
Aditya dan Cahya masih menikmati makan siang mereka bersam Yongki dan keluarga nya.
Aditya meminta Yongki dan kedua orangtua nya untuk menginap dirumahnya selama beberapa hari, mengingat Yongki saat ini sedang memiliki waktu libur. Aditya juga berniat mengajak Yongki untuk menemui Chika yang saat ini sedang berada di luar kota untuk bekerja dikantor perkebunan milik Sang Mama. Cahya merasa sangat setuju dengan usulan Aditya, selain itu juga memang Aditya sudah berencana untuk berkunjung kesana mengecek keadaan di perkebunan dan juga pabrik.
"Tak ku sangka adik kecilku itu sudah mulai bekerja"
"Dia bekerja sangat baik disana" Ucap Aditya.
"Aku sangat senang Dit, kau sangat memperhatikan dengan baik kedua adikku"
"Kau selalu saja berkata seperti itu, terlalu memuji"
*****
Kyra mulai menangis karena lapar, Cahya pun mengajak Aditya naik ke kamar untuk menidurkan kedua bayi mereka. Cahya duduk di sofa menyusui Kyros sedangkan Aditya sedang mengajak Kyra bermain boneka. Sambil menggoyangkan boneka sapi ke arah Kyra yang terbaring, Aditya melirik ke arah Cahya sambil tersenyum.
"Sayang...!!!" Panggilan Aditya itu membuat Cahya langsung melihat ke arah sang suami.
"Ya?"
"Maaf" Ucap Aditya.
"Maaf??? Untuk apa?"
"Aku..... Olivia sesekali menghubungiku, aku minta maaf merahasiakan ini darimu, aku takut kau memarahiku tapi aku berani bersumpah aku hanya sekedar menanyakan kabar dan mendengar curhatnya lalu memberinya nasehat itu saja tidak ada yang lain"
Cahya tersenyum mengarahkan pandangannya ke Aditya. "Kenapa minta maaf? Kau menganggapnya sebagai seorang adik bersikaplah layaknya seorang kakak, yang terpenting kau harus ingat batasanmu, bagaimana kabarnya? Kenapa dia tidak datang kesini, apa dia tidak ingin melihat Kyros dan Kyra?"
"Dia masih sibuk dengan pekerjaannya jadi belum memiliki waktu untuk datang, tapi dia pasti akan datang, hubungannya dengan Yongki ternyata memburuk"
"Memang bukan perkara yang mudah mengingat kakak sering bertugas didaerah terpencil, perempuan manapun pasti ingin dimanjakan dan diberi perhatian yang lebih"
"Aku dulu sudah memperingatkan Olu untuk memikirkan dengan baik jika ingin menjalin hubungan dengan pria seperti Yongki, mengingat dia sering bersikap manja dan ingin selalu diperhatikan, maka inilah yang terjadi sekarang"
Cahya menanggapi ucapan Aditya sambil tersenyum. "Kurasa bukan hanya Olivia saja, semua perempuan juga seperti itu, termasuk aku tapi untungnya suamiku sangat perhatian jadi tanpa perlu merengek minta dimanjakan, kau selalu bisa melelehkanku hahaha, kau jangan besar kepala"
Cahya berdiri lalu membaringkan Kyros di box bayinya dan kini meminta Aditya untuk membawa Kyra agar segera menyusul kakaknya tidur. Hingga akhirnya Kyra tertidur juga, Cahya lalu merapikan kamar Kyra dan Kyros, juga melipat pakaian kedua bayi nya itu yang baru saja dicuci.
"Kemarilah, tentu saja aku melakukannya, setiap hari aku ingin cepat pulang hanya untuk bertemu denganmu" Ucap Aditya lalu mengulurkan tangannya. "Aku ingin memelukmu, selagi anak-anak sudah tertidur"
Cahya tersenyum dan menerima uluran tangan Aditya, membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Aditya memeluknya dengan erat kemudian mengangkat dagu Cahya dan mengecupnya lembut. Jemari Aditya menelusuri wajah Cahya yang cantik.
Cahya meraih jemari Aditya dan mengecupnya lembut sambil tersenyum, "Dan kau adalah suamiku yang paling tampan dan paling sexy hingga aku tidak bisa mengarahkan pandanganku ke lelaki lain"
Aditya tersenyum menatap Cahya dalam-dalam lalu mengecup pucuk hidung Cahya. "Ayo mandi bersamaku" Bisiknya ditelinga Cahya.
