SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
sebuah PERMEN



Tangan Cahya merasakan jika milik Aditya mengeras, dia menatap tajam suaminya itu seolah menuduh. Mengetahui tatapan istrinya, Aditya mencoba menjelaskan agar tidak terjadi salah paham diantara mereka.


"Maaf aku tidak bermaksud apapun sayang, aku tidak tahu kenapa aku jadi begini, aku merasakan tubuhku sangat panas dan gerah lalu tidak tahu kenapa ini juga menjadi seperti ini sejak tadi" Aditya masih mencoba mengontrol dirinya dengan tetap mencoba tenang serta menarik napasnya dalam dalam dan mengeluarkannya melalui mulut.


Cahya menatap Aditya dan mengelap keringat suaminya didahi nya. "Kalau kau ingin, kenapa kau tidak memintanya padaku, kenapa kau malah menyiksa dirimu sendiri?"


"Tidak sayang, bukan begitu, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, kau beristirahatlah lagi aku akan keluar agar kau tidak terganggu"


Aditya mengangkat badannya hendak pergi meninggalkan Cahya, tetapi Cahya menahan badannya membuat Aditya kembali terbaring. "Ca, kamu lanjut tidur aja ya, kamu kan lagi kecapean, aku tidur dikamar tamu saja supaya tidak mengganggumu, ini pasti sebentar lagi akan hilang, aku pergi dul...." belum Selesai Aditya berucap, Cahya langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.


Cahya mengecup bibir Aditya "Suamiku berhak meminta apapun padaku, aku tidak akan pernah menolaknya, lalu kenapa kau takut memintanya jika kau menginginkanku? Aku milikmu lakukan apapun yang kau mau, dan jangan menyiksa dirimu". Tiba-tiba saja Cahya meraih pundak Aditya dan menciumnya, ciuman yang sangat dalam dan membakar, seolah-olah ingin ******* bibir Aditya sampai habis, lama sekali Cahya mencium Aditya, sampai napas mereka berdua terengah-engah ketika Cahya melepaskan ciumannya.


Cahya meraih milik Aditya yang keras dan mengusapnya lembut, membuat Aditya menggeliat merasakan nikmat yang luar biasa. Aditya bangun dan menyederkan badannya diranjang setengah duduk, menyuruh Cahya untuk duduk diatas pahanya dan mengulangi lagi apa yang tadi dilakukannya. Dan Aditya menyerah pada gairahnya, sambil mengerang dilumatnya bibir Cahya lagi sambil tangannya tetap mengusap lembut milik Aditya yang sudah tegak berdiri, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang panas.


Sampai akhirnya Aditya meminta istrinya untuk berhenti dan Aditya mengangkat pinggul Cahya, lalu menenggelamkannya dalam dalam. Panas tubuh Aditya, menyatu dengan tubuh Cahya, mereka menyatu ketika Aditya menghujamkan dirinya dengan lembut, mengerang dan menikmatinya ketika tubuh istrinya yang selembut sutra melingkupinya, meremas miliknya, membuatnya melayang.


Aditya menyuruh Cahya untuk turun dari atas pahanya, kemudian dia turun dari ranjang, dan menata posisi istrinya. Aditya berdiri disisi ranjang, dan menaruh kedua kaki istrinya di pundaknya dan mulai menenggalkan dirinya lagi. Gerakannya semakin tidak terkendali, membuat keduanya tidak berhenti meracau. Sampai akhirnya Aditya menurunkan kaki istrinya dan berganti posisi, tengkurap diatas Cahya dan mulai bergerak lagi sampai akhirnya mereka berdua meledak dalam kenikmatan.


Aditya kembali berbaring diatas ranjang dan memeluk Cahya untuk tidur. Saat matanya baru mulai terpejam, Aditya lagi lagi merasakan miliknya kembali mengeras lagi. Merasakan sesuatu yang mengganjal, Cahya membuka matanya dan mendongakkan kepalanya menatap Aditya seolah ingin menanyakan apakah suaminya itu menginginkannya lagi. Aditya menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan keadaannya, tetapi tampaknya Cahya tidak merasa keberatan jika suaminya itu menginginkannya lagi. Mereka akhirnya melanjutkan lagi percintaannya.


Sampai akhirnya mereka meledak lagi, mereka berdua sama sama terengah engah dan mengatur napasnya. Dan terjadi lagi saat keduanya memejamkan mata, milik Aditya mengeras lagi, mau tidak mau Aditya harus melakukannya lagi dengan terpaksa karena istrinya juga terlihat mengerti keadaannya. Hal itu terjadi berulang kali membuat Aditya dan Cahya tidak tidur semalaman. Aditya mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan keadaannya dan masih terus bertanya apa yang terjadi dengan dirinya.


****


Cahya terbangun dan terkejut melihat jam, dia bangun kesiangan, karena semalam Aditya tidak membiarkannya tidur. Dia bergegas bangun dan merasakan tubuhnya pegal pegal luar biasa, tapi dia mencoba menahannya dan harus segera membuat sarapan untuk suaminya. Cahya juga membangunkan Aditya karena jika tidak segera bersiap suaminya akan telat oergi ke kantor apalagi kemarin dia bilang akan ada meeting. "Adit bangun, kau harus ke kantor, nanti kau terlambat" Cahya menggoyangkan badan suaminya yang masih tertidur pulas.


