SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 277



Danist, Elea dan Gienka akhirnya sampai di rumah Danist. Mereka langsung disambut oleh Mama Danist. Elea memeluk mertuanya itu dengan sangat erat, dia sangat merindukannya. Ini adalah pertama kalinya bagi Elea datang ke rumah suaminya. Rumah itu sederhana tetapi terlihat sangat nyaman dan asri. Mama Danist mengambil Gienka dari Elea dan menggendongnya serta menciumi cucunya dengan sangat gemas.


"Kalian pasti lelah biar Gienka bersama Mama, Dan kau ajak istrimu ke kamar, Mama sudah merapikannya kemarin, mandi lalu beristirahatlah"


"Iya Ma, ayo El kita ke kamar"


Danist membuka pintu kamarnya, dan mempersilahkan Elea untuk masuk. Kesan pertama Elea saat masuk ke kamar itu adalah kamar itu begitu rapi. Nuansanya sangat laki-laki dengan cat berwarna abu-abu dan putih. Ada banyak buku yang tertata disana, sebuah komputer dan beberapa foto tertempel di dinding dan juga ada di meja. Elea tersenyum melihat foto Danist memakai pakaian toga sedang memeluk dan mencium Mamanya dengan penuh kebahagiaan. Elea tahu bahwa Danist hanya memiliki Mamanya sejak kecil, kehidupan mertua dan suaminya dulu pastilah sangat berat karena harus berjuang untuk kehidupan mereka. Dan melihat keadaan mereka saat ini menandakan bahwa mereka sangat mampu melewati segala kesulitan itu dengan sangat baik.


"El, kenapa kau senyum-senyum sendiri??" Tanya Danist dan membuat Elea terkejut.


"Ah tidak, aku hanya senang saja melihat foto ini, kau dan Mama terlihat sangat bahagia sekali"


"Kau benar, aku sangat bahagia sekali saat itu karena aku mendapat ipk sempurna, dan semua berkat usahaku serta doa dari Mama setiap harinya, hanya dia yang kumiliki"


"Dan...!!! Sebenarnya aku sudah tahu bagaimana tentang kehidupanmu dan Mama dulu, tante Diyah pernah menceritakan semuanya, dan Mama juga sempat bercerita kepadaku bahwa dia sangat bangga kepadamu karena kau tidak pernah menyusahkannya bahkan untuk biaya kuliahmu dia sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeserpun karena kau berkuliah sambil bekerja apapun yang bisa kau lakukan saat itu, kau luar biasa Dan..."


"Kau terlalu memujiku!"


"Dan...! Aku selalu bertanya-tanya sendiri tentang hal ini, maaf jika aku menanyakannya padamu ku harao kau tidak tersinggung, apa selama ini kau tidak pernah mencoba mencari tahu tentang Ayahmu? Sekedar mencaritahu kabarnya atau apalah? Apa kau tidak pernah melakukannya?" Tanya Elea.


Danist meletakkan tas berisi pakaian Gienka di atas meja lalu duduk di diatas tempat tidur. "Tidak!!! Aku tidak pernah melakukannya, aku sangat ingin tetapi jika aku melakukannya itu pasti akan melukai hati Mama, jadi aku memilih tidak melakukannya, luka hati Mama sangat dalam bahkan mungkin sampai detik ini, aku tidak ingin menambahinya"


"Apa kau tidak pernah melihat fotonya?"


Danist menggelengkan kepalanya. "Fotonya??? Namanya saja aku tidak tahu, Mama menutup semuanya dariku, dan setelah kupikir-pikir untuk apa aku harus pusing mencaritahu tentangnya dan jika bertemu dengannya juga untuk apa? Apa dia akan memberiku warisan yang banyak atau apakah dia akan memelukku, yang ada aku akan dianggap gila karena mengaku menjadi anaknya hahaha keberadaanku saja dia tidak tahu, jadi ya sudahlah toh sekarang alhamdulillah setidaknya aku bisa membuat Mamaku bahagia, cepatlah mandi, Mama sepertinya sudah mempersiapkan makanan untuk kita" Ujar Danist lalu membelai lembut pipi Elea dan keluar kamar.


Elea menatap punggung suaminya dengan sedih, dia tadi melihat mata Danist berkaca-kaca, lelaki itu pasti sangatlah rapuh tegapi dia tampak tegar karena pasti tidak ingin membuat orang terdekatnya menjadi sedih terutama Mamanya. Elea sendiri masih sangat penasaran seperti apa Ayah dari suaminya itu, tetapi tampaknya dia tidak akan pernah mendapatkan jawabannya mengingat Danist sendiri tidak tahu seperti apa wajah Ayah serta tidak mungkin juga dia menanyakan hal itu kepada Mama mertuanya.


