
Keesokan harinya, Roland datang ke rumah Aditya, membawa Danist, Elea dan Gienka. Tadi Aditya menyuruhnya untuk menjemput mereka. Melihat kedatangan mereka, Aditya dan Cahya berpamitan kepada kedua orangtuanya juga adiknya untuk kembali pulang.
Aditya memeluk Papanya. "Adit pulang dulu Pa, dan akan menyelesaikan semua pekerjaan disana, Papa baik-baik, dan segera hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi"
"Kau hati-hati dan jangan terlalu khawatirkan apa yang ada disini, Papa dan adikmu akan mengurus semuanya" Ucap Tuan Harry sambil mengusap punggung putranya.
Mama Aditya tidak berhenti menciumi kedua cucunya, dia akan berpisah lagi dengan mereka. Perasaannya sedih tetapi dia juga harus disini untuk mengurus kebutuhan suami dan anak bungsunya, mengingat sejak dulu suaminya memang selalu menyuruhnya ikut kemana pun dia pergi baik keluar kota maupun keluar negeri.
"Ca, jaga mereka ya dan selalu hubungi Mama" Mama Aditya mencium kening Cahya.
"Mama juga jaga kesehatan agar bisa mengurus Papa dan Adri dengan baik disini"
Mama Aditya juga mencium Gienka dan memeluk Elea. Setelah berpamitan, mereka pun akhirnya meninggalkan rumah dan pergi menuju airport.
*****
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 jam, akhirnya mereka tiba di bandara. Aditya dan Danist mendorong barang-barang mereka beriringan, sementara Cahya dan Elea berjalan di depan mendorong bayi mereka di stroller. Supir juga sudah menunggu mereka diluar, Aditya juga sudah menyuruh agar ada 2 supir yang menjemput mereka, mengingat mobil Danist dititipkan di rumah Aditya oleh Elea saat mereka akan berangkat ke Swiss kemarin.
"Dan, Marco akan mengantarmu dan Elea ke Bandung, dia yang membawa mobilmu kesini" Ucap Aditya.
"Tidak perlu pak, aku dan Elea akan menginap semalam di apartemen saja, Elea terlihat sangat lelah, kami akan kembali besok saja"
"Pilihan yang bagus, kalian memang harus beristirahat, baiklah kalau begitu biar Marco mengantar kalian ke apartemen saja kalau begitu, kau tidak boleh langsung mengendarai"
"Terima kasih pak Adit, saya selalu saja merepotkan anda"
"Kau terlalu banyak mengucapkan terima kasih, harusnya aku yang berterima kasih karena kau memimpin tim mu dengan baik" Aditya menepuk bahu Danist seraya tersenyum.
Mereka keluar dari bandara, dan kedua supir Aditya sudah menunggu mereka di luar. Setelah koper-koper di masukkan ke bagasi, mereka pun berpisah, Cahya memeluk Elea dan say goodbye kepada sahabatnya itu.
Dalam perjalanan pulang, seperti biasa Cahya tertidur diantara kedua bayinya yang duduk di car seat mereka, sementara Aditya duduk di sebelah supir. Aditya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang malah asyik tidur sedangkan kedua bayi itu terlihat tenang dengan mainan di tangannya.
Sampai di rumah, Aditya turun dari mobil dan membuka seat car Kyros lalu mengambil bayinya, sementara Cahya masih tertidur. Asisten rumah tangganya keluar dan Aditya memberikan Kyros padanya menyuruh membawanya ke kamar. Aditya juga memanggil securitynya agar membantu supirnya membawa koper-koper miliknya.
"Pak Udin, tolong bawa Kyra juga naik, nanti baru ambil kopernya lagi, Cahya lelah sekali sepertinya aku tidak mau membangunkannya" Pinta Aditya.
"Baik Tuan"
Aditya pun menggendong Cahya dan membawa istrinya yang sedang tidur itu naik ke kamarnya. Sampai disana Aditya membaringkan Cahya di tempat tidur sementara Kyros juga sudah dibaringkan disana oleh Art nya. "Mbak, buatkan aku jus, apapun itu, jika ada semangka itu lebih baik, tambahkan lemon dan daun mint" Ucap Aditya kepada Artnya.
