
Cahya sudah sampai dikantor Ariel, dan dia bertanya kepada resepsionis dimana ruangan Ariel lalu ada seorang staf yang mengantarnya. Cahya bertemu sekretaris Ariel dan ternyata Ariel masih diluar dan belum sampai, Cahya pun di minta menunggu.
Kurang dari 10 menit ternyata Ariel sudah tiba, Ariel pun mengajak Cahya untuk masuk ke ruangannya. Ariel mempersilahkan Cahya untuk duduk dan menawarinya minuman tetapi Cahya menolak karena dia hanya akan sebentar saja.
"Tumben Ca, ada apa?? Ditelepon kau terdengar serius sekali, apa yang ingin kau bicarakan denganku???" Tanya Ariel.
"Aku datang untuk meminta bantuanmu!"
"Bantuan??? Bantuan apa yang bisa ku lakukan?" Tanya Ariel penasaran tetapi ada ketakutan, takut Cahya memintanya untuk menjauh dari Gienka atau takut Cahya melarangnya untuk datang menemui Elea atau Gienka.
Cahya pun menjelaskan tujuannya datang menemui Ariel dan juga meminta bantuan pria itu. Ariel menghela napasnya lega karena ternyata Cahya tidak memintanya untuk tidak menemui putrinya justru Cahya meminta bantuannya jauh diluar permasalahannya dengan Elea.
"Hanya itu saja Ca??"
"Iya Iel itu saja"
"Oke aku akan menghubungi staff ku agar mereka menyiapkan semuanya"
"Thanks ya Iel, maaf aku sudah merepotkanmu"
"Tidak masalah, dan aku hampir lupa tentang hal itu untung kau mengingatkanku Ca,
"Sekali lagi terima kasih, aku harus pulang sekarang kalau tidak Aditya akan memarahiku"
Cahya kemudian keluar dari ruangan Ariel dan langsung menuju mobilnya untuk pulang.
*****
Danist sedang mengayunkan box bayi Gienka, bayi itu terlelap dengan begitu nyenyak, sementara Elea masuk membawa air untuk Danist. Suasana rumah terlihat sepi karena kedua orangtua Elea sednag oergi keluar sedangkan Chika pergi ke kantor.
"Dan, sebenarnya pernikahan macam apa yang sedang kita jalani saat ini???" Tiba-tiba Elea bertanya kepada Danist yang sontak membuat Danist langsung memandang kearahnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu???"
"Aku bertanya karena aku tidak tahu jawabannya, kita menikah hanya untuk menghindari Ariel, bukan karena saling mencintai, lalu pernikahan macam apa ini? Dan akan bagaimana pernikahan ini nantinya?"
"Kita jalani saja El, aku akan berusaha menjadi kepala keluarga yang baik dan akan menjadi ayah yang baik untuk Gienka, selanjutnya biarkan Tuhan yang menentukan akan kemana arahnya nanti?" Gumam Danist.
"Tapi apakah aku bisa menjadi istri yang baik untukmu?? Aku masih sangat belum siap untuk semua ini Dan, pernikahanku sebelumnya berakhir dengan sangat buruk hingga membuatku tidak ingin lagi mengenal cinta, jika ini terus berlanjut aku takut aku mengecewakanmu karena aku butuh waktu untuk menerima seorang laki-laki, aku takut semua akan berakhir seperti dulu, ketakutan itu selalu menghantuiku, aku minta maaf Dan aku tidak bisa" Ucap Elea sedih dan airmatanya mulai menetes.
Kenangan buruk tentang apa yang sudah terjadi membuat Elea sangat trauma, bahkan ingin sekali menutup hatinya untuk selama-lamanya. Tetapi justru saat ini dia terjebak dalam pernikahan ini yang entah akan seperti apa nanti jadinya, apakah dia kan menjadi janda untuk kedua kalinya atau bagaimana. Danist memang laki-laki yang baik dan selalu menolongnya tetapi bukan berarti Elea bisa begitu saja menerima lelaki itu, hati dan pikirannya masih dihantui oleh masalalunya yang selalu mengirim berbagai ketakutan dan ingatan masalalunya yang menyesakkan dada.
