
Keesokan harinya, Ariel bersama supirnya pergi ke perusahaan perkebunan yang akan diajak bekerja sama untuk menyetok hasil olahan produknya dengan Cafe milik Ariel. Ariel terbiasa langsung turun ke lapangan sendiri untuk memastikan kualitas dari produk yang akan dia gunakan untuk restoran, hotel atau cafenya. Baginya kualitas dan pelayanan adalah nomor satu.
Akhirnya sampailah Ariel di kantor perusahaan itu. Supirnya membuka pintu mobilnya, Ariel keluar dan langsung masuk ke kantor itu. Setelah bertanya, Ariel pun langsung diantar masuk ke ruangan GM dimana dia sudah ditunggu disana. Saat berjalan menuju ruangan GM tiba-tiba Ariel berpapasan dengan Chika, dia pun sangat terkejut begitu juga dengan Chika.
"Chika...???" Seru Ariel.
"Kak Ariel??? Kakak ada disini?" Ucap Chika.
"Ya Tuhan, kenapa kak Ariel ada disini?"Gumam Chika lagi dalam hati.
"Jadi kau kerja disini?? Aku selalu bertanya-tanya kemana Aditya mengirimmu ternyata kau ada disini"
Belum menjawab tiba-tiba temannya segera mengajak Chika untuk ke pabrik mengambil sample teh. Chika pun mengucap permisi, tetapi hatinya sedikit lega karena sudah 3hari ini Elea tidak masuk kerja karena sakit. Dan pertanyaan masih mengusiknya untuk apa Ariel datang kesini, apa kakak iparnya yang mengirimnya atau siapa, tetapi Chika akan mencari tahu jawabannya nanti setelah pekerjaannya selesai. Kali ini dia juga tidak bisa langsung mencari jawaban karena saat bertugas dia tidak boleh membawa ponsel ke dalam lab pabrik.
Ariel dipersilahkan masuk ke ruangan GM oleh salah satu staff. Sekali lagi Ariel dikejutkan oleh keberadaan seorang pria yang sedang duduk dikursi kerja. Ariel pernah bertemu dengannya tetapi dia lupa pernah bertemu dimana. Danist pun berdiri dan dibuat terkejut oleh kehadiran tamu nya, dia mengingat jika pernah bertemu dengannya saat berada dirumah sakit menjenguk Adri.
"Anda???? Senang sekali bertemu dengan anda lagi, mari silakan duduk" Danist menghampiri dan menlami Ariel lalu menyuruhnya untuk duduk.
"Ya sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya tetapi dimana ya??? Saya lupa?"
"Saya Danist, General Manager disini, kita pernah bertemu di rumah sakit waktu itu saya sedang menjenguk Adik pak Aditya"
"Ah iya saya ingat waktu itu anda yang mendonorkan darah untuk Adri, saya Andi Ariel Harsha! Aku sudah membaca profil perusahaan ini ternyata ini milik Tante Dina, aku tidak pernah menyangka"
"Iya pak, memang ini milik bu Dina tetapi saat ini yang bertanggung jawab adalah pak Aditya, beliau sering datang kemari untuk mengecek dan mengevaluasi semua yang ada disini termasuk perkebunan dan pabrik" Ucap Danist yang kemudian menyodorkan berkas ke Ariel.
"Adit sering datang kesini, kurang ajar kenapa dia tidak pernah memberitahuku, jika memang seperti itu harusnya aku tidak perlu jauh-jauh datang kemari"
Danist hanya tersenyum lalu mengenalkan aneka produk olahan teh yang di produksi ditempat ini. Ariel tampak serius membaca berkas itu sambil sesekali bertanya kepada Danist tentang berbagai hal yang berhubungan dengan Teh produksinya. Danist pun menjelaskan dengan penjelasan yang cukup menarik dan mudah dipahami membuat Ariel takjub kepadanya. Semua sudah dijelaskan dengan rinci dan detail.
*****
"Baik pak Andi, kami sudah menyiapkan seluruh sajiab Teh produksi kami dan bapak bisa langsung mencoba rasanya" Ucap Danist.
Ariel tersenyum mendengar Danist memanggil nya Andi, tetapi itu tidak masalah bagi Ariel karena memang nama depannya adalah nama dari Ayahnya dan itu biasa terjadi, dimana kliennya juga sering memanggilnya dengan Andi. Ariel menganggukkan kepalanya dan dia juga tidak sabar mencoba berbagai teh yang ada di tempat ini.
Seorang pegawai membawa nampan berisi beberapa cangkir berisi teh dan di Cangkir itu juga ada tulisan nama Teh yang diseduh. Danist mempersilahkan Ariel untuk mencoba satu persatu rasa dari teh itu.
Ariel dengan seksama memperhatikan satu persatu teh yang disajikan, lalu mengangkat satu cangkir, mencium aroma nya baru kemudian menyesap dan merasakannya.
