
"Ya, kurasa waktu itu aku berlebihan, oh iya bagaimana dengan masalah villa, apa kau dan Cahya sudah memilih tempat yang kalian inginkan?" Tanya Ariel mengalihkan pembicaraan dengan Aditya.
Aditya menghela napasnya seolah mengerti Ariel sedang mengalihkan pembicaraan tetapi kemudian Aditya berdiri dan berjalan ke meja kerjanya mengambil berkas milik Ariel. Lalu kembali dan menyerahkan pada sahabatnya itu sambil menunjukkan lokasi yang sudah dia dan Cahya pilih.
"Kalian memilih lokasi yang bagus, oke aku akan menghubungi arsiteknya, kau dan Cahya pasti sudah punya gambaran akan seperti apa villa kalian nanti, oke aku harus pergi aku ada janji dengan klien, sampai jumpa" Ariel lalu pergi meninggalkan Randy dan Aditya.
Aditya hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat kepergian Ariel. Sejak kehadiran Viona, sifat dan sikap sahabatnya itu berubah begitu drastis dan sangat jauh dari sebelumnya, dia tidak tahu harus berbuat apa agar Ariel bisa kembali seperti dulu yang banyak tertawa dan sering membuat kekonyolan dengan semua tingkah dan ucapannya. Tetapi keadaan telah membuat semuanya berubah dan sekarang Ariel justru terlihat sangat terobsesi dengan Elea hingga melupakan cara berpikirnya dan malah semakin menjadi tidak peduli dengan orang lain.
"Dia semakin aneh saja, memangnya siapa yang dia hina Dit?" Tanya Randy heran.
"Danist, Ariel menghina nya"
"Menghina Danist?? Memang apa yang dia ucapkan?"
"Entahlah, yang jelas Chika bilang, Ariel beberapa kali datang menemui Elea, dan yang terakhir beberapa hari yang lalu dia datang ke kantor mengajak Elea untuk makan siang, tetapi karena Elea ada janji makan siang dirumah Danist maka Ariel ikut dan dia menghina Danist karena dia tinggal dirumah dinas yang ditinggalinya sekarang lebih parahnya Ariel menghina Danist didepan tante Sari dengan mengatakan jika Danist menikahi Elea, Elea dan bayinya akan tidak nyaman jika tinggal dirumah itu karena kecil, tentu saja itu membuat tante Sari menjadi sedih, Aku tidak tahu lagi apa yang membuat Ariel bisa melakukan itu"
"Apa sahabat kita sudah gila? Bisa-bisanya melakukan hal serendah itu!"
******
Sore harinya dari kantornya, Ariel langsung memutuskan pulang lebih cepat dari biasanya. Sesampainya dirumah dia pergi mandi dan menikmati sorenya dengan berenang. Akhir-akhir ini mood serta keadaannya menjadi sangat buruk, banyak hal yang membuatnya ingin mengumpat kepada semua orang yang ditemui nya. Ariel berharap dengan dia berenang itu bisa membuat dirinya dan segala kemarahannya bisa mereda.
Sekitar 30 menit Ariel berenang, tiba-tiba salah seorang pelayannya memanggilnya dan menyuruhnya ke ruang tamu karena Ayahnya sedang menunggunya. Sekali lagi Ariel merasa kesal karena Ayahnya mengganggunya yang sedang ingin menikmati harinya dengan tenang. Ariel keluar dari kolam renang dan mengambil handuk kimono nya dan memakainya lalu pergi ke ruang tamu menemui sang Ayah.
Ariel melihat Ayahnya sedang bercakap-cakap dengan seseorang disana, lalu tersenyum saat melihat kehadirannya. "Ada apa memanggilku?" Tanya Ariel dengan suara ketus.
"Iel, kenalkan ini pak Maruli, dia pengacara Ayah"
Ariel menerima uluran tangan dari pengacara Ayahnya. "Ariel, ada perlu apa? Kenapa membawa pengacara kesini?"
