
Elea dan Danist pulang, begitu juga dengan Randy dan juga Chitra, mereka berpamitan pada Aditya dan Cahya.
"Sayang, sudah sore kita naik dan bangunkan anak-anak untuk mandi" Ucap Cahya.
Mereka berdua naik ke kamarnya dan melihat kedua bayinya masih terlelap di box bayinya.
"Mbak, masak sedikit saja ya buat makan malam, Mama sama Papa ga pulang soalnya, Adri juga sepertinya makan diluar"
"Baik non, saya permisi dulu"
Cahya mengangkat Kyros dari box bayi nya dan membuai serta menciumi nya agar sang anak mau membuka matanya. Tangisan Kyros ternyata juga membuat sang Adik terbangun. Aditya segera menggendong sang putri dan menenangkannya.
Cahya duduk di sofa dan menyusui Kyros sebekum memandikannya. "Aku tadi melihat kesedihan di wajah Danist, aku benar-benar berpikir bahwa apa yang diucapkan Elea tadi itu benar bahwa dia ingin Danist menjadi suaminya, tetapi ternyata??? Elea hanya menjadikan Danist sebagai tameng menghindari Ariel"
"Aku juga terkejut, tetapi jika Danist bersedia melakukannya kenapa kita mempermaslahkannya?"
"Jika ada waktu aku akan berbicara dengan Elea, kasihan Danist jika ini berlanjut terlalu lama"
Aditya hanya melempar senyumnya ke Cahya, istrinya itu memang orang yang sangat mudah tersentuh dengan kesedihan orang lain.
"Sayang? Apa menurutmu usaha Elea itu akan berhasil? Dan apa menurutmu Ariel akan menyerah setelah mendengar ucapan Elea tadi??" Tanya Cahya.
"Aku tidak tahu, Ariel sangat tidak mudah ditebak, kau tahu kan bahwa dia orang yang tidak mudah menyerah, tapi ya aku harap dia mau mengerti dan menghormati keputusan Elea"
"Ariel sangat jahat jika saja dia masih bersikap egois dan tidak mau menyerah, itu pasti akan melukai Elea lebih dalam lagi" Gumam Cahya sedih.
"Berdoalah yang terbaik, dan sekarang ayo mandikan Kyros lebih dulu, dia sudah tenang"
****
Dalam perjalanan pulang, Danist tidak banyak berbicara pada Elea, dia merasa tidak baik hari ini karena ucapan Elea yang memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Danist menyadari bahwa sepertinya sampai sekarang Elea masih belum melihat cintanya. Elea menengok ke arah Danist yang sedang menyetir, sejak tadi pria itu diam tidak seperti biasanya yang mengajaknya membahas berbagai hal.
"Dan, kenapa kau diam saja sejak tadi?? Apa kau marah kepadaku karena aku melibatkanmu pada permasalahan ku dengan Ariel??? Aku benar-benar minta maaf Dan..."
"Tidak El, aku tidak marah sama sekali"
"Tapi kenapa kau diam? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Danist menggelengkan kepalanya lalu tersenyum pada Elea. "Tidak ada El"
"Aku berharap dengan cara ini Ariel akan berhenti menggangguku, thanks ya Dan kau selalu mau membantuku dan selalu ada untukku jika aku butuh bantuan"
*****
Sesampainya dirumah, Danist langsung pergi menuju taman belakang rumahnya, dia duduk sendirian sambil menikmati senja dihadapannya. Dirinya saat ini sedang tidak baik,entah sampai kapan dia harus menahan dirinya untuk bisa mengatakan perasaannya oada Elea. Danist merasa sangat takut jika nnati dia mengatakannya itu justru akan membuat hubungannya dengan Elea memburuk, terlebih saat ini Elea juga sepertinya tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.
Danist mengacak-acak rambutnya merasa kesal dengan dirinya sendiri, harusnya tadi adalah kesempatan yang baik untuk mengatakan perasaannya tetapi justru dia menyanggupi permintaan Elea untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Disatu sisi Danist juga memikirkan tentang Ariel, pria itu tadi bahkan melemparkan senyum jahat padanya seolah mengejeknya, Ariel seperti tengah menyiratkan sesuatu padanya. Mendengar suara Sang Mama yang memanggilnya, Danist bergegas masuk ke dalam rumah.
