
Ariel mengemasi semua pakaiannya, hari ini dia akan pergi dari sini dan akan mencari tempat yang baru lagi untuk tinggal. Dia memilih pergi lebih cepat dari yang sebenarnya sudah dia siapkan. Salah satu penyebabnya tentu saja keberadaan Elea dan Danist disini dan untuk menghindari perbuatan buruk yang bisa dia lakukan lagi. Lebih baik dia segera pergi dari tempat ini. Tetapi sebelum pergi, Ariel sudah memiliki sesuatu yang akan dia berikan untuk Gienka.
Sebelum ke Airport, Ariel akan menemui Aditya di rumahnya. Walaupun sebelumnya dia berniat untuk tetap menghindari orang-orang yang ada di dekatnya, tetapi untuk kali ini dia akan sedikit mengabaikannya. Bagaimanapun dia tetap harus menemui Aditya dan perlu berbicara dengan sahabatnya itu.
Cahya sedang mengajak kedua bayinya bermain di lantai kamar, sementara Aditya yang baru saja kembali dari kantor disibukkan dengan menatap layar laptopnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di luar. Cahya menyuruh Aditya menghentikan aktifitasnya dan membuka pintu, karena dia tidak bisa meninggalkan kedua bayinya. Cahya mengatakan mungkin yang datang adalah Elea.
Aditya beranjak dan berjalan membuka pintu, dan di buat terkejut dengan kedatangan Ariel yang tersenyum tepat dihadapannya. "Iel, kau???? Astaga kau kemana saja?" Gumam Aditya seraya memeluk Ariel dengan erat.
Aditya lalu menyuruh Ariel masuk dan mulai menghujaninya dengan berbagai pertanyaan tentang kemana sahabatnya itu selama ini. Tetapi Ariel tidak menjawab dan hanya tersenyum saja.
"Oke baiklah jika aku terlalu banyak bertanya kepadamu, kau mau minum apa? Teh, kopi atau jus?"
"Tidak perlu Dit, aku hanya akan sebentar saja"
"Oh ayolah, kenapa hanya sebentar, sudah lama kita tidak bertemu!"
Karena penasaran dengan siapa yang datang, Cahya menaruh kedua bayinya di stroller dan membawa mereka ke ruang tamu. Karena jika Elea yang datang pasti sudah memanggilnya dan menyusulnya ke kamar, tetapi ini tidak.
Ariel. Cahya dibuat terkejut dengan kehadiran Ariel di rumahnya. Aditya pasti yang sudah diam-diam melakukan pencarian Ariel tanpa memberitahunya. Suaminya itu memang suka sekali melakukan hal seperti ini padahal dia kemarin sudah melarangnya.
"Ca, bagaimana kabarmu???" Sapa Ariel.
"Aku baik, bagaimana kau bisa ada disini Iel? Apa kau sedang liburan?"
"Ya anggap saja seperti itu" Jawab Ariel.
"Kau tahu darimana kalau aku dan Aditya ada disini??" Tanya Cahya dengan nada sedikit ketus, membuat Aditya yang mendengarnya menjadi salah tingkah dan merasa tidak enak pada Ariel.
"Oh itu, aku tidak sengaja melihat kalian beberapa waktu yang lalu, jadi aku datang kesini untuk bertemu kalian dan sudah ku duga kalian masih akan tinggal disini" Tutur Ariel sambil tersenyum
Agar tidak semakin menekan Ariel, Aditya akhirnya menyuruh Cahya untuk membuatkan minum saja. Aditya sudah membiarkan Ariel untuk tidak menjawab pertanyaannya tetapi Cahya punya caranya sendiri yang mau tidak mau akhirnya membuat Ariel buka suara. Tetapi Aditya tidak mau memperpanjang permasalahan ini dan mengajak Ariel mengobrolkan hal lain. Aditya menanyakan tentang pembangunan Villanya apakah sudah berjalan atau belum dan Ariel menyampaikan bahwa itu sudah berjalan selama 1 bulan dan akan segera selesai, walaupun dia pergi tetapi permasalahan pekerjaan dan semua proyek yang ditanganinya tetap berjalan sebagaimana mestinya sesuai waktu yang sudah ditentukan.
Cahya kembali ke ruang tamu membawa nampan berisi kopi untuk Aditya dan Ariel. Aditya mempersilahkan Ariel untuk meminumnya. Aditya merasa aneh melihat Ariel sekarang, seperti ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu. Ariel sekarang tidak banyak bicara dan seperti tidak ingin membahas banyak hal. Menjawab pun sekenanya.
"Oh iya, sebenarnya aku datang kesini ingin menitipkan sesuatu kepada kalian berdua" Ucap Ariel lalu memberikan paper bag besar kepada Cahya.