"Mandi? Ini masih siang, badanku juga masih wangi, kau saja, aku akan menyiapkan pakaian untukmu"
Cahya membalikkan badannya dan hendak pergi tetapi Aditya menariknya membuat perempuan itu sedikit menjerit. Tatapan Aditya kepada Cahya sangatlah sensual, melumerkan Cahya sampai meleleh. Lalu sekali lagi dikecupnya pucuk hidung Cahya dan dihelanya masuk ke kamar mandi.
*****
Lelaki itu menatap bathtub dengan air yang terlihat menggoda. "Mandi bersamaku akan lebih bersih, aku akan membantu menggosok punggungmu, dan membersihkan tempat manapun yang susah kau jangkau" Dengan menggoda Aditya melepaskan kemejanya, membuangnya ke lantai kamar mandi, celananya menyusul kemudian. Membuatnya telanjang bulat dengan tubuh kokoh dan otot yang keras di tempat-tempat yang pas dan indah.
Cahya menelan ludahnya, terpesona oleh sihir sensual yang dipancarkan Aditya.
"Ikut?" Ucap Aditya lalu mengulurkan tangannya lagi dan Cahya menerimanya dengan senyuman manisnya membiarkan Aditya menelanjanginya dan mengajaknya masuk ke bathtub.
Lelaki itu bersandar di kepala bathtub dan menarik Cahya ke pangkuannya. Cahya bersandar dengan nyaman di dada Aditya yang bidang. Seluruh punggung dan bagian belakang tubuhnya menempel dengan seluruh bagian depan tubuh Aditya. mereka berendam dengan nyaman, aroma minyak aromaterapi mawar mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan air yang merendam tubuh mereka.
Jemari Aditya bergerak nakal dan mengusap punggung Cahya. Punggung Cahya itu licin terkena minyak mawar yang bercampur air. Aditya nenggerakkan jemarinya dipunggung Cahya dengan lembut membuat Cahya mengerang dan menggerakkan pinggulnya. Merasakan kerasnya kejanttanan Aditya yang menekan-nekannya dari belakang.
"Bisakah kau mengangkat sedikit pinggulmu?" Pinta Aditya lalu membantu Cahya bergerak, dan dengan mudah memasukkan kejanttanannya yang sudah begitu keras, menyatukan dirinya dengan Cahya. Mereka mengerang bersama-sama, menikmati penyatuan yang begitu erotiis itu. Lalu Aditya mulai menggerakkan pinggulnya pelan, menggoda Cahya, membuat istrinya menggeliat penuh gairah, jemarinya menyentuh titik sensitif di antara kedua paha Cahya serta memainkannya sambil terus bergerak dengan ritme yang teratur, menciptakan riak pelan di air mandi mereka.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Aditya dengan suara parau, lelaki itu menunduk dan ******* telinga Cahya dengan sensual, bibirnya lalu menjelajahi leher serta pundak Cahya dari belakang, menjilatnya dengan erotis, sementara di bawah sana, pinggulnya terus bergerak dengan teratur bersama dengan pinggul Cahya, membawa mereka berdua bersama-sama mendekati puncak kenikmatan.
"Ya ... aku men... cintaimu" Jawab Cahya tersenggal.
Aditya semakin mempercepat gerakannya dan semakin bergairah dan air di sekitar mereka beriak, mengikuti gerakan mereka.
"I will cum" Aditya mengangkat pinggulnya, menekankan dirinya dengan begitu kuat, menyatu jauh di kedalaman pusat diri Cahya, dan menyemburkan ledakan kenikmatannya di dalam sana. Membawa Cahya mencapai orrgasme bersamanya.
Mereka lalu terengah bersama dalam diam yang syahdu. Cahya lalu menyandarkan kepalanya di dada Aditya, menikmati debar jantung suaminya itu yang berpacu cepat setelah orrgasmenya dan gerakan naik turun dadanya yang tersengal. Setelah tubuh mereka tenang, dengan lembut Aditya mengajak Cahya berdiri melangkah keluar dari bathtub dan mengarahkannya ke shower.
"Ayo, aku akan menggosok punggungmu." Aditya menyalakan shower air panas yang langsung menyiram mereka dari atas.
Dan mereka menghabiskan waktu dengan bercinta sekali lagi di bawah guyuran shower.
******