
Tatapan yang diberikan Papa Elea kepada Ariel sangat tajam. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Ariel setelah lelaki itu mencampakkan putrinya. Amarahnya seolah memuncak dan ingin sekali menghajar Ariel saat itu juga. Melihat suaminya dilingkupi amarah, Mama Elea segera memegang pergelangan tangan suaminya agar amarahnya bisa tertahan. Papa Elea kembali duduk dan mengucapkan terima kasih kepada temannya.
"Hans aku ucapkan terima kasih atas jamuan makan malam ini, tetapi sepertinya aku dan istriku harus segera pulang"
"Sama-sama lain kali kita harus bertemu lagi, aku dan istriku juga harus segera pulang"
Mama dan Papa Elea pun akhirnya pergi dari restoran itu, sedangkan Ariel hanya terdiam melihat kepergian mantan Mertuanya. Ariel benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu dengan mereka. Ada perasaan menyesal dalam dirinya karena dia tidak mengembalikan Elea dengan baik kepada mereka, padahal dulu dia meminta Elea pada mereka secara baik-baik dan Ariel butuh sedikit perjuangan untuk mendapatkan restu mereka.
Ariel mencoba memahami jika dia harus melihat kemarahan dari orangtua Elea. Mereka ada disini mungkin sedang mengunjungi Elea. Tadinya dia ingin meminta maaf tetapi sepertinya karena terlalu marah padanya, kedua orangtua Elea segera meninggalkan restoran ini..
*****
Setelah makan malam bersama keluarga Aditya, Elea memilih mengobrol bersama Mama Aditya dan Ibu Cahya diruang tamu. Cahya sedang sibuk menidurkan si kecil dan Elea tidak ingin mengganggunya. Cukup lama mereka mengobrol hingga akhirnya terdengar suar bel rumah berbunyi, ternyata kedua orangtua Elea sudah datang.
"Mama Papa sudah pulang, bagaimana makan malam kalian dengan om Hans?"
Mamanya melempar senyum tetapi senyumnya tidak sampai diujung. "Baik sayang semuanya berjalan dengan baik, selamat malam bu" Sapanya pada ibu Cahya dan Mama Aditya.
"Iya selamat malam, bapak terlihat pucat, apa sedang tidak enak badan ya?" Tanya Mama Aditya.
Kedua prangtua Elea tampak saling berpandangan, kemudian Mamanya mengatakan iya jika sepertinya suaminya sedang kurang enak badan.
"Elea sayang, lebih baik antar kedua orangtuamu ke kamar agar papamu bisa beristirahat, jika perlu obat kau bisa mengambil obat di kotak P3K diruang keluarga" Ucap Mama Aditya.
Elea pun mengantar kedua orangtuanya naik ke atas dan beristirahat dikamar yang sudah disediakan. Epea merasa sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi kepada kedua orangtuanya, karena sikap mereka terlihat aneh dan tidak biasa. Tetapi karena tidak ingin mengganggu mereka, Elea mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih dalam lagi.
****
Keesokan harinya, Elea benar-benar menghabiskan waktunya bersama Cahya dan kedua bayinya. Sejak pagi Elea sudah bersemangat melihat Kyros dan Kyra dimandikan dan dia juga bergantian menggendong bayi itu. Sampai tak terasa hari juga sudah menjelang siang, Cahya melihat Elea begitu cekatan dan sangat menyayangi Kyros dan juga Kyra. Kini mereka sedang berada dihalaman belakang menikmati udara segar sambil menggendong si kecil.
"Kau sudah sangat pas menjadi seorang ibu, bahkan Kyra langsung diam saat digendonganmu" Ucap Cahya.
"Hahaha I hope so Ca, dan anak kita nanti juga harus menjadi sahabat baik seperti kita hahaha"
Aditya datang bersama Danist, ternyata Danist sudah kembali untuk menjemput Elea dan Kedua orangtua nya. Cahya tersenyum melihat kedatangan Danist, mengingat cerita dari Chika tentang lelaki itu yang sepertinya menyimpan perasaannya kepada Elea. Kali ini Cahya ingin membuktikannya sendiri, apakah benar Danist memiliki perasaan dan kepedulian lebih kepada Elea. Jika memang itu benar, Cahya berharap Danist adalah lelaki yang bisa menyempurnakan kehidupan Elea nantinya.
"Hai Dan...!!! Bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya Cahya.
