
Setelah dokter memeriksa, dia mengatakan jika kondisi pasca operasi sudah cukup bagus hanya saja Cahya mengalami shock berat dan keluarga harus bisa mengatasinya dengan tidak membuatnya memikirkan hal yang bisa membuatnya khawatir atau bersedih.
Semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing, dalam kondisi seperti ini membuat Cahya tidak memikirkan hal yang bisa membuatnya sedih adalah hal yang sangat sulit, terlebih Cahya tadi sangat histeris dengan kenyataan yang ada didepannya.
Aditya meminta kepada semua orang agar hangan ada airmata yang keluar saat mereka ada didekat Cahya, sebisa mungkin mereka harus memiliki cara agar bisa membuatnya tidak bersedih lagi.
Aditya melihat mamanya sejak semalam juga tidak kalah khawatir dengannya sedangkan Mamanya juga masih dalam kondisi perawatan atas sakit yang dideritanya.
" Mama, disini ada banyak orang yang akan menjaga Cahya, Mama pulang saja ya? Biar Adri yang
mengantar Mama" Ucap Aditya.
" Tidak Adit, Mama disini saja, kalau mama pulang Mama akan butuh waktu lama untuk kesini lagi, sedangkan Mama ingin tahu keadaan menantu Mama dan mama juga mau menjaganya".
Aditya hanya diam mendengar perkataan Mamanya, dia sangat tahu bahwa jika Mamanya sudah memutuskan sesuaru pasti akan sangat susah untuk ditolak. Tetapi kesehatan Mamanya juga sangat penting.
" Oke baiklah jika Mama memaksa, dan Adri tolong kau cari hotel didekat sini, agar Mama bisa beristirahat, kali ini Mama jangan menolakku, Mama ikut Adri beristirahatlah lalu jika Cahya sudah siuman aku akan menghubungi Mama, oke?"
Kali ini Nyonya Harry tidak bisa menolak permintaan putranya, memang benar dia juga tidak boleh abai akan kesehatannya. " Tapi sayang, obat mama ada dirumah, tapi ya sudah biar nanti mama telepon Papamu saja untuk membawanya kekemari"
Akhirnya Nyonya Harry pergi bersama Adri, Elea serta Ariel juga berpamitan pada Aditya dan mengatakan nanti sore akan kesini lagi. Kini hanya tinggal Aditya beserta Chika dan ibu mertuanya.
****
Elea dan Ariel dalam perjalanan pulang, Elea sangat merasa sedih dan terpukul atas kejadian yang dialami oleh sahabatnya. Dia sangat tahu pasti Cahya akan sangat terguncang setelah ini, melihat tadi dia begitu histeris.
" Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Hatiku sangat sakit melihat Cahya begitu histeris tadi, dia sangat bahagia dengan kehamilannya dan sekarang?" Gumam Elea pada Ariel.
" Saat ini yang bisa kau lakukan hanya membuatnya tersenyum atau tertawa seperti yang biasa kalian lakukan agar dia tidak memikirkan hal ini terus-terusan"
" Kau benar honey, aku akan mencobanya, semua orang pasti merasa terguncang akan hal ini, lalu bagaimana keadaan Aditya, kau tadi bersamanya?"
" Semua orang terguncang, tetapi dia lebih dari itu, selama bertahun-tahun aku menjadi sahabatnya baru kali ini aku melihat sahabatku itu hancur sehancur-hancurnya, dia memasang topeng tegar agar keluarganya tidak mengkhawatirkannya tetapi terlihat sangat jelas dia begitu rapuh, bukan karena dia kehilangan calon bayi mereka tetapi lebih kepada Cahya, dan mengutuk dirinya sendiri karena telah lalai menjaga istrinya"
" Aku tahu, tapi saat ini bukan saatnya saling menyalahkan diri, semua sudah direncanakan Tuhan, mungkin suatus saat nanti akan ada kebahagiaan yang menunggu mereka, semoga saja"
Disisi lain Aditya duduk disamping Cahya yang masih belum membuka matanya. Berharap setelah bangun istrinya merasa lebih baik dan tidak histeris seperti tadi. Aditya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Cahya tidak lagi memikirkan hal yang sudah terjadi.
