SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 338



Danist mengajak Mamanya untuk duduk di sofa sementara Elea pergi ke dapur untuk mengambil air putih. "Kenapa Mama tidak mengatakan padaku jika malam itu Mama mendengar semuanya???" Tanya Danist.


"Apa kau menangis setelah semua itu terjadi???"


Danist terdiam, tidak mungkin dia mengatakan pada Mamanya bahwa dia memang menangis saat itu karena yang ada hanya akan membuat Mamanya semakin terpukul. Danist tersenyum dan tatapannya melembut kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak Ma, aku sudah terbiasa mendengar hal buruk tentangku, aku hanya sedikit marah saat Ariel mengatakan hal buruk tentang Mama, maafkan aku saat itu aku memukulnya, aku tidak menepati janjiku pada Mama, agar aku tidak memukulknya, satu pertanyaanku untuk Mama, apa karena mama sudah mengetahui bahwa Ariel adalah adikku sehingga Mama melarangku agar tidak memukulnya meskipun dia berkata atau bersikap buruk padaku??? Apa itu alasan Mama??"


"Seburuk apapun sikapnya pada kita, jangan pernah kau terbawa emosi, kita sudah terbiasa dengan hal itu selama ini, dan bagaimanapun dia adalah adikmu, juga kau harus bersikap sewajarnya kepada Ayahmu itu, sedalam apapun luka yang dia tinggalkan pada kita berdua dia tetap Ayahmu, Mama tidak ingin kau menjadi orang yang jahat, kau mengerti kan???"


"Aku tidak lupa semua yang sudah Mama ajarkan padaku, sekarang Mama jangan terlalu khawatirkan masalah ini, aku akan mengatasinya sendiri" Ucap Danist kemudian mengambil gelas berisi air dari tangan Elea dan memberinya kepada Sang Mama.


Elea duduk di sebelah Mama mertuanya, dan hanya diam memandanginya serta suaminya. Elea busa merasakan betapa pedihnya kondisi mereka saat ini, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun selain berdoa dan selalu mendukung langkah yang diambil Danist. Dia berharap juga agar Ariel tidak lagi berkata kasar pada Danist, karena bagaimanapun Danist adalah kakaknya. Elea bangga dengan Danist yang menolak keras apa permintaan pak Andi karena itu pasti akan memperburuk keadaan nantinya. Mungkin dengan penolakan itu, Ariel mau mengerti dan tidak lagi meributkan hal itu sehingga hidup Danist juga bisa lebih tenang.


*****


Aditya keluar dari minimarket dengan kedua tangannya menenteng kantong kresek berisi belanjaan. Tadi Cahya memintanya sebelum pulang agar membelikan diapers untuk Kyros dan Kyra yang habis serta beberapa biskuit. Inilah yang sering Aditya lakukan akhir-akhir ini, dia harus mau melakukannya karena dia sudah memutuskan untuk membatasi semua aktifitas Cahya di luar rumah. Bagi Aditya tentu itu bukanlah hal yang sulit ataupun merepotkan.


"Pak Aditya Sahasya!!"


Aditya yang sedang memasukkan belanjaan ke mobilnya pun menengok ke belakang dimana sumber suara itu berasal. Seorang pria tinggi memakai setelan lengkap dengan kacamata hitam. Pria itu menghampiri Aditya dan menyalaminya. Aditya tidak tahu siapa pria itu tetapi tetap sopan menerima uluran tangannya.


"Saya dengar anda di Swiss, kenapa ada disini???" Ucap pria itu.


"Saya sudah lama kembali dari Swiss dan ada pekerjaan diaini, anda siapa??? Saya sepetrinya tidak pernah bertemu dengan anda sebelumnya??" Tanya Aditya.


"Saya Regan dari Capital corporate, asisten pak Andrew, senang sekali bisa bertemu dengan anda, saya juga sudah mendengar kasus yang menimpa putra anda beberapa waktu yang lalu, saya turut prihatin"


Detik itu juga Aditya ingat bahwa mungkin pria inilah yang beberapa waktu yang lalu mendatangi Papanya untuk mengajak kerjasama. Aditya mengernyit kenapa harus bertemu dengan pria ini, padahal dia sudah menghindari bertemu dengannya saat dikantor dengan menyurub Maysa agar selalu mengatakan bahwa dia sibuk saat lelaki ini atau orang-orang dari Capital Corporate datang untuk menemuinya. Sialnya dia malah beretemu disini.


"Terima kasih!" Gumam Aditya.


"Bagaimana kalau kita mengobrol di cafe sebelah, kita bisa bahas tentang pekerjaan mengingat pak Aditya susah sekali untuk ditemui"


"Sejak kembali dari Swisa saya memang sangat sibuk sekali, dan untuk sekarang sekali lagi saya minta maaf karena istri saya sudah menunggu, mungkin kapan-kapan saja, permisi"


"Baiklah pak Aditya, senin lusa saya akan datang ke kantor anda, saya benar-benar butuh mengobrol dengan anda"


Aditya tersenyum. "Sayangnya saya tidak ada di kantor, saya akan pergi liburan bersama dengan keluarga saya, jika anda ingin berbicara dengan saya, anda bisa menghubungi sekretaris saya untuk mengatur jadwal" Aditya kemudian mengucap permisi dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan pria itu.


