
Aditya sudah mengganti pakaian Kyros dan Kyra, hari ini mereka akan berangkat ke puncak. Selain untuk bersantai menikmati libur weekend, Aditya juga melakukan kunjungan rutin ke kantor perkebunan, terlebih lagi sudah 3 minggu lamanya kantor itu ditinggal oleh Danist yang dia tugaskan di Swiss dan sementara untuk mengurus disana dia mewakilkan pada yang lainnya. Cahya keluar dari ruang gantinya dan juga sudah rapi tinggal memakai make up.
Setelah beres Cahya menghampiri kedua bayinya yang sudah terlihat sangat rapi. Tadi setelah memandikan mereka, Cahya memberi tugas Aditya agar memakaian mereka baju sementara dia akan pergi untuk mandi dan bersiap. Kini kedua bayi menggemaskan itu di dudukkan di sofa, Cahya merasa sangat senang, Kyra dan Kyros sudah tumbuh begitu cepat, padahal dia merasa bahwa seperti baru kemarin dia melahirkan mereka, tetapi sekarang sudah sebesar ini.
"Ah betapa manisnya kedua anak Mama ini, sepertinya Papa kalian lebih cerdas daripada Mama saat memilih baju" Cahya menyenggol pinggang Aditya menggodanya. "Oke sekarang kita berangkat untuk bertemu dengan Gienka!!!" Ucap Cahya.
Cahya mengangkat Kyros sementara Aditya mengangkat Kyra dan membawa keduanya untuk turun, sedangkan barang mereka sudah berada di bagasi mobil. Aditya mengemudikan mobilnya sementara Cahya duduk dibelakang seraya menjaga kedua bayinya di infant car seat mereka.
****
Elea menutup panggilan videonya dengan Danist, iya setiap hari Danist selalu melakukan itu, saat siang hari dan tengah malam. Dimana saat siang disini Danist baru saja bangun tidur disana, begitu juga saat tengah malam disini, Danist baru pulang dari kantornya dan akan mengobrol dengan Elea semalam penuh sampai Elea tertidur. Sedangkan saat menghubunginya di siang hari, Danist lebih berfokus pada Gienka. Karena hari ini adalah hari libur, Danist berbicara cukup lama sejak pagi, karena mengantuk dia meminta ijin Elea agar bisa tidur lebih dulu, dan nanti akan menghubunginya lagi.
Setiap hari Elea selalu menantikan moment dimana Danist akan menghubunginya. Entah kenapa saat Danist sekarang berada jauh darinya, Elea selalu memikirkannya dan selalu menghitung hari kapan lelaki itu akan pulang. Masih lama, Danist pergi belum ada satu bulan, dia harus sedikit bersabar. Semua terasa aneh selama Danist tidak ada disini, Elea terbiasa melihatnya dan lelaki itu juga jadi sahabat yang baik untukknya, selalu sigap membantunya saat kesulitan mengurus Gienka.
Elea merasa sangat merindukan Danist semenjak lelaki itu pergi. Sebelumnya tentu saja dia tidak merasakan hal seperti ini, dan terkesan terlalu biasa saja saat bersama Danist. Walaupun terikat dalam pernikahan tetapi hubungan mereka masih seperti sebelumnya layaknya seorang kakak dan adik. Elea terkadang bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah ada yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini, karena setiap hari yang dilakukannya hanya menunggu waktu saat Danist menghubunginya. Merasa sangat senang saat bisa melihat wajah lelaki itu, dan terkesan berlebihan karena dia selalu memastikan agar dirinya terlihat tidak berantakan saat akan melakukan panggilan video dengan lelaki itu. Bahkan dia juga rela tidur larut setiap malam hanya agar bisa mengobrol dengan Danist, dan meminta lelaki itu agar jangan mematikan panggilannya sampai dia tertidur. Elea merasa ini sangat berlebihan tetapi dia selalu ingin melakukannya setiap hari.
Ariel??? Apa kabar lelaki itu??
Ariel benar-benar tidak pernah lagi datang untuk menemui Gienka, setelah kejadian itu Ariel seolah menghilang begitu saja. Ini sudah hampir 2 bulan dan tidak ada lagi kabar tentangnya, bahkan Ayahnya juga masih sering datang menengok Gienka dan tentunya selalu menanyakan apakah Ariel datang kesini, ya karena memang Ariel tidak pernah lagi terlihat.
Elea merasa cukup lega karena dia sempat ketakutan jika Ariel datang saat tidak ada Danist disini. Memang apa yang Ariel lakukan kemarin sangat tidak mencerminkan seseorang yang baik tetapi Elea sadar seburuk apapun lelaki itu tetaplah Ayah dari anaknya. Dia pun tidak boleh membencinya, jika ditanya masih ada kemarahan atau kekecewaan tentu saja itu masih dirasakannya tetapi bukan berarti dia menolak memaafkan jika memang Ariel mau meminta maaf padanya dan juga Danist.