Ariel sudah menikmati semua teh yang disajikan, dia tersenyum merasa sangat senang dan puas karena keseluruhan memiliki rasa, aroma serta karakter yang berbeda-beda.
"Saya sangat menyukai ini semua, produk kalian memang sangat luar biasa, aku menginginkan semuanya, selain untuk cafe terbaruku aku juga berniat untuk menambah menu di restoran restoranku serta hotelku, jadi aku harap perusahaan ini bisa menyediakan semuanya dengan baik" Ucap Ariel.
"Tentu saja pak, dengan senang hati kami akan menyediakan semuanya, saya sangat berterima kasih atas kunjungan anda dan kerja sama kita, baiklah, kami akan menyiapkan surat perjanjian kerja sama kita, sambil menunggu disiapkan, jika bapak berkenan, saya akan mengajak bapak berkekeliling diperkebunan kami"
Tentu saja Ariel dengan senang hati menerima ajakan Danist untuk berkeliling. Disana Ariel bisa memastikan bahwa memang semuanya dikerjakan dengan sangat baik.
****
Ponsel Danist berbunyi dan dia langsung mengangkatnya, ternyata seluruh berkas kerja sama dengan perusahaan Ariel sudah selesai dikerjakan. Danist pun mengajak Ariel untuk kembali ke kantor dan menandatangi perjanjian kerja sama mereka.
Sekali lagi Ariel tampak serius membaca surat perjanjian itu hingga akhirnya dia sepakat dan menandatanginya. Setelah Ariel selesai kini Danist juga menandatanganinya. Danist membuka laci nya untuk mencari stempel perusahaan tetapi tidak menemukannya.
"Maaf pak Andi, saya permisi keluar sebentar untuk mengambil stempel di ruangan bagian administrasi, kebetulan dia sudah tidak masuk 3 hari ini jadi saya harus mencarinya sendiri diruangannya, mohon tunggu sebentar"
Danist keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Elea. Dia langsung mencari stempel perusahaan disana, Danist membuka laci meja kerja Elea dan mencari-cari tetapi dia tidak menemukannya. Danist mengambil ponselnya dan akan menghubungi Elea untuk menanyakannya.
****
Elea tengah bersiap untuk pergi ke dokter, karena beberapa hari ini dia merasa tidak enak badan sekaligus vitaminnya juga habis, dia akan memeriksakan dirinya sekaligus meminta resep obat. Elea juga sudah memesan taksi online, karena papa nya sedang pergi bekerja membawa mobil membuat Elea tidak bisa memintanya mengantar dirinya. Elea juga sudha sering merepotkan Danist jadi lebih baik dia memanggil taksi online saja.
Saat Elea keluar dari rumah, ponsel di tas nya berdering dan ada nama Danist disana.
"Hai Dan..." Ucap Elea.
"Hai El, sorry ganggu istirahatmu"
"Its okay, ada perlu apa?" Tanya Elea.
"Aku sedang ada diruanganmu mencari stempel tapi aku tidak menemukannya, kau menaruhnya dimana? Sekarang kita sedang ditunggu klien untuk teken kerjasama"
"Ah ya Tuhan!" Gumam Elea sambil menepuk dahi nya. "Aku lupa memberikannya padamu saat kita beberapa hari yang lalu bertemu dengan klien, stempelnya ada di tas ku, oke oke aku akan mengantarnya ke kantor sekarang"
"Tidak usah El, biar aku saja yang mengambilnya, kau sedang sakit"
"Tidak perlu, aku sekarang mau pergi ke dokter dan taksi pesananku juga sudah datang, aku akan mampir ke kantor mengantarnya sekarang, tunggu ya?"
Danist pun menutup teleponnya dan kembali masuk ke ruangannya menemui Ariel.
"Maaf pak, ternyata stempelnya terbawa oleh staff ku yang sedang sakit, tetapi dia akan mengantarnya kesini sekarang juga, mungkin akan tiba kurang dari 5 menit karena tempat tinggalnya tidak jauh dari sini" Danist menundukkan kepala nya memohon maklum kepada Ariel.
****
Elea masuk ke rumahnya dan bergegas mengambil stempel itu lalu kembali ke luar dan masuk ke dalam taksi. Sesampainya disana Elea meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar karena dia harus masuk. Elea hendak menitipkan stempel itu kepada staff yang lain agar diberikan ke Danist tetapi dia mengurungkan niatnya karena dia harus mengantarnya sendiri kesana. Elea berjalan menuju ke ruangan Danist lalu mengetuk pintunya.
"Masuk!" Sahut Danist dari dalam dan Elea langsung masuk ke ruangan itu.
"Permisi, ini stempel nya pak, maaf kemarin saya benar-benar lupa" Ucap Elea.
"Its okay El, thanks ya"
Mendengar suara perempuan itu, Ariel yang sedang duduk berhadapan dengan Danist langsung memutar kursinya dan terkejutlah Ariel melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang. Hal yang sama juga dirasakan Elea, mulutnya ternganga dan refleks langsung memundurkan langkahnya.