
Cahya keluar dari kamar mandi dan langsung membuka kopernya mengambil gaun tidur miliknya dan menyuruh Aditya untuk mengganti pakaiannya juga. Cahya pun memberikan pakaian tidur Aditya dan laki-laki itu menerima dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mengganti pakaiannya, Cahya langsung duduk didepan meja rias untuk membersihkan make up nya. Cahya menatap wajahnya dicermin sambil tersenyum, pesta yang disiapkannya berjalan dengan lancar dan Aditya terlihat sangat bahagia.
Aditya keluar dari kamar mandi, berganti pakaian dan terlihat segar sesudah mencuci wajahnya. Cahya berdiri dan mengambil sebuah kotak hadiah yang sudah dipersiapkannya lalu berdiri dihadapan sambil tersenyum. "Hadiah untukmu, dariku, aku harap kau suka hadiah kecil ini"
"Hadiah untukku lagi???"
"Ya, bukalah"
Aditya membuja kotak itu dan ternyata berisi sebuah ikat pinggang. "Sebuah ikat pinggang?" Aditya berseru terkejut tetapi kemudian tersenyum dan mengusap rambut Cahya seraya berterima kasih.
"Aku tidak tahu apa yang harus ku berikan untukmu karena itulah yang tiba-tiba muncul di otakku, maafkan aku jika kau tidak menyukai hadiahku"
"Aku sangat menyukainya ini bagus dan seharusnya kau tidak perlu memberikanku hadiah apapun, karena aku sudah menerima hadiah terbaik dari Tuhan dan dari dirimu?"
"Hadiah terbaik dari Tuhan dan juga dariku??" Cahya mengulang ucapan Aditya.
Lelaki itu memegang bahu Cahya seraya tersenyum sambil menatap istrinya. "Ya, hadiah terbaik dan istimewa dari Tuhan sekarang ada dihadapanku, hadiah itu sangat cantik, sangat manis dan penuh cinta, dan hadiah istimewa darimu adalah mereka berdua" Aditya menunjuk ke arah Kyra dan Kyros yang sedang tidur.
"Kau telah memberiku 2 malaikat kecil yang begitu menggemaskan, tampan dan juga cantik, kau bertaruh nyawa untuk melahirkannya dan bagiku perjuanganmu melahirkan mereka adalah hal paling istimewa dihidupku, terima kasih" Aditya menarik Cahya dalam pelukannya lalu mencium pucuk kepala perempuan itu.
Ariel sepertinya terlalu berlebihan menyiapkan kamar hotel ini, Cahya melihat sekeliling dan merasa seperti sedang dalam kamar pengantin karena kamar ini dihiasi dengan banyak bunga. Aditya memilih untuk bersandar ditempat tidur sambil menonton televisi dan menyuruh Cahya untuk beristirahat lebih dulu karena pasti istrinya itu sangat lelah seharian ini.
Cahya berbaring dan mulai menarik selimutnya dan saat hendak mematikan lampu tidur disampingnya Cahya menemukan sesuatu berbentuk kotak dan dibungkus kertas berwarna gold. Cahya mengambilnya dan tersenyum masam dengan apa yang ditemukannya. "Kau yang membawa ini???" Cahya langsung menuduh Aditya karena sudah pasti bahwa itu adalah miliknya, dan melempar permen itu ke Aditya.
Aditya menoleh dan mengambil apa yang dilemparkan padanya. "Oh ini, bukan aku, aku menemukannya ada dimeja itu tadi"
"Bohong, kau pasti yang membawanya, kau kan masih punya itu dirumah"
"Astaga sudah ku bilang aku tidak membawanya, bagaimana aku bisa membawanya, aku saja tidak tahu jika kita akan menginap disini, pasti Ariel yang sengaja menaruhnya disitu, sudahlah kau tidur saja"
"Kau tidak mau memakannya???"
"Tidak, kita pernah melakukannya sampai dini hari dan aku kuat tanpa memakan permen itu, sudah jangan banyak bicara cepat tidur, aku ingin menonton bola"
Cahya bangun dan mendekati Aditya, sedangkan lelaki itu memandang curiga kepada istrinya yang tersenyum padanya tetapi senyumnya itu tampak dibuat-buat. Cahya juga mengangkat alisnya berkali-kali menggoda Aditya.
Dengan cepat Cahya menarik kerah baju tidur Aditya, membuat laki-laki itu langsung berhadapan dengannya. Cahya memegang kedua rahang Aditya dan mulai mendekatkan wajahnya lalu menciumnya.
Cahya merasakan kekerasan yang panas di telapak tangannya, dengan lembut Cahya menariknya keluar.
Cahya merremas kejanttanan itu dan Aditya mengerang, perasaan bahwa Aditya benar-benar bergairah atas sentuhannya membuat Cahya merasa senang.
