
Setelah membereskan meja makan, Cahya membawa bayinya secara bergantian masuk ke kamarnya, menaruh mereka di lantai dan mengelilinginya dengan bantal serta memberi keduanya mainan. Aditya terlihat sedang sibuk di meja kerjanya, dan Cahya tidak ingin mengganggu suaminya itu. Cahya kebih memilih untuk mengajak kedua anaknya bermain.
Kyra dan Kyros sangat senang dan tawa mereka begitu menggemaskan. Cahya sudah tidak sabar untuk mendengar bayi itu berbicara dan memanggilnya Mama, pasti itu akan jadi moment yang luar biasa. Celoteh tidak jelas dan teriakan dari keduanya sudah menjadi musik indah yang didengarnya setiap hari, membuatnya semakin merasa bahagia dan kehidupannya bersama Aditya seolah semakin terasa begitu lengkap. Cahya tidak pernah menyangka kehidupannya akan bisa seperti saat ini, memiliki suami yang tampan dan begitu mencintainya, keluarga yang juga sangat menyayanginya, serta di anugrahi 2 bayi kembar tampan dan cantik juga sangat menggemaskan. Semua itu adalah impian dari semua perempuandi dunia dan bersyukurnya dia sudah mendapatkannya.
Cahya mengirim foto Kyra dan Kyros kepada Ibunya, Adiknya juga Mama mertuanya termasuk ke Yongki kakak sepupunya. Karena mereka semua memintanya, terkadang juga mereka meminta video walaupun mereka juga melakukan panggilan video setiap harinya. Bukan perkara mudah juga untuk Cahya mengurus sendirian kedua bayinya itu, tentu dia mengalami banyak kesulitan dan merasa lelah setiap harinya, tetapi melihat perkembangan dan mendengar suara tawa keduanya setiap hari cukup bisa mengobati letihnya.
Aditya benar-benar serius menatap laptonya dan sesekali mengehela napasnya tetapi kemudian Aditya menoleh dan tersenyum ke arah kedua bayinya yang sejak tadi berteriak seolah memanggilnya mengajaknya untuk bermain. "Iya sayang, sebentar ya? Papa seleseikan dulu pekerjaan Papa, nanti kita main" Gumam Aditya.
Beberapa saat kemudian, Aditya menutup laptopnya dan menghampiri si kembar yang ada di lantai bersama Cahya. Aditya langsung tengkurap di lantai dan menggoda Kyra dengan mengusapkan wajahnya di perut bayi itu dan terdengar suara gelak tawa Kyra karena kegelian.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai???" Tanya Cahya.
"Belum!!" Jawab Aditya lalu bangun, mengangkat Kyros dan duduk di lantai kemudian bersandar di sofa dengan Kyros di pangkuannya.
"Kalau belum, kenapa tidak diselesaikan lebih dulu? Apa karena kau terganggu dengan anak-anak? Jika iya aku bisa membawa mereka bermain di halaman belakang"
"Tidak sayang, anak-anak tidak menggangguku, aku hanya malas saja memeriksanya"
"Malas?? Kenapa?" Cahya menggerutkan dahinya.
"Ya, aku sama sekali tidak pernah tertarik bekerja sama dengan mereka, baru membaca beberapa halaman saja aku langsung bisa memutuskan untuk menolaknya, tetapi aku tidak bisa langsung melakukannya"
"Kenapa??? Kalau kau ingin menolaknya kau bisa menolaknya atau Papa pasti bisa melakukannya"
"Kalau dengan mereka itu pengecualian sayang, aku tidak bisa gegabah, mereka perusahaan yang licik, harus ada cara khusus untuk mengakalinya kalau tidak justru itu bisa membahayakan perusahaan kita, apalagi aku sekarang ada disini, aku tidak mau mengambil resiko, oh iya bisaka mau memberikan aku jus, biar aku yang menjaga anak-anak"
Cahya mengangguk dan langsung berdiri dan pergi ke dapur untuk membuatkan Aditya jus.
*****
Danist pulang lebih awal, dan menemukan Elea sedang berselonjor di lantai dan menyandarkan punggungnya di sisi tempat tidur, sedangkan Gienka sedang terlelap. Melihat Danist datang, Elea bergegas berdiri dan menyambut suaminya itu.
"Kau pulang lebih awal dari biasanya?"
"Aku sedang menunggu matahari terbenam, itu selalu terlihat indah"
"Benarkah??? Aku tidak menyadarinya selama ini, oke baiklah aku akan ikut denganmu menunggu sunset disana, ayo!" Danist kemudian menarik Elea dan mereka berdua duduk berselonjor di lantai dan bersandar di sisi tempat tidur.
Danist memeluk Elea, dan perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada Danist. Mereka kemudian termenung menatap ke arah matahari yang perlahan mulai tenggelam dalam keheningan. Menyaksikan cakrawala perlahan menelan bulatan yang bersinar orange kemerahan itu. Sampai akhirnya hanya tersisa seberkas cahaya jingga di batas cakrawala.
Suasananya begitu sakral dan intim hingga Elea takut merusaknya. Dia melirik ke arah Danist, dan melihat siluet lelaki itu. Danist memang tampan, dan lelaki itu adalah suaminya. Elea merasakan ada perasaan hangat membanjirinya. Keduanya hanya diam dan terus memandang ke arah matahari yang sudah tenggelam dan hari mulai menggelap.
