SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 382



Aditya, Cahya, Randy dan Adri berpamitan kepada Elea. Adri datang karena diminta Aditya mendonorkan darahnya untuk Danist, dan dia sudah melakukannya tadi. Karena hari sudah hampir tengah malam, juga Danist masih belum boleh dikunjungi, mereka memilih untuk pulang dan besok akan datang lagi.


Setelah kepergian Aditya dan yang lainnya, Elea masih duduk diam, pandangannya kosong, kesedihannya masih tidak bisa dia gambarkan lagi. Hatinya masih sangat gelisah, dia masih tidak tahu bagaimana keadaan Danist di dalam, dokter masih belum mengijinkannya untuk masuk. Elea berharap keajaiban bisa segera datang dan Danist bisa membuka matanya serta kembali seperti sedia kala. Keadaan ini begitu buruk, membuat dadanya sesak setiap memikirkan semuabhal vuruk yang bisa terjadi kapan-kapan.


"Mama mengirim pesan, jika Gienka sudah bertemu dengan psikolog yang kau kirim, dan saat ini Gienka sudah dibawa pulang oleh Ariel, sementara Friddie masih ada dirumah" Ucap Cahya pada Aditya yang saat ini sedang mengendarai mobil untuk pulang.


"Syukurlah....! Mungkin besok aku akan menghubungi Brianna lagi untuk mendapatkan informasi tentang Gienka, kalau begitu kita pulang ke apartemen saja, anak-anak juga pasti sudah tidur, besok baru kita kesana lagi"


"Ya, pagi-pagi kita kesana"


Cahya masih memikirkan keadaan Elea, ini kedua kalinya dia melihat kesedihan, kemarahan bercampur kekecewaan dari diri Elea. Ya penyebabnya adalah orang yang sama yaitu Ariel. Elea sudah pernah seperti ini saat dulu sahabatnya itu datang menemuinya dan Aditya ketika di Villa dan menceritakan semua permasalahannya dengan Ariel serta kesedihannya saat bercerai dengan lelaki itu. Kali ini kesedihan yang sama dirasakan oleh Elea lagi, karena Ariel masih belum juga mengakui kesalahannya pada Danist dan justru membawa Danist pada kecelakaan tetapi hal itu juga masih belum merubah sikap acih Ariel, membuat Elea semakin kecewa.


★★★★★★


Maysa menyiapkan sarapan untuk Ariel dan Gienka. Semalam dia tidur bersama Gienka, tetapi dia tidak tahu apakah Ariel beristirahat dengan benar atau tidak karena tadi dia melihat lingkar mata lelaki itu menghitam menandakan bahwa Ariel tidak beristirahat dengan baik. Dan saat ini Ariel sedang mengajak Gienka di halaman depan dengan mengisi kolam renang mainan karena Gienka menolak mandi di kamar mandi, anak itu masih menginkan ada ruang luas disekitarnya, sehingga membuat Ariel tidak memiliki pilihan lain selain membawanya mandi di halaman depan. Meskipun begitu ketakutan Gienka lebih baik dibanding kemarin yang benar-benar tidak mau berhenti menangis.


Maysa sudah selesai membuat omelete juga sudah membuat susu serta menyiapkan semangkuk sereal cokelat untuk Gienka, dia kemudian meletakkannya di nampan dan membawanya turun ke halaman depan, agar mereka bisa sarapan disana juga. Maysa turun perlahan membawa nampan, dan ketika sampai dibawah dia memanggil Ariel agar sarapan lebih dulu sementara dia akan memakaikan pakaian untuk Gienka yang tadi juga sudah dia siapkan. Ariel mengangkat Gienka dan Maysa sudah berdiri dibelakangnya dengan membawa handuk. "Gienka sayang, tante akan memakaikan pakaian untukmu lalu kita sarapan ya???" Ucap Maysa lalu duduk berjongkok dan mengelap seluruh tubuh Gienka dengan handuk yang dipegangnya.


"Apa setelah aku salapan, tante cantik dan Papa Yel akan membawaku beltemu papa Dan???"


Maysa tersenyum. "Kita akan bertemu Papa Dan nanti, tetapi Gienka tidak boleh nakal dan harus menurut, sarapan dan susunya harus dihabiskan?? Oke???"


Gienka mengangguk, lalu dengan cepat Maysa mulai mengurusnya hingga akhirnya Gienka sudah cantik setelah mandi dan berganti pakaian. Maysa kemudian mengajaknya untuk duduk dan saraoan bersama dengan Ariel. Dahi Maysa berkerut meligat Ariel belum menyentuh makanan serta kopinya.


