
..."Hadiah kecil untuk putri Papa yang cantik, I love you and Papa miss you so much My beautiful Gienka"...
Begitulah bunyi memo yang ditulis Ariel, sederhana tetapi sarat akan makna yang begitu dalam. Ariel menitihkan airmatanya ketika menulis itu. Rindu yang begitu dalam menyiksanya karena dirinya masih belum siap saat ini untuk bertemu dengan putrinya itu. Berharap juga hadiah kecil darinya bisa membuat putrinya itu senang, dan mengirim banyak kerinduan didalam hadiah itu.
Sebenarnya dia sudah merasa sangat nyaman di Swiss, mengisi harinya dengan berdiam diri memandang keindahan danau di balkon rumah yang dia tinggali. Berjam-jam duduk diam disana tidak pernah ada perasaan bosan didalam hatinya. Tetapi sejak melihat Elea dan Danist, dia justru merasa tempat itu neraka, dan demi menghindari pikiran buruk lebih baik dia pergi saja, mencari keindahan di tempat lain.
Sekali lagi Ariel menitihkan airmatanya di dalam taksi, Gienka begitu dekat tetapi dia masih belum bisa menampakkan dirinya didepan putrinya itu. Dada nya terasa begitu sesak setiap kali bayangan Gienka muncul di pikirannya. Perasaan bersalah yang begitu besar kepada Elea membuatnya masih butuh waktu untuk lebih menenangkan dirinya.
Kali ini yang menjadi tujuannya adalah Maldives, surga terpencil yang tidak bisa diragukan lagi keindahannya. Mungkin tempat itu menjadi tempat kesekian kalinya yang bisa membuat hatinya lebih tenang.
******
"Ca, dia tahu darimana kita ada disini?" Tanya Elea pada Cahya.
"Aku sendiri tidak tahu El, tadi dia mengatakan jika dia disini sudah lebih dari 2 minggu, itu artinya dia disini sebelum kita datang, mungkin dia sedang liburan, dia juga mengatakan jika benerapa waktu yang lalu tidak sengaja melihat kita semua ada disini itu sebabnya dia tadi datang dan berpamitan"
"Dia melihat kita? Kapan?? Dan kenapa dia tidak menemui kita saat itu? Apa dia tidak ingin melihat putrinya?"
"Mungkin saat itu dia sedang buru-buru begitu juga sekarang, sudahlah jangan berpikir apapun, Gienka sudah diam dan sekarang kita masuk saja"
Elea menghabiskan sorenya di rumah Cahya sambil menunggu Danist pulang dan nanti akan menjemputnya dan Gienka. Berbagai pertanyaan tentang Ariel masih melingkupi pikiran Elea, dan juga mencoba mencaritahu kepada Aditya tentang apa saja yang dibicarakan Ariel dengannya tadi, tetapi Aditya sendiri ternyata tidak mendapatkan jawaban apapun dari Ariel. Lelaki itu hanya mau menjawab tentang pekerjaan saja. Soal menghilangnya selama ini pun masih penuh tanda tanya.
Elea mulai menyadari bahwa sepertinya ada ikatan yang begitu kuat antara Ariel dan Gienka. Ariel tidak pernah menolak Gienka, hanya saja memang dulu tidak tahu bahwa Elea hamil, setelah mengetahui bahwa dirinya hamil, Ariel berusaha mencari keberadaannya menandakan bahwa lelaki itu memang sangat mencintai Gienka. Permasalahan hanya terjadi antara dirinya dan Ariel saja, tidak pernah ada penolakan terhadap Gienka, mjngkin itulah yang sekrang menyebabkan ikatan Gienka begitu kuat terhadap Ariel. Seburuk apapun perilaku Ariel terhadapnya, laki-laki itu tetap ayah dari putrinya dan pasti tetap akan membutuhkan Ariel.
Danist akhirnya datang untuk menjemput Elea dan Gienka di rumah Aditya, hari juga sudah gelap, mereka lalu diantar pulang oleh supir Aditya.
*****
Sampai di rumah Danist langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sudah beberapa hari ini dia pulang larut karena kesibukannya bekerja. Semua pekerjaan harus diselesaikan dengan baik agar hasilnya memuaskan dan kepercayaan atasannya atas kinerja yang dilakukan itu juga bagian terpenting dalam kamus hidup Danist.
Danist berharap semuanya diberi kelancaran dan kesuksesan agar bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga yang lainnya. Selain itu dia juga akan mengurus lagi pernikahannya secara negara, dan itu sudah dia bicarakan dengan Elea. Karena hubungannya dengan Elea semakin baik dan Elea juga benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Setiap malam sebelum tidur, mereka selalu bercinta dengan menggebu-gebu, perlahan dirinya juga belajar dan banyak mencaritahu tentang bagaimana menenangkan istri, mengingat Elea sudah berpengalaman.
