
"Hanya ingin bertemu saja, baiklah kalau memang ibumu tidak berada disini, mungkin nanti saya akan datang lagi, sekarang saya harus pergi, Dit terima kasih atas makan siangnya, dan juga Danist maafkan saya sudah mengganggu waktu anda"
Ayah Ariel kemudian pergi meninggalkan kantor perkebunan, saat itu juga Aditya juga berpamitan kepada Danist untuk kembali ke Villa.
Pikiran Aditya masuh dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Ayah Ariel dan Mama Danist. Fakta bahwa Ayah Ariel pernah menikah dengan Mama Dansit membuat hati dan pikiran Aditya sedikit terusik oleh rasa penasaran.
Sesampainya di villa, Aditya langsung naik ke kamarnya dan menemui Cahya yang sedang menggendong Kyra.
"Kau kembali cepat sekali? Bagaimana? Apa yang terjadi?" Cahya langsung menghujani pertanyaan kepada suami nya yang baru datang itu, karena dia juga sangat penasaran.
"Tidak terjadi apapun, kau ini!"
"Bagaiman bisa tidak terjadi apapun? Pertemuan om Andi dengan Tante Sari gimana?"
"Tidak ada pertemuan, tante Sari sekarang tidak ada disini, dia pergi ke luar kota, ada saudara nya sedang sakit"
"Kenapa suasana nya tidak tepat sekali ya?" Gumam Cahya yang kemudian dia lanjutkan menceritakan tentang Ariel yang tadi didengarnya dari Chika kepada Aditya.
Cahya meminta agar Aditya bisa berbicara kepada Ariel untuk tidak lagi berbicara dengan nada menghina atau mengejek orang lain ketika dia tidak menyukai orang tersebut dan juga agar Ariel bisa menghormati setiap keputusan Elea.
Mendengar cerita Cahya, Aditya benar-benar tidak percaya karena yang dia tahu selama ini Ariel tidak pernah berbuat hal semacam itu. Melakukan penghinaan terhadap orang lain bukanlah sifat Ariel karena selama ini sahabatnya itu termasuk orang yang dermawan dibalik sifat kaku dan keras kepala nya. Tetapi Aditya juga tidak bisa untuk tidak mempercayai ucapan Cahya ataupun Chika. Mungkin Ariel melakukannya karena terdorong oleh keinginannya kembali bersama Elea, tetapi tetap saja itu tidak dibenarkan.
"Sayang, bagaimana jika om Andi adalah ayah dari Danist? Berarti Danist dan Ariel adalah saudara?" Celetuk Cahya membuat Aditya yang terdiam seketika melirik tajam ke arahnya.
"Saudara?"
"Ya bisa saja itu kalau faktanya memang benar tante Sari selama ini tidak pernah menikah selain dengan om Andi, kalau benar apa yang akan terjadi ya?"
"Entahlah"
******
Sore harinya Cahya mengajak Aditya untuk pergi ke rumah Elea, mengingat kehamilan Elea semakin besar dan semakin baik jika mereka yang mengunjunginya saat berada disini.
Rupanya Elea sudah pulang dari kantor dan tampak duduk bersama Mama nya di teras. Melihat kedatangan Cahya, Elea langsung berdiri mengahampiri Cahya yang baru saja keluar dari mobil lalu mengambil Kyros dari Cahya. Sementara Aditya mengambil Kyros yang masih ada di Car seat.
"Dimana Chika? Dia tidak ikut pulang?" Tanya Elea.
"Chika sedang pergi jalan-jalan dengan kak Yongki, perutmu begitu besar dan kau masih saja memaksa menggendong mereka"
"Aku selalu merindukan duo gemay ini, waha da kak Yongki ya? Pantas saja Chika tidak ingin buru-buru pulang, ayo duduk"
Cahya kemudian mengambil Kyros dari Aditya, karena suaminya itu akan pergi keluar sebentar untuk membeli makanan. Aditya lalu pergi meninggalkan Cahya dirumah Elea.
"Iya beberapa minggu lagi, aku tidak melakukan persiapan apapun, setelah mengambil cuti aku dan Mama akan pulang ke rumah kami dan melahirkan disana saja, Papa akan menjemput kami nanti, Papa masih disibukkan dengan pekerjaannya diluar kota sekarang"
"Kau akan pulang? Tapi bukankah ku dengar Ariel sudah menyiapkan rumah sakit terbaik untukmu?"
