SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 28



“ Kenapa kamu berurusan dengan preman itu?? Kamu membayar mereka untuk mengawasi rumahku dan membuntuti ibuku?? Apa yang ada di otakmu??” Suara Cahya bergetar dan dia mulai meneteskan airmatanya.


“ Apa yang sedang kau rencanakan Aditya??? Apa kau ingin menyakiti ibu??”


“ Tidak Ca, kau salah paham, Cyntia menyuruh preman....”


PLAAAAKKKKK......!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Aditya padahal dia belum menyelesaikan ucapannya.


“ Oh jadi kau bekerjasama dengan Cyntia untuk membayar Preman dan menyuruhnya membuntuti ibuku serta memantau rumahku, kau jahat sekali Aditya, kau juga pasti menjebakku dengan pernikahan ini, aku benci padamu!!” Setelah mendaratkan tamparannya pada Aditya, Cahya bergegas pergi dari ruangan kerja Aditya dan meninggalkannya.


Aditya mengejar Cahya tetapi justru dia berlari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil menyuruh supir untuk membawanya pergi. Aditya mengumpat dan merasa kesal dengan Cahya kenapa dia tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan justru malah pergi dari rumah, segera dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada supirnya menanyakana pergi kemana Cahya mengajaknya.


Sambil menunggu pesan balasan dari supirnya, Aditya mencoba menghubungi Cahya tapi selalu ditolak dan membuatnya semakin frustasi, ia lantas menghubungi Elea, mungkin Cahya akan menemui Elea lagi, tetapi rupanya Elea dan Cahya memutuskan untuk pulang dan tidak jadi berburu buku di pameran karena Elea diminta oleh orangtuanya untuk pulang ke Bandung jadi tidak mungkin Cahya pergi menemuinya lagi.


Ditengah kebingungannya akhirnya ponselnya berdering dan mendapatkan balasan dari supirnya bahwa Cahya meminta diantar kerumah ibunya, Aditya merasa sangat lega dan meminta supirnya untuk tetap disana memastikan Cahya tidak kemana-mana lagi, ia pun juga segera mengirim pesan kepada ibu mertuanya bahwa Cahya sedang marah karena ada kesalah pahaman antara dirinya dan istrinya, dan meminta ibu mertuanya untuk menenangkan putrinya, jika kondisinya sudah baik dia akan menjemputnya.


Cahya mengetuk pintu rumahnya dan ibunya terkejut melihatnya, karena putrinya itu besok baru akan mengunjunginya, tetapi justru malah datang hari ini.


“ Cahya, kamu bilang akan kesini besok kenapa sekarang sudah disini, mana suaminya?”


“ Dia tidak ikut bu, aku sangat marah padanya hari ini, biarkan aku disini dulu ya?” Ujar Cahya dengan wajah yang masih kesal membuat ibunya merasa khawatir, dan menyuruh putrinya itu untuk beristirahat dulu dan akan mengambilkannya minum. Ponselnya bergetar dan ada pesan dari menantunya Aditya, ia pun segera membukanya.


Setelah menerima pesan itu ia pun merasa sedikit lega, menyadari bahwa memang selalu ada bumbu-bumbu disebuah pernikahan dan kini putrinya pun mengalaminya, ia pun mencoba memahami jika memang Cahya mau bercerita ia sebagai ibu akan mendengarkan dan memberi solusi jika dibutuhkan tetapi jika putrinya tidak mau bercerita, ia akan memahami dan tidak akan memaksa.


“ Ca, ibu membuatkanmu es sirup kesukaanmu, minumlah supaya kau merasa segar”


“ Ibu, apa ibu tidak merasa aneh akhir-akhir ini? Apakah tidak ada yang mengikuti ibu saat ibu keluar rumah?” Tanya Cahya.


“ Aneh?? Tidak ada Ca, memangnya kenapa??”


Cahya menceritakan semua yang didengarnya saat dirumah bahwa Aditya telah membayar preman untuk memantau rumah dan ibunya, bahkan dia juga menaruh curiga bahwa Aditya bekerja sama dengan Cyntia, kini dirinya sangat marah terhadap suaminya itu, sedangkan ibunya hanya mendengarkan dengan seksama cerita dari putrinya itu mengingat mungkin benar kata Aditya bahwa mereka sedang mengalami selisih paham, membiarkan putrinya itu menenangkan diri terlebih dulu, mungkin nanti dia akan mendengar cerita dari sisi menantunya itu, dia pun meninggalkan Cahya dan menyuruhnya untuk menenangkan diri dan emosinya agar tidak salah mengambil langkah, saat masuk ke dalam kamar ia melihat ponselnya berdering, ada panggilan video dari Chika.


“ Assalamualikum ibuku sayang?”


Chika menyapa ibunya dengan senyuman yang sangat manis dan disampingnya ternyata ada Adri. Mereka akhirnya mengobrol berbagai hal beberapa kali terlihat tertawa tetapi kemudian teringat bahwa Cahya sedang berada disini, ia pun memberitahu Chika. Chika bergegas menyuruh ibunya untuk memanggil kakaknya tetapi ibunya bilang bahwa Cahya saat ini sedang marah terhadap Aditya karena mengetahui bahwa katanya Aditya membayar preman untuk mengawasi rumah. sontak Chika terlihat terkejut begitu juga Adri, tetapi terlihat Adri mengambil ponsel yang dipegang Chika dan mulai bertanya pada ibu Chika tentang preman itu, menyadari bahwa sepertinya telah terjadi kesalahpahaman anatara kakak dan kakak iparnya itu. Adri pun menjelaskan semuanya tentang preman yang dibayar oleh kakaknya kepada ibunya Chika serta meminta bantuannya agar mau menjelaskan kepada Cahya tentang semuanya.