"Aku tidak pernah menuntutmu melakukan kewajibanmu sebagai istriku jika itu yang kau takutkan, aku hanya ingin menolongmu El, aku janji tidak akan pernah melakukan hal yang bisa merendahkanmu, jika aku melakukannya kau bisa melakukan apapun padaku, yang ku minta sekarang kita jalankan saja pernikahan ini sebaik-baiknya didepan keluarga kita, jangan membuat mereka mengkhawatirkan kita, satu lagi jika Ariel mengetahui ini semua itu pasti akan menghancurkan semuanya jadi kita harus bekerja sama untuk semua ini"
Danist sangat mengerti apa yang sedang dirasakan Elea saat ini, tetapi dia juga masih belum bisa mengatakan perasaannya, dia hanya berharap suatu saat dia bisa memiliki keberanian untuk melakukannya ataupun suatu saat Elea bisa mengetahui perasaannya yang sebenarnya bahwa dia memiliki cinta yang tulus untuk perempuan itu. Danist akan berusaha keras saat ini untuk membahagiakan Elea dan juga Gienka, walaupun bayi itu bukan darah dagingnya, tetapi dia akan sangat mencintainya seperti dia mencintai Elea.
"Aku minta maaf Dan, kuharap kau mengerti tentang apa yang kurasakan saat ini, aku minta maaf belum bisa menerimamu" Gumam Elea sambil sesenggukkan dan tangisnya pun pecah.
Danist mendekati Elea dan memberikan tisu kepadanya, lalu memeluknya dengan mengusap bahu Elea lembut menenangkan perempuan itu agar berhenti menangis. "Ssshhhhh berhentilah menangis El, aku sangat mengerti, tidak apa-apa jika kau tidak bisa melakukannya, sekarang yang harus kita lakukan hanyalah merawat Gienka dengan baik, tenanglah dan berhenti menangis, semua akan baik-baik saja"
****
Aditya menjemput Cahya, kedua bayinya dan juga Mamanya dirumah Adri. Kyra dan Kyros sedang dibaringkan diatas karpet dilantai, dan sedang asyik bermain dengan kedua omanya. Aditya tersenyum dan menghampiri mereka, melihat kedatangan Aditya, Mamanya pun langsung beranjak untuk mengambilkan minum di dapur. Aditya langsung menciumi kedua bayinya dan mengusapkan wajahnya diperut Kyra yang membuat putrinya itu tertaea karena merasa geli. Aditya mengarahkan pandangannya ke sekeliling rumah tetapi tidak melihat Cahya sama sekali.
"Cahya kemana Bu???" Tanyanya pada Ibu Mertuanya.
"Dia ada dikamar ibu, dia tadi batuk-batuk dan merasa pusing, sepertinya dia sedang tidak dalam keadaan sehat"
"Iya, tapi baru sekitar 1 jam yang lalu dia merasa sakit kepala dan mulqi batik-batuk, itu sebabnya ibu memyuruhnya untuk beristirahat dikamar ibu, kau susul saja"
Aditya lalu berdiri dan menyusul Cahya dikamar ibu mertuanya. Ternyata istrinya itu sedang berbaring dengan mata tertutup. Aditya duduk disisi ranjang dan menyentuh dahi Cahya yang langsung membuat perempuan itu terbangun dan tersenyum ke arahnya.
"Kau sudah pulang??" Tanya Cahya dengan suara serak lalu terbatuk-batuk.
"Kau kenapa?? Ibu bilang kau sakit?" Suara Aditya terdengar cemas dan khawatir.
"Aku tidak apa-apa, kurasa migrainku kumat, dan entah kenapa tiba-tiba batuk ini menyerangku"
"Kita ke dokter ya???"
"Tidak perlu aku baik-baik saja tadi juga sudah minum obat"
"Ya sudah kita menginap disini saja, kondisimu tidak baik, kita pulang besok"
"Kita pulang sekarang saja, tidak enak jika seperti ini harus merepotkan ibu, ayo pulang" Ajak Cahya.
Aditya membantu Cahya bangun dari tempat tidur lalu membawanya keluar kamar dan meminta mamanya untuk bersiap pulang. Karena khawatir dengan kondisi putrinya, ibu Cahya pun memutuskan untuk ikut mereka pulang.
****
Setelah dari kantor, Ariel langsung pulang untuk bersiap berkemas dan segera pergi dari rumah itu. Seperti biasa Ariel langsung naik ke kamarnya tanpa menyapa Ayahnya yang sedang duduk diruang tamu. Karena sudah sangat memahami putranya, pak Andi pun bersikap biasa saja karena memang itu yang setiap hari terjadi, walaupun dalam hatinya dia sangat berharap Ariel sekali saja berbicara padanya dengan lembut atau mungkin hanya sekedar menyapanya mungkin itu sudah sangat bisa membuatnya bahagia tetapi yang terjadi memang jauh dari apa yang diharapkannya.