"Iya Ma, ada apa??" Tanya Danist.
"Kau baru datang dan bukannya langsung mandi malah duduk diluar, kenapa? Ada apa?? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada Ma, aku hanya merasa sedikit lelah dan ingin beristirahat sebentar sebelum mandi, pemandangan sunset disini sangat indah jadi ku rasa itu cukup membuatku nyaman melihatnya, baiklah aku akan pergi mandi sekarang"
"Iya lekas mandi dan kita sholat magrib bersama, setelah itu kita makan malam, mama sudah membuatkanmu ayam rica-rica kesukaanmu, pergilah"
Danist tersenyum pada sang Mama lalu meninggalkannya, dia memohon ampun pada Tuhan karena telah membohongi Mama nya. Danist tidak bisa mengatakan tentang permintaan Elea padanya untuk menjadi kekasih palsu Elea, karena itu pasti akan sangat melukai hati sang Mama, mengingat Mama nya juga telah mengetahui tentang perasaannya pada Elea dan selalu menyuruhnya untuk mengungkapkan lerasaanya pada Elea, tetapi dia selalu menolaknya dengan alasan ingin tetap menjaga hubungan baik dengan Elea dan tidak mau hubungan persahabatan yang terjalin menjadi hancur karena cinta yang Danist miliki untuk Elea.
Disisi lain Ariel tengah berkutat dengan pikirannya sendiri mencari cara agar bisa membuat Elea kembali dengannya. Akhirnya Ariel memutuskan bahwa dia harus datang ke kantor perkebunan untuk bertemu dengan Danist, dan dia akan memberi pelajaran ke pria itu.
"Danist, kau berani sekali mendekati Elea ku, dan kau akan tahu akibatnya jika berani berhadapan denganku" Gumam Ariel.
******
Beberapa hari kemudian Ariel sudah sampai di kantor perkebunan, dia sengaja bernagkat sangat pagi dari rumahnya untuk sampai disini agar bisa bertemu dengan Danist. Ariel menunggu kedatangan Danist didalam mobilnya. Ariel sangat yakin Danist pasti akan datang ke kantor ini, mengingat pria itu memiliki tanggung jawab besar disini. Benar saja mobil Danist tiba dan dia keluar dari dalam mobilnya.
Ariel keluar dan langsung menghadang Danist, tatapannya tajam ke arah Danist. "Hallo selamat pagi pak Danist, bagaimana kabarmu??" Sapa Ariel.
"Selamat pagi pak Ariel, anda datang sepagi ini, ada perlu apa?? Mari silakan masuk"
"Tidak perlu....!!! Aku datang hanya ingin memberitahumu agar mulai dari sekarang kau jangan berani dekat-dekat dengan Elea ku"
"Elea anda??? Apa anda masih belum menyerah juga??? Bukankah beberapa waktu yang lalu Elea sudah mengatakan semuanya"
"Elea hanya milikku dan akan tetap menjadi milikku, aku tidak sudi bayiku memiliki seorang ayah sepertimu, kau tidak akan pernah bisa menghidupi Elea dan Anakku jika kau hanya bekerja untuk orang lain, kau tidak akan pernah bisa setara denganku, dan ingat, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Elea kembali, kalian belum ada ikatan apapun jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk membuktikan kepada Elea bahwa akulah yang tepat untuk mendampingi dan hidup bersamanya"
"Hahaha anda ini lucu sekali, sudahlah jika anda tidak ada urusan pekerjaan silakan pergi dari tempat ini, saya harus bekerja sekarang, permisi" Danist meninggalkan Ariel tetapi Ariel justru menarik tangan Danist membuat lelaki itu terhenti langkahnya.
Ariel memegang kerah kemeja Danist dan matanya melotot memandang Danist. "Kau, jangan berani-berani denganku, aku bisa menghabisi mu jika kau berani melawanku, ingat perkataanku ini baik-baik" Ariel melepaskan kasar kemeja Danist hingga Danist hampir jatuh karena nya.