"Aku tidak ingin berlebihan menerima semuanya dari Ariel, itu membuatku merasa seperti benalu, selama ini aku bisa mengurus diriku dan kehamilanku sendiri dengan baik tanpa bantuan dari Ariel, ya memang dia ayah dari bayiku tetapi bukan berarti dia bisa seenaknya mengatur hidupku, aku juga bisa mencari rumah sakit bersalin terbaik untukku melahirkan, aku memiliki cukup tabungan untuk memberikan yang terbaik bagi bayiku, jadi aku memutuskan untuk pulang saja Ca, kalau harus melahirkan di Jakarta tidak mungkin, apartmentku terlalu kecil dan hanya memiliki 1 kamar"
"Semua memang tergantung pada dirimu dan kenyamananmu El, kurasa Ariel terlalu berlebihan dalam mencurahkan kasih sayangnya pada bayi kalian, ya aku tahu mungkin itu sebagai salah satu yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahan yang dia lakukan dulu, tetapi dia juga tidak bisa terlalu memaksakan kehendaknya jika kau merasa tidak nyaman"
"Dia memberiku 100 juta direkeningku, tetapi aku tidak ingin menggunakannya sepeserpun untuk persalinanku, jika ku kembalikan dia juga pasti akan mentransfernya kembali, jadi aku biarkan saja untuk sementara" Jelas Elea.
Cahya kemudian mulai membahas tentang Danist tetapi kemudian Elea mengatakan jika mereka sepakat untuk mengakhiri sandiwara kepura-puraan mereka didepan Ariel. Elea juga merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi kemarin dan itu pasti sangat menyakiti hati Danist walaupun dia tidak mengatakannya secara langsung.
******
2 hari kemudian....
Aditya kembali memulai aktifitasnya di kantor, Aditya disibukkan membaca berkas tentang para GM yang mengurus seluruh kantor cabangnya. Yang kemudian teralihkan dengan kedatangan Randy dikantornya. Ternyata Randy baru saja datang dari bulan madu nya bersama Chitra di Paris.
"Wuiiihhh pengantin baru akhirnya pulang juga, gimana unboxingnya? Sukses? Sehari berapa ronde?" Aditya bertanya sambil tertawa mengejek Randy.
"Berhentilah mengejekku, sialan kau"
"Kapan kau kembali?"
"Semalam"
Aditya dan Randy mengobrol dan sesekali tertawa karena candaan dari kedua nya.Hingga Aditya juga membahas tentang fakta yang didapatnya tentang Ayahnya Ariel yang ternyata pernah menikah dengan ibunya Danist. Randy pun tidak kalah terkejutnya dengan info itu tetapi kemudian obrolan mereka terhenti ketika pintu ruangan Aditya diketuk oleh Maysa yang ternyata memberitahu mereka jika Ariel datang.
Seketika Aditya memberitahu Randy agar tidak membahas tentang apa yang baru saja mereka obrolkan.
Ariel duduk disofa bergabung bersama Aditya dan Randy. 3 Pria itupun tampak semakin menjadi ketika berkumpul. Mereka bercanda dan menggoda Randy dengan berbagai pertanyaan.
Aditya berdiri dan mengambil minuman di lemari pendingin yang ada diruangnya lalu membagikannya kepada Ariel dan Randy. "Woi Iel, kudengar kau beberapa hari yang lalu datang menemui Elea?" Tanya Aditya.
"Ah iya Dit, aku membawa beberapa hadiah untuknya dan calon bayi kami" Ariel membuka kaleng minuman soda yang diberikan Aditya dan langsung meminumnya.
"Itu bagus Iel, tapi jangan berlebihan bisa-bisa Elea menolak kedatanganmu lagi, oh iya bukannya aku ingin ikut campur permasalahanmu dengan Elea atau Danist, tapi kau jangan sampai menghina seseorang dan membandingkan dengan dirimu, itu tidak baik Iel, setiap orang memiliki porsi hidupnya sendiri-sendiri dari Tuhan jadi bukan hal baik jika kita menghina seseorang hanya untuk mendapatkan apa yang kitabinginkan, kau sahabatku aku sangat mengenalmu dengan baik, kau selama ini bukan orang yang seperti itu, aku takut Elea akan bertambah marah padamu jika kau melakukan hal semacam itu"
Ariel hanya terdiam mendengar nasehat Aditya, sedangkan Randy menatap Ariel yang duduk disebelahnya, Randy masih belum mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua sahabatnya itu.