SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 117



Akhirnya Aditya dan Cahya sampai dirumah, saat Aditya ingin masuk ke gerbang dan mengantar Cahya sampai kedalam rumah, Cahya menolak dan meminta turun diluar gerbang rumah saja. Aditya keluar membukakan pintu untuk Cahya.


"Masuk langsung istirahat ya? Jangan lupa obat dan vitaminnya diminum, aku ke kantor dulu" Aditya mengecup kening Cahya dan Cahya mencium tangan suaminya.


"Oke, hati-hati ya, I love you"


"Love you too...!"


Cahya masuk kedalam dan melambaikan tangan ke Aditya, Aditya langsung memberi kode ke security rumahnya untuk langsung menutup gerbang setelah istrinya masuk ke dalam. Tidak disangka dari kejauhan Theo yang masih berada diatas motor meminta pengemudi ojek berhenti karena dia melihat Aditya sedang menurunkan Cahya didepan rumahnya. Theo yang memang sengaja langsung datang dari penjara untuk melihat dan memastikan keadaan Cahya sekarang dan tidak diduga dia langsung melihatnya.


"Ternyata kau baik-baik saja Ca, dan semakin cantik, senang bisa melihatmu lagi walau dari kejauhan" Theo bergumam pelan sambil tersenyum lalu meninggalkan tempat itu.


Cahya masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke kamarnya, tetapi terhenti ketika melihat Mama mertuanya sedang berjalan kearahnya. "Bagaimana sayang, apa kau dan bayimu baik-baik saja?"


"Mereka baik-baik saja Ma, dan tumbuh dengan sehat"


"Syukurlah, ya sudah kau beristirahat saja ya, kau pasti lelah, mama kekamar dulu"


***


Sore hari Aditya yelah kembali dari kantor, Cahya menyambutnya dengan sigap. Cahya memeluknya dan mrngecup bibir suaminya dengan lembut. "Suamiku sayang, aku merindukanmu sangat sangat merindukanmu" Cahya berucap sambil mengelus pipi Aditya.


Aditya mendaratkan ciuman dikening istrinya sambil berkata bahwa dia juga sangat merindukannya. Aditya kemudian berjongkok dan mencium perut Cahya.


"Bagaimana kabar kesayangan Papa didalam sini? Apa kalian merepotkan Mama kalian atau justru kalian terus membuat mulut Mama kalian tidak berhenti mengunyah seperti biasanya?"


"Tentu saja Papa sayang, Mama tidak pernah membuat kami merasa kelaparan didalam sini"


Cahya dan Aditya tertawa bersama menertawakan kekonyolan mereka. Cahya kemudian menyuruh Aditya untuk segera mandi karena dia sudah menyiapkan pakaian gantinya. "Sebelum mandi biarkan aku menciummu lebih dulu" Suara Aditya berubah serak dan direngkuhnya tubuh Cahya.


Aditya menundukkan kepala untuk mencium bibir Cahya. Cahya memejamkan matanya. Bibir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir istrinya yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Cahya, dan memagutt bibir bawah Cahya. Aditya menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Cahya menerimanya dengan senang hati, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan istrinya supaya merangkul lehernya, lalu memeluknya erat-erat dan mellumat bibirnya.


Ciuman Aditya selalu sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu mellumat bibir Cahya dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Cahya membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah istrinya dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat. Ketika Aditya melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Cahya, napas mereka berdua pun terengah-engah.


"Sudah cepatlah mandi, hari sudah mulai gelap"


"Ayo mandilah denganku" Aditya memegang pergelangan tangan Cahya dan ingin menariknya tetapi istrinya menolak.


"Tidak suamiku sayang, aku sudah mandi dan jika aku mandi denganmu akan memakan waktu lama itu sudah jadi kebiasaanmu, cepat pergi dan aku akan menyiapkan jus untukmu" Cahya tersenyum sambil mengusap lengan Aditya lalu meninggalkannya keluar kamar.