Sambil terus berciuman jemari Cahha bereksplorasi di kejanttanan Aditya, dan lelaki itu membiarkannya sebebas-bebasnya. Akhirnya, Cahya melepaskan ciumannya lalu Cahya menatap tajam Aditya, mata Cahya berkabut yang penuh gairah. Cahya tersenyum lalu membungkukkan badannya teat didepan keejantanan Aditya, bibir Cahya terbuka dengan penuh gairah ingin mencecap kejaantanan itu.
Cahya menggerakkan kepalanya naik turun menikmati apa yang ada di dalam mulutnya. Aditya menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam merasakan sensasi luar biasa yang dilakukan istrinya sambil terus meracau keenakan. Aditya berusaha membuka bungkus permen itu dan langsung memakannya sambil menikmati apa yang dilakukan Cahya. Aditya kemudian mengumpulkan rambut Cahya dan menggenggam dengan jemarinya lalu menarik dan mendorong kepala Cahya agar mulut istrinya itu bisa mengulum kejanttanannya lebih dalam.
Cahya mengangkat kepalanya lalu mendongak melihat Aditya sambil terbatuk-batuk dan kemudian tersenyum.
"Kau sepertinya sangat menikmatinya sayang, oke sekarang giliranku" geram Aditya serak lalu mendorong Cahya hingga perempuan itu terbaring di bawahnya, dan Aditya mengangkat gaun Cahya juga menurunkan kain sutra yang membungkus kewaniitaan istrinya itu. Aditya tengkurap dibawah Cahya, kemudian perempuan itu menekuk kedua lututnya menandakan dia sudah sangat siap.
Aditya menciumi kewaniitaan Cahya dan mulai menjelajah dengan lidahnya, membuat Cahya melengkungkan punggungnya di atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Aditya mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari lidah Aditya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.
Cahya terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya.
Sekali lagi Cahya melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Aditya di pusat dirinya, dengan hembusan nafas yang panas. Panas bertemu panas dan Cahya benar-benar terbakar.
Pandangan Cahya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan, Cahya juga tidak berhenti mengerang.
“Sssttt…. Jangan berisik sayang nanti anak-anak terbangun" Ucap Aditya dan kembali mencumbu pusat gairah Cahya.
Dan ketika Aditya masih bermain-main, Cahya sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah. Aditya menaikkan tubuhnya menahannya dengan kedua lengannya lalu merangkak naik diatas tubuh Cahya lalu mengecup bibirnya. Dada bidangnya menggesek dada Cahya dan Cahya bisa merasakan kejantanan Aditya yang keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda mengerti apa yang paling diinginkannya. Aditya menempatkan dirinya dengan begitu tepat, karena sangat mengenal setiap jengkal tubuh Cahya.
"Ahhhhh...." Cahya mengerang merasakan tubuh Aditya yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan kenikmatan yang begitu luar biasa, Cahya sendiri tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata, Aditya selalu membuatnya merasa puas dan lelaki itu sangat nikmat.
“Sayang, bersiaplah kita akan melakukannya sampai pagi" Ucap Aditya dan merasakan tubuh Cahya yang panas, lembut, halus, dan membungkusnya dengan erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan yang tidak terhingga.
Ketika Aditya mulai bergerak, Cahya mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir membuat frustrasi karena akhirnya menyerah dalam pusaran gairah Aditya. Aditya menundukkan kepalanya, lalu mencium lagi bibir Cahya dengan posesif, saling berpagutan menikmati satu sama lain, dan Aditya menghujamkan dirinya dalam-dalam. Cahya melingkarkan kedua kakinya dipunggung Aditya dan laki-laki itu bergerak dengan lembut, lama-lama menjadi sedikit lebih cepat dan sangat cepat.
Sampai kemudian, Aditya membawa Cahya melewati pusaran gelombang semakin meningkat hingga guncangan orrgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
Adity mengangkat tubuhnya dari Cahya yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orrgasme. Mereka beristirahat sejenak sampai beberapa menit kemudian kejanttanan Aditya mulai menegang lagi karena efek permen itu, mereka pun bercinta lagi sampai dini hari dengan berbagai gaya, terkadang Cahya yang diatas untuk mengimbangi Aditya agar suaminya itu tidak merasa kelelahan.
Aditya membatalkan niatnya menonton bola karena harus menyelesaikan sesi percintaannya dengan Cahya. Gaiirah Aditya tidak ada habisnya malam ini, dan Cahya juga merasa puas setiap bercinta dengan Aditya, selain karena Aditya sangat pandai melakukannya juga karena kejanttanan Aditya cukup besar hingga setiap lelaki itu memasukinya, kewaniitaanya langsung terasa penuh, juga selalu berdenyut mencengkram Aditya begitu kuatnya.