
"Mama..???"
Mama Danist pun masuk ke dalam dengan perasaan marah kepada putranya itu. Danist, Elea dan Pak Andi langsung berdiri.
"Kenapa kau berteriak didepan orang tua?? Apa selama ini aku tidak mengajarkanmu bagaimana cara bersikap saat didepan orang tua???"
Wajah Danist berubah seketika, dia menundukkan kepalanya merasa bersalah. Mamanya pasti marah sekali mendengar teriakannya tadi, selama ini dia tidak pernah berteriak sekeras itu terlebih pada orang yang lebih tua. Tetapi Danist kemudian tersadar apakah tadi Mamanya itu mendengar semua perkataannya atau tidak. Itu akan sangat buruk jika Mamanya mendengarnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang sudah mengatakan semuanya kepada Danist??? Hanya karena kau ingin memaksakan kehendakmu! Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kau tidak perlu repot-repot melakukan ini semua!!! Kenapa kau masih melakukannya??" Tanya Mama Danist kepada pak Andi dengan suara bergetar.
Saat itu juga Danist menyadari bahwa Mamanya sudah mendengar semuanya. Elea memejamkan matanya, sadar juga bahwa sepertinya permasalahan ini semakin rumit saja. Ini yang sejak tadi Elea takutkan saat melihat kedatangan ayah Ariel kesini, takut jika tiba-tiba Ibu mertuanya datang, dan benar saja dia datang disaat seperri ini.
"Kenapa kau tidak mengerti juga Sar, Danist adalah putraku, sudah kewajibanku untuk memberinya hak yang aku miliki"
"Hak???? Hak apa yang kau miliki??? Aku sudah mengatakan padamu agar tidak perlu membahas ini ataupun mengatakan kepada Danist, selain karena dia tdak membutuhkanmu, aku juga khawatir hatinya akan terluka, dia akan menerima lagi semua hinaan dari mulut Ariel anakmu, aku sudah mendengar semuanya saat kau berbicara dengan Danist bahkan aku juga mendengar semua penghinaan Ariel kepada Danist juga padaku diruangan itu"
"Kau mendengar semuanya Sar???"
Ternyata saat itu Mama Danist berada di ruangan ganti sebelah, dia tidak sengaja kesana. Waktu itu Danist dan Elea meninggalkan tempat resepsi mereka untuk menuju ke kamar mereka, tiba-tiba dia teringat untuk memberitahu suatu hal kepada Danist, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengejar Danist. Tetapi langkahnya terhenti saat dari kejauhan dia melihat pak Andi menghentikan Danist dan Elea didepan ruang ganti. Kemudian saat dia ingin menghentikan tiba-tiba muncul Ariel dari pintu toilet bersamaan dengan itu ternyata dia melihat Randy dan Aditya menghampiri Ariel. Karena penasaran dia pun secara diam-diam melangkah dan masuk ke ruang ganti sebelahnya, bahkan agar tidak menimbulkan dia terpaksa melepas sepatunya.
Mama Danist menyadari bahwa pada akhirnya semua itu akan terbongkar juga meskipun dia berusaha keras untuk selalu mejutupinya tetapi pada akhirnya Danist tetap akan mengetahuinya. Walaupun perkataan Ariel sangat kejam saat itu tetapi Danist memilih untuk tidak mengungkapkan kebenaran yang ada, padahal jika bisa, kebenaran itu pasti akan bisa membungkam Ariel.
"Ya, semuanya, dan juga bagaimana sikapmu saat Ariel menghina kami, itulah sifatmu kau selalu diam seolah malaikat sedang mengunci mulutmu hingga kau sama sekali tidak berusaha menjelaskan semuanya pada anak kebanggaanmu itu apa yang sebenarnya terjadi dulu, kau selalu bersembunyi dibalik semua kejahatanmu, apa kau masih belum puas melihat penderitaan Danist selama ini karena ulahmu?? Derita apa lagi yang kau ingin berikan padanya? Apa kau tidak sadar bahwa sikap angkuhmu itulah yang saat ini diwarisi oleh Ariel, bahkan apa yang kau lakukan dulu padaku juga dilakukan oleh Ariel pada Elea, harusnya kau malu karena gagal mendidik putra kebanggaanmu itu dengan baik, tetapi kenapa itu tidak terlihat sedikitpun di wajahmu???"
