
Tak lama pintu itu dibuka dan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah asisten rumah tangga rumah Ariel yang juga dulu jadi pengasuhnya saat kecil itu terkejut melihat kedatangannya. Ariel menyapanya dengan senyuman yang begitu manis lalu memeluk wanita itu seraya menanyakan kabarnya.
"Saya baik, Den bagus kemana saja?" Tanya nya pada Ariel.
"Aku hanya pergi jalan-jalan sebentar, Ayah mana mbok?"
"Tuan sedang ada di ruang kerjanya, saya panggilkan ya??"
"Tidak perlu, biar aku saja yang menemuinya, panggil pelayan dan suruh mereka membawa semua barangku ke kamar" Ujar Ariel.
Ariel melangkah menuju ruang kerja Ayahnya dan mengetuk pintunya, terdengar suara dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk. Perlahan Ariel melangkahkan kakinya, membuka pintu lalu masuk ke ruangan kerja itu. Ayahnya sedang duduk di sofa dan ada sebuah buku di tangannya menandakan bahwa sang Ayah sedang membaca buku.
Pak Andi sangat terkejut melihat kedatangan Ariel yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui. Ariel berjalan mendekati Ayahnya itu dengan senyum tersungging di wajahnya. Pak Andi pun berdiri tetapi tiba-tiba tidak dia duga Ariel langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Ayah, maafkan Iel Yah! Sudah banyak sekali kesalahan yang selama ini Iel perbuat dan itu pasti menyakiti hati Ayah, tolong maafkan aku" Ucap Ariel dengan suara serak sambil terisak.
Sudah lama sekali Ariel tidak memeluk Ayahnya, kebencian yang selama bertahun-tahun lamanya akhirnya dia sudahi juga. Ariel menyadari bahwa apa yang sudah dia lakukan selama ini kepada Ayahanya, kebenciannya selama ini tidak memberikan apapun dihidupnya dan justru hanya dosa yang dia dapatkan.
Dari Gienka, Ariel belajar bahwa betapa tersiksanya dirinya yang harus mengambil keputusan untuk sementara jauh dari putrinya itu, bahkan setiap malam ia menangis karena merindukan Gienka, apalagi Ayahnya yang sudah bertahun-tahun jauh dari dirinya. Sudah tentu bathin Ayahnya selama ini pasti sangatlah tersiksa karena tidak mendapat kesempatan untuk menyesali perbuatannya dulu.
"Kenapa kau meminta maaf nak! Kau tidak bersalah, Ayahlah yang sudah banyak melakukan kesalahan sehingga wajar kalau kau marah kepada Ayah, kau kemana saja selama ini? Kami semua kebingungan mencarimu!"
"Aku hanya pergi untuk menenangkan diriku, fan mencari diriku yang sudah lama hilang"
"Ayah senang kau kembali, semoga kau selalu bahagia, ini sudah malam dankau pasti lelah, lebih baik naik ke kamarmu dan beristirahatlah"
Pak Andi melepaskan pelukannya pada Ariel, dan menepuk bahu putranya itu. Ariel menyeka airmatanya lalu tersenyum dan pergi meninggalkan Ayahnya dan pergi untuk beristirahat di kamarnya.
*****
Keesokan harinya, Ariel bangun tidur dan terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan hampir pukul 10. Dia sangat terlambat, mungkin karena dia merasa sangat lelah dan juga dia akhir-akhir ini memang mengalami kesulitan untuk tidur. Suasana rumah sepertinya membuatnya bisa tidur dengan sangata nyenyak.
Setelah mandi dan berganti baju, Ariel keluar dari kamarnya karena perutnya terasa sangat lapar. Ariel melihat sekeliling dan rumah terlihat sepi tetapi dia mencium bau sesuatu yang sangat dihafalnya. Ariel mempercepat langkahnya menuruni tangga dan langsung berlari menuju dapur. Benar saja, makanan kesukaannya sedang dibuat disana.
"Ayam bakar bumbu merah!!!" Seru Ariel.
"Iya, saya khusus membuatnya untuk Aden"
"Terima kasih ya mbok, kenapa sepi? Ayah kemana?"
"Tuan pergi ke kantor sejak pagi, dan Tuan melarang saya membangungkan Aden"
"Oh ayah ke kantor, ya sudahlah, aku sangat lapar sekali"
Dengan sigap seorang pelayan menyiapkan piring untuk Ariel. Ariel menikmati makanannya dengan sangat lahap, dia memang sangat menyukai Ayam bakar bumbu merah karena itu Mamanya dulu sering memasak untuknya. Sudah lama sekali Ariel tidak makan makanan rumahan seperti ini, dan kali ini dia tidak bisa melewatkannya begitu saja.
Karena begitu menikmati, Ariel tidak sadar dia telah menambah sampai beberapa kali. Sampai akhirnya dia benar-benar merasa sangat kenyang.
Ariel duduk di bangku taman menikmati udara segar disana. Walaupun dia pergi dan tinggal di beberapa negara yang memiliki pemandangan luar biasa, suasana rumah juga tidak kalah indahnya. Banyak hal yang sudah terjadi di hidupnya kali ini dia harus bisa berubah menjadi lebih baik lagi dan memulai semuanya dari awal lagi. Mengubur dalam-dalam masalalunya dan kembali mengejar apa yang belum sempat dia dapatkan.
