
Cahya sampai di rumah saat hari sudah mulai terang dan matahari mulai menampakkan sinarnya. Cahya langsung membawa masuk ibunya ke kamarnya agar memudahkannya untuk mengurus kedua anaknya juga. Ibunya masih terus menangis, Cahya membaringkannya ke tempat tidur.
Asisten rumah tangganya juga keluar dari kamar Kyra dan Kyros. "Ibu kenapa non?" Tanyanya khawatir.,
"Ibu masih shock mbak, tempat usahanya terbakar jadi aku membawanya pulang agar lebih tenang, anak-anak masih tidur kan??? Tolong buatkan bubur untuk ibu ya biar aku yang menjaga mereka"
"Astagfirullah!!! Baik non, saya akan membuatnya"
Cahya terus berusaha menenangkan ibunya yang masih terisak. Cahya sendiri masih tidak percaya dengan apa yang tadi dilihatnya, kenangan buruk itu seolah kembali menyeruak, membuatnya sesak jika mengingatnya. Dulu ibunya hampir kehilangan nyawa saat tinggal sendirian di rumah dan sekarang tempat itu terbakar lagi saat ibunya baru saja memulai usaha nya. Entah apa yang sebenarnya terjadi kenapa bisa ada kebakaran lagi.
Isakan Ibunya sudah mulai terhenti, Cahya dengan lembut mengusap-usap kepala Ibunya. Hingga beberapa menit kemudian, Ibunya akhirnya tertidur. Cahya berdiri dan menata selimut untuk ibunya lalu meninggalkannya ke kamar anak-anaknya. Cahya masih menunggu kabar dari Aditya dan perkembangan yang ada disana.
*****
Aditya masih ditemani oleh Ariel dan Randy mengurus semuanya. Tetapi hari ini tepatnya nanti jam 10 dia ada meeting penting dengan klien di kantor. Keadaan seperti ini membuatnya bingung, pekerjaannya juga tidak bisa ia tinggalkan sementara Aditya juga merasa khawatir dengan kondisi ibu mertuanya. Istrinya juga sekarang pasti kesulitan karena harus mengurus Ibunya juga kedua bayinya.
Aditya memasukkan jemarinya ke saku celananya hendak mengambil ponselnya tetapi dia tidak menemukannya lalu mendesah karena teringat jika semalam dia mencharge ponselnya di ruang kerjanya.
"Shiiit......!" Gumamnya kesal.
Randy dan Ariel yang ada di sebelah Aditya pun langsung menoleh ke arah sahabatnya itu. "Kenapa Dit???" Tanya Ariel.
"Aku ingin menghubungi Chika agar bisa pulang dan menemani Cahya di rumah tetapi ponselku tertinggal di rumah" Gumam Aditya.
Ariel tersenyum lalu memberikan ponselnya, karena dia memiliki nomor ponsel Chika, Ariel menawarkan agar Aditya memakai ponselnya saja.
Aditya menghubungi Chika tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari adik iparnya itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Elea saja agar nanti bisa menyampaikannya pada Chika. Aditya mencoba mencari nama Elea disana, saat akan menekan layar untuk memanggil Elea, Aditya berhenti dan menatap Ariel lalu meminta ijin apakah boleh dia menghubungi Elea dengan ponselnya karena Chika sepertinya sedang sibuk hingga tidak mengangkat ponselnya. Ariel menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui Aditya.
Danist sedang duduk menggendong Gienka, sementara Elea berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Terdengar suara dari ponsel Elea, Danist mengambilnya dari meja lalu ada nama Ariel disana. Danist mengangkat alisnya, ini masih sangat pagi kenapa pria ini menghubungi Elea. Ada perasaan enggan untuk menjawabnya tetapi Danist mencoba berpikir positif mungkin Ariel ingin menyapa Gienka.
"Ya... Ada apa menelepon sepagi ini???" Tanya Danist dengan suara ketus.
Aditya hanya melempar senyum tipis saat mendengar suara Danist yang sedikit ketus. Mungkin lelaki itu mengira dirinya adalah Ariel. "Pagi Dan....!!! Ini aku Aditya, sorry aku meminjam ponsel Ariel karena ponselku tertinggal di rumah"
Danist langsung memejamkan matanya, mengutuk dirinya sendiri, bukan Ariel yang menghubungi Elea akan tetapi Aditya. "Ah pak Aditya, maafkan saya pak"
"Oh Chika! Dia ada di rumah pak, tetapi mungkin sedang berada di kamar mandi, apa ada yang bisa saya bantu??"
