
Cahya terbangun karena mendengar ketukan dan suara bel, dia menyadari jika dia sudah cukup lama tertidur. Cahya beranjak dan membukakan pintu dan Aditya ternyata sudah pulang.
"Kau sudah pulang? Dan Apa yang kau bawa?"
"Aku membeli makanan untuk kita agar kau tidak perlu memasak"
"Kau sangat pengertian, aku sangat lelah sekali hari ini dan tidak sengaja aku tertidur"
Aditya melihat rumah sudah dalam keadaan rapi. "Apa kau sudah melakukan ini semua?" Tanya Aditya keheranan. Cahya akhirnya menjelaskan bahwa dia sudah merapikan semuanya dan sempat dibantu juga oleh Elea.
"Kau ini susah sekali, aku bilang tunggu aku kenapa malah melakukannya sendiri dan kau juga malah merepotkan Elea"
"Dia yang datang kesini sendiri karena Ariel ada urusan pekerjaan, dia merasa bosan jika harus menunggu Ariel jadi ya sudah dia datang kesini, ya sudah kau cepat mandi, kau pasti sangat lelah, aku akan membuatkanmu jus"
"Baiklah, kau juga terlihat sangat lelah beristirahatlah lagi" Aditya mencium kening istrinya lembut dan memberikan makanan yang dibeli nya pada Cahya.
Aditya selesai mandi, Cahya juga sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Cahya masuk ke kamar dan melihat suaminya sudah berganti pakaian. Aditya melihat Cahya tampak sangat kelelahan, mungkin karena seharian ini istrinya itu bekerja terlalu keras.
Aditya menyuruh Cahya untuk segera mandi dan hari juga sudah mulai gelap. Selagi menunggu istrinya dikamar mandi, Aditya pergi ke dapur dan menyiapkan makanan yang tadi ia beli. Dia tidak tega melihat istrinya tampak benar-benar kelelahan, Aditya akan membiarkan istrinya untuk beristirahat setelah makan malam.
****
Cahya dan Aditya akhirnya menyelesaikan makan malamnya. Cahya pun segera membereskan piring dan gelas diatas meja, sedangkan Aditya akan menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum tidur.
"Sayang, setelah ini kau langsung beristirahat saja dulu, Kau benar-benar terlihat sangat kelelahan, aku harus menyelesaikan pekerjaan"
Cahya menganggukkan kepalanya dan memang sepertinya dia benar-benar kelelahan. Dia sedikit menyesal kenapa melakukan semuanya hari ini, sekarang badannya pegal-pegal dan sangat bersyukur suaminya sangat pengertian. Cahya masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya lalu tidur. Sedangkan Aditya mulai mengerjakan pekerjaannya diruang tengah karena tidak mau mengganggu tidur istrinya.
Disisi lain, Elea sedang mengambil permen yang diminta oleh Ariel. Dia membongkar tas nya untuk mencari permen itu. Ariel hanya memandangnya keheranan kenapa Elea seperti sedang kebingungan.
"Ada apa honey? Kenapa lama sekali?" Tanya Ariel dan langsung menghampiri istrinya.
"Permennya tidak ada, padahal aku yakin masih ada 1 didalam tasku, kemana perginya?" Elea menumpahkan seluruh isi tasnya dan tetap tidak menemukan yang dicarinya.
"Sudahlah mungkin terjatuh" Ariel tersenyum menatap Elea.
"Terjatuh dimana? Aku tidak pernah menjatuhkan tasku, lagi pula jika memang iya bagaimana kalau permen itu ditemukan oleh anak-anak?"
"Itu hanya sebuah permen terjatuh siapa juga yang akan mengambilnya disini, lupakan, dan tanpa permen itu kita tetap bisa bersenang-senang bukan?" Ariel menarik Elea lalu menciumnya dan membawanya ke ranjang.
****
Mengingat perusahaan Aditya tersadar jika dia harus segera masuk dan menyelesaikan pekerjaannya dengan segera agar besok saat meeting semuanya lancar. Aditya masuk dan mengunci pintu lalu duduk disofa dan membuka laptopnya dan saat menyalakannya ada sesuatu yang mengganjal dibawah laptopnya. Dia mengangkat laptopnya dan menemukan sebuah permen diatas meja.
