
Erica berjalan mencari kamar Aditya dn akhirnya menemukannya, lalu masuk dan melihat kamar itu, ternyata memang tidak ada yang berubah kemudian dia mulai berkeliling kamar itu sambil mengingat dulu dia dan Aditya pernah bercinta dikamar ini, itu adalah hal yang luar biasa karena pertama kalinya Aditya mengajaknnya datang kesini tetapi itu juga menjadi yang terakhir karena orangtua Aditya yang terlalu mengurusi kehidupan anaknya. Erica masuk ke dalam ruang ganti di kamar itu, ruangan itu gelap karena lampunya mati.
Aditya sudah selesai mandi dan merasa lebih segar kemudian segera masuk ke ruang ganti, saat menggeser pintu ruangan itu, dia melihat ada perempuan berdiri disana dan Aditya langsung memeluknya mengira itu adalah Cahya.
“ Kau benar-benar pandai dalam hal menggodaku sayang? Apakah sekarang kau sudah siap lagi untukku?” Bisik Aditya ditelinga perempuan itu, tetapi tiba-tiba seseorang menyalakan lampu ruangan itu.
Seketika Aditya menyadari bahwa yang dipeluknya bukanlah Cahya melainkan Erica, dengan cepat dia melepaskan pelukannya dan mendorong Erica hingga hampir tersungkur, lalu Aditya membalikkan badannya dan menemukan Cahya sedang berdiri di tengah pintu dengan mulut ternganga melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Ternyata saat Cahya sedang menyuci piring dia teringat bahwa belum menyiapkan pakaian untuk Aditya dan memutuskan untuk ke kamarnya tetapi justru dia melihat pemandangan yang tidak terduga, suaminya sedang memeluk perempuan lain yang tak lain adalah mantan kekasihnya didalam ruangan yang gelap.
Mata Cahya berkaca menahan airmata nya masih tidak percaya dengan yang dilihatnya, beraninya Aditya melakukan hal sehina itu dihadapannya. Cahya langsung pergi dari kamar meninggalkan Aditya dan Erica.
“ Kau!!! Kenapa kau bisa ada disini, apa yang kau lakukan??” Teriak Aditya tetapi teriakan itu justru membuat Erica tertawa.
“ Ternyata kau masih merindukanku sayang, baiklah sepertinya kita ketahuan, aku akan pergi sekarang tetapi lain kali kita akan cari waktu yang tepat untuk melepas rindu, see you baby” Ucap Erica lalu berlalu dan pergi.
Aditya bergegas berganti pakaian dan langsung mencari Cahya, takut kalau istrinya itu akan pergi meninggalkan rumah seperti kemarin, akhirnya dia melihat Cahya sedang duduk ditepi kolam renang sambil menangis.
“ Shiitt lagi-lagi aku membuatnya menangis” ungkap Aditya kesal dalam hati, kemudian mendekatai istrinya itu, niat hati ingin merangkulnya agar Cahya merasa tenang justru menolaknya.
“ Please, don’t touch me Aditya, katakan apa yang ingin kau katakan lalu pergilah dan jangan ganggu aku”
“ Ca, maaf aku tadi benar-benar tidak tau kalau dia masuk ke dalam kamar kita, kau tau ruang ganti gelap aku pikir itu dirimu, sungguh aku berani sumpah Ca?”
“ Disini banyak sekali kamar dan ruangan lainnya, kenapa dia bisa menemukan dan masuk ke kamar kita hanya dalam hitungan menit, atau kau memang menyuruhnya untuk masuk?? Oh dan ya dia sepertinya pernah datang kemari dulu mengingat ucapannya tadi saat di ruang makan bahwa dirumah ini tidak banyak yang berubah, aku mengerti, berarti kau pernah mengajaknya ke kamarmu sehingga dia begitu mudahnya menemukannya, benarkan ucapanku??”. Pertanyaan Cahya itu hanya mendapatkan jawaban sebuah anggukan kepala Aditya.