*****
Aditya menghentikan mobilnya di depan rumah Elea, untuk mengantar Cahya kesana karena dia akan langsung ke perkebunan. Walaupun hari libur, tetapi karyawan perkebunan masih tetap beraktifitas setiap hari. Aditya turun dari mobilnya dan membantu Cahya membawa kedua bayinya, Aditya juga mengambil tas berisi keperluan kedua bayinya di bagasi. Cahya dan Aditya langsung disambut oleh Chika, dengan sigap Chika mengambil Kyros yang digendong Aditya.
"Oke Papa pergi dulu" Aditya mencium kedua bayinya lalu masuk ke mobil dan pergi meninggalkan rumah Elea.
Chika mengajak Cahya dan kedua keponakannya ke halaman belakang, karena Elea dan Gienka ada disana. Elea duduk di gazebo sambil menikmati pemandangan, sementara Gienka baru saja tertidur. Menyadari kedatangan Cahya, Elea berdiri dan langsung memeluknya dan mendaratkan ciuman manis di pipi Kyros dan Kyra.
"Kau melamun saja, lagi mikir apaan El??"
"Liatin pemandangan doang, duduk yuk, Gienka baru saja tidur setelah sejak pagi sibuk berbicara dengan Danist" Jawab Elea.
Chika memberikan Kyros pada Elea karena dia akan membuat minuman untuk kakaknya. Cahya dan Elea duduk di gazebo mengelilingi Gienka yang sedang terlelap.
"Danist sering menghubungi kalian??"
"Setiap hari Ca, setiap dia bangun tidur dia selalu menghubungiku untuk mengajak Gienka berbicara, sepulang kerja dia menghubungi lagi" Jawab Elea dengan raut wajah sumringah.
Cahya mengernyit melihat ekspresi Elea sebahagia itu, pasti ada sesuatu dengan sahabatnya itu. "Sepulang kerja??? Hmmm tapi kalau dia menghubungi tentu saja Gienka sudah tidur, mengingat disini pasti sudah larut malam, apa dia masih mengajak Gienka berbicara???"
"Ya tidak mengajaknya berbicara, tapi melihat Gienka sedang tidur" Jawab Elea sedikit salah tingkah.
"Ih apaan sih Ca, kau ini"
"Lihatlah pipimu hahaha memerah, sejak Danist pergi kau sering melamun, Chika sering menceritakannya padaku, aku juga melihatmu melamu saat dirumahku dan tadi baru saja kau melakukannya lagi, apa yang terjadi katakan padaku, kau pasti sangat merindukannya kan?? Jujur saja"
"Itu hanya perasaan kalian saja!" Bantah Elea.
"Wajahmu sangat berbeda El saat membicarakan Danist, ayolah jujur saja padaku, kau sangat merindukannya kan???"
Ele dengan malu menganggukkan kepalanya, membuat Cahya tersenyum melihatnya. Elea memandang Cahya sambil tersenyum mengisyaratkan sesuatu. "Aku tidak tahu Ca, setelah dia jauh aku selalu memikirkannya, sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini dan aku ingin hari cepat berlalu agar dia bisa menghubungiku, setiap malam aku berbicara banyak dengannya dan berakhir saat aku tertidur, menurutmu apa yang sedang terjadi denganku?"
Cahya meraih jemari Elea dan menggenggamnya seraya tersenyum pada sahabatnya itu. Akhirnya Elea sekarang sudah mulai merasa bahwa dia membutuhkan Danist ada disampingnya. "Kau ingin tahu apa yang terjadi denganmu?"
Elea menganggukkan kepalanya.
"Kau sekarang menyadari bahwa kau membutuhkannya ada disampingmu saat dia jauh, apa kau mencintainya??" Tanya Cahya lagi, tapi kali ini Elea menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ca, aku belum mencintainya, kurasa aku hanya ingin dia didekatku saja karena memang selama ini aku terbiasa dengannya"
Cahya mengernyit karena Elea masih tidak mengakuinya padahal sudah jelas bahwa sahabatnya itu sebenarnya sudah memiliki perasaan pada Danist. Semua sangat jelas terlihat tapi Elea ternyata masih tidak mau jujur pada dirinya sendiri. Bagi Cahya ini sudah cukup, Elea harus mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Danist selama ini.
"El, kenapa kau masih saja tidak menyadarinya, kenapa kau tidak melihat cinta yang ada di diri Danist untukmu? Lelaki malang itu sangat mencintaimu El, sangat mencintaimu sejak lama, berhentilah menganggapnya hanya sebagai seorang sahabat, dia sangat mencintaimu!!!"