"Aku juga tahu bahwa Elea dan Gienka sekarang ada disini, aku ingin kau memberikan ini pada Gienka Ca, katakan ini dariku tetapi aku belum bisa menemui putriku sekarang walaupun aku sangat merindukannya, aku akan datang menemuinya nanti, sekarang aku harus segera ke airport untuk penerbanganku, kurasa sudah cukup aku tinggal disini, aku sudah menghabiskan lebih dari 2 minggu disini, oke aku harus pergi, senang sekali bertemu dengan kalian, sampaikan salamku pada Elea dan Suaminya" Ariel berdiri dan memeluk Aditya serta menyalami Cahya.
Aditya dan Cahya keluar untuk mengantar Ariel, dan lelaki itu masuk ke dalam taksi. Perlahan taksi itu meninggalkan rumah Aditya.
Sampai kemudian tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari kejauhan yang cukup keras. Cahya menemukan Elea sedang mendorong stroller, dan membungkuk lalu menggendong Gienka. Sudah jelas itu adalah tangisan dari Gienka, bayi itu lagi-lagi menangis dengan begitu keras. Cahya bergegas berlari menghampiri Elea yang mencoba menenangkan putrinya.
"Kenapa Gienka menangis El???" Tanya Cahya panik
"Aku tidak tahu Ca, tiba-tiba saja dia menangis seperti beberapa hari yang lalu"
"Ayo ayo.kita bawa dia ke rumah" Ucap Cahya lalu membawa stroller, sedangkan Elea masih mencoba menenangkan bayi itu.
"Sssttttt.... Anak mama jangan menangis lagi...." Gumam Elea. "Ca, tadi ada taksi keluar dari halaman rumahmu, Aditya sedang ada tamu ya tadi??"
"Ah iya" Jawab Cahya singkat tetapi kemudian mulai berpikir sesuatu, Gienka selalu menangis kencang saat ada Ariel di sekitarnya, seperti kejadian pagi itu dimana Gienka juga menangis dengan keras secara tiba-tiba dan ternyata tanpa disadari olehnya juga yang lain, ada Ariel didekat mereka. Apakah sedekat itu kontak bathin antara ayah dan anak? Tetapi kenapa Ariel tadi justru menitipkan hadiah untuk Gienka dan mengatakan belum bisa menemui bayi itu, tapi kenapa seperti itu. Berbagai pertanyaan pun timbul di benak Cahya tetapi kemudian sampailah dia dirumah dan bergegas mengajak Elea untuk masuk ke dalam.
Gienka terus menangis dan tidak mau diam, Cahya menyuruh Elea membawa bayinya ke halaman belakang dan menenangkannya disana, karena siapa tahu Gienka bisa tenang. Cahya mendekati Aditya yang duduk dan sibuk mengajak Kyra dan Kyros mengobrol. Cahya menyenggol pinggang Aditya, dan suaminya itu menengok ke arahnya sambil mengangkat alis.
"Apa kau menyadari bahwa Gienka sudah kedua kalinya seperti ini??? Dan itu terjadi saat ada Ariel di dekatnya seperti katamu kemarin bahwa kau melihat pria seperti Ariel yang sedang berjogging di dekat danau?? Tapi kenapa jika memang dia mengetahui kalau Elea ada disini dia tidak memilih menemui Gienka dan malah menitipkan hadiahnya pada kita?? Dia egois sekali!"
"Kau ini, pasti semua ada alasannya sayang, kau jangan selalu berpikir buruk tentang Ariel, kau melihatnya sendiri kan kalau ada yang sangat berbeda dengannya sekarang, sudahlah kita hargai saja, mungkin sometimes Ariel akan menjelaskan semuanya pada kita, jika memang ikatan bathin anak dan Ayah itu begitu kuatnya, berikan ini pada Elea dan katakan bahwa ini dari Ariel, mungkin Gienka akan diam dan menghentikan tangisannya"
Cahya mengambil hadiah Ariel dari tangan Aditya lalu membawanya ke halaman belakang dan memberikannya pada Elea.
"Ini apa Ca???" Tanya Elea.
"Itu untuk Gienka dari Ayahnya, Ariel tadi datang dan menitipkan itu padaku dan Aditya agar kami bisa memberikannya pada Gienka"
"Apa???? Ariel datang kesini???"
"Iya, karena buru-buru dia menitipkannya saja karena dia harus segera ke airport, dan menitip salam untukmu dan Danist"
Elea mengernyit lalu duduk di kursi sambil terus menenangkan Gienka yang masih menangis kemudian meminta Cahya membuka isi hadiah dari Ariel. Ada sebuah boneka sapi, baju, sepatu serta sebuah memo. Cahya menaruh boneka sapi itu di dada Gienka, seketika suara tangis bayi itu langsung berhenti, membuat Elea dan Cahya hanya saling berpandangan dan terkejut tidak percaya.