
Aditya ditemani oleh Ariel dan Adri untuk mengurus pemakaman bayinya. Kesedihan sangat jelas terlihat tetapi Aditya mencoba tegar agar dia bisa menguatkan Cahya nantinya. Ariel menawari Aditya apakah ingin menemui Theo atau tidak untuk memberikan lelaki itu pelajaran.
" Apa aku harus membunuhnya juga karena dia telah membunuh bayiku?" Tanya Aditya dengan tatapan tajam.
" Jangan membunuhnya, kau hancurkan saja dirinya lalu kita obati dia, bekasnya akan terlihat selama hidupnya dan baru kita bawa ke polisi bersama dengan bukti yang sudah kita punya" Ucap Ariel.
Ariel mengemudikan mobilnya bersama Adri dan Aditya menuju tempat dimana Randy sudah menunggu mereka. Disana Randy telah menahan Theo.
Akhirnya mereka sampai, segera mereka bertiga turun dan masuk ke dalam. Ternyata Randy sudah mengikat Theo disebuah tiang. Tatapan Aditya penuh amarah ketika melihat Theo, tak perlu menunggu waktu lama Aditya menghampiri pria yang sudah membuatnya dan istrinya kehilangan bayi mereka.
" Harusnya tadi malam aku bisa saja langsung membunuhmu, tetapi kau justru menyakiti orang yang kau bilang kau sangat mencintainya" Aditya menghujani wajah Theo dengan pukulan-pukulan keras.
" Kau sudah menjebak istriku dan menculiknya, setelah itu kau juga mencelakainya, pukulan ini mewakili semua perbuatanmu pada istriku"
Aditya terus memukuli Theo dengan keras hingga wajah Theo penuh dengan luka lebam dan hidungnya mengeluarkan darah. Randy melempar sebuah Pisau Cutter kepada Aditya dan dia menangkapnya.
" Thanks Ran" Ucap Aditya lalu tersenyum menatap Theo tajam sambil mengeluarkan pisau Cutter itu.
" Apa kau tau Theo, apa yang sedang aku pegang ini, tenanglah aku tidak akan membunuhmu tetapi sebagai balasan untukmu karena kau telah membunuh bayiku dan Cahya, aku akan menghancurkanmu dengan pisau cutter ini"
Mendengar ucapan Aditya, Theo terkejut karena tidak mengetahui jika Cahya sedang hamil.
Aditya menggoreskan cutter yang dipegangnya di pipi kanan Theo seketika membuat Theo meringis dan darah mulai keluar dari pipinya. Luka itu ternyata cukup dalam, tidak puas hanya sekali, Aditya lagi-lagi memainkan cutternya dipipi Theo sebelah kiri.
Theo pun merintih kesakitan, kedua pipinya kini mengeluarkan darah. Kini Aditya menaikan baju Theo ke atas dan dengan segera dia membuat luka di perut Theo dengan cutter yang sama.
" Aaaarrrggghhh brengsek kenapa kau melakukan itu padaku" Teriak Theo.
" Ini pembalasan yang aku persembahkan untuk bayiku yang sudah kau bunuh, mengertilah Theo, kau tidak akan pernah mendapatkan apapun, ubahlah cara berpikirmu, kalau kau memang mencintai dia biarkan dia bahagia, kalian sudah memiliki jalan hidup masing-masing, lihatlah akibat yang kau lakukan, kau lagi-lagi menyakiti Cahya mengertilah dan berhenti melakukan hal bodoh, jika kau melihat luka ini kau juga akan melihat bagaimana penderitaan yang Cahya rasakan, pikirkan itu"
Setelah melihat Theo berlumuran darah, Aditya meninggalkannya dan menyuruh Randy untuk mengurusnya. Aditya lalu berpamitan pada Randy karena harus segera menemui Cahya yang masih belum sadar di rumah sakit.
*****
Cahya masih terbaring dan belum membuka matanya, ibunya menunggu disampingnya dan memegang tangan putrinya itu. Menangisi keadaan putrinya dan masih bertanya-tanya kenapa banyak sekali orang yang menyakiti nya padahal yang dia tahu putrinya sangatlah baik kepada siapapun Membayangkan bagaimana jika nanti Cahya menanyakan bayinya, mengingat dia sangat berbahagia dengan kehamilannya itu.