"Aku akan membuat Danist dan Ariel berbaikan sehingga hubungan mereka bisa membaik!" Gumam Pak Andi.
Mama Danist langsung mengernyit, mantan suaminya itu masih tidak berubah juga. Selalu mengentengkan permasalahan tetapi kenyataannya tidak pernah semudah yang diucapkan. Jika dia memang ingin hubungan keduanya membaik harusnya dia tidak bersikap seperti ini, karena apa yang dilakukannya ini justru membuat semuanya semakin memburuk. Bukan membaik tetapi genderang permusuhan antara Danist dan Ariel sudah dimulai sejak malam itu. Dia yakin Ariel saat ini semakin membenci Danist padahal tentu saja dalam hal ini Danist tidak bersalah. Ariel juga terlihat sangat keras kepala dan sikap angkuh Ariel itu sangat menjengkelkan, tidak mungkin bahwa mereka bisa disatukan.
"Itu hanya omong kosongmu saja, jika kau ingin mereka membaik harusnya kau bisa berhati-hati sebelum melakukan semua ini, kau juga harusnya bisa menjelaskan semua masalahnya lebih dulu kepada Ariel tapi apa yang kau lakukan??? Kau mengatakan semuanya pada Danist tetapi tidak pada Ariel, dan kau bisa lihat bahwa Ariel marah besar tidak hanya kepadamu tetapi juga kepada anakku yang tidak tahu apa-apa, setidaknya gunakan otakmu sebelum memulai sesuatu" Ucap Mama Danist dengan suara jengkel.
Seolah tidak mau menyerah dan tidak menghiraukan semua perkataan Mama Danist, Pak Andi tetap memaksa Danist agar menandatangani berkas itu. Dengan penuh kemarahan, Mama Danist mengambil berkas itu dan menyobeknya hingga menjadi sobekan kecil-kecil kemudian dia menangis.
"Berani sekali kau Sar, merobek berkas-berkas itu, selama ini kau sudah menyembunyikan Danist dariku, kemudian kau menghalangiku untuk menjelaskan padanya dan sekarang sekali lagi kau menghalangiku untuk memberikan hartaku kepadanya, aku bisa menuntutmu dan bisa memenjarakanmu"
Danist menatap tajam ke arah pak Andi dan menunjuk tepat di depan mata lelaki itu. "Anda...!!! Bisakah anda diam......!!! Jangan coba-coba berani mengancam Mamaku, memangnya anda siapa? Wanita ini...!!" Danist merangkul pundak Mamanya. "Wanita inilah yang berjuang mati-matian untuk hidupku selama ini, dia menjadi Ibuku juga menjadi Ayahku, tetapi anda yang sejak tadi menyebut dirimu sebagai ayahku, kemana saja anda selama ini??? Kemana??? Jika anda berani melakukan itu, bersiaplah aku sendiri yang akan menghadapimu. Anda membanggakan semua milik anda dan ingin memberiku sebagian, sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menerima sepeserpun dari hartamu, tidak akan pernah, kau harus ingat itu, aku bisa menghidupi Mamaku, istri dan anakku dengan hasil jerih payahku sendiri seperti apa yang sudah Mamaku dulu lakukan saat aku masih kecil, berhentilah mengacaukan kehidupan kami lagi, dulu anda sudah mengacaukan hidup kami lalu Ariel juga mengacaukan hidup Elea, setidaknya berhentilah, dan pergilah dari rumah ini sekarang juga, aku mohon!!" Danist menagkupkan kedua telapak tangannya lalu menyuruh pak Andi agar bisa segera pergi dan menghentikan semua kekacauan ini.
Dengan suara lembut dan mengucap maaf, Elea juga meminta agar mertuanya itu keluar dari rumahnya. Situasi ini sangatlah buruk, Mama Danist terus terisak di pelukan Danist, sedangkan lelaki itu bersusah payah menahan amarah juga kesedihannya. Pak Andi pun keluar dan meninggalkan kediaman Elea dan Danist.