
"Wanita ini......!!! Kenapa kau ada disini...!!??? Apa yang kau lakukan???" Teriak Ariel saat melihat Mama Maysa.
"Ariel...??? Kau ada disini???" Mama Maysa berdiri dan bertanya karena sudah lama dia tidak melihat Ariel.
"Bukan urusanmu jika aku ada disini, ini restoran milikku, lebih baik pergilah dari tempat ini sebelum aku membunuhmu, dasar wanita jal*ng....! Pergilah...!!" Kemarahan Ariel langsung memuncak.
Sedangkan Cahya dan Aditya bingung, apa yang sebenarnya terjadi antara Ariel dan wanita itu. Kenapa Ariel marah sekali bahkan kemarahannya ini tidak pernah mereka lihat sebelumnya, lebih dari kemarahan Ariel pada Ayahnya. Para pegawai restoran itu juga menghentikan aktifitas mereka dan memusatkan perhatian mereka ke meja dimana Ariel saat ini sedang berteriak.
Aditya menyentuh pundak Ariel. "Iel, kenapa kau marah dan berteriak kepadanya?? Dia Ibunya Maysa, bagaimana bisa sikapmu seperti ini di depannya?" Bisik Aditya pada Ariel.
"Tidak mungkin dia Ibunya Maysa Dit....! Dia ini adalah wanita jal*ng yang sudah membuat keluargaku hancur dan karena dia juga Mamaku meninggal, dialah wanita pelac*r itu...!!" Geram Ariel.
Detik itu juga Aditya menyadari bahwa ternyata wanita ini yang selama ini dibenci oleh Ariel. Tetapi jika benar dia adalah Ibu dari Maysa maka entah apa yang akan terjadi dengan dengan hubungan mereka nanti. "Astaga...!!" Gumam Aditya seraya memegang kepalanya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, kemana kau pergi selama ini??? Padahal aku ingin sekali menghancurkanmu, karenamu lah aku kehilangan Mamaku dan keluargaku hancur, dasar jal*ng, perusak rumah tangga orang, hanya demi kekayaan dan harta ayahku kau merusak kebahagiaan keluarga kami...!" Dengan kesal Ariel memgambil botol champagne yang ada di atas meja dan menuang sisa isinya yang ada di dalam botol itu ke kepala Mama Maysa kemudian melempar botol itu ke lantai hingga hancur. Ariel juga mendorong Mama Maysa hingga hampir terjatuh.
"Ariel.....!!!! Apa yang kau lakukan pada Mamaku...!???"
Semua menoleh ke sumber suara itu dimana Maysa berjalan ke arah mereka dengan terburu-buru kemudian Maysa merangkul Mamanya yang bajunya basah terkena cairan champagne yang dituang Ariel. "Mama tidak apa-apa???" Gumam Maysa dan Mamanya menggelengkan kepalanya.
Maysa kini mengalihkan pandangannya ke Ariel yang ada di depannya. Pandangannya penuh dengan kekecewaan, dia tidak menyangka Ariel begitu kasarnya memperlakukan Mamanya. Entah apa kesalahan yang dilakukan Mamanya sehingga Ariel bersikap seperti itu. Tadi saat di toilet dia sayup-sayup mendengar keributan dan tidak tahu keributan apa itu yang membuatnya akhirnya bergegas keluar, dan saat keluar dia dikejutkan dengan perlakuan Ariel yang menuang seluruh isi botol itu diatas kepala sang Mama.
"Jadi dia Mamamu..????" Tanya Ariel pada Maysa untuk memastikan tetapi sebenarnya dia tidak perlu memastikannya karena tadi sudah jelas bahwa Maysa mengatakan bahwa wanita itu adalah Mamanya.
Ariel tertawa. "Pantas saja sikap kalian sama-sama wanita murahan, hei wanita jal*ng kau mendidik putrimu dengan sangat bagus, dia sama sepertimu selalu memberikan tubuhnya kepada laki-laki manapun yang dia sukai bedanya dia tidak memungut biaya apapun, bahkan aku tidak pernah memintanya tetapi dia selalu datang padaku dan memberikannya secara gratis, sedangkan kau dulu memang sengaja menjual tubuhmu untuk mendapatkan uang" Ucap Ariel dengan nada mencela.
"Kenapa kau jahat sekali mengatakan semua itu disini??? Memang apa kesalahan yang sudah dilakukan Mamaku sehingga kau memperlakukan kami dengan buruk seperti ini???" Ucap Maysa sambil terisak.
