
Aditya menatap tajam Ariel, mengutuk dan mengumpat dalam hati pada sahabatnya itu, karena lagi-lagi menawarinya permen itu.
"Kau memang sudah gila Iel, kau makan saja sendiri permen itu"
Ariel tertawa kecil seolah tidak memperdulikan ucapan Aditya dan dia masih saja berbisik pada Aditya. "Kalau kau tidak ingin permen itu, aku juga memiliki sebuah pil yang bisa kau campurkan diminuman istrimu, dan kau tau efeknya bisa lebih buruk dari permen itu"
"Apa kau sudah gila!!!" Teriak Aditya sambil menarik leher Ariel menggunakan sikunya.
Teriakan itu membuat mata semua orang mengarah pada mereka berdua. "Apa yang sedang kau bicarakan Iel sehingga membuat Adit berteriak??" Tanya Randy.
"Si bodoh ini sangat payah, aku menawari pekerjaan bagus dia malah menolaknya" Jawab Ariel sambil menahan tawa.
"Jangan membahas pekerjaan disini, dan ya aku hampir lupa untuk memberitahu kalian semua, aku mendapat info jika si Cyntia dibawa keluar negeri oleh keluarganya, setidaknya itu angin segar untukmu dan Cahya Dit" Ucap Randy.
Aditya menatap ke arah Randy tidak percaya. "Apa yang kau ucapkan itu benar Ran?"
"Iya, salah satu anak buahku melihatnya bersama orangtua nya di bandara, tetap selebihnya aku akan mencoba menyelidikinya lagi"
"Tapi kita tidak boleh lengah begitu saja, kita tidak pernah tahu apa yang bisa dilakukan oleh Cyntia dia sangat cerdik dan berbahaya" Sahut Ariel.
Setelah acara makan malam itu, mereka semua pulang. Saat dimobil Cahya diam dan larut dalam pikirannya sendiri. Aditya menoleh kearah istrinya dan membuyarkan lamunan istrinya menanyakan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Cahya menanyakan bagaimana keadaan Theo sekarang, bukan keadaan tetapi lebih tepatnya Cahya khawatir jika apa yang terjadi dengan Cyntia dan Theo justru akan menambah kobaran api yang lebih besar.
"Dia dihukum atas semua perbuatannya, karena itu yang pantas diterimanya, aku hanya berharap dengan itu dia bisa menyadari kesalahannya tetapi jika tidak sadar juga berarti ada yang perlu dipertanyakan dengan kesehatan jiwa dan pikirannya, kau tidak usah khawatirkan apapun, aku selalu bersamamu" Aditya berucap sambil memegang tangan Cahya agar tidak terlalu khawatir dengan ketakutannya.
****
Aditya duduk bersender diatas ranjang, menunggu Cahya yang sedang berganti baju. Aditya ingin membicarakan suatu hal dengan istrinya. Beberapa saat kemudian Cahya naik ke atas ranjang dan duduk disebelahnya. "Tadi kau bilang ingin membicarakan sesuatu, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Cahya.
"Setelah kita pulang dari Swiss apa kau tidak memiliki keinginan untuk tinggal berdua saja denganku?"
"Maksudmu apa??? Aku tidak mengerti"
"Apa kau tidak mau meminta dibuatkan rumah atau dibelikan rumah untuk kita tinggali berdua saja? Seperti saat aku dulu berniat menikahi Erica dan dia memintaku untuk membangunkan rumah sebelum kami menikah, aku takut Mama menyulitkanmu saat aku pergi bekerja, mengingat kau sangat menikmati saat di Swiss kemarin"
"Tapi??"
"Ah sudahlah, tidak perlu kau memikirkan hal seperti itu, aku merasa bahagia bisa tinggal bersama mertuaku yang sangat menyayangiku, itu adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan untukku termasuk dirimu, sekarang mari kita tidur karena besok kau harus bekerja" Cahya mematikan lampu dan mengajak Aditya untuk berbaring dan mereka berpelukan lalu tidur.