"Setidaknya jika kau ingin membuat putrimu senang maka berikanlah contoh yang baik untuknya, habiskan sarapan dan kopimu itu"


Ucapan Maysa itu membuat Ariel tersadar dari lamunannya dan mulai mengambil cangkir berisi kopi lalu menyesapnya. Sementara Maysa menuang susu ke dalam mangkuk berisi sereal dan menyuapi Gienka. Maysa masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi tetapi Ariel belum mengatakan sesuatu kepadanya.


Ditengah suasana sarapan itu, sebuah mobil berwarna merah memasuki halaman rumah Ariel. Itu adalah mobil Brianna yang semalam mereka lihat. Dengan cantiknya Brianna keluar dari mobil, dan menyapa Gienka, Ariel dan Maysa.


"Wah sepertinya aku mengganggu sarapan kalian ya??"


"Tidak Ann, bergabunglah bersama kami!" Jawab Ariel.


"Aku sudah sarapan tadi, lanjutkan saja! Aku datang sepagi ini hanya ingin memastikan keadaan anak cantik ini" Brianna duduk disamping Gienka, dan mengusap kepalanya.


Setelah selesai sarapan, Maysa membersihkan meja dari piring dan gelas-gelas lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Saat menaiki tangga, Maysa sempat menoleh ke belakang dan melihat Ariel tersenyum saat berbincang dengan Brianna. Dia kemudian tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.


"Hmmm sepertinya ada yang istimewa antara kau dengan Maysa, ku rasa dia bukan hanya sekedar teman biasa! Iya kan???"


Ariel terkekeh dan menjawab kecurigaan Brianna dengan ucapan singkat. "We just Friend"


"Just friend or Girlfriend??? Hahahaha"


"Kau ini, dasar..! Aku akan masuk, kau bisa berduaan dengan Gienka"


Brianna mengangguk lalu memberikan sesuatu untuk pasien kecilnya itu. Dia akan memulai lagi tugasnya untuk membuat mental Gienka kembali seperti sedia kala lagi.


★★★★★★


"Jika kau bersedia membagi kesedihanmu, aku siap menjadi pendengarnya!" Ujar Maysa yang kemudian membuat Ariel dengan cepat menyeka airmatanya.


Maysa duduk disebelah Ariel dan menyentuh pundak lelaki itu. "Sebenarnya apa yang terjadi kemarin??? Aku masih tidak mengerti, Gienka menjadi seperti itu dan pak Danist seperti itu juga? Ceritakan padaku semuanya, mungkin saja itu bisa mengurangi duka dan kesedihanmu saat ini"


Dengan beruarai airmata, Ariel menceritakan semua kejadian yang terjadi kemarin juga bagaimana kemarahan Elea kepadanya. Tangis Ariel semakin menjadi saat dia juga menceritakan apa yang sebenanrnya terjadi di keluarganya dulu. Ternyata perselingkuhan yang dulu terjadi antara ayahnya dan Mama Maysa adalah hasil karma untuk mendiang sang Mama karena dulu sudah melakukan hal yang sama pada Ibunya Danist dan Mamanya menghancurkan rumah tangga mereka berdua dengan berselingkuh dengan Ayahnya. Mendengar itu, Maysa benar-benar dibuat terkejut, dan speechless. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi.


"Elea marah kepadaku karena selama ini aku selalu bersikap buruk kepada Danist padahal aku jelas-jelas sudah mengetahui semua itu, aku memang bodoh May, aku mengabaikan semua fakta itu dan tetap berpikir buruk tentang Danist, padahal dia selama ini sudah banyak melakukan hal yang baik tetapi aku tetap saja menutup mataku, Elea marah kepadaku karena Danist menjadi seperti ini adalah salahku, Danist menyelamatkanku dan mengorbankan dirinya hanya untukku, aku sekarang benar-benar sudah menyesali semua perbuatanku tetapi mereka menolakku, aku hanya ingin melihat dan memastikan keadaan Danist bahwa dia akan baik-baik saja, tetapi mereka menolak dan mengusirku, apa yang harus aku lakukan May???"


Maysa memeluk Ariel yang tengah terisak sedih, mengusap kepala lelaki itu. "Apa kau sudah pernah meminta maaf kepada mereka?? Terutama kepada pak Danist atau Mamanya???"


"Tidak, aku tidak pernah mengatakan itu, aku sebenarnya malu untuk mengatakan itu pada mereka karena aku tahu aku salah memandang mereka selama ini"


Maysa melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Ariel. Menyeka airmata lelaki itu dan menatapnya dalam-dalam.


