
"Apa Mama dan Papa juga Adri sudah makan siang??? Jika belum aku akan memasak lagi karena tadi aku hanya memasak sedikit itupun aku sudah memakannya dengan Elea" Tanya Cahya.
"Tidak perlu sayang, kami tadi mampir ke restoran dan makan siang disana, Elea tadi kesini??"
"Iya Ma, hampir setiap hari dia datang, terkadang bergantian aku yang berkunjung ke rumahnya"
"Kalian berdua memang tidak bisa dipisahkan, ob iya Adit akan pulang jam berapa?" Tanya Mama mertuanya.
"Tidak pasti Ma, kadang juga malam baru pulang, lebih baik Mama dan Papa mandi dan bersih-bersih dulu, kalian pasti sangat lelah, biar aku yang menjaga Kyra dan Kyros"
"Apa kamar mandinya hanya ada satu?"
"Mama pakai saja kamar mandi disini, ada kamar mandi yang lain di kamar tamu, Papa bisa memakainya"
Sementara kedua mertuanya pergi ke kamar mandi, Cahya kembali mengurus kedua bayinya. Di halaman belakang, Adri menemukan lipatan kain dan mengambilnya lalu menjadikannya sebagai alas untuk berbaring di tanah. Hawa sejuk menerpanya dan memang pemandangan disini begitu cantik, membuat Adri menutul matanya. Perjalanan yang cukup panjang membuatnya sangat lelah dan juga sepertinya dia mengalami jetlag, tidur disini sebentar mungkin bisa mengurasi rasa tidak nyaman di tubuhnya.
Kyra sepertinya sudah merasa mengantuk hingga membuatnya sedikit rewel dan menangis. Cahya dengan segera menggendongnya dan menyusuinya sampai bayi itu tertidur di pelukan Cahya. Saat Cahya akan berdiri untuk membawa Kyra ke box bayinya, Kyros sudah tidak ada gerakan. Cahya tersenyum karena putranya itu tidur dengan sendirinya tanpa ada drama seperti biasanya.
Aditya akhirnya pulang, dia tidak pergi ke kantor dan hanya mengunjungi proyeknya saja. Aditya membuka pintu rumah yang tidak di kunci dan melihat suasana sepi, sepertinya istrinya sedang tidur siang dengan anak-anaknya, dia pun memilih langsung masuk dan tidak ingin mengganggu istrinya. Tidak langsung masuk ke kamar, Aditya memilih pergi ke dapur dulu untuk mengambil minum.
Aditya membuka kulkas dan menuang air putih di gelas dan meminumnya sampai setengah. Dia juga mengambil satu buah apel di kulkas, lalu membawanya ke halaman belakang bersama gelas yang masih ada sisa air yang tadi dia minum. Beristirahat sebentar di halaman belakang pasti menyenangkan, daripada harus mengganggu istrinya dan anaknya yang sepertinya sedang tidur siang.
Aditya melangkah menuju halaman belakang, tetapi kemudian langkahnya terhenti di tengah pintu. Dia mengernyit melihat seorang laki-laki yang sedang terbaring disana, dan wajah tertutup oleh lengannya. Aditya mulai berpikir siapa laki-laki ini, berani sekali tidur di rumahnya. Pikiran Aditya pun melayang kemana-mana, bahkan sempat terpikirkan olehnya yaitu hal buruk yang mungkin saja dilakukan laki-laki ini pada istrinya.
Melihat gelas yang di pegangnya masih terisi air, dengan cepat Aditya menyiramkan air beserta apel yang di pegangnya itu tepat ke arah laki-laki yang sedang berbaring di tanah. Sontak Adri langsung bangun dari tidurnya dan berteriak kesakitan.
"Woe.... Sakitt..... Aduhhhh" Seru Adri yang kemudian menemukan kakaknya sedang memegang gelas di tangannya.
"Kakak, kenapa kau menyiramku dengan air? Dan apa tadi yang kau lemparkan ke kepalaku, astaga sakit sekali....." Adri clingak-clinguk melihat ke bawah dan menemukan apel, sepertinya apel itu yang di pakai Kakaknya melemparnya.
"Adri....!!! Kau???? Kenapa bisa ada disini?"
"Kenapa bisa disini? Kakak yang kenapa bisa melemparku dengan apel dan menyiramku? Jahat sekali!" Gerutu Adri.
"Mana aku tahu kalau itu kau, kau menutup wajahmu dengan lenganmu, dan kau datang juga tidak memberitahuku, ku pikir kau orang yang mau berniat buruk kepada Cahya"
"Berniat buruk apaan.... Kakak mengganggu tidurku saja" Dengan wajah kesal, Adri meninggalkan Aditya dan masuk ke dalam rumah.
