
Setelah mendengar semua penjelasan Danist, Aditya pun masih mengajak lelaki itu untuk mengobrol yang lainnya karena memang sepertinya Danist saat ini sedang lelah. Itu sangat terlihat dari wajahnya. Dan tiba-tiba saja Aditya teringat sesuatu, entah mungkin Elea sudah mengatakannya atau belum tetapi tidak ada salahnya kalau dia juga kalau dia membahas langsung dengan Danist, ya tentu agar tidak semakin panas lagi perseteruan diantara Danist dan Ariel.
"Oh iya Dan...! Lusa kemarin Ariel datang ke rumahku, dia datang menitipkan hadiah untuk Gienka juga menitip salam untukmu dan Elea, tapi kurasa istriku sudah menyampaikannya pada Elea, Elea pasti sudah memberitahumu kan??" Ungkap Aditya.
Danist terhenyuk dengan apa yang baru saja didengarnya, jadi Ariel datang ke rumah Aditya dan hadiah untuk Gienka ternyata dititipkan pada atasannya itu tidak langsung diberikan kepada Elea.
Danist menggelengkan kepalanya "Tidak Pak, Elea tidak mengatakan apapun kepadaku, kalau Ariel ada disini kenapa tidak menemui Gienka secara langsung?"
"Mungkin Elea lupa atau mungkin dia tidak enak mengatakannya padamu, jadi begini, Ariel datang ke rumahku untuk menitipkan hadiah untuk Gienka karena dia sedang buru-buru untuk pergi ke airport, aku sendiri tidak tahu jika Ariel ada disini, kau tahu kan dia menghilang begitu saja bahkan aku juga kehilangan jejaknya tetapi ternyata dia ada disini, bahkan aku sangat terkejut saat dia mengatakan sudah berada disini sekitar 2 minggu, juga ternyata dia sempat melihat kita semua entah melihat dimana aku tidak tahu, karena dulu dia pernah ke rumahku jadi saat mengetahui aku disini dia datang lagi dan menitipkan hadiah untuk Gienka lalu buru-buru pergi lagi entah kemana lagi dia akan tinggal, bukan karena aku sahabatnya atau orang terdekatnya tetapi kurasa Ariel saat ini memang butuh waktu sendiri, aku harap jika dia melakukan kesalahan kepadamu bersabarlah aku yakin suatu saat dia akan datang meminta maaf kepadamu dan Elea mengingat dia sangat menyayangi Gienka, aku melihat ada kesedihan dimatanya mungkin dia sangat merindukan Gienka tetapi tidak bisa menemuinya, mungkin juga karena dia buru-buru atau ada alasan lain yang akhirnya menyebabkannya belum bisa menemui kalian bertiga"
Danist terdiam mendengar semuanya, apakah ini yang sebenarnya akan Elea jelaskan padanya semalam dan juga tadi pagi. Karena marah akhirnya dia tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari istrinya. Danist kali ini benar-benar merasa bersalah dan menuduh Elea tanpa alasan yang jelas hanya karena terbawa oleh pemikiran buruknya. Setelah pekerjaannya selesai, dia harus segera pulang dan meminta maaf kepada Elea.
Aditya tersenyum melihat Danist diam dan menepuk bahu lelaki itu. "Kalau kau lelah istirahat saja, biar yang lain yang mengurusnya, oke aku harus kembali ke kantor lagi, good luck!"
Aditya kemudian pergi meninggalkan Danist untuk kembali lagi ke kantornya.
******
Cahya duduk dengan gelisah di tempat tidur Elea, sementara Elea sedang berada di kamar mandi dan akan bersiap untuk berangkat. Cahya bingung harus bagaimana, kenapa tiba-tiba Elea memutuskan untuk pulang dan tidak memberitahu sebelumnya. Cahya mengambil ponselnya di stroller bayinya dan mencari nomor suaminya, untuk memberitahu, selagi Elea tidak ada bersamanya sekarang. Mungkin Aditya bisa melakukan sesuatu agar Elea mau mengundur kepulangannya. Cahya keluar meninggalkan anak-anaknya di kamar Elea dan langsung menghubungi Aditya.
Aditya sudah dalam perjalanan kembali ke kantor dan ponselnya berdering. "Ya sayang!" Jawab Aditya.
"Kau dimana??? Bisa pulang sekarang?"
Aditya mengernyit "Pulang???? Kenapa? Ada apa? Apa anak-anak sakit? Aku ada di jalan dan akan kembali ke kantor"
"Elea sayang, aku sekarang ada dirumahnya, Elea berkemas dan mengatakan akan mengajak Gienka untuk pulang sekarang juga, dan dia sudah bersiap" Gumam Cahya panik.