"Inilah masalahnya Iel?? Harusnya kau tidak melakukan hal itu, kau tetap harus meminta maaf kepada mereka, kenapa malu?? Kau juga sudah pernah melakukannya padaku bukan?? Jadi kau juga harus melakukannya pada mereka, jangan pikirkan apa mereka mau memaafkanmu atau tidak tapi pikirkan saja bahwa kau menyesal atas semua perbuatan dan ucapanmu dulu pada mereka, kau harus melakukannya Iel?? Datang dan minta maaf, lalu katakan bahwa kau sangat menyesal, sesederhana itu saja, dan bebanmu akan hilang dalam sekejap"


Ariel terdiam sesaat kemudian menyadari kebenaran dari ucapan Maysa, dan itu juga yang pernah dikatakan oleh Aditya dulu, tetapi entah kenapa dia terus saja menolak melakukan hal semudah itu. Pengorbanan Danist kemarin harusnya sudah cukup menjadi bukti bahwa lelaki itu memang sangat menyayanginya. Dia sadar bahwa saat ini dia tidak memiliki siapapun lagi selain Gienka, tetapi jika dia meminta maaf pada Danist, mungkin dia akan memiliki keluarga baru selain Gienka, yaitu Danist sebagai kakaknya.


"Baiklah aku akan melakukannya, aku menyadari semua ketulusan Danist padaku selama ini, aku sangat menyesal atas semua kebodohanku selama ini"


Maysa tersenyum dan berharap dengan ini Ariel bisa menjadi lebih baik lagi.


Setelah Brianna selesai melakukan tugasnya pada Gienka,akhirnya Maysa mengantar Ariel ke rumah sakit untuk memberikan dukungan kepada Ariel agar semua niat baik lelaki itu berjalan lancar. Mereka tidak hanya berangkat berdua, tetapi Brianna juga ikut bersama mereka, tentunya Gienka juga. Karena menurut Brianna, Gienka akan merasa sedikit lebih baik jika keinginannya untuk bertemu dengan Danist terpenuhi. Brianna ikut untuk mendampingi Gienka disana nanti.


Ariel menggendong Gienka yang tidur dan berjalan menuju ruang ICU tempat dimana Danist sedang dirawat, diikuti Maysa dan Brianna dibelakangnya. Dan sampailah mereka disana. Elea langsung berdiri begitu melihat Ariel datang membawa Gienka.


"Kenapa kau kesini??? Dan apakah ini cara licikmu dengan membawa Gienka agar kau bisa datang kesini???" Elea memandang tajam ke arah Ariel.


Ariel diam dan dia menolah ke belakang untuk meminta bantuan Brianna agar menjelaskan keadaan Gienka pada Elea. Dengan harapan Elea tidak lagi berprasangka buruk terhadapnya. Seolah mengerti maksud Ariel, Brianna yang berdiri tepat di belakang Ariel pun melangkah pelan dan menyapa Elea.


"Perkenalkan, saya Brianna Angela, saya psikolog anak dan diminta oleh Aditya untuk membantu permasalahan Gienka, putrimu mengalami trauma tentang hal yang terjadi kemarin, dia melihat dengan jelas semuanya membuatnya seharian merasa ketakutan jadi aku diminta datang untuk membantunya, dan aku menyuruh Ariel membawanya kesini karena dia terus merengek ingin menemui Papa Dan, aku menyarankan pada Ariel agar mengajaknya kesini saja, setidaknya itu bisa membantunya walau hanya sedetik saja bisa melihat wajah papanya"


Elea sangat terkejut mendengar hal itu dari Brianna, tetapi kemudian yang lebih mengejutkan lagi adalah ekpresi Mama Danist melihat siapa yang saat ini sedang berbicara dengan Elea.


"Anna??" Ucap Mama Danist dengan wajah yang heran. Dia sangat mengenal Brianna, perempuan itu adalah teman kuliah Danist dulu dan sering datang ke rumahnya.


"Tante Sari???" Gumam Brianna yang tidak kalah terkejutnya.


Brianna sudah lama sekali tidak bertemu dengan mama Danist, terakhir bertemu adalah saat wisuda dulu. Brianna mulai menyadari bahwa mungkin saja yang sedang terbaring saat ini adalah Danist, lelaki itu adalah mantan kekasihnya dulu, tetapi mereka harus mengakhiri hubungan mereka karena dia tidak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya untuk berhubungan dengan Danist padahal dia sudah dekat sekali dengan Mama Danist, dan dulu sering sekali datang kesana untuk sekedar berkunjung atau belajar memasak pada Mama Danist.


"Jadi yang sakit adalah Danist??? Astaga....!!" Ucap Brianna dengan ekspresi tidak percaya dan terkejut.