Bahkan dengan malu-malu dan nekat, Danist juga bertanya kepada Aditya bagaimana agar bisa menjadi suami yang baik untuk istri, dan bagaiamana cara membahagiakannya, tentu saja karena dia melihat kehiduoan rumah tangga Aditya dan Cahya yang sangat harmonis serta dipenuhi kasih sayang satu sama lain. Aditya ternyata tidak pelit ilmu, selain menjaga komunikasi dengan baik dan harus saling percaya tentu hubungan akan semakin harmonis. Permasalahan tentang menyenangkan seorang istri adalah hal yang sangat mudah dipelajari dari berbagai sumber atau juga semua akan bisa perlahan diatasi dengan sendirinya. Tentu saja diam-diam Danist mencaritahu berbagai referensi dari internet baik itu artikel atau bahkan video. Ya niatnya hanya sekedar belajar tidak ada yang lain, dan perlahan dia bisa melakukannya dan mengimbangi Elea. Sekarang hanya menunggu Elea mengatakan sudah mencintainya, hanya itu yang sedang Danist tunggu, tapi pasti akan tiba juga.
Danist keluar dari kamar mandi dan Elea sedang menyisir rambutnya didepan meja rias. Tadi dia menyuruh Elea agar tidak menyiapkan makanan karena tadi dia sudah makan bersama yang lainnya, selalin itu Elea sendiri sudah makan malam di rumah Cahya.
"Apa Gienka sudah tidur???" Tanya Danist.
"Sudah, dia tidur dengan sangat nyenyak" Ucap Elea seraya menaruh sisir di meja riasnya.
Danist berlutut di depan Elea yang sedang duduk, kepala mereka sejajar dan matanya penuh senyum. Danist mengecup bibir istrinya, lalu kecupannya berubah menjadi sangat bergaiirah, "Apakah istriku sudah siap untukku?"
Elea membalas ciuman Danist dengan lebih nikmat sebagai jawaban, kedua tangannya melingkari leher Danist dan ketika ciuman Danist semakin panas, Elea menggerakkan jemarinya untuk mengacak rambut lelaki itu.
Danist membawa Elea berdiri sambil masih menciumnya, lelaki itu menurunkan gaun Elea begitu saja hingga isterinya tidak memakai apapun di hadapannya. Jemarinya menelusuri punggung Elea merapatkan tubuh isterinya dekat kepadanya, menekankan miliknya yang telah mengeras ke tubuh isterinya,
"Bagaimana kalau kita melakukannya sambil berdiri??" Danist berbisik parau, membawa Elea ke arah tembok dan mencium bibirnya, "Kau begitu menggodaku sehingga aku ingin mencobanya"
Danist menurunkan ceelananya dan mengangkat salah satu kaki Elea agar melingkari pingangnya, kedua jemarinya menangkup ****** Elea dan sedikit mengangkatnya untuk membantu penyatuan tubuhnya, dengan bernapsu dia menyatukan miliknya yang begitu keras, memasuki Elea.
Elea mengerang dan makin melingkarkan tangannya di leher Danist, bergantung kepadanya. Napas Danist terengah dan matanya menyala ketika dia mendorong dirinya masuk semakin dalam dan semakin menyentuh titik-titik di tubuh Elea.
Mereka bertatapan, lalu bibir mereka bersatu lagi. "Apakah rasanya nikmat?" Danist berbisik pelan di bibir Elea sambil mengecupinya. Membuat perempuan itu mengerang dan memberikan jawaban dalam bentuk ciuman-ciuman putus asa.
Dengan senang Danist menarik dirinya, lembut, dan ketika sampai di titik itu, dia menekankan dirinya lagi dalam-dalam, tanpa peringatan sehingga Elea memekik merasakan getaran nikmat yang luar biasa karena tekanan Danist di tubuhnya. Lelaki itu melakukannya lagi, lagi dan lagi hingga Elea memekik, hampir mencapai puncak kepuasannya.
"Tunggu aku El" Danist mengecup pucuk hidung Elea, napas keduanya terengah-engah dan gerakan mereka semakin cepat, berpacu menuju puncak itu. Dan ketika mereka mencapainya, mereka menghela napas panjang secara bersamaan dengan kaki Elea melingkar kencang di pinggul Danist.
Elea masih berdiri, terengah-engah, sepenuhnya dalam topangan tubuh Danist Lalu lelaki itu mengangkatnya dan membawanya ke atas ranjangnya. Danist kemudian membaringkan Elea dengan lembut di atas ranjang dan memeluknya, membisikkan kata-kata penuh cinta dan kemesraan kepada isterinya itu.
Elea menyandarkan kepalanya di dada Danist, perciintaan mereka begitu nikmat hingga butuh beberapa saat agar bisa mengontrol diri.
"Dan....!!!" Gumam Elea dengan masih mengatur napasnya.
"Ya El???"
"Dan.... Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat Ariel datang menemui kita dan meminta maaf?" Tanya Elea, membuat Danist menggerutkan keningnya. Lagi-lagi disaat seperti ini, Elea membahas lagi tentang Ariel.