"Jangan bangunkan aku Ca, aku masih mengantuk"


"Tapi kau bilang kau ada meeting?"


"Meetingnya siang, aku akan berangkat nanti, biarkan aku tidur sekarang" Suara Aditya parau.


Cahya merapikan selimut Aditya, dan menatap suaminya yang tertidur pulas didepannya. Dia sangat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi semalam, Aditya seolah tidak merasa lelah. Entah sudah berapa kali mereka berdua melakukannya dalam waktu semalam, Aditya sangat berbeda dari sebelumnya. Rasanya semalam dia ingin memprotes suaminya itu karena dia tidak bisa tidur, tetapi Cahya merasa takit jika harus menolaknya takut Aditya akan berpaling darinya.


Aditya terbangun menjelang siang, dia mengernyit merasakan pegal dibadannya terutama dipinggangnya. Lagi-lagi dia mengutuk dirinya sendiri, dan dilanda kebingungan yang luar biasa. Tetapi walaupun dia tidak nyaman dengan badannya dia harus tetap ke kantor untuk meeting, jika selesai dia akan langsung pulang untuk beristirahat.


Aditya keluar kamar setelah selesai bersiap, pinggangnya sangat sakit dan terus dia pegang. Cahya melihat sepertinya Aditya sedang menahan rasa sakit, dia menghampirinya. "Are you okay?" Tanya Cahya.


"Kau ini sebenarnya kenapa, tingkahmu semalam sangat aneh, kau bahkan tidak membiarkan kita berdua tidur" Gumam Cahya sedikit kesal.


"Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi, sudahlah lupakan, bukannya senang aku justru menyiksamu dan diriku sendiri, maafkan aku"


Cahya tersenyum memaklumi dan menyuruh suaminya itu untuk makan sebelum pergi. Selagi Aditya sedang makan, Cahya pergi ke ruang tamu untuk mengambil laptop suaminya yang tergeletak disana agar tidak tertinggal. Mata Cahya tertuju pada bungkus permen disebelah laptop suaminya itu. "Ini kan permen dari tas Elea? dan Adit memakannya, tapi ya sudahlah toh itu hanya sebuah permen"


Cahya memberikan laptop itu pada suaminya, dia meminta agar Aditya segera pulang jika meetingnya sudah selesai untuk beristirahat. Mobil dari perusahaan datang untuk menjemputnya. Aditya mengecup kening Cahya dan berpamitan.


Setelah suaminya berangkat, Cahya langsung membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. Dia sangat merasakan tidak nyamannya dirinya dan dalam beberapa menit dia langsung tertidur.


****


Cahya terbangun dan menyadari jika dia sudah tertidur lebih dari 2 jam. Cahya memutuskan untuk mandi dengan air hangat karena pasti bisa membuat tubuhnya lebih nyaman. Benar saja Cahya merasa sangat nyaman dan lebih ringan setelah mandi. Setelah berganti pakaian dia membuat teh chamomile dan duduk menikmati teh sambil membaca buku diruang tamu.


Suara bel rumah mengalihkannya, mungkin Aditya sudah pulang pikirnya tetapi saat membuka pintu dia menemukan Ariel dan Elea datang. Cahya menyuruh mereka untuk masuk dan membuatkan mereka minum.


"Ini hari terakhir kalian disini, bukannya jalan-jalan kenapa malah kesini"


"Kami baru saja selesai berjalan-jalan Ca, jadi kami mampir, Adit masih dikantor ya?" Tanya Elea.


"Iya tapi sebentar lagi pasti akan pulang dia hanya pergi untuk meeting"


"Ca, Ariel memutuskan untuk stay over 1 hari karena kemarin dia sibuk dengan pekerjaannya dan aku memprotesnya"


" Haha itu ide yang sangat bagus, aku sudah duga kalian pasti akan kesulitan meninggalkan tempat ini, oh iya El kemarin saat kita bersih-bersih aku tidak sengaja menjatuhkan tasmu segera aku merapikannya tetapi ada satu barang yang tertinggal, sebuah permen tapi sayangnya permen itu dimakan oleh Adit maaf ya, aku tidak tahu jika dia memakannya"


Ariel dan Elea saling berpandangan lalu mereka tertawa bersama, membuat Cahya bingung apakah ada yang salah dengan ucapannya tadi atau apa kenapa mereka malah menertawainya. Aditya akhirnya datang dengan masih mengernyit merasakan ketidaknyamanannya dengan pinggangnya. Aditya melihat Ariel dan Elea sedang duduk dan menyapa mereka.


"Lo kenapa Dit?" Tanya Ariel penasaran karena Aditya seperti sedang kesakitan.


"Tidak apa-apa pinggangku hanya sedikit sakit, aku permisi dulu ke dalam untuk berganti pakaian"


Aditya pun pergi meninggalkan Ariel dan Elea. Cahya berpamitan untuk menyusul suaminya dan menyiapkan pakaian untuknya. Sedangkan Ariel dan Elea justru tertawa terpingkal pingkal melihat Aditya sampai Elea mengeluarkan airmatanya karena tawa nya.