puas. "Kau ini! Jangan memaksanya! Dia mana mengerti"


"Kyros sayang, jangan pedulikan Papamu oke, lanjutkan bermainnya, Mama akan ke dapur dulu mengembalikan mangkuk bekas kalian makan" Ucap Cahya lalu dia berdiri.


"Amam...!!!" Tiba-tiba giliran Kyra yang berucap.


"Amam??? Maksudmu Mama?" Seru Aditya.


"Amam... Mam.... Mmmmmm...."


Cahya tertawa dan kembali duduk di lantai menatap bahagia kedua bayinya lalu menciumnya dengan gemas.


"Kenapa mereka tidak bisa mengucap Papa atau Mama dan malah Apap Amam" Gerutu Aditya.


"Jika itu yang mereka ucapkan, kenapa tidak kita putuskan saja bahwa mereka memanggil kita dengan panggilan Amam dan Apap, daripada Mama dan Papa, panggilan sayang biar berbeda dengan yang lainnya" Ujar Cahya.


Aditya terdiam dan berpikir sejenak, tetapi sepertinya itu adalah ide yang bagus. Mereka memiliki panghilan khusus dari kedua anaknya dan tentu panggilan itu berbeda dengan yang lainnya. Aditya pun menganggukkan kepalanya dan mencium kening kedua bayinya dengan perasaan bahagia karena akhirnya Kyra dan Kyros sudah bisa berbicara dan memanggilnya dan Cahya dengan panggilan istimewa.


"Oke raja dan Ratunya Apap dan Amam, sekarang kalian bisa memanggilku Apap dan memanggil ibu kalian dengan panggilan Amam" Gumam Aditya.