SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 287



"Apa ibu sudah makan??" Tanya Aditya.


Saat ini dia sedang makan malam bersama Cahya juga Chika. Aditya juga tadi memanggil dokter untuk memeriksa ibu mertuanya karena takut kondisinya menjadi drop. Kejadian tadi malam benar-benar membuat ibu mertuanya shock berat.


"Ibu sudah makan dan sekarang sudah tidur, sepertinya dokter meresepkan obat penenang untuknya, dan kau nanti tidur di kamar anak-anak saja ya?"


"Aku bisa tidur di kamar tamu atau kamar Adri, kau dan Chika tidur dikamar saja temani ibu, mungkin nanti dia butuh sesuatu, aku sudah selesai makan dan aku akan ke ruang kerjaku, antarkan teh chamomile kesana ya???"


"Aku akan membuat dan mengantarnya ke ruang kerjamu" Ucap Cahya.


Aditya memundurkan kursinya lalu meninggalkan ruang makan. Cahya juga sudah menyelesaikan makannya, dan mulai membereskan meja makan dibantu Chika. Seharian ini suasana rumah menjadi tegang dan menyesakkan dada, hingga Cahya sendiri sama sekali tidak bisa tenang seperti biasanya.


Cahya masuk ke ruangan kerja suaminya dengan membawa teh chamomile yang tadi dimintanya. Saat masuk, Cahya melihat Aditya sedang menatap laptopnya tetapi lelaki itu diam dan matanya tidak berkedip, seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Perlahan Cahya melangkah dan meletakkan nampan di depan Aditya tetapi suaminya tidak bereaksi bahkan seolah tidak memperhatikan kedatangannya. Cahya mencoba menyadarkan Aditya dengan menepuk pundaknya.


"Sayang ...!!!"


Aditya terlonjak kemudian tersenyum. "Ya...!!! Mengagetkanku saja"


"Tidak ada yang mengagetkanmu, kau saja yang sibuk melamun, ini tehnya, apa yang sedang mengganggu pikiranmu???"


Aditya menggelengkan kepalanya kemudian mengambil teh chamomile dan meminumnya. Sementara Cahya memilih duduk diatas meja dengan menghadap ke Aditya.


Cahya tahu Aditya pasti saat ini sedang memikul beban yang berat, sejak kepulangannya dari Swiss pekerjaannya bertumpuk dan selalu kembali ke kamar saat larut bahkan dia sendiri tidak pernah tepatnya jam berapa suaminya itu tidur, karena saat dia bangun, Aditya sudah berbaring disebelahnya dengan nyenyak. Tetapi sekarang justru beban suaminya itu semakin bertambah lagi dengan adanya kejadian ini.


Cahya turun dari meja dan sekarang memilih duduk di pangkuan Aditya. Cahya mengusap lembut rambut Aditya dan juga pipinya, membuat lelaki itu tersenyum.menatapnya.


"Kau harus jaga kesehatanmu, sejak kita pulang, kau selalu tidur larut malam, aku tidak mau kau sampai sakit, masalah ini juga jangan terlalu kau pikirkan, biar kepolisian yang mengungkapnya, besok kau libur lebih baik sekarang kau beristirahat saja ya? Pekerjaan bisa dilanjutkan esok hari, lihatlah kantung matamu menghitam kau kurang tidur" Gumam Cahya.


"Kantung mataku hitam tetapi kau bisa memberikanku terapi teh celup anehmu itu lagi" Ujar Aditya sambil terkekeh.


"Aku akan melakukannya nanti, tetapi berjanjilah kau jangan terus-terusan sibuk dengan pekerjaanmu, akhir-akhir ini waktumu sudah berkurang untukku dan anak-anak, kau bahkan tidak lagi menemani mereka sebelum tidur, mereka pasti merindukanmu"


"Mereka atau kau yang merindukanku?? Kurasa kaulah yang paling merindukanku hehe, tetapi aku tidak pernah tega membangunkanmu walaupun aku sedang ingin"


"Kenapa??? Bangunkan saja, itu sudah menjadi hak mu, aku pasti akan memberikannya"


Cahya mendongakkan kepala Aditya lalu menciumnya. Cahya memasukkan lidahnya dan bermain di dalam mulut Aditya. Keduanya saling mencecap satu sama lain, merasakan kehangatan didalam sana. Lidah mereka berjalinan dan saling ingin menelusuri seluruh isinya. Jemari Aditya mengusap lengan Cahya, sementara Cahya memegang kepala Aditya dengan kedua tangannya dan menahannya agar terus bertumpu di kursi kerjanya, sambil terus berciuman.