Aditya belum menutup matanya, sebenarnya tujuannya menanyakan hal itu adalah agar bisa memberikan hadiah pada istrinya sebagai kado ulang tahunnya tetapi malah Cahya menolak. Tetapi kemudian Aditya menyadari bahwa memang Cahya sangat mencintai Mamanya, bahkan hubungan mereka lebih dari sekedar mertua dan menantu. Lalu dia mulai berpikir karena bingung harus memberikan hadiah apa untuk istrinya.
****
Cahya terbangun dan melihat jam dan mengingat hari serta tanggal. Dia menyadari juga bahwa ternyata besok adalah hari ulang tahunnya. Cahya tersenyum ulang tahunnya kali ini adalah tahun pertamanya setelah menikah dan dia sudah mendapatkan hadiah yang luar biasa dari Tuhan. Lelaki yang tidur disampingnya saat ini adalah hadiah special yang dikirim Tuhan untuknya. Cahya tidak pernah berhenti bersyukur setiap harinya setiap dia membuka matanya dipagi hari dia melihat Aditya ada disampingnya, dan setiap hari juga sebelum menutup mata, Aditya juga ada disampingnya dan selalu memeluknya.
Mengingat awal bagaimana pertemuannya dengan Aditya hingga terjadi pernikahan yang tidak pernah dibayangkannya. Cahya tidak pernah menyangka jika ternyata sosok Aditya adalah lelaki lembut, baik hati dan sangat mencintai keluarganya dibalik kesan dingin dan tegasnya Aditya. Dulu Cahya selalu bermimpi ingin memiliki suami yang mencintainya apa adanya dan yang bisa menghormati keluarganya, dulu dia sangat berharap jika Theo bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan menerima semua yang ada di dirinya tetapi nyatanya, Theo menghancurkannya, meninggalkannya karena desakan dari keluarganya yang tidak menyukai dirinya. Bahkan saat kemarin Theo masih mencoba untuk menghancurkannya sekali lagi, bahkan berniat membawanya pergi dan hampir saja melukai Aditya, dan akhirnya justru membuatnya kehilangan bayinya.
Cahya mengecup bibir Aditya, dan mendekatkan wajahnya lalu membelai pipi lelaki itu dengan lembut. Cahya beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Saat dikamar mandi, Cahya mengingat suatu hal yang sepertinya tidak dia dapatkan di bulan kemarin. Dan Cahya mulai menyadari jangan-jangan dia sedang hamil saat ini tetapi bagaimana jika itu benar, Cahya masih belum siap saat ini. Untuk memastikannya Cahya harus pergi ke Apotik dan membeli alat tes kehamilan.
Cahya telah menyelesaikan tugasnya membantu membuat sarapan untuk semua orang, sekarang dia akan mengantar jus untuk Aditya yang sedang berolahraga diruang Gym nya. Melihat kedatangan istrinya, Aditya menghentikan aktifitasnya lalu mengambil minuman yang sudah disiapkan Cahya.
"Thanks my wife"
"Sama-sama, oh iya nanti siang kau mau makan apa, biar aku mempersiapkannya"
Aditya tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum. "Kau tidak usah memasak apapun untuk makan siang, bagaimana kalau kita makan siang saja bersama diluar, aku sedang ingin memakan sesuatu yang sudah lama tidak aku makan"
"Kau ingin makan apa??"
"Kau nanti akan tahu, dan aku yakin kau akan menyukainya juga, kau jemput aku dikantor nanti kita akan berangkat bersama, oke?"
"Baiklah, jika sudah selesai cepat mandi dan sarapan, jika tidak kau akan terlambat, aku akan naik lebih dulu dan menyiapkan pakaianmu"
Cahya meninggalkan Aditya dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya, dia masih memikirkan bagaimana jika dia benar-benar hamil saat ini. Cahya bingung harus senang atau harus bagaimana, hatinya masih menolak tetapi ia tidak boleh bersikap egois yang justru akan membuat konflik diantara dia dan Aditya. Dan suaminya selalu mengatakan padanya jika akan selalu menjaganya, dia harus percaya pada Aditya dan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sudah cukup keegoisannya dulu membuatnya harus kehilangan bayinya, kali ini dia tidak boleh lagi melakukan kesalahan yang sama.