Ariel langsung mengambil kopernya dan mulai mengemasi pakaiannya serta beberapa dokumen penting perusahaannya, butuh hampir 2 jam dia berkemas karena juga harus memilah beberapa barang yang akan dibawanya. Setelah semua siap dia turun untuk memanggil pengawal Ayahnya agar mau membantunya menurunkan barang-barangnya dari kamarnya.
Saat Ariel turun dengan membawa koper besar, Ayahnya itupun langsung dibuat heran dan terkejut dengan apa yang sedang dilakukan putranya. Pak Andi yang sedang menikmati teh diruang tamu pun langsung berdiri menghampiri putranya itu.
"Kau mau kemana dengan koper-koper itu???"
"Bukan urusanmu, kalian cepat masukkan itu semua ke bagasi mobilku" Perintah Ariel pada pengawal Ayahnya.
"Kau mau pergi kemana Iel??? Apa kau mau meninggalkan Ayah sendiri disini???"
"Aku bilang bukan urusanmu, lagipula disini ada banyak pelayan kau tidak sendirian, minggirlah!!!" Seru Ariel, sementara Ayahnya menahan koper yang dipegangnya.
"Kau harus tetap tinggal disini Iel, bagaimana kalau ada yang berniat jahat lagi padamu?"
"Aku bisa menjaga diriku, aku bukan anak kecil lagi, cepat minggir aku harus pergi sekarang"
Akhirnya pak Andi menyerah dan melepaskan pegangannya pada koper Ariel, bergegas Ariel pergi meninggalkannya. Sekali lagi dia harus merasakan kesedihan melihat putranya itu. Entah sampai kapan dia harus mengalami ini semua, penolakan Ariel selalu membuatnya merasa gagal sebagai seorang Ayah dan selalu menyesakkan dada. Sudah terlalu banyak kesalahan masalalu yang sudah dia lakukan, menyakiti banyak orang mengecewakan mereka dan meninggalkan mereka dengan begitu buruknya padahal mereka memiliki cinta yang tulus padanya, mungkin inilah rasanya ditinggalkan oleh orang yang dicintai dan itu lebih menyakitkan lagi karena putranya sendiri yang melakukannya, bahkan dia juga menolak seluruh pemberiannya padahal itu semua hasil kerja kerasnya yang memang sudah dia siapkan untuk Ariel. Entah sampai kapan Tuhan akan mengabulkan permintaannya agar Ariel mau memaafkan semua kesalahannya.
*****
Aditya yang sedang tertidur dengan lelapnya mulai terganggu dengan suara batuk dari Cahya. Entah apa yang terjadi dengan istrinya itu sejak sore sudah batuk-batuk, dan malam ini semakin parah padahal tadi dia sudah menyuruhnya untuk meminum obatnya. Aditya benar-benar terganggu, suara batuk itu terpaksa membuatnya bangun.
Aditya bangun dan menyalakan lampu tidurnya "Batukmu sangat parah sayang, ayo bangunlah" Ucap Aditya. Dan benar saja Cahya berbaring dengan menutup mulutnya dengan tangannya karena dia terus saja batuk dan mencoba menahan suara batuknya agar tidak membangunkan bayinya.
Tangan Adityabmeraih gelas yang ada diatas meja dan berniat memberi minum Cahya. Dengan lemah Cahya menerima gelas itu, tetapi tidak pandangan Aditya langsung tertuju kearah telapak tangan Cahya yang dipenuhi dengan darah.
Aditya langsung melihat ke wajah Cahya dan menemukan ada darah yang keluar dari mulut istrinya itu. "Darah??? Sayang, kau batuk mengeluarkan darah, ya Tuhan" Seru Aditya panik dan langsung mengambil tisu yang ada diatas meja lalu mengusap darah yang ada ditangan dan mulut Cahya.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang, ahhh ya Tuhan ada apa denganmu sayang??? Tunggu sebentar aku akan memanggil ibu dan Mama agar menjaga Kyros dan Kyra, kau tunggu sebentar ya, kita akan ke rumah sakit" Aditya langsung melompat dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar untuk memanggi Mamanya. Dan baru sesaat ditinggal Aditya, Cahya pun langsung pingsan.