"Astaga, kenapa ada permen disini? Cuma satu pula, mungkin ini milik Cahya, tetapi sepertinya permen ini enak" Gumam Aditya lalu membuka kertas pembungkus permen itu dan langsung memakannya tanpa pikir panjang. Aditya pun mulai melanjutkan pekerjaannya.
Setengah jam telah berlalu, Aditya masih sibuk dengan pekerjaannya tetapi dia mulai merasakan ada yang aneh ditubuhnya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan badannya mulai terasa gerah dan panas. Dia mengambil air yang ada diatas mejanya dan meminumnya sampai habis. Tanpa Aditya sadari reaksi dari permen itu mulai bekerja dan akan lebih parah jika orang tersebut meminum air.
Semakin lama keadaan Aditya tidak juga membaik, justru semakin merasakan panas ditubuhnya. Karena kesal dia melepaskan Tshirt nya tetapi tetap tidak merubah keadaannya, dia membuka lagi pintu rumahnya dan keluar agar mendapatkan angin dan suasana diluar juga dingin pasti itu bisa membantunya.
****
Saat diluar rumah Aditya masih merasakan keanehan pada dirinya, dia masih bingung dengan keadaannya sekarang karena dia tidak pernah merasakan seperti ini. Saat pikirannya dilanda kebingungan, sekarang justru ada hal lain yang terjadi. Aditya merasakan ketegangan yang luar biasa pada alat viitalnya.
"Shiittt .... Ada apa lagi ini? Kenapa aku jadi seperti ini???"
Aditya bergegas masuk kedalam rumah, mematikan laptopnya dan berjalan mondar mandir kebingungan. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman terutama pada area vitalnya seolah ingin segera dikeluarkan dan ditenggelamkan. Aditya pergi ke kamarnya untuk meminta istrinya agar bersedia berhubungan dengannya tetapi langkahnya terhenti ditengah pintu saat teringat jika Cahya merasa kelelahan hari ini, dan tadi wajah istrinya terlihat pucat, tidak mungkin dia tega melakukannya, itu terlihat sangat egois.
Aditya kemudian masuk dan mencoba menenangkan dirinya. Dia menarik napasnya dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan dari mulutnya berharap kekacauan yang terjadi segera berakhir. Aditya berbaring disebelah Cahya sambil terus menenangkan dirinya dan tetap saja tubuhnya semakin tidak nyaman. Dia terus mendesis kesal dan bergerak ke kanan dan ke kiri karena merasa sangat tidak nyaman.
Cahya terbangun mendengar suara aneh disebelahnya dan ada gerakan gerakan yang mengganggu tidurnya. Cahya membalikkan badannya dan melihat suaminya bergerak seperti tidak nyaman. Aditya terkejut karena Cahya bangun, dan dia langsung menarik selimut untuk menutupi pahanya.
"Ya Tuhan kau berkeringat, kau kenapa? Apa kau sakit?" Cahya mengarahkan tangannya di kening Aditya dan mengusap keringatnya.
" Kau kenapa??? Ada apa?? Apa ada yang sakit atau kepalamu pusing??"
Aditya tidak menjawab pertanyaan Cahya dan hanya menggelengkan kepala. Dia sangat tersiksa dengan keadaannya dan merasa sangat bingung kenapa tubuhnya seperti ini. Keringatnya terus keluar, dan tubuhnya semakin panas, ditambah erreksi yang terus terjadi dan tidak mau berhenti. Aditya semakin tersiksa tetapi tidak bisa memberitahu Cahya.
"Kenapa kau diam saja, apa yang kau rasakan, tunggu sebentar aku akan mengambilkanmu minum dan akan mengompresmu, keringatmu sangat banyak kau mungkin saja demam" Cahya terlihat sangat panik melihat keadaan suaminya. Dia pun hendak beranjak dari tempat tidur tetapi Aditya menahannya.
"Aku tidak apa-apa sayang, maaf aku membangunkanmu" Suara Aditya terdengar parau.
"Tapi kau berkeringat, hawa disini dingin kenala kau malah berkeringat, pasti ada yang tidak beres denganmu, aku akan melakukan sesuatu"
Aditya lagi-lagi menahan istrinya dengan tangannya.
"Kau mau tahu dimana ketidakberesan itu terjadi padaku? Disini" Dia mengarahkan tangan istrinua ke bawah perutnya. Cahya memandangnya dengan wajah kebingungan.