SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 395



Danist kembali tersenyum. "Apa kau baru mengetahui ini setelah sekian lama??? Tetapi aku hanya ingin bilang padamu bahwa itulah yang terjadi dulu, untuk pertama kalinya aku melihat Mama hampir seperti orang gila karena keadaanku saat itu, aku tidak melakukan apapun tetapi aku dipaksa mengaku, ya meskipun hanya beberapa hari tetapi itulah awal mula aku ingin mengakhiri semuanya, melihat kesedihan Mama membuatku hancur dan aku memutuskan untuk tidak lagi berurusan denganmu ataupun keluargamu, aku mulai menyibukkan diriku dengan bekerja, dan perlahan melupakanmu, sangat sulit hingga aku tidak pernah mau menjalin hubungan dengan perempuan lain tetapi akhirnya aku benar-benar bisa melupakanmu"


"Apa itu terjadi setelah kau bertemu Elea??? Kenapa bisa kau menikahi perempuan yang sudah memiliki anak?? Apa kau tidak memiliki pilihan perempuan lain???" Tanya Brianna dengan suara agak keras dan nadanya terdengar kesal.


"Elea datang disaat yang tepat, disaat aku memang benar-benar ingin memulai untuk menjalin hubungan, tetapi itu terjadi jauh sebelum aku bertemu Elea. Aku tidak pernah mau melihat masalalu seseorang lalu menghakiminya, kau tentu tahu bahwa itu bukanlah sifatku. Ketulusan, kebaikan, kesabaran serta kesulitan yang dialami Elea membuatku semakin mencintainya, dia selama ini yang aku inginkan, istri yang sangat sempurna, kehadiran Gienka menjadi penambah kebahagiaanku, bayi itu sudah merebut hatiku sejak masih ada di dalam kandungan Elea, dan ketika pertama kali aku menggendongnya melantunkan adzan ditelinganya, aku sudah berjanji pada Tuhan bahwa aku akan menjaganya dan Ibunya dengan baik!"


Perlahan Brianna mendekat ke Danist, berdiri di sebelahnya. "Jadi kau memintaku kesini hanya untuk menceritakan kebahagiaanmu selama ini??? Semantara aku terus menderita menunggumu??"


Danist menoleh memandang Brianna sambil tersenyum dan mengatakan bahwa penderitaan yang dirasakan perempuan itu selama ini adalah bukan kesalahan dari dirinya melainkan dari Brianna sendiri. Karena jika memang Brianna mencintainya maka seharusnya tidak pergi begitu saja karena setiap permasalahan bisa di selesaikan. Padahal saat itu Danist juga sudah mengatakan agar Brianna percaya padanya tentang hubungan mereja karena dia akan berusaha untuk membahagiakan Brianna dan akan berusaha keras mengambil hati orangtua Brianna, tetapi sayangnya Brianna sendirilah yang salah mengambil keputusan.


"Aku memintamu datang karena ada urusan yang harus kita selesaikan saat ini juga, sekarang aku sudah bahagia dengan keluargaku Ann, aku memiliki istri dan anak-anak yang sangat aku cintai, dengan itu aku harap kau tidak lagi menungguku serta tidak melakukan hal-hal seperti yang kau lakukan di rumah sakit kemarin, aku sudah bahagia dan kau juga harus segera mencari kebahagiaanmu juga"


Detik itu juga Brianna mengernyit dan dada nya langsung terasa sakit. Danist membalikkan keadaan dan menyalahkan dirinya, inilah yang selama ini ditakutkannya. Tetapi selama kepergiannya selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah sekalipun tidak merindukan Danist, lelaki itu selalu ada di hatinya. Sebenarnya sesekali dia mencoba untuk mencari sosial media miliki Danist tetapi yang ditemukannya hanyalah akun lama yang sudah tidak digunakan, sedangkan entah lelaki itu memiliki yang baru atau tidak, dia tidak mengetahuinya. Brianna memang memilih untuk menghilang dari semua orang yang dikenalnya, agar keberadaannya tidak diketahui oleh mereka sehingga dia memang sangat minim informasi tentang Danist.