****


Sementara itu malam harinya, Maysa dan Ariel menghabiskan waktu bersama, setelah menoton film mereka kembali ke apartemen. Hubungan mereka semakin hari semakin dekat dan tidak bisa dipisahkan. Hari Ariel menjadi buruk setelah mengetahui kebohongan Ayahnya tetapi perhatian dari Maysa membuatnya merasa senang berada didekat perempuan itu. Maysa selalu bisa menenangkannya saat dia sedang merasa kesal.


Sedangkan Maysa benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona Ariel. Dia benar-benar jatuh cinta kepada Ariel, dia merasa bahwa Ariel adalah sosok laki-laki yang selama ini dia impikan. Ariel begitu perhatian, baik, dan penuh kasih sayang kepadanya. Maysa juga tidak mempermasalahkan masalalu Ariel lagi, menngingat laki-laki sudah berusaha untuk berubah. Bahkan dia juga dengan senang hati melakukannya dengan Ariel walaupun Ariel tidak pernah meminta kepadanya tetapi Maysa sendirilah yang memberikannya.


Dibalik sikap lembut dan tenangnya selama ini, Maysa tidak bisa memungkiri untuk menyalurkan keinginannya sebagai seorang wanita, mengingat masalalunya yang begitu buruk dan sikap kasar mantan kekasihnya, tentu dia memimpikan kebahagiaan bersama lelaki yang bisa mengerti akan dirinya. Dulu Maysa tidak pernah bisa menikmatinya saat bersama mantan kekasihnya itu, selain karena lelaki itu pemaksa, dia juga selalu berakhir sangat cepat hingga Maysa tidak tahu bagaimana rasanya dipuaskan oleh lelaki. Tetapi tentu tidak dengan Ariel, lelaki itu sangat ahli dalam melakukannya hingga membuatnya ingin selalu merasakannya lagi dan lagi, itu sebabnya dia selalu memberikannya tanpa Ariel harus memintanya. Mereka selalu melakukannya saat terbawa suasana romantis ketika sedang menikmati waktu berdua.


Dan Maysa memiliki prinsip kuat bahwa dia tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan, dia tidak ingin di cap sebagai perempuan perebut suami atau kekasih orang. Ariel jelas tidak memiliki pasangan saat ini jadi tentu dia merasa nyaman menjalankan hubungan mereka, walau tetap dalam hatinya berharap Ariel suatu saat nanti bisa menjadi suaminya. Membahas hal itu sekarang tentu tidak mungkin mengingat hubungan mereka baru berjalan beberapa minggu.


Ariel sedang memeluk Maysa dibalik selimut, ya mereka baru saja melakukannya. Sepulang dari makan malam dan menonton film, mereka langsung menuju apartemen Ariel, dan Ariel melarang Maysa agar tidak pulamg ke apartemennya malam ini, mengingat besok adalah hari libur. Maysa pun menurutinya dan berakhir seperti inilah, mereka tidak memakai apapun dibalik selimut berwarna putih itu.


"Aku ingin segera bisa menikahimu!" Gumam Ariel kemudian mencium leher Maysa.


"Kenapa begitu???" Tanya Maysa.


"Aku sangat senang setiap kita melakukannya tetapi setelahnya aku takut akan sesuatu, kau juga seorang perempuan yang harus bisa ku hormati, dan jika kita sudah menikah tentu aku tidak akan takut lagi tentang hal itu, kita menikah saja ya??? Sehari kita melakukannya sampai 10 atau 30 kali tidak akan ada masalah, kau mau kan???"


"Tentu saja aku mau, tetapi tentu banyak persiapan yang harus kau lakukan, aku memiliki seorang Ibu jadi setidaknya kau harus melamarku didepan Mamaku, apa kau mau melakukannya??"


"Tentu saja, apa aku harus mendatangi Mamamu dirumahmu?? Aku akan melakukannya" Ucap Ariel


"Kita bicarakan itu kapan-kapan, aku mengantuk sekali sekarang" Maysa menguap dan memeluk Ariel.


Saat hendak memejamkan matanya untuk tidur, tiba-tiba ponsel Maysa yang ada di dalam tasnya berbunyi, membuatnya dan Ariel sedikit terkejut. Ariel menahannya agar tidak menjawab telepon itu karena sudah malam tetapi Maysa tidak memperdulikannya karena takut itu adalah telepon penting. Maysa kemudian bangkit dan duduk di tepi tempat tidur dan mengambil ponselnya di dalam tas. Dia menoleh ke arah Ariel dan menyuruhnya untuk diam karena ternyata itu adalah telepon dari Mamanya.


Maysa sedikit menjauh dari Ariel dan berbicara dengan Mamanya. Cukup lama sekitar 10 menit dan dia kemudian menutup teleponnya dan kembali berbaring di sebelah Ariel yang sudah memejamkan mata. Karena gerakan Maysa, Ariel yang masih dalam posisi tidur ayamnya pun membuka matanya.


"Apa yang kalian bicarakan?? Lama sekali" Protes Ariel.


Maysa pun menimpalinya dengan senyuman. "Mama akan datang kesini minggu depan, bertahun-tahun aku disini baru kali ini dia bersedia datang"


"Mamamu akan datang??? Wah itu bagus sekali, aku jadi bisa melamarmu di depannya tanpa harus jauh-jauh menemuinya di rumah kalian"


"Memangnya kau berani??" Tantang Maysa.


"Tentu saja, memang apa yang harus ku takutkan!" Ariel memeluk Maysa dengan erat dan menindihnya lagi lalu menciuminya. Hal itu membuat mereka melakukannya lagi.