
Ariel mengantar Gienka pulang setelah tadi menjemputnya di rumah Aditya. Sedikit terlambat dari biasanya karena Gienka sempat menolak untuk diajak pulang, dia terlalu menikmati bermain bersama dengan Kyra dan Kyros. Terlihat mobil Danist sudah berada di garasi, menandakan bahwa dia dan Elea sudah pulang. Ariel menurunkan putrinya dari mobil dan menggandengnya untuk naik ke atas dan masuk ke dalam rumah. Gienka terlihat senang karena dia membawa mainan hadiah dari Cahya, mainan yang sama seperti milik Kyra.
Pintu di buka oleh Mama Elea dan Kyra langsung memeluk Omanya dengan senang sambil menceritakan bahwa dia mendapat mainan baru dan juga baju baru dari Cahya yang sama seperti Kyra.
"Ma, aku pulang dulu!" Ariel berpamitan pada Mama Elea.
"Iya Iel...! Makasih ya"
"Gienka sayang, besok papa Yel jemput lagi di sekolah ya, love you" Ariel duduk berjongkok kemudian mencium pipi Gienka.
"Love you too papa Yel" Gienka membalas ciuman Ariel.
Ariel berdiri dan hendak meninggalkan rumah Elea, tetapi terdengar panggilan dari dalam rumah. Suara Elea memanggilnya dan tak lama Elea keluar dari dalam sambil menggendong Friddie. Elea kemudian menturuh Mamanya agar membawa Gienka masuk ke kamar.
Ariel menghentikan langkahnya dan menanyakan ada keperluan apa Elea memanggilnya. Walaupun Elea meragu bahwa Ariel akan menyetujuinya, dia tetap harus menyampaikan pesan dari Ayah mertuanya.
"Iel, aku dan Danist baru saja dari rumah sakit, Ayah sedang sakit"
"Bukan urusanku El! Jadi hanya itu yang ingin kau sampaikan padaku, aku harus segera pulang aku lelah sekali"
"Tunggu Iel....!!! Setidaknya sekali saja kau temui dia, apapun kesalahannya dia tetaplah Ayahmu, temui dia Iel, dia sangat ingin bertemu denganmu"
"Sudahlah El, jangan merusak suasana hatiku, aku tidak mau Gienka mendengar kemarahanku" Ariel kemudian turun dan meninggalkan Elea begitu saja.
Danist menyentuh pundak Elea. Sudah Danist duga bahwa akan percuma saja menyampaikan hal itu pada Ariel, karena pasti dia tidak akan mau mendengarnya ataupun mau mengerti keadaan Ayahnya. Elea menatap Danist dengan sedih, dia tidak tega ketika mengingat kondisi Ayah mertuanya yang terbaring lemah di rumah sakit serta menyayangkan sikap Ariel yang tidak mau mengerti. Entah sampai kapan Ariel mau menghentikan keegoisannya.
Elea dan Danist juga tadi sempat berbincang dengan dokter yang menangani Pak Andi. Dokter mengatakan jika kondisi pak Andi sangat lemah, dia terlalu banyak pikiran dan tidak menjaga asupan makanannya dengan baik hingga mengalami gangguan lambung yang parah dan berdampak pada livernya juga orgab yang lainnya, lebih tepatnya sudah mengalami komplikasi, sehingga sudah sangat sulit untuk diobati. Tetapi sebagai anak, Danist tetap meminta perawatan yang terbaik untuk Ayahnya.
*****
Danist menjemput Mamanya di stasiun, sementara Elea mengajak Gienka dan Friddie di bantu Mamanya sudah berada di rumah sakit. Gienka tidak pergi ke sekolah karena pagi tadi mendapat kabar bahwa kondisi pak Andi memburuk, jadi mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan meminta agar Gienka dan Friddie dibawa. Elea dan Danist tadi juga sudah meminta maaf pada pak Andi karena gagal untuk membawa Ariel datang.
