
Satu minggu kemudian.......
Keluarga Aditya sedang menikmati makan malam bersama. Tuan Harry sedang dipusingkan dengan beberapa pekerjaan di kantor, dia mengalami kesulitan mengurus berbagai hal yang ada di beberapa kantor cabang. Sementara di kantor utama juga ada banyak pekerjaan serta cukup banyak proyek yang sedang menunggu, tentu hal ini akan lebih mudah jika Aditya yang mengurusnya. Putranya itu selalu bisa diandalkan untuk hal semacam itu, ia sangat membutuhkan peran Aditya untuk mengatasi semuanya akan tetapi proyek besar juga sedang dijalankan di Swiss, tentu disana juga membutuhkan seseorang untuk mengurusnya.
Melihat suaminya sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, Nyonya Harry pun merasa heran dan penasaran dengan apa yang sedsang mengganggu suaminya itu. Sudah beberapa hari ini dia melihat rasa lelah dan tampak gelisah dari suaminya itu.
"Suamiku, kenapa kau hanya mengaduk-aduk makananmu saja, apa yang mengganggu pikiranmu?" Ucap Nyonya Harry, yang langsung mendapat respon dari suaminya, dan Adri yang sedang sibuk makan pun ikut menoleh kearah Papanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya pusing memikirkan banyak pekerjaan yang harus ku tangani disini, terlalu banyak hingga membuatku bingung mana dulu yang harus ke bereskan, jika Aditya ada disini tentu dia akan bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, aku benar-benar pusing"
"Kenapa Papa tidak kesana saja dan menggantikan Kakak, biar kakak pulang dan mengurus semua yang ada disini, disana kan kan kakak hanya mengurus proyek dan 1 perusahaan kita saja, tetapi disini Papa mengurus semuanya sendiri tentu Papa akan kesulitan" Gumam Adri mencoba memberi solusi.
Tuan Harry pun terlihat diam dan berpikir, jika hanya mengurus proyek tentu dia bisa melakukannya. Aditya memang lebih baik kembali saja mengurus pekerjaan disini, mengingat ada beberapa tender besar dengan perusahaan asing yang juga sudah menanti di bulan ini.
"Kurasa Adri benar Pa, kenapa Papa tidak kesana saja dan mengurus proyek disana lalu biarkan Adit pulang"
"Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu??? Baiklah lusa kita kesana Ma, biar nanti Adit ikut pulang bersama yang lain, pameran juga akan segera berakhir, Adri...! Kau juga bersiap, kau akan ikut kesana" Ujar Tuan Harry yang langsung membuat Adri tersedak.
"Aku???? Kenapa aku harus ikut? Bagaimana dengan pekerjaanku disini?"
"Lupakan pekerjaanmu, harusnya sudah dari kemarin aku mengirimmu kesana bersama Danist dan yang lainnya agar kau bisa belajar banyak hal disana, apa kau akan terus seperti ini saja? Papa sudah tua, siapa lagi yang akan membantu kakakmu di perusahaan jika bukan dirimu, sudah cukup main-mainnya Dri"
"Tapi Pa???"
"Jangan membantah, dan persiapkan saja dirimu!"
Adri mencoba mencari pembelaan dari Mamanya dengan memasang wajah memelas ke arah Mamanya tetapi sang Mama justru melempar senyum seraya mengatakan bahwa putra bungsunya itu memang harus menuruti apa yang diucapkannya Papanya.
Keesokan harinya, persiapan pun dimulai, Adri mulai mengemasi pakaiannya dan harus segera dia selesaikan, karena sore harinya dia akan menemui Chika untuk berpamitan. Papanya memang keterlaluan dengan mudahnya ingin membawanya, tetapi sekeras apapun dia menolak itu akan percuma saja, karena papanya tidak mudah untuk dirayu jika dia sudah memutuskan sesuatu maka harus dituruti.
Nyonya Harry pun juga sedang sibuk mengemasi pakaiannya, dia merasa senang sekali karena akan bertemu dengan kedua cucunya yang sudah sangat dia rindukan walau nanti akan berpisah lagi, tetapi setidaknya dia memiliki beberapa hari untuk bersama mereka. Pasti nanti akan terasa sangat menyenangkan bisa bertemu lagi dengan si kembar yang ia tahu bahwa kedua cucunya itu sudah mulai mengkonsumsi makanan pendamping.
****
2 hari kemudian.......