"Apa!!!? Dia mencintaiku??" Elea tertawa mendengar ucapan Cahya. "Kau ini Ca, mengada-ada saja bagaimana kau tahu kalau dia mencintaiku?"
Cahya mendengus kesal melihat ekspresi Elea yang masih belum menyadari juga. "El, dia pernah mengatakan itu padaku, tidak hanya sekali beberapa kali dia mengatakannya, kau bisa tanya pada Chika, Danist juga pernah mengatakan itu padanya, Danist tidak pernah berani mengatakannya padamu karena dia takut kehilanganmu, jika kau menolak cintanya dia takut kau akan menjauhinya itu sebabnya dia memilih menyimpan semuanya sendirian sampai detik ini, kenapa kau tidak pernah menyadarinya, astaga!!!" Cahya memijit pelipisnya dengan kesal.
"El, dia benar-benar mencintaimu, semua yang dilakukannya selama ini karena dia sangat mencintaimu, saat aku mendengar kau bercerita tentang ulah Ariel yang memberimu obat, dan bagaimana Danist memperlakukanmu malam itu, aku sangat yakin dia adalah laki-laki yang sangat baik, jika dia lelaki brengseek seperti Ariel tentu dia akan melakukannya padamu tapi dia menepiskan semuanya untuk menghormatimu karena dia belum mendapat ijin untuk menyentuhmu, itu hanya sebagian kecil kebaikannya sisanya kau bisa ingat sendiri, sekali lagi ku katakan bahwa Danist sangat mencintaimu, aku harap kau menyadarinya sebelum semuanya terlambat dan kau akan menyesalinya sendiri nanti" Tutur Cahya lagi.
Elea hanya terdiam mendengar apa yang Cahya katakan barusan. Danist selama ini mencintainya, kenapa dia tidak menyadarinya. Kenapa juga Danist tidak mengatakan semuanya kepadanya, bagaimana bisa dia memendamnya sendirian selama ini, hanya karena takut ditolak. Cahya benar, Danist telah melakukan banyak hal dihidupnya, banyak membantunya, bahkan juga sangat menyayangi Gienka melebihi kasih sayang yang Ariel berikan. Semua kebaikan Danist selama ini adalah karena lelaki itu sangat mencintainya.
Elea merasa sangat bersalah, dia terlalu larut dalam traumanya hingga tidak menyadari ada sesorang yang begitu dekat dengannya yang diam-diam memiliki cinta untuknya.
Elea mengangkat kepalanya dan memandang Cahya dengan airmata yang menetes di pipi nya.
"Ca, apa benar dia sudah lama mencintaiku???"
Cahya membungkukkan badannya dan mendekat ke Elea, lalu menyeka airmata sahabatnya itu. "Ya El, Danist sangat mencintaimu, kau harus bisa membuka hatimu lagi, jangan terkungkung pada masalalu, kau harus menjemput kebahagiaanmu, terimalah cinta Danist, aku yakin kali ini kau akan mendapat jatah kebahagiaanmu yang sempat tertunda, sebelum aku mencintai Aditya, aku lebih dulu menerima cintanya, aku melakukan kewajibanku sebagai istrinya dengan baik, setiap hari dia menghujaniku dengan cinta dan perhatian, pada akhirnya dititik tertentu aku mulai memupuk rasa cintaku padanya setiap hari hingga akhirnya aku mengatakan jika aku sudah mencintainya, jika kau belum mencintai Danist setidaknya kau terimalah cintanya lebih dulu, maka suatu saat kau pasti akan mencintainya juga"
"Aku pasti sangat berdosa Ca, aku dibutakan masalalu hingga aku tidak menyadari semua itu, dia begitu baik selama ini dan aku tidak memberikannya apa yang seharusnya dia dapatkan, astaga!!!" Elea menyeka airmatanya lagi dengan kasar lalu tersenyum pada Cahya. "Aku tidak boleh egois lagi, saat dia kembali aku akan meminta maaf atas semua perbuatanku dan dia akan mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan selama ini, thanks ya Ca, kau sudah menyadarkan keaalahan yang aku lakukan"
Cahya turun dari gazebo dan mendekati Elea lalu membungkukkan badannya dan memeluk Elea. Cahya berharap kali ini Elea benar-benar akan mendapatkan kebahagiaannya. Cahya tersenyum seolah mendapatkan sebuah pencerahan yang bagus, dia harus mengatakan ini pada Aditya nanti, dan dia akan meyakinkan Aditya untuk hal itu, karena suaminya pasti tidak akan bisa menolak keinginannya.