"Akan pulang sekarang?? Kenapa?? Ada apa?? Dirumah baik-baik saja kan??"
"Meminta ijin Danist??? Tadi aku baru saja bertemu dengannya, tetapi dia tidak mengatakan kalau Elea akan pulang hari ini, bahkan dia tadi terlihat pucat dan juga aku memergokinya sedang melamun"
"Mungkin mereka ada masalah, lebih baik sekarang kau pulang dan hubungi Danist tanyakan padanya tentang hal ini, aku akan berusaha menahan Elea sementara waktu sampai kau datang" Ucap Cahya lalu menutup teleponnya.
Sementara Aditya mengajak Roland untuk kembali lagi ke tempat pameran karena dia harus memberitahu Danist tentang hal ini.
Cahya kembali ke kamar Elea, dan Elea baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya. Cahya harus bisa membujuk sahabatnya itu agar jangan buru-buru untuk kembali.
Cahya terus meminta agar Elea membatalkan perjalanannya untuk pulang hari ini karena ini terlalu mendadak dan Cahya juga mengaakan bahwa siapa yang akan menemaninya mengobrol dan membantu mengurus anak-anak jika Elea pergi. Tetapi tampaknya Elea tidak memperdulikan semua permintaan Cahya dan tetap dalam pendiriannya.
"El, kumohon, ada sebenarnya El kenapa kau tiba-tiba seperti ini, kalau kau memang ada permasalahan dengan Danist, apakah tidak bisa kalian menyelesaikannya secara baik-baik???" Gumam Cahya yang membuat Elea menghentikan kegiatannya mengganti baju Gienka dan menatap Cahya dengan tatapan sayu lalu mulai mengeluarkan airmata lagi.
Cahya dengan sikap langsung memeluk sahabatnya itu dan mengusap lembut punggungnya. "Apa yang harus ku lakukan Ca, selain aku harus pergi sekarang? Aku sudah mengaku salah padanya tetapi Danist sama sekali tidak memberiku waktu untuk menjelaskan kesalah pahaman diantara kami, bahkan dia mengatakan padaku bahwa selama ini aku hanya menjadikannya pelampiasan, padahal aku datang kesini untuk dia, aku ingin menjadi istrinya yang sesungguhnya tetapi dia meragukanku, lalu untuk apa aku masih disini?"
"El, mungkin Danist sedang merasa lelah karena pekerjaan dan dia tidak sadar mengatakan itu semua padamu, mengertilah dan selesaikan semuanya baik-baik"
Elea melepaskan pelukan Cahya dan menyeka airmatanya lalu menggelengkan kepalanya setelah melanjutkan mengganti baju Gienka. Cahya masih terus berusaha memberi pengertian kepada Elea tetapi Elea masih tetap pada pendiriannya.
Sampai akhirnya semua persiapan Elea sudah selesai dan juga Elea sudah memanggil taksi. Cahya menyerah dan sudah tidak bisa lagi menghentikan Elea. Aditya juga entah kemana, lama sekali tidak kunjung tiba, Elea sudah benar-benar akan pergi.
Elea mengeluarkan kopernya dari dalam rumah lalu kembali masuk dan mengambil Gienka. Cahya hanya bisa memandang Elea dengan penuh kesedihan, walaupun dia masih tidak mengerti dengan jelas apa yang sebenarnya diributkan Elea dan Danist, kesalah pahaman seperti apa yang sudah membuat mereka bersitegang seperti ini.
Sampai akhirnya taksi yang dipesan Elea tiba juga, supir taksi itu memasukkan semua barang Elea ke bagasi. Elea memeluk Cahya dan meminta maaf karena harus segera pergi, serta berterima kasih karena sudah membawanya dan Gienka datang kesini walaupun endingnya menjadi seperti ini. Tidak lupa Elea juga menitip salam untuk Aditya. Dengan beruarai airmata Cahya terpaksa melepaskan sahabatnya itu untuk pulang lebih dulu, dan meninggalkannya disini.
"Aditya kemana sih? Dia jadi pulang atau tidak??" Gumam Cahya dalam hati.
Elea melepaskan pelukannya dan melangkah masuk ke dalam taksi bersama Gienka sambil melambaikan tangan ke Cahya. Sampai akhirnya taksi itu pun pergi meninggalkan halaman rumah dan Cahya yang berdiri disana sambil terisak karena kepergian Elea.