"Kabarku sangat baik hari ini" Jawab Danist.
"Syukurlah, aku banyak mendengar hal baik tentangmu, baik itu dari adikku, suamiku dan juga sahabatku, itu memang terlihat dari dirimu Dan"
"Bukankah itu terlalu berlebihan bu, aku hanya mengerjakan apa yang harus aku kerjakan saja"
"Itu pencapaian yang luar biasa Dan, kurasa perempuan yang nantinya menjadi istrimu juga akan sangat bangga denganmu"
"Well kau sudah mendapatkan karir yang cukup bagus, aku dan Adit sudah tidak sabar menunggu kabar baik lagi darimu, misalnya undangan pertunangan atau pernikahan"
Danist hanya melempar senyumnya sambil berucap singkat "Saya juga sedang menunggu yang terbaik"
Elea kembali teringat tentang orangtuanya yang sikapnya sedikit berubah setelah kembali dari acara dinnernya semalam, bahkan tadi pagi juga saat sarapan, Papanya masih terlihat sedikit aneh padahal kemarin terlihat baik-baik saja. Mungkin Danist tahu penyebabnya karena dia yang tadi malam mengantar mereka.
"Oh iya Dan, aku ingin bertanya apakah semalam saat kau mengantar Mama dan Papa kau tidak merasakan ada sesuatu yang aneh pada mereka"
Danist menggelengkan kepalanya. "Aneh? Tidak ada kurasa, mereka terlihat sangat senang, memangnya ada apa?"
"Entahlah, wajah mereka terlihat berubah setelah kembali, terutama Papa, apa mungkin telah terjadi sesuatu dengannya semalam?"
Danist kemudian mencoba menenangkan Elea agar tidak terlalu memikirkan hal yang bisa membuatnya menjadi khawatir. Aditya dan Cahya juga saling berpandangan, memang saat sarapan tadi mereka juga melihat ada sedikit perubahan sikap dari Papa Elea yang lebih diam dan hanya sesekali menimpali pertanyaan dari yang lainnya.
"Kau mengantar mereka direstoran mana Dan??" Tiba-tiba Cahya menyeletuk begitu saja.
"Galaxy Restaurant" Jawab Danist.
Seketika Cahya, Aditya dan Elea saling berpandangan karena terkejut. Elea sangat ingat jika itu adalah restoran milik Ariel, karena Ariel sering mengajaknya mengunjungi restoran itu untuk bercakap-cakap dengan pengunjung tentang pelayanan restoran itu. Pemikiran Elea langsung mengarah kesana, jangan-jangan semalam orangtuanya bertemu dengan Ariel, mengingat orangtuanya hanya tahu jika Ariel adalah pemilik dari beberapa hotel dan Restoran tetapi tentu saja mereka tidak tahu hotel dan restoran mana saja yang menjadi milik Ariel.
"Galaxy Restaurant??? Kau serius Dan?" Tanya Aditya mencoba memastikan lagi.
"Iya Pak"
Aditya langsung memiliki pemikiran buruk, sepertinya orangtua Elea bertemu dengan Ariel, mengingat Ariel memang sering mengunjungi tempat itu.
*****
Ariel sedang menikmati hari liburnya dengan bersantai di apartment nya sendirian.Dia sedang malas untuk pergi kemana-mana dan lebih memilih untuk mengisi harinya dengan bersantai. Apalagi moodnya sedikit berubah setelah bertemu dengan orangtua Elea semalam, melihat kemarahan mereka yang sangat jelas didepannya, dia benar-benar dilingkupi perasaan sedikit bersalah.
"Ya mungkin someday, saat aku bertemu mereka lagi, aku harus meminta maaf pada mereka" Gumam Ariel.
Ponsel Ariel berdering, terlihat nama Viona disana. Ariel pun langsung mengangkatnya. "Ya Vi, ada apa?"
"Hai Ariel sayang, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah mendapatkan designer interior mereka besok sudah bisa datang ke apartment, apakah besok kau bisa datang juga?"
"Oke Vi, mungkin aku bisa saat jam makan siang"
Ariel pun menutup telepon dari Viona. Pada akhirnya Ariel harus tetap kembali ke apartment itu, dia tidak akan bisa harus menghindari tempat itu.
"Sepertinya nanti malam aku harus kesana terlebih dulu, untuk memastikan keadaannya sebelum ada perubahan" Gumam Ariel.