Cahya keluar dari kamarnya beberapa jam kemudian karena tidak sadar jika dia tertidur saat membaringkan badannya di tempat tidurnya, dia melihat ibunya sedang menyapu dihalaman belakang dan menghampirinya.


“ Maaf bu, tadi aku niat Cuma mau berbaring aja taunya malah keblabasan”


“ Gimana sekarang kamu sudah merasa lebih baik?? Tadi adikmu menelepon dan Adri menjelaskan semuanya pada ibu karena tadi ibu bercrita tentangmu yang marah pada suamimu karena preman”


Kemudian ibunya menceritakan semua obrolannya dengan Adri.


“ Ya Adri bilang awalnya Aditya hanya ingin memastikan keluarga kita aman, dia takut Cyntia atau Theo datang lagi kerumah kita dan membuat kekacauan lalu mereka menemukan fakta beberapa hari ini bahwa ternyata ada orang lain yang mengawasi keluarga kita secara diam-diam diluar dari orang yang dibayar suamimu, ternyata orang itu suruhan dari Cyntia” Jelas ibunya tetapi Cahya terlihat masih meragukan penjelasan ibunya itu.


“ Dan ibu percaya dengan apa yang diceritakan oleh Adri?? Bisa saja Aditya yang menyuruhnya berkata seperti itu!”


“ Ca, ibu percaya dengan ucapan Adri dia menjelaskan semuanya, sekarang coba kau pikirkan, kalau memang tujuan suamimu buruk terhadap keluarga kita lalu apa yang akan dia dapatkan? Lihatlah dirimu, dia memastikan kau dalam keadaan aman dan nyaman, menyuruh semua orang menjagamu saat dirimu berada diluar, bahkan kau pernah bilang bahwa Aditya juga menyuruh Elea untuk terus menemanimu saat dikantor atau diluar kantor, sekarang supirmu juga masih diluar menunggumu karena Aditya menyuruhnya tetap menemanimu, dia hanya takut kau akan mengalami hal yang sama saat dulu Theo menyeretmu diluar kantormu, dia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi, dia sangat mengkhawatirkanmu” Jelas ibunya panjang, agar putrinya itu mau mengerti tentang keadaannya sekarang.


“ Lalu kenapa dia juga menyuruh preman itu untuk membuntuti ibu saat ibu sedang keluar? Kalau preman itu menyakiti ibu bagaimana?”


“ Tidak ada yang akan menyakiti ibu, karena suamimu menyuruh mereka memastikan keadaan ibu baik-baik saja karena ibu sendirian, mengertilah Ca, suamimu adalah orang yang sangat baik, keluarganya juga sangat menyayangimu"


Ibu Cahya menghela napasnya kemudian melanjutkan lagi nasehatnya.


"Ibu tidak pernah lelah mengingatkanmu untuk menjadi istri dan menantu yang baik, pernikahan kalian memang sungguh tidak terduga, ibu sangat mengkhawatirkanmu tetapi melihat kau diperlakukan sangat baik oleh mereka ibu sangat merasa bersyukur, ternyata putri ibu mendapatkan keluarga baru yang sangat menyayanginya, ibu melihat dia sangat mencintaimu begitupula mertuamu, kau harus bisa menempatkan dirimu dengan baik”


Cahya termenung membenarkan ucapan ibunya itu, selama ini dia diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Aditya, apalagi ibu mertuanya yang sangat menyayanginya.


“ Aku selalu menjalankan semua yang ibu ajarkan, menjadi menantu dan istri yang baik, walau aku masih butuh waktu untuk bisa mencintai Aditya tapi aku selalu menjalankan kewajibanku dengan baik bu”


“ Ibu sangat tahu Ca, kamu butuh waktu untuk mencintai suamimu, tapi cinta itu akan ada diwaktu yang tepat, sebuah dosa besar jika kamu tidak melakukan kewajibanmu dengan baik sebagai seotrang istri" Ibu Cahya memegang bahu putrinya itu menatapnya dengan lembut.


"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menjadi istri yang baik, layani suamimu dengan sepenuh hati, buat dia bahagia lama kelamaan kamu akan mencintai dia dengan sendirinya, apalagi jika nanti kamu hamil kebahagiaan kalian agar bertambah dan penuh warna”


“ Hamil???”


“ Iya hamil, Tujuan dari pernikahan adalah membina keluarga baru, memiliki anak adalah hal utama dari sebuah pernikahan, pasti kalian akan lebih bahagia, sudah ibu ke dapur dulu ibu akan siapkan makanan dan bawalah pulang, agar kau tidak perlu memasak”


Kata-kata hamil membuat Cahya menggerutkan keningnya, bagaimana dia akan hamil, dia dan Aditya tidak pernah berhubungan layaknya suami istri bahkan tidur saja mereka terpisah. Memikirkan kata-kata ibunya tadi tentang dosa besar jika tidak melakukan tugas sebagai seorang istri membuat Cahya merinding, apakah dia melakukan hal yang salah selama ini karena membiarkan dirinya dan Aditya tidak menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.


Ditengah lamunannya ibunya memanggilnya dan sudah menyiapkan beberapa makanan untuk dibawa pulang, ibunya pun menyuruhnya segera pulang dan meminta maaf pada Aditya karena sudah berburuk sangka padanya. Cahya membenarkan perkataan ibunya pasti Aditya sekarang merasa lapar apalagi tadi dia meninggalkannya dengan keadaan marah dan tidak menyiapkan apapun untuk dimakan suaminya itu, lalu berpamitan dengan ibunya dan pulang serta akan meminta maaf pada Aditya.