****


Tengah malam Cahya terbangun karena lapar, dia mencoba membangunkan Aditya. Sangat sulit membangunkan suaminya yang tertidur sangat lelap, karena tidak kunjung bangun, Cahya mendaratkan ciuman ciuman diseluruh wajah Aditya. Benar saja lelaki itu mau membuka matanya dengan terpaksa.


"Bukan, aku ingin makan sesuatu"


"Mau makan apa, ini sudah malam sayang" Aditya bangun dan menyandarkan badannya.


"Aku mau makan bakwan jagung"


"Bakwan jagung? Terus jam segini mau beli dimana? Ini udah jam 1"


"Kamu yang bikinin, ayo cepat kita turun jangan menolak yang minta kan anak kamu bukan aku" Cahya menarik lengan Aditya yang mau tidak mau lelaki itu menurutinya.


Aditya membongkar isi kulkas untuk mencari jagung sedangkan Cahya menyiapkan bumbu yang akan digunakan untuk membuat bakwan. Aditya membawa jagung dan menanyakan pada Cahya itu harus diapakan.


Aditya mengiris jagung itu dan mengupas semua bumbu yang sudah disiapkan Cahya, sedangkan istrinya itu hanya duduk melihatnya serta mengarahkan. "Udah beres ini diapain lagi?" Tanya Aditya kesal.


"Jagung sama bumbunya di blend sayang, terus itu terasinya yang udah dibakar dimasukin sekalian, kamu ih ngedumel mulu daritadi, kalo ga ikhlas yaudah sana tidur aja lagi"


"Iya iya ga ngedumel kok"


Aditya mengikuti seluruh arahan Cahya lalu mengambil telur dan memasukkannya ke adonan sampai memanaskan minyak dan menggorengnya. Akhirnya siap juga walaupun diawal-awal bakwan itu gosong dan bentukannya tidak beraturan tapi percobaan ketiga dan selanjutnya berhasil juga.


Piring itu penuh dengan bakwan jagung buatan Aditya, Cahya memuji suaminya karena telah berhasil membuatnya. Bahkan rasanya cukup enak saat dimakan. Melihat istrinya sangag lahap makan, Aditya kembali kedapur untuk membuatkannya jus.


Saat kembali membawa jus ternyata tidak disangka Cahya menghabiskan semuanya dan hanya menyisakan 2 bakwan untuknya. "Terima kasih jusnya, ini sisa dua untuk kamu hehe"


"Cuma dua??? Ah ya Tuhan kau tega sekali, aku membuatnya susah payah, bakwan sepiring oenuh dan kau hanya menyisahkan dua untukku" Ungkap Aditya kesal.


****


Setelah drama bakwan berakhir, mereka berdua kembali ke kamar dan sekali lagi Cahya membuat kekonyolan yang lainnya. Cahya meminta Aditya melepas bajunya dan menyuruh suaminya itu untuk bersandar ditempat tidur disusul oleh dirinya. Cahya duduk disebelah Aditya dan menyandarkan kepalanya didada suaminya memintanya untuk mengelus perutnya.


"Setelah kita melewati banyak hal yang menyesakkan dada, aku ingin kehidupan kita selalu berbahagia seperti ini terus, kita berbahagia dan membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, aku yakin anak kita akan bangga denganmu kau selalu menjagaku dan mereka dengan baik" Gumam Cahya pelan sambil memeluk Aditya.


"Apa yang kau katakan, itu sudah tanggung jawabku untuk membahagiakanmu dan anak kita"


"Semoga tidak akan ada lagi orang yang datang dan berusaha mengganggu kebahagiaan kita lagi, kita sudah cukup menderita karena ulah mereka"


"Tidak akan pernah kubiarkan itu terjadi, jika ada yang berani mengusik kita aku akan menghancurkan orang itu, sudah ya sekarang kau tidurlah"


Tidak menunggu lama akhirnya Cahya tertidur dipelukan Aditya. Aditya pun membaringkan istrinya dengan pelan-pelan dan menyelimutinya lalu mengecup lembut kening Cahya dan bergumam pelan. "Siapapun tidak akan pernah kuijinkan untuk mengusik dan menyakiti istri dan anakku serta keluargaku, aku akan selalu menjaga kalian dengan sepenuh hatiku".