*****


Setelah mandi dan berganti pakaian, Elea keluar dari kamar. Terlihat Danist juga sudah berganti pakaian dan terlihat segar, sepertinya lelaki itu juga baru saja mandi di kamar mandi lain dan sekarang sibuk menggendong Gienka karena Mamanya sedang berada di dapur menyiapkan makanan.


"Ma, biar Elea bantu" Ujar Elea seraya mendekati mertuanya itu.


"Tidak perlu sayang, sebentar lagi selesai, kau panggil suamimu dan suruh dia kesini, kita makan bersama"


Elea memanggil Danist, dan mereka pun makan bersama, sementara Gienka di baringkan di strollernya. Suasana kekeluargaan terlihat begitu hangat dengan berbagai cerita dari Danist maupun Elea. Mama Danist bisa melihat jelas binar kebahagiaan dari putra dan menantunya itu, kepulangan mereka seolah membawa suasana yang baru. Bahkan sesekali dia mendengar keduanya memanggil satu sama lain dengan panggilan "Sayang". Sangat berbeda dari sebelum mereka berangkat ke luar negeri.


"Elea sayang, besok Mama dan Papamu akan datang kesini, tadi mereka mengabari Mama" Ucap Mama Danist.


"Iya, mereka datang karena sudah sangat merindukan kalian bertiga, dan mungkin nanti kita akan kembali ke Puncak bersama-sama"


"Ma, aku juga ingin ke rumah Elea, kita harus pergi kesana sebelum kembali ke Puncak" Gumam Danist


"Tentu saja, Mama juga belum pernah kesana"


****


Keesokan harinya, Elea sedang sibuk di dapur membuat sarapan bersama dengan Mama mertuanya. Sementara Danist mengajak Gienka bermain di halaman depan rumahnya sambil menyiram tanaman. Danist sangat merindukan suasana di rumahnya mengingat dia sudah cukup lama tidak pulang setelah dia di pindah tugaskan ke Puncak. Dan sekarang akhirnya dia ada kesempatan untuk berlibur dan pulang ke rumah.


Setelah menyiram tanaman, Danist mengajak Gienka untuk berjalan-jalan saja berkeliling di sekitar tempat tinggalnya. Gienka sangat senang jika di ajak jalan-jalan di pagi hari seperti ini. Danist mengambil stroller dan menempatkan putrinya disana, lalu keluar rumah.


Danist mendorong pelan stroller Gienka dan Gienka terlihat tenang dan sepertinya sangat menikmatinya. Sesekali juga Danist menyapa tetangganya mengingat mereka juga sudah lama tidak melihatnya. Bahkan Danist juga sempat beberapa kali berhenti dan mengobrol dengan beberapa orang yang dikenalnya.


Matahari sudah terlihat sedikit meninggi, Danist memutuskan segera mengajak Gienka untuk pulang karena tadi dia juga tidak berpamitan keada Elea ataupun Mamanya saat mengajak Gienka jalan-jalan. Sekarang pasti mereka mencarinya, dan Danist juga tidak membawa ponselnya. Bergegas Danist sedikit mempercepat langkahnya sampai akhirnya dia hampir sampai di rumahnya, tetapi kemudian langkahnya terhenti saat seorang perempuan memanggil namanya.


"Kak Dan....!!!"


Danist menoleh dan menemukan Desi tetangga sebelah rumahnya sedang menyapu halaman. Desi menghentikan kegiatannya dan menghampiri Danist.


"Apa kabar Des??" Tanya Danist.


"Baik kak, kakak pulang kapan?" Tanya Desi.


"Kemarin sore"


"Ya ampun lucu sekali...." Desi membungkukkan badannya menyentuh gemas pipi Gienka. "Ini siapa kak?? Lucunya"


"Ini Gienka, anak istriku, sekarang juga sudah menjadi anakku, bagaimana kabar ibumu dan Ayahmu?"


"Mereka baik dan sekarang sedang pergi ke rumah kakak, oh iya kak Dan, beberapa waktu yang lalu ada bapak-bapak datang kesini, dia nyariin tante Sari dan dia sangat akrab sekali dengan Ayah bahkan Ayah mengobrol la...ma... sekali dengannya"


Danist mengernyit "Bapak-bapak? Nyariin Mama??" Ucapnya.


"Iya kak, dia naik mobil mercy mana bawa 2 bodyguard segala, dia menghampiriku dan menanyakan tante Sari yang saat itu kan tidak berada dirumah, dan aku sempat mendengar bahwa lelaki itu mantan suami tante Sari, bapaknya kak Dan kayaknya, itu yang ku dengar!" Ujar Desi yang seketika membuat Danist heran, bingung sekaligus tidak percaya.