SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 201



Danist berdiri dan hendak meninggalkan Chika untuk menyusul Elea. "Mau kemana? Ini makanan belum di abisin kok sudah mau cabut aja" Ujar Chika.


"Aku ingin menyusul Elea di kantor, ini sudah hampir setengah jam tapi Elea belum juga datang" Ucap Danist lalu meninggalkan Chika di kantin.


Saat sampai di dalam kantor, Danist tidak menemukan Elea ada disana dan bertanya-tanya kemana perginya perempuan itu. Jika sudah ke kantin pasti mereka akan berpapasan tetapi itu tidak terjadi. Danist mengambil ponsel dari sakunya dan mulai menghubungi Elea tetapi dia mendengar ponsel Elea berbunyi di atas meja kerjanya. "Kemana Elea?"


Suasana didalam kantor sepi karena semua staff sedang pergi keluar untuk makan siang. Danist pun berjalan untuk keluar dan mencari Elea disana. Langkahnya terhenti saat berada di sekitar toilet, terdengar suara gedoran di pintu toilet wanita. Danist pun bergegas menuju ke arah toilet tetapi suara gedoran pintu terhenti.


"Hallo apa ada orang disini?" Teriak Danist.


Seolah mendapat keajaiban, Elea bersuara meminta tolong sambil menahan rasa sakitnya. "To...long..."


Danist mengenali suara itu, itu adalah suara Elea, bergegas dia menggedor pintu.


"Elea kau kah itu??" Tanya Danist.


"Dan.... tolong aku"


Danist langsung membuka pintu itu dan menemukan Elea dilantai dengan kondisi yang lemah dn kesakitan.


"Ya Tuhan Elea, apa yang terjadi? Kau terpeleset?"


Elea menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah kakinya. Danist yang melihat itu langsung panik dan langsung berdiri untuk mengangkat Elea. Elea cukup berat karena kondisi kehamilannya begitu besar. Bersusah payah Danist berhasil mengangkat Elea dan membawa perempuan itu keluar kantor dengan setengah berlari. Elea berpegangan erat di tubuh Danist yang sedang berjalan cepat. Lelaki itu tampak sedikit terengah. Tentu saja, dengan usia kehamilannya yang sembilan bulan ini, Elea sangat berat.


Sampai di depan kantor, Danist langsung menyuruh security untuk membuka pintu mobilnya. Security itu mengambil kunci mobil yang ada di saku Danist, kemudian membantu Danist dengan membuka mobilnya lalu membawa Elea masuk.


Danist tidak bisa membiarkan Elea kesakitan jika dia harus mengemudikan mobilnya sendiri. Dia melihat salah satu staff nya yang baru saja datang dan menyuruh security untuk memanggilnya. Sambil berlari staff itu menghampiri mobil Danist.


"Ndre, bisakah kau mengemudikan mobil ini dan bawa kami ke rumah sakit, cepat!" Ucap Danist panik.


"Iya Pak, bisa"


Akhirnya mobil Danist meninghalkan kantor. Danist merasakan cengkraman yang luar biasa dari Elea di lengannya. Perempuan itu terus merintih kesakitan dan Danist mencoba menenangkannya dengan menyuruhnya untuk menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut.


"Nah begitu El, hembuskan pelan, tarik napas lagi"


"Sakit Dan....."


"Sabar El.... Kau harus tahan, kita akan segera sampai"


*****


Beberapa waktu kemudian akhirmya mereka sampai, dan Elea dibaringkan ranjang dorong dan langsung dibawa ke IGD untuk diperiksa, mengingat ini juga belum waktunya dia melahirkan. Elea terus menggenggam jemari Danist sambil terus mengerang kesakitan hingga akhirnya pegangan itu terlepas saat memasuki ruang IGD.


Dokter dan perawat langsung memeriksa kondisi Elea sementara Danist mengambil ponselnya lalu menghubungi Chika agar segera menyusul ke rumah sakit bersama dengan Mama Elea.


Cukup lama dokter memeriksa kondisi Elea hingga akhirnya dokter keluar dari IGD. Ternyata ini memang sudah waktunya Elea melahirkan & Elea sekarang akan dipindahkan ke ruang bersalin sambil menunggu pembukaannya selesai.


Danist duduk disebelah Elea yang terbaring sambil menunggu kedatangan Mama Elea dan juga Chika. Elea juga sudah terlihat lebih tenang, dan kontraksinya terjadi beberapa menit sekali. "Dan, aku minta maaf sudah sering merepotkanmu" Gumam Elea dengan suara lirih.


"Tidak apa-apa El, membantu sesama itu adalah kewajiban, Chika akan sampai sebentar lagi bersama Mama mu, Papamu juga sudah dalam perjalanan tetapi butuh waktu untuknya mengingat dia sedang berada jauh dari tempat ini"


"Thanks Dan" Ucap Elea, tetapi kemudian dia tiba-tiba menangis.


Takdir telah membawanya mengalami berbagai hal yang menguras emosi serta airmata. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dan saat ini dia akan berjuang sendirian melahirkan bayinya tanpa ada seorang suami disampingnya. Elea merasa dirinya bukanlah orang yang beruntung.


"El, kenapa kau menangis? Apa kau merasa sakit lagi, aku akan panggilkan dokter ya?"