"Aku selalu mencintaimu Dan...!!! Kenapa harus seperti inj? Aku tidak bisa mencintai lelaki manapun selain dirimu??" Brianna kembali terisak, dan kedua matanya mengalir airmata. Tangannya menggenggam jemari Danist dan duduk berjingkok menatap lelaki itu. "Aku minta maaf jika aku harus pergi, saat itu aku marah sekali padamu. Apa tidak ada kesempatan untukku lagi bisa kembali kepadamu???"


Danist kembali menggelengkan kepalanya dan menolak Brianna. Bagaimana bisa mereka bisa kembali sementara saat ini dia sudah memiliki Elea dan anak-anaknya. Bagi Danist, Brianna hanyalah masalalu yang sudah lama dilupakannya. Kesakitan yang dirasakan dulu ketika Brianna meninggalkannya juga sangatlah membuatnya menderita. Dengan usaha dan perjuangan keras Danist bisa melupakannya, itupun butuh waktu lama. Dan saat ini dia sudah mendapatkan kebahagiaan yang sudah dia inginkan sejak lama, memiliki Elea adalah hal paling luar biasa. Bahkan untuk mendapatkan cinta Elea juga tidaklah mudah, butuh banyak pengorbanan dan airmata, lalu bagaimana bisa dia melupakan semua itu.


Dengan sikap bijaksana nya, Danist pun mencoba memberi pengertian kepada Brianna bahwa kisah mereka sudah berakhir sejak lama, dan sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatinya untuk Brianna, sama sekali tidak ada. Yang saat ini ada hanyalah cinta untuk Elea, Gienka, dan Friddie, ketiganya adalah kehiduan serta nafas Danist.


Brianna terisak dan isakannya begitu memilukan membuat Danist menyeka airmata Brianna. "Everything will be okay Ann, aku akan mendoakan kebahagiaan untukmu, maafkan aku jika aku harus mengakhiri ini...!"


"Tapi Dan....!" Ucap Brianna terbata.


Danist menggelengkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya pedih. Tidak ada yang bisa dilakukan Danist selain ini, karena memang semuanya sudah memiliki jalan yang berbeda. Dipaksakan bagaimanapun itu tetap tidak akan bisa terjadi. Andai dulu Brianna bisa bersikap lebih bijak dan dewasa tentu hal seperti ini tidak akan terjadi, dan kalaupun cinta mereka dipaksakan tetapi orangtua Brianna tetap tidak memberikan restunya, setidaknya itu mungkin juga tidak akan menyakiti keduanya sampai sejauh ini terutama Brianna.


"Ann, sudah waktunya aku minum obat, aku harus pergi sekarang, aku berharap suatu hari kau bisa benar-benar melepaskan dan mengikhlaskanku, lalu mengejar kebahagiaanmu, aku sangat berharap kau bisa bahagia juga, maaf ya Ann... Aku melakukan ini karena ini jalan yang harus kita berdua lalui, tidak ada yang salah dalam hal ini, Tmini adalah takdir Tuhan yang harus kita terima" Gumam Danist, kemudian dia melirik ke atas, dimana disana ada Elea yang sedang berdiri sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi di bawah dimana ada Danist dan Brianna.


Danist memberi kode agar Elea turun dan membawanya untuk kembali pulang karena urusannya dengan Brianna sudah selesai. Danist berharap semua ini menjadi awal yang baik untuk Brianna agar bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.


Elea turun dan menghampiri Danist serta Brianna, kemudian mengucapkan permisi kepada Brianna dan membawa Danist pergi dari rumah Ariel.


Brianna masih terisak dengan pedih, tangisnya pecah karena penantiannya sudah berakhir dengan menyedihkan. Danist sudah tidak ingin kembali kepadanya. Brianna berteriak lalu terisak lagi. Tetapi tiba-tiba sebuah tangan mengulurkan tisu untuknya dari belakang. Brianna menoleh dan menemukan Ariel dibelakangnya yang sambil tersenyum. Ariel mengangguk dan Brianna mengambil tisu itu.


"Teriaklah sekeras-kerasnya jika itu bisa membuatmu lega! Aku dulu juga pernah melakukannya sata aku kehilangan orang yang sangat aku cintai...!" Gumam Ariel.