Aditya, Ariel dan Adri akhirnya sampai dirumah sakit. Mereka menghampiri Elea, Chika dan juga Nyonya Harry yang sedang duduk diluar ruangan rawat inap. Aditya kemudian menanyakan apakah Cahya sudah siuman pada Mamanya tetapi Nyonya Harry mengatakan jika Cahya masoh belum membuka matanya lalu menyuruhnya masuk dan bergantian dengan ibu mertuanya.
Aditya masuk dan tersenyum pada ibu mertuanya.
Aditya mencium kening Cahya lalu duduk disampingnya dan menggenggam tangan istrinya. Aditya harus menyiapkan dirinya dan hatinya untuk memberitahu apa yang terjadi saat nanti Cahya menanyakan padanya.
" Kau tau sayang, aku memberi nama bayi kita Aaron, kau tahu apa arti dari Aaron, artinya adalah Cahaya yang bersinar, namamu memiliki arti Cahaya sedangkan namaku memiliki arti matahari jika digabung akan menjadi Cahaya Matahari, dan aku memilih nama Aaron untuk bayi kita adalah karena aku berharap dia akan menjadi Cahaya yang selalu bersinar dihati kita, seperti Cahaya matahari" Aditya meneteskan airmatanya lalu mengecup lembut tangan istrinya.
Cahya membuka matanya perlahan lalu melihat kanan dan kiri dan berhenti ketika melihat Aditya duduk disampingnya. Perlahan dia mulai mengingat kejadian yang dialaminya kemarin lalu menangis karenanya.
" Adit, kenapa kau menangis?" Tanya Cahya dengan suara pelan.
" Tidak apa-apa, syukurlah kau sudah siuman"
" Theo dia mau menusukmu dari belakang, syukurlah itu tidak mengenaimu, aku menyelamatkanmu"
Aditya hanya tersenyum memandang wajah istrinya, dan matanya berkaca-kaca menahan tangisnya.
" Bayi kita, dia tidak apa-apa kan??? Aku hanya terluka sedikit"
Cukup lama Aditya terdiam kemudian dia menarik napasnya dalam-dalam. " Sayang, bayi kita sudah berada disurga, mulai saat ini kita harus mendoakannya"
Dengan berat hati Aditya menjelaskan semuanya pada Cahya. Sudah bisa ditebak Cahya sangat histeris mendengarnya, tangisannya pecah dan Aditya lamgsung memeluknya dan menenangkannya.
" Tidak, Adit tidak.... kau pasti bohong padaku, tidak mungkin bayi kita pergi, dia masih ada didalam perutku, panggil dokter dan suruh dia memeriksa bayi kita lewat usg, bayi kita baik-baik saja"
Cahya histeris dan ingin melepas selang infusnya serta melepas selang oksigennya, Aditya berusaha untuk menenangkannya.
" Ca, tenanglah aku mohon tenanglah"
" Ini semua salahku, jika aku tidak menemui Theo pasti ini tidak akan terjadi, Adit bunuhlah aku sekarang aku ingin menyusul bayiku, dia pasti sendirian disana biarkan aku pergi dengannya, aku sangat bodoh aku membunuh bayi kita aku membunuh bayi kita Adit...!!!" Cahya berteriak histeris dalam pelukan Aditya sampai orang-orang yang ada diluar langsung masuk ke ruangan itu.
" Sssshhhh tenanglah jangan menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu" Ucap Aditya.
Cahya melepaskan pelukan Aditya dan berlari ke arah ibunya dan memeluknya.
" Ibu.... Bayiku.... Karena kesalahanku aku kehilangan bayiku.... Aku telah berbohong pada Aditya, aku menemui Theo dan Theo membunuh bayiku ibu, ini semua salahku, aku kehilangan bayiku.... "
Cahya terus menangis histeris hingga kemudian dia merasa kesakitan dan kakinya melemas hingga membuatnya hampir tersungkur.
Segera Aditya menahan istrinya, Cahya kemudian tidak sadarkan diri dan Aditya mengangkatnya kembali ke tempat tidur. Lalu menyuruh Adri untuk memanggil dokter. Dan dokter serta perawat datang lalu menyuruh semua orang untuk keluar ruangan.