"Kau mempertanyakan apa kesalahan wanita ini???" Ariel menunjuk ke arah Mama Maysa. "Tanyakan saja padanya sendiri, apa yang sudah dilakukannya pada keluargaku, dan bagaimana bejatnya dia selama ini, sekarang pergilah kalian berdua dari tempatku, sebelum aku menyeret sendiri kalian untuk keluar dari sini, dan ya ku rasa kita akhiri saja hubungan kita, aku tidak ingin menjalin hubungan dengan perempuan yang Mamanya adalah seorang pelac*ur, jika aku tahu dari awal aku pasti tidak akan pernah menyukaimu, pergilah.....!!!" Teriakan Ariel begitu memekikkan telinga, kemudian dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan Maysa juga Mamanya.
Cahya dan Aditya juga tidak kalah terkejutnya. Cahya menyayangkan Ariel mengatakan hal seperti itu pada Maysa, bagaimanapun Maysa adalah seorang perempuan yang harusnya herga dirinya dilindungi tetapi Ariel justru merendahkannya di depan banyak orang. Apapun yang sudah dilakukan Ibu Maysa dulunya tentu itu bukanlah salah dari Maysa.
"Bersihkan tempat itu, dan suruh mereka berdua pergi...!" Teriak Ariel pada seluruh pelayan, dan bergegas mereka mengambil perakatan untuk membersihkan pecahan botol serta cairan yang ada di lantai.
Aditya setengah berlari menyusul Ariel yang berjalan menuju belakang dimana disana ada area outdoor dari restorannya. Cahya melangkah pelan mendekati Maysa dan Mamanya yang terlihat sangat sedih. Sebagai sesama perempuan, Cahya sangat tahu pasti saat ini Maysa merasa sangat sedih sekali atas penghinaan Ariel bahkan hubungan mereka di akhiri begitu saja.
Maysa masih merangkul bahu Mamanya sambil terisak, sedangkan Mama Maysa merasa sangat bersalah tentang apa yang terjadi saat ini. Kesalahannya dulu ternyata sudah menghancurka n kehidupan putrinya. Dia benar-benar tidak mengira hal seperti ini akan terjadi, andai dia tahu dari awal bahwa Maysa menjalin hubungan dengan Ariel tentu dia akan melarangnya atau akan melakukan sesuatu agar hal seperti ini tidak terjadi. Tetapi penyesalan tidak ada artinya saat ini. Inilah yang sebenarnya dia tidak pernah mau untuk kembali ke Jakarta setelah apa yang terjadi dulu, dia lebih memilih kembali ke tempat asalnya dan menjalani kehidupan yang baru lagi. Dan saat ini Maysa pasti akan marah kepadanya, mengingat dia sering mengingatkan Maysa agar jangan sampai putrinya itu menghancurkan hubungan seseorang yang sudah memiliki pasangan, karena dia tidak ingin Maysa menjadi perempuan yang akan di cap buruk oleh orang lain seperti dirinya dulu.
Cahya menyentuh pundak Maysa dengan lembut. "May, aku mengerti kau pasti sedih dan hancur sekali sekarang, tenangkan dirimu dan bawalah Mamamu pulang, aku tidak ingin nanti Ariel lebih mempermalukan dirimu lagi yang justru akan membuat dirimu lebih hancur, aku tahu bagaimana sifat Ariel, lebih baik kalian tinggalkan tempat ini untuk kebaikan kalian" Ucap Cahya dengan lembut sambil menyeka airmata Maysa yang menetes di kedua pipinya.
Maysa mencoba tersenyum pada Cahya walaupun dia saat ini merasa sangat malu sekali. "Iya bu Cahya, maafkan kami, kami permisi dulu" Gumam Maysa diiringi suara isakan.
Dengan sopan Maysa membungkukkan badannya didepan Cahya lalu mengajak Mamanya untuk meninggalkan tempat itu. Saat akan keluar, Maysa dan Mamanya berpapasan dengan Randy dan Chitra yang baru datang dan tengah memasuki restoran itu. Maysa tetap sopan menyapa Randy. Sementara Randy dan Chitra dibuat bingung dengan apa yang dilihatnya dari Maysa yang keluar dengan wajah sedih, serta wanita yang berada di samping Maysa baju dan rambutnya basah.
Chitra dan Randy mendekati Cahya yang masih berdiri disana melihat ke arah mereka.
"Kenapa dia keluar dalam keadaan seperti itu Ca???" Tanya Randy bingung ditambah kondisi lantai juga berantakan. "Ariel mana??? Apa yang terjadi disini???" Tanya Randy lagi.
Cahya kemudian mengajak mereka berdua ke belakang restoran untuk melihat keadaan Ariel.