
"Bara, kenapa kau mendorongku???"
"Diamlah kau perempuan sok!!!! Karena dirimu aku harus kehilangan pekerjaanku" Teriak Bara tepat didepan wajah Cahya.
Cahya mengernyit karena bingung dengan apa yang diucapkan Bara. "Kehilangan pekerjaan karenaku??? Apa maksudmu???"
"Kau jangan berpura-pura lagi, kau kan yang menghasut suamimu agar memecatku?? Kau masih dendam kepadaku karena aku dulu menolak cintamu dan kau akhirnya melampiaskan dendammu itu sekarang padaku??? Iya kan???"
"Kau dipecat??? Bagaimana bisa??" Seru Cahya tidak percaya.
"Diamlah dan jangan pura-pura tidak tahu Ca, kau ini memang perempuan yang licik dibalik wajah lugumu, dan kau pandai sekali memanfaatkan keadaan, dasar payah!!!"
"Bara, kau salah paham, aku tidak tahu jika kau dipecat oleh suamiku, aku minta maaf aku akan bicara padanya"
Bara tidak memperdulikan ucapan Cahya, dia sangat marah lalu pergi meninggalkan Cahya.
Cahya kembali ke tempat dimana tadi dia dan Aditya duduk. Cahya mengajak Aditya untuk segera pulang walaupun acara masih belum selesai. Aditya memandang heran ke Cahya karena terlihat wajah istrinya berbeda dari sebelumnya dan sikapnya juga sedikit aneh. Entah apa yang terjadi dengan istrinya itu padahal tadi baik-baik saja dan sangat menikmati bertemu dengan teman-temannya, sekarang malah justru mengajaknya pulang.
Saat di mobil, Cahya tidak berbicara sama sekali, membuat Aditya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aditya bertanya ada apa tetapi Cahya tidak mau menjawab pertanyaannya. Aditya pun mengambil ponselnya dan menghubungi Mama nya untuk menanyakan keadaan Kyros dan Kyra dirumah karena dia takut terjadi sesuatu kepada mereka karena Cahya terlihat diam seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu istrinya itu. Tetapi ternyata tidak sedang terjadi apapun di rumah, kedua bayinya juga dalam keadaan baik-baik saja dan sekarang bahkan mereka sedang tidur. Aditya mencoba bertanya lagi pada Cahya, tetapi istrinya itu tetap saja diam dan tidak mau menjawab pertanyaannya.
******
Sampai dirumah, Cahya langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobil hingga membuat Aditya yang masih ada didalam mobil terlonjak kaget. Aditya bergegas keluar dan mengejar Cahya yang sudah masuk ke dalam rumah. Aditya hanya melempar senyum kepada Mamanya yang berjalan dari ruangan keluarga, Aditya setengah berlari mengejar Cahya yang masuk ke kamar, membuat Mamanya hanya bisa keheranan melihat anak dan menantunya yang sepertinya sedang bertengkar.
Aditya masuk ke kamarnya dan menutup pintunya. Cahya melempar tasnya begitu saja dan pergi ke ruang ganti, Aditya langsung menyusulnya. "Sayang, kau ini sebenarnya kenapa??? Sejak tadi hanya diam, kau marah padaku ya??? Tapi kenapa?? Aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun???"
"Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku jika kau memecat Bara?"
"Oh itu, aku memang memecatnya, dia pantas mendapatkannya, tapi darimana kau tahu tentang itu???"
Cahya mengusap kasar rambutnya lalu berseru marah kepada Aditya. "Ah ya Tuhan, kenapa kau melakukan itu??? Apa kesalahan yang dia kakukan sehingga kau memecatnya??"
"Aku tidak suka sikapnya padamu, dia sudah menghinamu, lagipula kenapa kau marah padaku?"
"Adit...!!! Kau tidak bisa begitu saja memecat seseorang hanya karena sebuah kesalahan yang sebenarnya bisa diperbaiki, kenapa kau melakukannya? Pantas saja tadi dia sangat marah kepadaku, dan menuduhku telah menghasutmu untuk memecatnya, kau harusnya memberinya SP jangan langsung memecatnya begitu saja!!"
"Dia berani memarahimu???"
"Tapi kan aku memecatnya karena keinginanku sendiri, ah dasar si payah itu! Sayang, alu memang terbuasa melakukannya jika ada staf ku yang tidak bisa menjaga attitudenya, dan dia memang tidak memiliki attitude yang baik, sudahlah lupakan saja jangan kau ambil hati kemarahan si payah itu, dia pantas mendapatkannya" Gumam Aditya dengan santainya tapi justru membuat Cahya semakin marah kepada suaminya itu.
"Ah sudahlah terserah kau saja, minggir aku mau ke kamar mandi!!" Cahya mendorong Aditya dengan kasar dan pergi meninggalkannya.