Saat itu pula Cahya datang karena mendengar keributan di luar, dan melihat Adri mengusap kepalanya dan meringis kesakitan. "Adri, kau kenapa???" Tanya Cahya.
Adri membalikkan tubuhnya dan menunjuku ke arah Aditya. "Suami kakak, dia melempar kepalaku dengan apel dan lihatlah di juga menyiram wajahku dengan air"
"Bagaimana bisa???"
"Tanya saja sendiri padanya, aduh kepalaku sudah sakit ditambah lagi dengan ini, makin sakit saja" Gerutu Adri sambil berlalu meninggalkan Cahya.
"Kau ini dasar, keterlaluan sekali, kasihan dia pasti itu sakit sekali, masuklah, Mama dan Papa juga datang bersama Adri, mereka sedang mandi"
"Mama dan Papa juga???"
Cahya menganggukkan kepalanya, lalu mengajak masuk suaminya dan menyuruhnya untuk minta maaf kepada Adri. Aditya pun menghampiri Adri yang duduk di ruang tamu dan meminta maaf kepadanya.
Nyonya Harry keluar dari kamar Cahya dan melihat menantunya sedang sibuk di dapur. Lalu mendekatinya yang ternyata sedang menyiapkan makanan untuk Aditya karena suaminya itu lapar dan belum makan siang. Cahya memberitahu kepada Mama mertuanya itu jika Aditya sedang mengobrol dengan Adri di ruang tamu. Bergegas dia kesana, karena sudah sangat merindukan putra sulungnya itu.
"Adit sayang...!"
Aditya menoleh dan melihat mamanya, dia langsung berdiri dan menghampirinya lalu memeluknya. "Mama apa kabar? Kenapa datang tidak memberitahu? Adit kan bisa menjemput kalian??"
"Mama dan Papa ingin membuat kejutan untuk kalian, lagipula ini juga mendadak, Papa mu ingin berbicara denganmu, lebih baik kau makan dulu, Cahya sudah menyiapkannya"
*****
Aditya menyantap makan siangnya yang sangat terlambat tetapi kemudian dia melihat Papanya menghampirinya. Dengan sopan Aditya menghentikan aktifitasnya dan berdiri memeluk Papanya.
Tuan Harry menyuruh Aditya melanjutkan makannya sambil mengejaknya mengobrol. Dia pun menjelaskan tujuan kedatangannya kesini, dan ingin menggantikan putranya itu disini karena terlalu banyak pekerjaan di kantor yang akhirnya membuatnya kewalahan mengurusnya. Aditya tersenyum dan tampak mengerti dengan apa yang di rasakan Papanya.
Di usianya sekarang sepertinya memang sudah membuat ***** bekerja Papanya menjadi berkurang, tidak seperti dulu lagi. Dulu Papanya itu bisa menghabiskan waktunya di kantor bahkan selalu pulang malam, dan bisa menangani setiap permasalahan yang ada. Mungkin karena sekarang dia yang sudah diberi tanggung jawab untuk mengelola semuanya, dan kantor juga ada di berbagai wilayah dan dia mengurus proyek disini dan meninggalkan Papanya disana tentu saja Papanya itu mengalami sedikit kesulitan mengurus semuanya.
"Baiklah jika itu yang Papa inginkan, Adit akan pulang dan mengurus semuanya"
"Papa akan mengurus disini bersama adikmu"
"Adri??? Jadi Papa membawanya kesini untuk mrnemani Papa??"
"Iya, biar dia belajar, harusnya kemarin papa menyuruhmu untuk membawanya kesini bersama staff yang lain agar bisa belajar dengan mereka, Papa ingin adikmu nanti bisa membantumu di kantor" Ujar Papa Aditya.
"Memangnya dia mau? Adit sih oke-oke saja, tetapi tergantung dari Adri nya sendiri Pa"
"Dia harus mulai bertanggung jawab, pekerjaan di kantor semakin banyak tidak mungkin kau mengurusnya sendirian nanti"
Aditya dan Papanya pun melanjutkan pembahasannya tentang pekerjaan serta proyek yang sedang dikerjakannya disini sudah sampai sejauh mana.
Setelah berbicara dengan Papanya, Aditya masuk ke kamarnya. Cahya menyiapkan pakaian untuk suaminya itu. "Sayang? Nanti malam kau tidur di sofa ruang tengah saja ya? Biar Mama tidur disini, Adri dan Papa tidur di kamar tamu"
"Biar Adri saja, masa aku tidur sendirian?"
"Hmmm kasihan Adri, dia kelelahan, dia pasti butuh tempat yang nayaman untuk berbaring, mengalah sajalah"
"Bagaimana aku bisa tidur tanpa memelukmu???" Gerutu Aditya.