
Hari ini Cahya mengajak Aditya untuk bertemu dengan Yongki untuk makan siang, karena lusa Yongki akan pergi ke luar kota lagi untuk bertugas. Selain itu Yongki juga akan memperkenalkan seseorang kepada mereka. Cahya mendatangi kantor Aditya untuk menjemputnya dan pergi bersama. Cahya diantar oleh salah seorang staff ke ruangan Aditya yang ternyata ruangan lama yang baru saja direnovasi beberapa waktu yang lalu.
Maysa mengetuk pintu ruangan Aditya, dan mempersilahkan Cahya untuk masuk. Saat pertama pintu terbuka diruangan suaminya, mata Cahya langsung disuguhkan oleh pemandangan sebuah frame yang cukup besar berisi foto keluarga besarnya saat pernikahannya dengan Aditya. Cahya masuk dan takjub dengan ruangan kerja Aditya yang baru saja direnovasi, ruangan itu bergaya skandinavian dengan tambahan elemen dari kayu yang terlihat sangat nyaman dan lebih hangat. Cahya memuji selera suaminya yang luar biasa bagus.
"Sekarang kau memajang fotoku, apa kau takut aku marah-marah lagi padamu?" Cahya menyindir Aditya, karena sekarang diaa melihat ada beberapa foto mereka berdua yang terpajang dibeberapa meja dan rak.
"Mulai lagi deh, sudah ayo kita pergi sekarang"
****
Cahya dan Aditya akhirnya sampai disebuah restoran yang sudah ditentukan oleh Yongki. Cahya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan perempuan yang sudah merebut hati kakaknya itu. Mereka berdua berjalan memasuki restoran itu, melihat sekeliling untuk mencari Yongki dan menemukannya sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Bergegas Cahya mengajak Aditya untuk menghampirinya.
Yongki melihat kedatangan mereka dan melambaikan tangannya saat itu juga perempuan yang ada dihadapannya membalikkan badannya. Seketika langkah Cahya terhenti dan Aditya juga langsung menatap kearah istrinya terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dimana Olivia yang duduk dihadapan Yongki juga tidak kalah terkejut.
"Oliv, itu dia adik kesayanganku dan suaminya yang sering aku ceritakan padamu" Ucap Yongki.
"Itu adikmu? Itukan Cahya dan Dede"
"Dede sahabat masa kecilmu itu?" Tanya Yongki tidak percaya.
"Iya, dia sahabat yang sering kuceritakan padamu, jadi Cahya itu adikmu, astaga dunia ternyata sesempit ini hahaha"
Disisi lain Aditya menggandeng Cahya untuk segera menghampiri mereka. Aditya sedikit menahan tawa membayangkan bagaimana perasaan istrinya saat ini, karena Cahya selama ini sangat membenci Olivia ternyata menemukan Olivia adalah kekasih kakaknya. Dan dia juga teringat saat Olivia menceritakan padanya bahwa dia sedang dekat dengan seorang lelaki yang berprofesi sebagai abdi negara ternyata adalah Yongki yang juga pernah membuatnya cemburu setengah mati karena dekat sekali dengan Cahya. "Tuhan, rencanamu sangatlah aneh" Gumam Aditya dalam hati.
Aditya dan Cahya duduk diantara Yongki dan Olivia dimeja yang melingkar. Olivia menyapa hangat Cahya dan mengulurkan tangannya menanyakan kabarnya. Sambil terbata Cahya menjawab pertanyaan Olivia tetapi tiba-tiba siku Yongki menyenggol pinggangnya sambil berbisik padanya. "Jangan bilang padaku kalau Olivia ini adalah perempuan yang membuatmu kesal beberapa hari terakhir kemarin karena memiliki kedekatan dengan suamimu" bisik Yongki pelan sedangkan Cahya menatap kakaknya itu dengan pandangan memelas menandakan permohonan maafnya karena tidak tahu jika perempuan yang selama ini dia benci adalah kekasih dari kakaknya.
"Astaga adikku, ternyata sekarang kita berempat impas"
"Hei kalian, apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa harus berbisik?" Ucap Olivia yang membuat Cahya dan Yongki menjadi sedikit terkejut.
****
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, saat ini usia kehamilan Cahya sudah memasuki bulan kelima dan perutnya semakin terlihat membesar. Kehidupan rumah tangganya dengan Aditya terlihat semakin harmonis dan bahagia. Ditambah lagi minggu lalu saat USG jenis kelamin dari bayi mereka adalah satu laki-laki dan satu perempuan, sebuah paket komplit yang menambah kebahagiaan dikeluarga mereka.