"Tolong katakan pada Chika agar sekarang bisa segera pulang ke Jakarta, aku ingin dia menemani Cahya karena ada beberapa urusan yang harus ku tangani, tolong sampaikan ya?"
"Baik pak akan saya sampaikan kepada Chika" Jawab Danist kemudian.
Aditya kemudian menutup panggilannya. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada adik iparnya karena pasti akan panik, lebih baik dia menyampaikan alasan lain sampai nanti Chika sudah berada disini.
*****
Cahya menyuapi kedua bayinya di ruang keluarga ditemani oleh asisten rumah tangganya karena tidak ingin mengganggu ibunya yang sedang beristirahat di kamarnya. Sementara jam juga sudah menunjukkan hampir pukul 9 pagi tetapi Aditya masih belum menghubunginya sejak tadi. Padahal sudah banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada suaminya itu tentang perkembangan kejadian ini.
Saat Cahya sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Aditya sudah datang dan berdiri di belakang Cahya. "Sayang, bagaimana keadaan ibu???" Tanya Aditya yang membuat Cahya terlonjak tetapi kemudian Cahya berdiri.
"Ibu sedang tidur dikamar kita, bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi, ayo ceritakan!"
Aditya memegang bahu Cahya. "Semua masih dalam penyeledikan kita harus sabar menunggu hasilnya, aku harus menghadiri rapat penting jam 10 ini dan tidak bisa dibatalkan, siapkan pakaianku, aku akan memakai kamar mandi di kamar Adri agar tidak mengganggu ibu, aku sudah meminta Ariel dan Randy untuk mengurus disana, aku akan segera kembali setelah rapat selesai"
"Baiklah aku akan siapkan pakaianmu, kau harus bergegas jika tidak kau akan terlambat, sudah jam segini"
Cahya kemudian menitipkan kedua bayinya kepada asisten rumah tangganya sebentar karena dia harus menyiapkan pakaian serta sarapan untuk Aditya. Suaminya itu pasti sangat lelah saat ini, semua terlihat jelas di wajah Aditya yang sedikit pucat tetapi tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Setelah meletakkan pakaian Aditya di kamar Adri, Cahya langsung keluar dan turun untuk ke dapur. Cahya mengambil mengambil beef slice dari kulkas, sebuah tomat juga selada air serta telur dan keju, dia akan membuat sandwich untuk Aditya sarapan. Setidaknya ada yang bisa mengganjal perut suaminya itu, karena disaat seperti ini Cahya harus memastikan suaminya dalam keadaan baik-baik saja dan jangan sampai jatuh sakit.
Setelah siap, Cahya memotong sandwich buatannya menjadi 2 bagian dan memasukkannya kedalam sebuah kotak makan. Aditya turun dari tangga dan berjalan masuk ke ruang kerjanya lalu beberapa saat kemudian dia kembali keluar. Cahya menghampirinya dan memberikan kotak makan yang berisi sarapan buatannya untuk Aditya.
"Sayang, bawa ini dan makanlah dalam perjalanan, aku membuatkan sandwich untukmu"
"Aku akan makan di kantor saja, kau jaga ibu, jika ada apa-apa langsung hubungi aku dan Chika juga sudah dalam perjalanan kesini, aku berangkat ya???" Ucao Aditya lalu mencium kening Cahya.
"Bawa ini dan jangan menolak, jangan sampai kau sakit karena tidak sarapan, kau bisa memakanmya dalam perjalanan, Marco ada disini dia yang akan mengantarmu ke kantor, berhati-hatilah, aku akan menjaga ibu dan anak-anak" Ujar Cahya yang kemudian memberikan kotak makanan itu pada Aditya lalu mencium tangan suaminya itu.
Sementara disisi lain, Ariel sedang sibuk berbincang dengan Randy membahas kejadian kebakaran ini. Entah kenapa Ariel mencium seperti ada kejanggalan dalam kejadian ini. Karena dia dulu yang diminta Aditya untuk mencari kontraktor yang sangat berpengalaman dalam membangun rumah dan tentu saja tempat ini di bangun dengan sangat baik begitu juga penataan instalasi listriknya, sangat tidak mungkin jika terjadi konsleting hingga menyebabkan kebakaran sehebat ini. Tetapi jika permasalahan tabung gas yang bocor lalu terjadi percikan api dari konsleting listrik juga tidak mungkin, mengingat semua lampu dimatikan dan hanya lampu bagian depan yang menyala.