"Jus jeruk segar untuk Den bagus"
"Loh, kenapa Mbok yang membawanya kesini, harusnya menyuruh pelayan saja" Ujar Ariel dan mengambil jusnya dari nampan.
"Tidak apa-apa, si Mbok yang ingin membawanya"
"Duduklah disebelahku" Pinta Ariel. Dia sangat menghormati mantan pengasuhnya itu dan sudah menganggapnya sebagai ibu kedua.
Ariel mengajak mengobrol berbagai hal, sudah lama sekali dia tidak pernah mengobrol dengan mantan pengasuhnya itu. Dulu saat kecil dia sering sekali membuat ulah yang mengakibatkan kejengkelan semua orang dirumah. Dan pengasuhnya inilah yang selalu membelanya saat Mama dan Ayahnya memarahinya.
"Oh iya Den, si mbok senang sekali melihat putri Aden, dia sangat cantik, matanya sama seperti mata Aden waktu kecil"
"Putriku? Memangnya Mbok sudah melihatnya? Dimana?" Tanya Ariel.
"Waktu itu neng Elea datang kesini bersama suaminya dan membawa Gienka, Tuan yang mengundang mereka, mereka juga sempat berjanji untuk menginap tetapi entah kenapa tiba-tiba dibatalkan, padahal tuan sudah menyuruh saya dan yang lainnya menyiapkan kamar juga sudah banyak hadiah yang tuan belikan untuk cucunya"
"Itu kapan???" Tanya Ariel lagi.
"Sudah lama, beberapa bulan yang lalu, mereka datang karena bertepatan suami Neng Elea ada pekerjaan disink, tetapi beberapa waktu setelah kedatangan mereka kesini, semua orang dikejutkan dengan menghilangnya Aden"
Mendengar itu, Ariel hanya bisa diam, karena sepertinya Elea dan Danist datang ke rumah ini sebelum kejadian itu. Dan sudah tentu mereka membatalkan niatnya menginap disini karena kejadian itu. Apa yang sudah dilakukannya pada Elea memang sangat keterlaluan, apakah nanti saat dia meminta maaf kepada perempuan itu entah akan dimaafkan atau tidak.
******
Sore harinya, saat Ayahnya sudah kembali dari kantor, Ariel langsung menemui Ayahnya itu di kamar. Ariel ingin menyetujui rencana Ayahnya yang ingin mengalihkan semua aset dan perusahaan kepada dirinya. Ya, Ariel akan berusaha mengurusnya dengan baik, dan akan membiarkan Ayahnya untuk neristirahat dirumah saja tidak perlu bersusah payah mengurus pekerjaan di kantor.
Ariel mengetuk pintu kamar Ayahnya sebelum masuk. "Ayah! Bolehkah aku masuk??" Ucap Ariel di depan pintu.
"Masuklah Iel, tidak di kunci" Jawab Ayahnya dari dalam.
"Apa kau butuh sesuatu??" Tanya Ayahnya.
"Tidak Yah, aku datang hanya untuk mengatakan jika aku menerima tawaran Ayah untuk mengelola seluruh perusahaan Ayah, Ayah bisa menghubungi pengacara Ayah lagi, aku hanya ingin Ayah menghabiskan waktu Ayah di rumah saja, biar aku yang mengurus semua perusahaan keluarga kita"
"Kau serius mau melakukannya???"
Ariel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum "Ya, aku akan melakukannya jika memang itu yang Ayah inginkan dariku"
Pak Andi langsung tersenyum senang mendengar keputusan yang sudah di ambil oleh putranya itu dan memeluknya. Akhirnya apa yang diinginkannya selama ini terwujud juga. "Baiklah, Ayah akan menghubungi pengacara Ayah lagi untuk mengurus semuanya, terima kasih Iel, kau membuat Ayah sangat bahagia kali ini"
Setelah Ariel pergi meninggalkan kamarnya, Andi pun mengambil ponselnya untuk menghubungi pengacaranya. Tetapi saat akan menekan nomor itu, Andi kemudian teringat tentang sesuatu. Ariel bukanlah putranya satu-satunya, sekarang ada Danist putranya yang selama ini sudah dia telantarkan, dan jika semua aset dan perusahaannya dia berikan kepada Ariel, lalu apa yang akan dia berikan untuk Danist?.
Anaknya itu selama ini sudah hidup dalam kesulitan karena tidak mendapatkan kasih sayangnya sama sekali. Dan untuk hal ini tentu saja dia tidak bisa memberikan 100% kepada Ariel, Danist juga memiliki hak yang sama sebagai putranya. Supaya seimbang, dia akan memutuskan membaginya menjadi 50:50 saja. Kemudian dia meragu bagaimana jika Ariel menanyakannya tetapi dia juga tidak bisa jika memberikan semuanya kepada Ariel. Andi pun kini justru dirundung dilema yang sangat besar. Disisi lain memikirkan nasib Danist yang sudah dia telantarkan disisi lain juga takut Ariel akan marah kepadanya jika mengetahui bahwa dia hanya mendapatkan bagian 50%.