"Tidak perlu Dan, aku tidak apa, aku hanya sedih dengan nasibku yang tidak seberuntung wanita lain"


Beberapa waktu kemudian, Chika datang bersama dengan Mama Elea. Sang Mama langsung memeluk Elea dan menyuruh putrinya itu untuk kuat agar mudah dalam persalinannya. Danist juga ada disana untuk memberi dukungan pada Elea.


*****


Cahya dan Aditya sampai dirumah sakit beberapa jam kemudian setelah mendapat telepon dari Chika. Cahya masuk ke ruang persalinan untuk menemui sahabatnya itu yang kini sedang berjuang unyuk melahirkan bayinya. Melihat kedatangan Cahya, Danist pun memilih keluar dari ruangan itu.


Samakin lama kontraksi Elea semakin cepat, Mama Elea dan Cahya ada di sampingnya sambil terus mensupport Elea. Elea pun meminta kesediaan Cahya untuk tetap berada disampingnya bersama Mamanya.


Hingga akhirnya sudah waktunya Elea untuk melahirkan. Dokter dan perawat segera menyiapkan semuanya. Cahya dan Mama Elea menjadi penguat Elea diruangan itu sambil dibimbing oleh dokter dan perawat.


Annora Gienka Fransisca lahir tiga puluh menit kemudian dengan tangisan kerasnya yang memekakkan telinga. Dia bayi yang cantik, sehat, dengan kulit kemerahan, wajahnya mirip dengan Elea.


Dokter memotong tali pusarnya dan para perawat membersihkannya untuk kemudian menyerahkan bayi yang masih menangis keras itu ke dalam pelukan ibunya.


Elea berkeringat, setelah proses melahirkan pertamanya yang melelahkan. Tetapi dia bahagia, mendengarkan tangis bayinya yang begitu keras dan sehat, memenuhi ruangan. Diterimanya tubuh bayinya yang lembut dan hangat itu dalam buaiannya, kepalanya mendongak menatap ke arah sang Mama yang sedang menatap cucunya dengan terpesona. Pengalaman ini luar biasa yang dirasakan Elea,mengantarkan anaknya lahir ke dunia ini.


Cahya menitihkan Airmatanya melihat akhirnya perjuangan panjang sahabatnya itu sudah selesai dan bayi perempuan itu terlihat begitu cantik dan sehat.


Elea mendekatkan putingnya ke mulut bayinya, dan dengan alami mulut bayi itu mencari-cari, menemukan ****** itu, melahapnya dan menghisapnya. Sampai kemudian dokter membawa bayi Elea dan membesihkannya.


Cahya keluar bersama Mama Elea meninggalkan ruangan bersalin karena dokter dan perawat akan mengurusnya sebelum dipindahkan ke ruang perawatan.


******


Saat keluar dari ruang persalinan, Cahya sudah melihat kedatangan Chitra dan juga Randy, yang memang tadi sudah dihubungi oleh Aditya. Cahya memeluk Chitra mengatakan jika bayi Elea sangat sehat dan sangat cantik. Semua terlihat bahagia mendengar kabar itu dan tidak sabar untuk melihat bayi Elea.


Sampai kemudian seorang perawat keluar menyuruh Mama Elea untuk masuk karena Elea memanggilnya. Sampai di dalam ternyata Elea sudah berganti pakaian sementara bayinya masih di urus oleh perawat.


"Ma, Papa sudah sampai atau belum?" Tanya Elea.


"Belum sayang, mungkin masih sekitar satu jam lagi baru akan sampai disini, ada apa?"


"Gienka harus segera dikumandangkan adzan Ma, bisakah Mama meminta tolong Danist untuk mengumandangkan adzan ditelinga putriku?" Pinta Elea pada sang Mama.


"Baiklah, Mama akan keluar memanggilnya, dan kau sendiri yang harus meminta padanya" Ucap mamanya sambil tersenyum mengusap kening Elea lembut.


Mama Elea keluar dari ruang bersalin dan memanggil Danist, menyuruh lelaki itu untuk masuk. Mama Elea pun memilih duduk disebelah Cahya setelah Danist masuk. "Ada apa tante? Kenapa Elea meminta Danist untuk masuk?"


"Papa Elea masih dalam perjalanan kesini, Elea ingin meminta bantuan Danist untuk mengumandangkan adzan ditelinga bayinya" Ujar Mama Elea yang langsung disambut senyum dari Cahya dan Chitra.


Danist masuk ke ruang beraalin dan Elea langsung tersenyum ke arahnya. Danist berdiri disisi ranjang dimana Elea terbaring disana dan menanyakan ada hal apa hingga membuat Elea memanggilnya.


"Dan...!!! Maafkan aku sekali lagi merepotkanmu, bisakah kau mengumandangkan adzan untuk Gienka?" Pinta Elea.


Danist terdiam sambil melihat ke arah Elea. "Aku???" Tanyanya heran.


"Iya Dan. Maaf aku meminta ini karena Papa belum sampai disini, jika itu tidak merepotkanmu tapi jika kau tidak mau tidak apa-apa, aku akan menunggu papa saja"


Sambil tersenyum Danist pun menganggukkan kepalanya. Lalu berjalan ke sisi lain dimana bayi itu sudah dibaringkan oleh perawat dibox bayinya.


*****


Akhirnya Elea dan Bayinya sudah dibawa ke ruang perawatan. Dan Bayi Elea terlihat sedang tertidur dengan lelapnya tidak memperdulikan keadaan disekitarnya. Cahya dan Chitra dibuat takjub dan terharu atas perjuangan luar biasa Elea selama ini, dia dan Bayinya sangat sehat.