Setiap malam sebelum tidur, Aditya dengan rutin memijat kaki Cahya dan mengelus perutnya. Moment yang paling membahagiakan adalah saat pertama kali Cahya merasakan gerakan bayinya menendangi perutnya, Aditya yang ada disebelahnya juga merasakan dengan tangannya bagaimana bayi mereka menendang-nendang perut ibunya. Aditya sampai menitihkan airmatanya karena terharu sekaligus bahagia dan perasaanya campur aduk saat itu dan tidak berhenti mengucapkan terima kasih pada istrinya karena telah memberinya kebahagiaan yang luar biasa untuknya. Aditya juga sigap saat ditengah malam Cahya membangunkannya karena meminta sesuatu, bahkan dia pernah semalaman berkeliling mencari makanan yang diinginkan istrinya tetapi saat dia sampai dirumah membawa makanan itu, Cahya justru dengan enaknya tertidur dan tidak mau bangun padahal dia sudah bersusah payah mencarinya. Tetapi Aditya tidak mempermasalahkannya karena kebahagiaan isri dan calon buah hati mereka lebih utama.
****
Hari ini Aditya mengajak Cahya untuk liburan sekaligus dia mendapat tugas dari Papanya untuk mengurus pekerjaan di perkebunan Teh milik keluarganya yang sedang sedikit mengalami masalah. Jadi dia harus tinggal paling lama 2minggu untuk mengurusnya, Aditya memutuskan untuk mengajak Cahya sekaligus liburan berdua di Villa milik keluarganya. Sekarang mereka berdua dalam perjalanan kesana.
"Sayang, kita harus mampir berbelanja dulu untuk kebutuhan kita, kita cari supermarket dulu ya?" Tutur Cahya.
"Ide yang sangat bagus, kita akan membeli bahan makanan supaya kita tidak perlu ribet saat kelaparan"
Akhirnya sampailah mereka disebuah supermarket dan Aditya langsung mengambil troli belanjaan. Mereka berkeliling, Aditya bertugas mendorong troli sednagkan Cahya bertugas mengambil produk makanan sampai troli itu terisi hampir penuh dengan berbagai bahan makanan. Aditya memandangi Cahya saat istrinya itu sedang mengambil barang, merasa sangat bahagia, badannya istrinya lebih berisi selama kehamilannya menambah kecantikannya.
"Hei kenapa malah melamun, kamu ambil daging dan ikan disana ya, terserah ambil aja apa yang kamu mau, aku akan mengambil sayuran dan buah disebelah situ biar kita lebih cepat, karena aku mulai merasa sedikit lelah"
"Baiklah, ambil keranjang itu untuk tempat sayurannya, jangan ambil buah dulu tunggu aku kembali"
Aditya meninggalkan Cahya untuk mengambil daging, sedangkan Cahya berjalan kearah tempat sayuran berada. Cahya mengambil aneka sayuran, kemudian dia melihat kearah kanan dimana ada aneka jamur disana, ia pun berjalan kesana. Tetapi tiba-tiba dia terdorong oleh seseorang yang sedang mengejar anaknya yang berlari, Cahya langsung terhuyung dan menabrak punggung seseorang. "Sorry sorry" Ucap Cahya dan menarik napas panjang karena merasa sangat lega dia tidak terjatuh dan melangkah mundur beberapa langkah.
Orang yang dia tabrak itu membalikkan badannya dan melihat kearah Cahya yang masih tertunduk. Saat Cahya mengangkat kepalanya di menatap seorang laki-laki yang sepertinya dia kenal. Laki-laki itu memiliki beberapa sayatan bekas luka diwajahnya, tetapi mata dan bibirnya Cahya tidak bisa memungkirinya bahwa itu adalah Theo. Refleks Cahya menjatuhkan keranjang belanjaannya dan langsung memundurkan langkahnya menjauh serta memegang perutnya seolah melindungi bayinya. Ingatannya langsung membawanya ke kejadian beberapa bulan yang lalu dimana karena Theo dia harus kehilangan bayinya.
"Cahya, kau? Apa kabarmu, apa kau baik-baik saja?" Theo berjalan mendekati Cahya dan meraih pergelangan tangan Cahya.