"Kau naik dulu ke kamarmu dan ganti pakaianmu lalu turun kesini lagi"
Ariel pun meninggalkan ruang tamu dan naik ke kamarnya. Ariel kembali turun ke bawah sekitar 20 menit kemudian karena dia harus mandi dulu, disamping itu dia juga sebenarnya enggan untuk menemui Ayahnya dan entah apa yang sedang direncanakan Ayahnya sehingga membawa seorang pengacara untuk datang ke rumah mereka.
Ayahnya kemudian menyuruh putranya itu untuk duduk. "Iel, papa mengundang pak Maruli kesini adalah untuk mengurus peralihan seluruh perusahaan dan aset yang ayah miliki kepadamu"
"Apa??? Kau ingin memberikan seluruh assetmu kepadaku?"
"Tentu saja, kau berhak memiliki semuanya, kau adalah pewaris tunggal dan putra ayah satu-satunya, kau berhak memiliki semuanya"
"Tidak!!!!!! Aku tidak memerlukan pemberianmu, sejak dulu aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak akan pernah mengambil apapun darimu, aku hanya akan menjalankan apa yang ditinggalkan oleh Mama dan aku sudah melakukannya sampai detik ini, kau urus saja sendiri perusahaanmu itu sampai kau mati!!!"
Ariel pun langsung berdiri dengan marah dan meninggalkan Ayahnya serta pengacara nya itu. Ariel pergi keluar rumah dengan meninggalkan pintu berdebam membuat terkejut Ayahnya dan pengacaranya yang ada diruang tamu.
"Saya minta maaf pak atas tingkah putra saya" Ucap Ayah Ariel dengan sedih kepada Pengacaranya.
"Tidak apa-apa pak Andi, mungkin putra anda merasa terkejut dengan keputusan bapak, sebaiknya permasalahan ini bapak bicarakan terlebih dulu dengannya setelah semua sudah siap, pak Andi bisa menghubungi saya lagi, baiklah saya permisi dulu"
****
Disisi lain, Cahya sudah selesai memandikan Kyros dan Kyra bergantian karena kedua mertuanya pergi ke luar kota sejak tadi siang untuk mengunjungi temannya yang sedang sakit. Sedangkan Yongki dan kedua orang tuanya pergi ke rumah Adri untuk menemui ibunya yang tinggal disana.
Karena seharian Cahya mengurus bayinya sendirian membuatnya belum sempat membereskan kamar ditambah sang Art sedang pergi keluar untuk berbelanja bulanan. Cahya memutuskan akan membereskannya nanti setelah kedua bayinya tidur atau setelah Aditya pulang agar bisa bergantian menjaga kedua bayinya.
Kyros dan Kyra sudah tampak begitu rapi dan semakin terlihat menggemaskan. Membuat Cahya tidak berhenti menciumi keduanya. "Anak mama sudah terlihat lebih menggemaskan ketika sudah mandi, sekarang kita tinggal menunggu papa pulang ya? Emmm tapi kita harus memberitahu Papa kalau Kakak Ky dan Adek Kyra sudah mandi, sebentar Mama ambil ponsel Mama dulu"
Cahya mengambil ponselnya yang ada di meja lalu memotret Kyros dan Kyra. Cahya menyuruh kedua bayinya itu untuk tersenyum.
Cekrek.....
"Wah kakak Ky tersenyum, tunggu sebentar, Mama akan mengirim foto ini pada Papa, agar Papa mempercepat kepulangannya" Cahya langsung mengirimkan foto kedua bayinya kepada Aditya, berharap setelah Aditya melihatnya dia bisa segera pulang.
Aditya baru saja keluar dari kantornya dan langsung masuk ke mobilnya yang sudah disiapkan pegawainya tepat didepan pintu keluar kantornya. Baru beberapa meter berjalan, tiba-tiba Aditya dikejutkan oleh mobil dibelakangnya yang menabrak mobilnya.