“ wow, lalu apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki didalam kamar dan mereka saling mencintai? Aku tak perlu jawaban darimu, pantaslah dia bisa menemukan kamarmu dengan mudah, dan kau juga membuatkan rumah untuk kalian tinggali bersama, aku tidak peduli dengan hubungan kalian, aku juga tidak peduli seberapa sering kalian menghabiskan waktu dikamar itu padahal kalian tidak dalam ikatan pernikahan, itu hanya membuatku muak membayangkannya, sebegitu bebasnya kehidupan kalian, mulai sekarang aku tidak akan mau tidur atau masuk dikamar itu lagi, itu hanya membuatku sakit mengingat kejadian hari ini dan masalalumu, aku akan pindah” sambil terisak Cahya berdiri lalu meninggalkan Aditya. Dia tidak akan lagi menginjakkan kakinya dikamar itu.
****
Bel rumah berbunyi, Cahya yang sedang duduk di ruang tengah pun segera beranjak untuk membuka pintu, sedikit waspada takut Erica akan datang lagi, tetapi dugaannya salah ternyata itu adalah mbak Tina sang asisten rumah tangga yang baru saja kembali dari kampung karena anaknya sakit.
“ Eh mbak Tina, udah balik ya? Kok ga ngabarin? katanya akan balik bebarapa hari lagi?” Tanya Cahya.
“ Sudah non, dari pagi saya menelepon tuan muda, tapi ga ada jawaban mungkin tuan sedang sibuk, putri saya sudah membaik kemarin memang sempat batuk-batuk tapi semalam sudah lebih baik jadi saya memutuskan untuk kembali"
Cahya tersenyum dan menyuruh ART nya itu untuk masuk, dan Cahya teringat bahwa dia mulai hari ini akan tidur di kamar ujung yang kosong, tetapi semua pakaiannya masih ada dikamar Aditya sedangkan dia tidak mau lagi masuk ke kamar itu.
“ Mbak Tina, maaf boleh ga saya minta tolong mba, tolong nanti sore mbak Tina ambil semua baju saya dikamar ya tolong pindahin ke kamar yang ada di ujung, termasuk baju yang kotor juga” Ujar Cahya dan terlihat wajah ARTnya sedikit merasa bingung, menyadari itu Cahya langsung mengalihkan perhatiannya.
“ Saya pengen suasana baru soalnya, kalau dikamar ujung kan pemandangannya langsung ke halaman belakang”
“ Baik non, saya nanti akan kemas baju non dan juga tuan muda juga”
“ Ga usah mbak, baju saya ajah, baju suami saya banyak sekali biarkan tetap disana, karena disana kan ada ruang gantinya juga, saya sudah bilang kok kalo saya pengen pindah kamar, dia sudah tau”
“ Oh gitu, baik non, ya sudah saya permisi dulu, saya mau siapkan makan siang buat non dan tuan muda”
Suasana makan siang berubah, hening dan tidak ada pembicaraan apapun antara Cahya dan Aditya. Aditya tahu bahwa istrinya sedang sangat marah padanya, dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Sebenarnya yang ditakutkan Aditya saat ini adalah keputusan Cahya yang tidak mau masuk ke dalam kamarnya, bagaimana jika dia benar-benar melakukannya, harusnya hubungannya dengan Cahya saat ini menjadi baik karena sudah tidak ada penghalang lagi diantara mereka, tetapi justru kehadiran Erica membuat semuanya menjadi buruk dan lebih buruk dari sebelumnya.
Sore tiba dan mbak Tina berjalan menuju kamar Aditya untuk mengambil baju Cahya dan membawanya ke kamar ujung yang ditempati oleh Cahya saat ini. Suara ketukan pintu menyadarkan Aditya dari lamunannya.
“ Maaf tuan muda, non Cahya menyuruh saya untuk mengemasi pakaiannya dan membawanya ke kamar yang diujung, tadi non juga bilang kalau sudah diijinkan oleh tuan”
Aditya sangat frustasi karena Cahya benar-benar tidak mau kembali ke kamar ini, semarah itu Cahya padanya. Dia sangat bingung apa yang harus dia lakukan untuk meluluhkan hati istrinya itu agar mau kembali dan memaafkannya.