SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 391



"Ada apa Ann kesini??? Bukankah konseling Gienka sudah selesai???" Tanya Mama Danist dengan suara ketus yang tidak terdengar seperti biasanya.


Brianna tetap tersenyum meskipun sejak kedatangannya ada aura tidak menyenangkan. Tetapi Brianna mencoba mengerti karena Mama Danist mungkin masih kecewa atas apa yang dulu pernah terjadi antara dirinya dan Danist.


"Ah iya Tan, memang tugasku sudah selesai untuk mengurus masalah Gienka, sebenarnya aku kesini untuk menjenguk Danist, ku dengar dia sudah pulang dari rumah sakit...!!"


"Brianna...! Aku tahu apa yang sudah kau lakukan pada Danist saat kemarin dia ada di rumah sakit..! Cucuku sudah menceritakannya padaku...! Apa yang kau lakukan saat itu sangatlah memalukan, bagaimana kau bisa melakukan hal serendah itu didepan anak kecil, dan memanfaatkan keadaan Danist yang tidak sadarkan diri?? Bagaimana bisa Ann...??? Dimana pikiranmu sebenarnya???"


Saat itu juga Brianna mulai teringat dengan apa yang sudah dia lakukan beberapa waktu yang lalu. Dan ternyata Gienka melaporkannya kepada Mama Danist atau jangan-jangan anak itu juga sudah mengatakan hal yang sama kepada semua orang. Wajah Brianna mulai mengeluarkan keringat dingin, perasaannya saat ini campur aduk, antara malu dan takut, serta menyesali perbuatannya, karena seharusnya dia bisa menahan diri agar tidak berbuat seperti itu. Kerinduannya yang begitu dalam pada Danist membuat Brianna lupa bahwa Danist sudah bukan miliknya.


Brianna terdiam dan hanya menatap Mama Danist dengan pandangan yang penuh penyesalan. "Ma....af tan... Aku...saat... itu ti..dak sengaja melaku..kannya" Jawab Brianna dengan suara terbata.


Mama Danist mendengus kesal dan membuang muka. "Tidak sengaja??? Brianna...!!! Kau sudah dewasa bukan? Kau juga harus ingat hubunganmu dan Danist sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu, bukan anakku yang mengakhirinya tetapi dirimu sendiri yang tiba-tiba menghilang, dan saat kau kembali kau malah melakukan hal seperti ini, Danist sudah melupakanmu, sekalipun dia tidak pernah lagi teringat tentangmu, dia sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya jadi jangan mengusiknya, tidak perlu lagi menunjukkan empati karena itu tidak akan membawa dampak apapun, pergilah dari rumah ini dan jangan pernah kembali"


Mata Brianna mulai berkaca-kaca menahan tangisnya. Ini pertama kalinya dia melihat kemarahan dari Mama Danist kepadanya. Dulu wanita ini begitu menyayanginya bahkan selalu mengatakan kepadanya bahwa dia sudah menganggapnya sebagai anaknya, akan tetapi kemarahannya saat ini begitu jelas dan cukup menyakitinya. Semua ini memang salahnya sendiri jadi Brianna mencoba menerima semua kemarahan dari wanita yang ada di depannya itu.


"Aku minta maaf Tan, aku tidak bermaksud apapun saat itu, aku refleks saja saat itu, mungkin karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya dan ketika bertemu, dia justru dalam kondisi yang seperti itu, jadi aku sendiri tidak sadar tiba-tiba saja aku mencium kening Danist, tetapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak memiliki niat buruk sama sekali untuk mengganggu atau menghancurkan rumah tangga Danist" Ucap Brianna sedih, dan kemudian dia tidak bisa menahan lagi airmatanya.


Mama Danist pun sebenarnya juga merasa tidak tega harus bersikap seperti ini kepada orang, tetapi nuraninya memaksanya harus melakukan ini agar dikemudian hari tidak lagi ada hal seperti ini yang terjadi. Dan itu bisa menyakiti banyak orang, termasuk juga Elea juga Danist, apalagi mengingat saat ini kondisi Danist masih belum pulih sepenuhnya.


Tetapi saat dia mendongakkan kepalanya ka atas, dia melihat Elea sedang berdiri bersama Ariel dan didepan keduanya ada Danist yang duduk di kursi roda, sedang memperhatikannya dan Brianna yang sedang berbicara. Ternyata tidak sengaja mereka bertiga memergoki Mama Danist dan Brianna.