Cahya perlahan membuka matanya dan melihat Aditya disampingnya. Semua yang terjadi adalah murni kesalahannya, kini semua orang pasti bersedih. Kesalahannya telah menghancurkan hati semua orang, bayinya telah pergi, Aditya pasti sangat kecewa dan marah padanya karena sudah dibohongi olehnya.
" Alhamdulillah kau sudah bangun sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Aditya. Tetapi Cahya hanya diam memandangannya dan meneteskan airmata.
" Hei kenapa kau menangis, aku mohon jangan menangis lagi oke?" Aditya menyeka airmata Cahya.
" Maafkan aku!" Suaranya lirih sambil menggenggam tangan Aditya.
" Maaf untuk apa?? Sudahlah yang terjadi sudah terjadi jangan dipikirkan, yang penting sekarang kau segera sembuh dan kita bisa segera pulang".
****
Semua orang menjalankan tugasnya dengan baik untuk tidak menangis saat berada didepan Cahya. Hari berlalu Cahya menjadi sangat pendiam dan tidak pernah berbicara atau membahas apapun. Aditya sedikit lega karena sepertinya istrinya tidak lagi histeris dan menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.
Chika masuk dan menemui kakaknya untuk menghiburnya. Aditya keluar dari ruangan dan membiarkan Chika bersama dengan Cahya.
" Hai kak, selamat pagi menjelang siang, aku ingin sekali kakak segera sembuh dan meninggalkan tempat ini, lalu kita pulang dan kita bisa mengobrol banyak hal dirumah" Chika berbicara menatap Kakaknya sambil tersenyum.
Cahya hanya diam tidak menanggapi apapun dari ucapan Adiknya itu, tatapan nya justru ke depan dan tidak melihat kearah Chika sama sekali. Chika mencoba memahami dan tetap mengajak kakaknya bicara.
" Kakak tahu, sekarang aku sedang sibuk mengerjakan skripsiku, sebentar lagi aku akan lulus, aku belajar dengan sangat baik karena tidak mau mengecewakan Kakak, selama ini kakak dan ibu bekerja dengan keras untuk membiayai kuliahku, aku tidak mau membuat kalian kecewa, dan kakak pasti akan sangat bangga padaku, kakak tahu kan kalau aku sangat ingin memakai Toga jika melihat foto kakak saat memakai pakaian wisuda itu aku sangat ingin seperti kakak, kakak selalu jadi sumber inspirasiku, aku mau kakak memberi semangat untukku agar skripsiku lancar dan aku bisa lulus dengan cepat"
Chika menundukkan kepalanya dengan sedih, lagi-lagi kakaknya hanya diam tidak merespon apapun yang dikatakannya. Sebelum airmatanya tumpah, Chika langsung mencium kening kakaknya dan mengatakan jika dia harus cepat sembuh lalu segera keluar meninggalkan ruangan itu dengan sedih.
Aditya melihat adik iparnya keluar dengan wajah yang sedih dan menanyakan apa yang terjadi. Chika pun bercerita jika Cahya tidak mengatakan atau merespon apapun saat dia mengajaknya berbicara.
" Tenanglah Chika, kita harus memberi waktu untuk Cahya dan kita tidak boleh menyerah, oke??, hapus airmata mu dan aku akan masuk ke dalam"
Aditya masuk ke ruangan rawat inap istrinya dan melihatnya sedang memandang ke arahnya tanpa ekspresi.
" Kau sejak kemarin diam dan tidak bicara apapun, apa kau merasa bosan disini??? Jika benar, aku akan menayakan pada dokter apa kau sudah boleh pulang atau belum, mengingat kondisimu juga semakin baik"
Dan lagi-lagi tidak ada respon apapun dari Cahya, baik itu hanya sebuah kata atau sebuah senyuman juga tidak ada, tetapi Aditya tidak boleh menyerah.
" Saat kita di maldives, kau pernah mengatakan jika kau ingin aku membawamu untuk liburan dengan suasana alam yang asri, bagaimana kalau aku mengajakmu ke Puncak, disana aku memiliki sebuah villa keluarga, suasananya sangat sejuk, ada kebun teh, dibelakang villa ada sungai yang mengalir dan airnya sangat jernih, pemandangannya sangat indah kau pasti menyukainya, tapi kau harus segera sembuh dan aku akan mengajakmu kesana"
Cahya hanya terdiam seperti orang yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri tetapi Aditya mencoba tetap memahami mungkin istrinya sedang butuh waktu untuk menerima semua yang terjadi.