Akhirnya Danist dan Mamanya sampai juga di rumah sakit. Saat di mobil, Danist sudah menceritakan tentang keadaannya Ayahnya saat ini, juga keinginannya untuk bertemu dengan Mamanya karena dia ingin sekali meminta maaf padanya.
Danist mengajak Mamanya masuk ke ruang ICU, disana ada Elea, tetapi Danist tidak menemukan kedua anaknya juga Mama mertuanya. Ternyata Elea sudah menyuruh mereka untuk pulang lebih dulu. Elea tadi berkali-kali mencoba menghubungi Ariel dan meminta lelaki itu agar datang walau sebentar saja tetapi Ariel menolak dan justru setelahnya mematikan telepon Elea setelah itu ponsel Ariel sudah tidak bisa dihubungi lagi menandakan bahwa lelakibitu menonaktifkan ponselnya. Keadaan Ayah mertuanya semakin memburuk saja, Elea bahkan semakin tidak bisa menahan airmatanya saat mertuanya itu masih menginginkan agar Ariel datang untuk menjenguknya.
Suara lirih dari pak Andi terdengar memanggil nama Mama Danist. Dengan langkah pelan, Mama Danist mendekat disisi ranjang perawatan.
"Sari, aku telah melakukan banyak kesalahan padamu, telah banyak menyakitimu, menyia-nyiakanmu, dan juga sudah sering membuatmu marah selama ini, aku berharap kau memaafkanku agar aku bisa pergi dengan tenang, aku juga meminta maaf jika Ariel telah bersikap buruk kepadamu ataupun kepada Danist, aku harap kau mau memakluminya" Ucap Pak Andi dengan suara lirih.
"Aku mengerti, tidak apa! Aku juga sudah sering mengatakan pada Danist agar tidak terlalu memikirkan ucapan atau sikap Ariel, karena bagaimanapun Ariel adalah adiknya, kau pasti sembuh, Gienka dan Friddie masih membutuhkanmu"
"Aku sudah tidak bisa menahannya, jagalah kedua cucuku, dan terima kasih selama ini kau sudah berjuang untuk membesarkan Danist dengan baik, dia menjadi anak yang luar biasa, aku sangat bangga dan beruntung karena kau sudah mengajarkan banyak hal baik padanya, maafkan aku Sar"
"Aku sudah memaafkanmu!"
"Terima kasih"
Mama Danist menganggukkan kepalanya dan mendoakan agar mantan suaminya itu bisa segera sembuh. Sebesar apapun kesalahan yang pernah dilakukannya dulu, sudah sewajarnya sebagai manusia bisa dia memaafkannya. Selama ini dia juga melihat penyesalan di mata lelaki itu setelah mengetahui bahwa Danist adalah anaknya. Itu sebabnya dia meminta agar Danist bisa bersikap baik kepada Ayahnya walaupun apa yang sudah terjadi dulu sangat melukai hatinya. Perlahan Danist juga mulai bisa menerima semuanya, tetapi bukan berarti putranya itu kemudian memanfaatkan situasi yang ada untuk keuntungannya, Danist tetap bersikeras menolak semua yang ingin diberikan Ayahnya dan tetap menyuuhnya untuk memberikan kepada Ariel, karena Ariel yang lebih berhak atas semua itu.
Saat Mama Danist hendak keluar dari ruangan ICU itu, tiba-tiba Elea menjerit karena melihat napas Ayah mertuanya tersenggal, dan menyuruh Danist untuk segera memanggil dokter.
Dokter dan perawat segera masuk ke ruangan itu dan melihat kondisi dari pak Andi. Lama akhirnya mereka keluar, dan dokter mengatakan bahwa pak Andi sudah meninggal dunia, dan mereka sudah mencoba untuk menyelamatkannya tetapi usaha mereka gagal. Saat itu juga Danist terduduk lemas di lantai dan Elea memeluk Mama mertuanya seraya menangis dan marah kepada Ariel kenapa tidak mau menyempatkan sedikit waktunya untuk datang. Itu adalah keinginan terakhir Ayah mertuanya tetapi dia gagal membuat Ariel datang.