Aditya pergi keluar kamar membiarkan istrinya itu agar tenang lebih dulu, dan dia berjalan menuju ruang keluarga dimana kedua bayinya sedang tidur disana. Sampai di ruang keluarga, Aditya melihat mamanya sedang menemani kedua cucunya yabg tertidur pulas. Mama Aditya langsung menanyakan pada putranya itu kenapa Cahya terlihat marah saat pulang tadi, tetapi Aditya hanya menanggapinya dengan senyuman dan mengatakan bahwa tidak ada permasalahan yang besar karena setelah merasa tenang, pasti Cahya akan baik dengan sendirinya.
Aditya meminta Mamanya untuk membantunya membawa kedua bayinya ke kamar, agar mereka bisa beristirahat disana saja. Setelah membaringkan cucunya dibox bayinya, Mama Aditya keluar dan meninggalkan mereka.
Cahya sudah selesai mandi dan berganti pakaian dan masuk ke kamar Kyra dan Kyros karena dia melihat Aditya ada disana menjaga keduanya. Cahya masih memasang wajah jutek ke Aditya, suaminya itu memang kadang-kadang keterlaluan jika dia tidak menyukai seseorang. Cahya sama sekali tidak tahu apapun tentang Bara yang dipecat Aditya, tetapi laki-laki itu justru meluapkan amarahnya pada dirinya, itu juga dulu pernah terjadi pada Theo. Cahya tidak habis pikir dengan Aditya, kenapa mudah sekali mengambil tindakan yang merugikan orang lain.
Aditya hanya tersenyum tipis melihat kemarahan Cahya padanya, dia melakukan kesalahan kaarena sebelumnya tidak memberitahu istrina tentang hal itu. Aditya beranjak dari sofa dan memeluk Cahya dari belakang, istrinya itu yang sedang berdiri menatap Kyros yang tertidur pulas dibox bayinya. Aditya menciumi leher Cahya dengan lembut seraya meminta maaf, karena perbuatannya yang akhirnya membuat istrinya itu jadi pelampiasan kemarahan Bara.
"Maaf sayang, tetapi kau pasti tahu kan aku mengambil sikap seperti itu karena pasti ada alasannya, bukan karena dia sudah menghinamu saja tetapi ada hal lain yang menjadi penilaianku terhadapnya, jadi jangan kau ambil pusing, semua ku lakukan dengan banyak pertimbangan, jadi jangan marah-marah lagi oke?"
"Dia tadi meneriaki ku, dia sangat marah padaku, kau kenapa tidak memberitahuku tentang hal itu"
"Sudahlah, lupakan si payah itu, aku minta maaf ya?" Ucap Aditya sambil mengusap lembut rambut Cahya.
"Iya" Jawab Cahya singkat.
Aditya melepaskan pelukannya pada Cahya dan mendongakkan kepala istrinya itu agar mau menatapnya. Aditya mendekatkan wajahnya dan Cahya memejamkan matanya karena tahu suaminya itu pasti akan menciumnya. Saat bibir Aditya sudah sangat dekat dengan bibir Cahya dan hanya tingga beberapa centimeter lagi tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara Kyros yang menangis dengan begitu kerasnya, bayi itu bangun dan langsung menangis. Cahya membuka matanya dan tertawa melihat Aditya yang memasang wajah kesal karena usahanya digagalkan oleh Kyros.
"Ya ampun, bayi ini selalu saja tahu jika aku ingin berduaan dengan ibunya dan selalu saja menggagalkannya dengan cara menangis, ya ampun nak kenapa kau tidak pengertian sekali kepada papamu ini" Gerutu Aditya kesal membuat Cahya hanya tertawa mendengarnya.
*****
Satu bulan kemudian..........
Kehidupan rumah tangga Elea dan Danist sudah berjalan 1,5bulan, semua berjalan normal dan baik-baik saja. Mereka tidur seranjang tetapi menjauh satu sama lain. Pada malam-malam pertama tentunya sangat canggung, mengingat mereka dulu hanya bersahabat dan pernikahan ini juga bukan berdasarkan cinta. Ketika tanpa sengaja kaki atau lengan mereka bersenggolan, Danist akan segera meminta maaf dengan canggung, lalu mereka akan bergeser dengan cepat masing-masing di ujung sisi ranjang yang berseberangan.
Tetapi lama kelamaan mereka terbiasa, mereka akan mengucap selamat tidur tanpa kata, lalu menempati posisi masing-masing, sambil berusaha tidak menyentuh satu sama lain di ranjang itu.
Danist juga berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk Gienka, dan selalu setia menemani Elea begadang saat Gienka menangis dimalam hari. Ariel juga masih sering datang tetapi lelaki itu memilih tidak banyak bicara kepada siapapun, dan hanya mengajak Gienka berbicara saat menggendongnya setelah itu berpamitan untuk pulang, hanya itu yang dia lakukan setiap kali datang. Sepertinya setelah membuat kekacauan saat makan malam dan ancaman dari Elea, Ariel takut hingga membuatnya enggan banyak bicara dan hanya menjawab sekenanya saat Elea bertanya padanya.