Mama Danist terkejut dibuatnya, begitu juga dengan Brianna. Buru-buru dia menyeka airmatanya dan mencoba memberi senyum untuk menyapa ketiganya. Brianna membalikkan badan dan naik ke lantai dua. Sampai disana dia menyalami Ariel, Elea dan Danist sambil tersenyum.


"Kudengar kau sudah pulang dari rumah sakit jadi aku datang untuk menengokmu, kau sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, oh iya Dan, aku membawa buah untukmu dan ini bucket bunga, kebetulan aku ada urusan disekitar sini jadi memutuskan untuk mampir sebentar" Ucap Brianna. Dia kemudian melihat jam tatangannya dan berpikir dia harus segera pergi dari tempat ini sebelum keadaan semakin memburuk.


"Maaf ...!! Aku harus pergi sekarang, aku sudah ditunggu oleh pasienku, aku berdoa semoga kau cepat sembuh Dan...! Maaf sekali atas apa yang terjadi, aku tidak akan mengulanginya, permisi...!" Brianna mencoba tersenyum sebelum pergi, dan perlahan menuruni tangga, membungkukkan sedikit tubuhnya pada Mama Danist, lalu membuka pintu mobilnya dan meninggalkan kediaman Elea dan Danist. Mama Danist juga langsung mengangkat Friddie dan membawanya masuk melalui garasi tanpa mengatakan apapun.


Setelah meninggalkan rumah Danist, tangis Brianna kembali pecah di dalam mobil. Dia menangis hingga sesenggukkan. Ucapan dari Mama Danist begitu mengena di pikirannya, dan kenyataan bahwa Danist memang sudah memiliki istri dan anak itu tidak bisa dibantah lagi. Memang sudah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari Danist saat ini.


Sementara itu, Elea membatalkan rencananya untuk mengajak Danist jalan-jalan disekitar rumah. Ya, tadi dia memang ingin mengajak suaminya untuk menghirup udara segar di luar rumah, dan kebetulan Ariel datang, sehingga Elea meminta bantuan Ariel untuk membantu Danist turung ke lantai satu. Akan tetapi mereka bertiga justru melihat Brianna dan Mama Danist mengobrol dibawah. Dengan begitu jelas mereka bertiga mendengar semuanya. Fakta bahwa Brianna ternyata mencium Danist saat berada di ruang Icu membuat mereka bertiga terkejut, terlebih lagi ternyata Gienka juga menyaksikan kejadian itu di depan matanya.


Ariel melihat ketegangan di wajah Elea dan Danist, membuatnya lebih baik pergi dari sini dan memberi waktu keduanya untuk bisa saling berbicara. Ariel masuk ke dalam rumah dan memanggil Gienka agar keluar untuk mengajak putrinya itu jalan-jalan dan membeli es krim. Gienka berlari keluar lalu Ariel berpamitan pada Danist dan Elea untuk membawa Gienka.


"Entah kenapa saat pertama kali bertemu dengan Brianna di rumah sakit dan dia langsung tersenyum bahagia ketika melihat Mama dan Mama mengatakan jika dia adalah temanmu membuatku saat itu sempat memiliki sedikit pemikiran aneh tetapi aku mencoba menepisnya, ya mungkin memang kalian dulu adalah sahabat, tetapi ku rasa kau juga mendengar semuanya tadi, bahwa dia menciummu di dalam ruangan ICU dan di depan anak kita, dia mengatakan bahwa refleks saja di melakukan itu, tetapi jika tidak ada hubungan yang begitu istimewa diantar kalian dulu, tentu hal itu tidak akan terjadi bukan???" Gumam Elea.


Elea memegang pagar pembatas teras dan memandang ke depan tanpa melirik Danist yang ada di sampingnya. "Aku tidak pernah sama sekali tahu bagaimana masalalumu dulu, karena awalnya ku pikir itu tidaklah penting karena kau sendiri sudah menerima diriku dengan semua kekurangan yang ada, tetapi saat ini aku bisa melihat masih ada sesuatu yang belum terselesaikan dengan baik antara dirimu dan Brianna, apakah hubungan kalian sudah benar-benar berakhir atau belum...!"