Karena Cahya tidur, Aditya memutuskan untuk bermain dengan kedua anaknya walaupun dia merasa lelah tetapi tidak ingin mengganggu istrinya. Aditya mengambil beberapa bantal dari sofa dan menggeser meja lalu melingkarkan bantal-bantal itu agar melindungi Kyra dan Kyros saat mereka tidak sengaja terjungkal ke belakang.
Aditya mengangkat satu per satu anaknya dan menaruh mereka di lantai yang sudah di alasi karept berbulu, lalu meninggalkan mereka sebentar untuk mengambil mainan di kamar mereka. Setengah berlari Aditya kembali dengan beberapa mainan dan duduk di lantai bersama si kembar lalu mengajak mereka bermain.
Cukup lama bermain dengan kedua bayi kembar itu, Aditya mulai mengantuk. Aditya kemudian membaringkan Kyra dan Kyros, lalu karena tidak sanggup menahan kantuknya, Aditya pun tidur di lantai bersama kedua bayinya yang masih terjaga dengan mainannya. Tapi lama-kelamaan, Kyros dan Kyra juga akhirnya tertidur dengan sendirinya.
******
Di tempat lain, Ariel sedang menutup berkasnya dan menghela napasnya sambil bersandar di kursi kerjanya. Pekerjaan hari ini sangat melelahkan, dalam sehari dia harus meeting dengan klien yang berbeda. Perutnya juga terasa sangat lapar, jika dia langsung pulang tentu di rumah belum ada makanan yang tersaji sebelum waktu makan malam tiba. Masih belum jam pulang, tapi Ariel tidak peduli dan ingin segera makan.
"Sudah lama aku tidak kesana, lebih baim aku mengganjal perutku disana saja" Gumam Ariel lalu beranjak meninggalkan ruangannya.
Ariel memutuskan akan mampir untuk makan sebelum pulang, lalu akan beristirahat karena dia tidak ingin pergi kemanapun setelah sampai di rumah.
Setelah beristirahat, Elea bangun dari tidurnya dan hari sudah sore sedangkan Danist sedang sibuk bermain dengan Gienka, dia juga tampak sudah segar, lelaki itu pasti sudah mandi. Perut Elea berbunyi yang menandakan bahwa dia merasa lapar, karena setelah dari bandara dia belum mengkonsumsi apapun.
"Aku lapar sekali!" Tiba-tiba Elea bergumam membuat Danist menoleh ka arahnya dan tersenyum.
"Aku juga sama, tapi kau tidur begitu lelap hingga membuatku tidak tega membangunkanmu, cepat mandi dan kita pergi keluar untuk mencari makan, aku sudah memandikan Gienka tadi"
"Harusnya kau membangunkanku saja, ya sudah aku akan mandi dan bersiap" Elea bangun dari tempat tidurnya dan langsung melangkah ke kamar mandi.
Sementara Ariel sudah sampai di restoran dan memarkir mobilnya lalu turun dan masuk. Seorang prlayan menghampirinya dan menyapanya dengan ramah lalu memberinya buku menu. Ariel mulai memilih dan mulai memesan makanan yang dia inginkan. Yang menjadi faforitnya disini adalah kepiting saus asam manis, melihat ada ikan bakar, Ariel juga memesannya. Pelayan itu sudah mencatat semua pesanan Ariel dan menyuruhnya untuk menunggu.
Disisi lain akhirnya Elea keluar dari kamarnya dan sudah rapi. "Kita makan seafoods di depan ya, sudah lama tidak makan lobster dan kepitingnya" Gumam Elea.
"Terserah kau saja, ayo kita pergi, sebelum senja tiba" Danist berdiri dan menaruh Gienka di strollernya lalu meninggalkan apartemen bersama Elea.
"Kau ingin makan apa??" Tanya Elea pada Danist, sekarang mereka sedang berada di dalam lift.
" Maybe, kerang atau udang"
"Itu juga sangat lezat" Ucap Elea.
Pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar. Danist dan Elea memilih berjalan kaki saja karena restoran cukup dekat, tinggal menyebrang dan berjalan beberapa meter saja akan sampai. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di halaman restoran itu, dan saat hendak masuk, tiba-tiba Gienka menangis dengan sangat kencang, membuat Elea dan Danist terkejut. Danist langsung mengangkat Gienka dan menenangkannya. "Ssstttt sayang kenapa kau menangis??"
Elea mengambil botol susu di stroller dan memberikannya pada Gienka agar bayi itu mau menghentikan tangisannya.