Dan ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua pun terengah-engah. Aditya lalu mengecup lembut bibir Cahya, beralih ke pipinya, diberinya hadiah kecupan-kecupan kecil, kemudian ke telinganya, menghembus lembut di sana membuat Cahya memekik kegelian.


Aditya tersenyum. "Sudah malam, naiklah ke kamar, aku selesaikan ini dan akan langsung tidur di kamar Adri, I love you!!!" Bisik Aditya.


"I love you too!!! Jangan larut-larut dan cepat tidur" Cahya mendaratkan sebuah kecupan lagi di bibir Aditya.


Cahya berdiri dan melangkah keluar meninggalkan ruangan kerja Aditya. Sedangkan Aditya melanjutkan lagi pekerjaannya. Walaupun terbawa suasana tetapi Aditya tetap berusaha mengesampingkan hasratnya, ini bukan saat yang tepat untuk melakukannya.nl


*****


Keesokan harinya, Elea dan Danist sedang berada dalam perjalanan ke Jakarta untuk menengok keadaan Ibu Cahya juga berniat datang menjenguk Chitra yang beberapa waktu yang lalu sempat sakit. Selain itu Elea dan Danist juga akan menginap di apartemen sebelum besok kembali lagi.


Ditengah perjalanan Elea teringat bahwa tidak mungkin datang dengan tangan kosong tanpa membawa sesuatu. Elea kemudian menyuruh Danist untuk mencari Bakery terdekat dan membeli kue sebagai buah tangan.


Danist meminta Elea agar menggunakan maps untuk memudahkan mereka menemukan Bakery terdekat. Tidak lama Elea sudah menemukannya dan mengarahkan suaminya agar mengemudikan dengan pelan karena tempatnya sudah hampir dekat.


Turunlah mereka ke sebuah Bakery yang cukup besar dan di dalam sepertinya juga ada cafe. Saat di dalam, ternyata tempat itu sangat nyaman untuk bersantai sebentar, sekedar minum kopi atau makan es krim ditemani oleh kue atau cake pasti sangat enak.


Danist menyetujui permintaan Elea untuk beristirahat sejenak di Bakery ini sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Danist memanggil pelayan untuk memesan makan dan minum. Seorang lelaki yang sepertinya seumuran dengannya datang menghampirinya dan Elea dengan membawa buku menu.


"Selamat siang, ini buku menunya kak, silakan dipilih" Pelayan itu dengan sopan memberikan buku menunya kepada Elea, tetapi tiba-tiba Elea dibuat terkejut dengan sosok pelayan itu.


"Theo...!!!" Seru Elea.


Theo langsung mengangkat kepalanya dan tak kalah terkejut saat melihat Elea yang tak lain adalah sahabat dari Cahya. "Anda??? Anda bukannya sahabat Cahya"


"Kau disini?? Apa bakery ini milikmu??" Tanya Elea. Sudah lama sekali dia tidak melihat Theo, dan cukup terkejut dengan wajah Theo, ternyata bekas sayatan yang ditinggalkan Aditya dulu masih jelas terlihat. Dulu saat Ariel menceritakan kepadanya bahwa Aditya menyayat kedua pipi Theo dengan cutter, dia langsung bergidik ngeri membayangkan bagaimana rasanya, tetapi baginya itu belum sepadan atas perbuatan yang dilakukan Theo pada Cahya yang membuat sahabatnya itu akhirnya mengalami keguguran dan Cahya juga mengalami trauma yang hebat hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Elea rasa itu sangat belum sepadan dengan semua yang sudah di lakukan Theo. Walaupun Theo sudah di penjara dan mendapatkan luka sayatan dari Aditya, tetapi Theo tidak bisa mengembalikan janin yang sempat di kandung oleh Cahya. Jika mengingat kondisi Cahya pasca kejadian itu, Elea terkadang masih sangat bersedih, Cahya saat itu benar-benar seperti mayat hidup, dengan wajah pucat tanpa ekspresi dan airmata sahabatnya itu selalu menetes dan semua adalah karena ulah Theo.


"Tidak, ini bukan milikku tetapi aku bekerja disni!" Jawab Theo.


"Bekerja disini????" Tanya Elea keheranan.