"Elea" Suara Danist terdengar serak, dan dari jarak dekat, di bawah sorot lampu temaram, Elea bisa melihat mata Danist memancarkan gaiirah. "Aku menginginkanmu! Apa kau bersedia?"
Ah lelaki ini begitu sopan, begitu baik dan perhatian. Bahkan dalam gairahnya Danist masih sempat menanyakan kesiapan tubuhnya untuk berciinta. Elea sungguh tersenyum dan tidak mengatakan apapun, hanya memandang Danist penuh arti.
Danist membalas senyum Elea, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir istrinya itu dengan sangat lembut. Elea membalas kecupan itu membiarkan Danist merasakan kelembutan bibirnya. Kemudian Danist melepaskan ciumannya dan mereka berdua bertatapan. Senyum manis Danist tidak akan pernah Elea lupakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Elea sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
Kemudian jemari Elea bergerak ragu dan menyentuh pipi Danist, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Elea dan mengarahkannya ke bibirnya. Danist lalu mengecup telapak tangan Elea dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu lagi dalam sebuah ciuman lembut.
Danist mellumat bibir Elea, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Elea dan dengan gerakan ahli melepaskan sutra putih Elea di balik roknya, menurunkannya. Danist juga membungkukkan tubuhnya dan meraih kedua sisi gorden jendela kamarnya dan menutupnya. Lelaki itu lalu melepas ikat pinggangnya, kemudian membuka kancing celananya dan menurunkan ristletingnya, kejanttanannya sudah tegak, menunjukkan betapa bergaiirahnya dia kepada Elea.
"Maukan kau naik ke atasku?" Suara Danist bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Elea dibanjiri oleh dorongan sensuaal yang aneh. Dengan perlahan Elea naik ke pangkuan Danist. Lelaki itu membimbingnya dan menyatukan tubuh mereka perlahan. Ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, Danist menghela napas pendek-pendek, begitupun Elea.
Tangan Danist yang kuat merangkum pinggulnya dengan lembut dan menyuruh Elea untuk bergerak, "Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku" bisik Danist dengan suara parau.
Dan Elea bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Danist menggeram penuh gaiirah. Dia bergerak dengan sensuall, didorong oleh gaiirah alaminya sebagai seorang perempuan.
Mereka beciinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah duduk. Percintaan itu begitu intens karena mereka bisa menatap mata masing-masing. Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh Elea lelah, Danist menopangnya, meletakkan kepala Elea di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Kemudian diciumnya bibir Danist lembut. Tubuhnya bergerak dan menggoda lelaki itu untuk mengikutinya terjun ke jurang kenikmatan yang dalam. Elea menekan tubuhnya masuk semakin dalam lalu menariknya, menggoda Danist dengan melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian menekan lagi makin dalam. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Elea melambung tinggi ketika mencapai orrgasmenya yang luar biasa, Elea mempererat pelukannya pada Danist. Lalu Danist bergantian mempercepat gerakannya untuk menyusul orrgasme Elea dan dengan suara erangan yang tertahan, Danist menyemburkan cairam hangat di dalam tubuh Elea. Dengan napas tersenggal, Danist kemudian mendongakkan kepala menatap langit-langit rumah.
Perciintaan yang sungguh luar biasa dan begitu iintim, rasanya sudah tidak bisa digambarkan lagi. Elea kemudian mengangkat dirinya dari Danist dengan perlahan lalu keduanya berdiri dan pergi ke kamar mandi bersama.
*******
2 minggu kemudian......
Ariel akhirnya memutuskan untuk kembali dan pulang ke rumahnya. Ya dia merasa ini sudah cukup, dirinya juga mulai merasa tenang dan sudah siap untuk memulai aktifitasnya lagi. Sudah bersiap memperbaiki kehidupannya tentunya juga akan memperbaiki hubungannya dengan sang Ayah. Dan menghentikan semua perseteruan yang sudah bertahun-tahun terjadi. Tetapi Ariel memutuskan untuk berzarak ke makam sang Mama sebelum kembali pulang.
Ariel melangkah membawa buket bunga mawar besar dengan aneka warna juga membawa bunga mawar tabur. Dengan kangkah pelan, Ariel menyusuri area pemakaman menuju pusara sang Mama. Lalu duduk berjongkok meletakkan buket bunga itu dan memejamkan matanya seraya merapalkan doa untuk ketenangan Mamanya disana, setelahnya dia menaburkan bunga.
"Iel sudah kembali Ma, terima kasih Mama sudah datang dan menyadarkan Iel, mulai sekarang Iel akan menjadi manusia yang lebih baik lagi, agar Mama bisa bangga terhadapku, Iel juga akan menerima perintah Ayah untuk mengurus semua perusahaannya, Iel akan menjalankan semua bisnis keluarga kita dengan baik, Iel janji" Ucap Ariel seraya mengusap nisan Mamanya, lalu mulai beranjak untuk pulang.
Dan sampailah dia di rumahnya, rumah yang sudah berbulan-bulan dia tinggalkan. Ariel turun dari taksi dan dengan dibantu supir taksi itu, dia menurunkan kopernya. Perlahan Ariel memasuki halaman rumahnya dan kemudian saat sampai di dekat pintu, dia menekan bel nya.