Elea berpamitan kepada Cahya untuk membawa Gienka pulang, karena sejak pagi dia datang ke rumah sahabatnya itu. Sudah menjadi kebiasaan merwka untuk slaing mengunjungi dan merawat bayi mereka bersam-sama, terkadang Cahya yang datang ke rumah Elea, atau sebaliknya seperti sekarang, Elea yang datang mengunjungi Cahya.
Sepeninggal Elea, Cahya melanjutkan menemani kedua bayinya bermain sambil dia menyalakan televisi di kamarnya. Kedua bayi itu tidak mau tidur siang dan sejak tadi asyik dengan mainannya sambil terus mengoceh satu sama lain. Kyra sangat suka menggoda kakaknya dengan cara menjambak rambutnya lalu tertawa karena ulahnya, tetapi Kyros hanya diam tidak mencoba melawan adiknya justru dia malah ikut tertawa. Begitulah yang terjadi setiap hari, menonton kedua anaknya berulah membuat rasa kesepian Cahya hilang saat Aditya sibuk dengan pekerjaannya. Kadang ada moment dimana Cahya merasa sangat lelah dan bosan tetapi dia bisa mengendalikan dirinya dengan baik, dan ketika Aditya pulang pun, suaminya itu seolah mengerti dengan keadaannya dan sering membiarkan dirinya beristirahat lalu menggantikan dirinya bermain dengan Kyra dan Kyros.
"Cahya sayang? Apa kabarmu???"
Cahya benar-benar terkejut melihat siapa yang datang, dia terdiam sejenak dan mencoba menyadarkan dirinya. "Mama????"
Nyonya Harry langsung memeluk menantunya itu dengan erat sementara suaminya dan Adri sibuk menurunkan barang-barang dari taksi.
"Kalian datang kesini, kenapa tidak memberitahu? Aku pasti akan menjemput kalian di airport!" Seru Cahya yang masih tidak percaya.
"Jika kami memberitahumu atau Adit pasti tidak akan menjadi kejutan, ngomong-ngomong dimana cucu-cucu Mama??"
"Mereka ada di kamar, ayo Ma masuk, Adri, Papa juga silakan masuk! Adit masih ada di kantor" Cahya menyalami Papa mertuanya dan menyuruh mereka untuk masuk ke rumah.
Mama Aditya langsung bergegas masuk dan mencari dimana keberadaan kedua cucunya dan menemukan keduanya sedang berada di lantai dengan mainan ada di tangan keduanya. Dia melepas sepatunya dan masuk ke kamar lalu menciumi kedua cucunya itu yang sudah sangat dia rindukan selama ini, akhirnya sekarang bisa datang untuk menemui mereka.
"Ma, aku buatkan minum dulu untuk kalian, kalian pasti lelah sekali setelah perjalanan jauh" Ucap Cahya dan meninggalkan Mama mertuanya.
Cahya mempersilahkan Papa mertuanya juga Adri untuk masuk ke kamar menemui si kembar.
Cahya kembali ke kamarnye dengan membawa jus. Terlihat kedua mertuanya itu sedang sibuk menggendong melepaskan rindu kepada bayinya. Sementara Adri membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, adik iparnya itu terlihat sangat kelelahan.
Cahya menaruh jus diatas meja dan menyuruh mertuanya agar meminumnya. Kemudian Cahya membawakan jus untuk Adri dan menghampirinya.
"Adri, minumlah ini, agar lelahmu sedikit berkurang"
"Thanks kak" Adri mengambil gelas itu dan langsung menghabiskannya. "Ahhhhh segarnya.....!!!" Gumam Adri yang membuat Cahya tersenyum.
"Kak Adit biasanya pulang jam berapa kak?"
"Tidak pasti, Dia terkadang pulang lebih cepat kadang juga malam baru kembali, kalau kau lelah lebih baik mandi dulu dan beristirahatlah"
"Iya kak, aku lelah sekali dan sepertinya jetlag, aku butuh berbaring lama hehehe tetapi aku ingin melihat sekeliling rumah ini, boleh kan???"
"Tentu saja, di belakang pemandangannya sangat bagus"
Mendengar itu Adri langsung melompat dari tempat tidur, dan keluar untuk berkeliling. Cahya kemudian mendekat ke mertuanya dan mengobrol dengan mereka. Dan ternyata mereka juga tidak memberitahu Aditya tentang kedatangannya kesini.