Dengan wajah kesal, Aditya langsung keluar dari mobilnya. Bersamaan dengan itu, pengemudi yang menabrak Aditya juga keluar dari mobilnya. Aditya dikejutkan dengan siapa orang yang menabrak mobilnya, bukannya minta maaf tetapi orang itu justru menertawakan Aditya.
"Erica!!!! Kau sengaja ya menabrakkan mobilmu?"
"Hai tampan, lama sekali kita tidak berjumpa? Kau semakin tampan saja" Gumam Erica dengan suara sensual khas nya.
"Berani sekali kau datang kesini, urusan kita belum selesai, kenapa kau dulu meneror istriku? Kau ingin membuatnya keguguran kan?"
Erica malah menertawakan Aditya "Tetapi pada akhirnya istrimu keguguran kan? Ya walaupun bukan karena ulahku hahahaha dan ku dengar setelah itu istrimu menjadi gila ya? Astaga Adit sayang, kenapa kau masih mempertahankan seorang perempuan yang pernah mengalami gangguan jiwa? Hati-hati nanti bayi kembarmu bisa ketularan gila seperti ibunya"
Aditya menatap tajam ke arah Erica dengan tatapan penuh kemarahan. "Erica jaga ucapanmu....! Berani sekali kau mengatai istriku"
Erica memundurkan langkahnya melihat kemarahan Aditya tetapi tetap tertawa puas melihatnya. "Aku sangat senang melihat kemarahanmu seperti ini tapi hati-hati ya Adit sayang, biasanya orang yang pernah mengalami gangguan jiwa seperti istrimu itu suatu saat nanti akan kambuh lagi hahaha sebelum aku melihatmu lebih marah, lebih baik aku pergi, hati-hati ya dengan istrimu, bye Adit sayang"
Erica berlalu dan masuk ke dalam mobilnya lalu bergegas meninggalkan Aditya yang marah kepadanya. Aditya masuk ke mobilnya dengan kemarahan yang memuncak karena Erica. Ternyata Erica masih berani datang menemuinya bahkan sekali lagi perempuan itu berani mengatakan hal yang memantik emosi nya.
******
Selama perjalanan pulang, Aditya tidak berhenti bergumam kesal karena kedatangan Erica. Hingga akhirnya Aditya sampai juga dirumah. Aditya keluar dari mobilnya dan membanting keras pintu mobilnya lalu berjalan menuju pintu. Cukup lama dia menekan bel tetapi tidak ada yang membuka pintu rumah, kekesalan Aditya semakin menjadi-jadi hingga akhirnya Cahya berlari tergopoh-gopoh dan membuka pintu. Cahya tersenyum menyambut kepulangan suaminya tetapi kemudian sedikit menggerutkan dahi nya karena Aditya terlihat tidak seperti biasa nya dan berlalu begitu saja meninggalkannya.
"Mungkin Adit sedang kelelahan, ya sudah aku buatkan minum untuknya dulu" Gumam Cahya lalu menutup pintu dan pergi ke dapur.
Saat memasuki kamarnya, Aditya justru dibuat terkejut melihat kondisi kamarnyabyang berantakan, dengan mainan bayinya yang tercecer dilantai dan diatas tempat tidur. Selain itu bed cover dan bantal juga tidak rapi. Cahya kemudian masuk membawa gelas berisi minuman dingin dan menghampiri Aditya yang sedang berdiri menatap ke tempat tidur.
"Sayang, minumlah dulu sebelum kau mandi" Cahya memberikan gelas itu pada Aditya, Aditya lalu membalikkan badannya dan dengan kasar justru Aditya menampik gelas yang dipegang Cahya membuat gelas itu jatuh dan pecah. Cahya sangat terkejut lalu melihat kemarahan di mata suaminya.
"Ca.....!!!! Kenapa kau membiarkan kamar ini berantakan seperti ini...!!!! Kau ini malas sekali....!!!!" Teriak Aditya tepat di depan wajah Cahya, membuat Cahya terkejut dan refleks memundurkan langkahnya takut.